20: Istrinya Akmal

20
"Paham?" Abizar menatap Mawar dalam, diangkatnya kedua alis yang tercetak rapi.
Mawar tertunduk malu, kedua pipinya bersemu merah. "Paham ...." Pelan, jawabannya terdengar begitu lirih dan takut.
Abizar tersenyum tipis, "bagus kalau kamu paham. Jangan jadikan alasan tidak masuk akal itu untuk kabur suatu saat, aku bersumpah akan mengejarmu sampai ke ujung dunia." Satu lirikan tajam Abizar untuk Mawar yang menelan saliva. Setelah itu Abizar kembali mengembangkan senyum. Mawar membiarkan Abizar yang menenangkan Ashya sekali lagi. Mawar semakin malu saat Ashya menatapnya sedikit aneh.
Mawar sedikit menyingkirkan tubuh. Sekalipun Ashya saudari sesusuan untuk Abizar, sebenarnya Mawar iri melihat kedekatan mereka. Abizar bisa memeluk Ashya dengan leluasa, apalagi saat Abizar mencium kening Ashya, berusaha meredam kesedihan wanita itu. Berbeda dengan Mawar, Abizar selalu mengancamkan air panas atau bara api pada diri sendiri jika berani menyentuh Mawar, pelajaran untuk Abizar agar hal yang tak diinginkan di antara mereka tidak terjadi.
"Sebut nama Allah di setiap tangisanmu, Ashya." Abizar berbisik di telinga Ashya, "maka kesedihanmu akan berkurang, dadamu akan lapang."
Saat Mawar memerhatikan mereka, Malik berusaha mengajaknya bicara. "Hal anti ghyur—kamu cemburu, ya?" Mawar menoleh bingung, diisyaratkannya kalau dia tidak bisa berbahasa Arab. Malik menggaruk kepala, padahal dia sangat ingin mengajak wanita ini mengobrol. Yang kata Abizar, akan berbinar-binar jika dikasih makanan.
"Can speak English—bisa berbahasa Inggris?"
Wajah Malik langsung semringah saat Mawar mengangguk. Senyumnya langsung berubah geli, akhirnya selain Abizar dia ada teman bicara. "You know, sebenarnya aku juga ingin memeluk Ashya seperti yang Abizar lakukan. Tiap kali dia menangis, aku ingin menghapus air matanya, memeluknya dan menenangkannya." Malik mulai bercerita dalam bahasa Inggris, Mawar diam dan mendengarkan karena kalimat Malik belum selesai.
"Bukan aku ada niat serong atau memiliki perasaan special untuk Ashya, bukan." Malik menampik, bisa jadi menjadi praduga di kepala Mawar. "Tapi tiap kali melihat mereka bersedih, jiwaku sebagai keluarga tersentil. Yah ...." Malik nampak menyayangkannya. "Jika aku melakukannya kepada Ashya, karena aku bukan Abizar ataupun Akmal, tentu saja aku akan menerima konsekuensinya, bukan?"
"Kamu mengerti apa yang kukatakan 'kan?" Malik menyipitkan mata. Bodoh sekali dia, sudah panjang lebar bicara jika Mawar tidak mengerti apa yang dia katakan.
"Aku mengerti," Mawar mengangguk. Kagum, Malik lancar berbahasa Inggris.
"Oh, ya!" Malik terperanjat senang saat teringat, dikeluarkannya sesuatu dalam saku celananya. "Nih." Disodorkannya untuk Mawar, melihat ekpsresi Mawar yang langsung berbinar Malik nyengir. "Untukmu, cokelat yang paling digandrungi di Amerika. Aku membawanya dari Amerika tiga bulan yang lalu, sayangnya ayahku menolak cokelat yang kubawa karena ternyata dia kurang suka makanan manis semenjak kesehatannya memburuk."
"Makasih ...." Mawar urung berterimakasih dan wajahnya langsung masam saat Malik menambahkan.
"Kata Abizar, jika diberi makanan kamu pasti senang."
Tentu saja kalimat itu menyindir, Mawar jadi tidak berselera menerima apa yang Malik beri.
"Ayo, ambil."
Mawar melirik punggung Abizar tajam. Berani-beraninya lelaki itu membeberkan aibnya di depan saudaranya. Sekalipun itu sisi manis tersendiri Mawar bagi Abizar.
"Qult khudh hadha—kubilang ambil ini." Malik melotot. Mawar dengan sedikit sebal mengambil cokelat itu dari sodoran tangan Malik yang kembali menyeringai. Wajah berbinar-binar Mawar saat diberikan makanan sudah hilang, perempuan itu berubah sebal ke Abizar. Tapi ekspresinya yang baru tidak kalah lucu.
Kondisi hati Ashya sepertinya membaik. Pelukan, bisikan dan kecupan di keningnya dari Abizar ternyata berhasil menenangkannya.
"Turid 'an tati maena—mau ikut bersama kami?" Abizar bertanya kepada Ashya.
"'Ayn—kemana?"
"'Ateam hadha alsabiu—memberi bocah ini makan," Abizar menunjuk Mawar yang hanya bisa terbengong. Andai Mawar mengerti apa yang Abizar katakan, perempuan itu tentu saja akan berubah kesal dan malu. Hanya Ashya dan Malik yang mengerti apa yang Abizar katakan, Malik nyengir lebar dan Ashya hanya tersenyum tipis. Ikut memerhatikan Mawar yang menyipit ke arah Abizar, menuntut jawaban, apa yang sebenarnya lelaki itu katakan.
Mereka berempat ke dapur. Mawar sudah tidak penasaran lagi dengan apa yang Abizar katakan, fokusnya sudah teralihkan oleh kemewahan dapur rumah Omar dan beraneka macam makanan yang ada di sana. Makanan khas Arab memenuhi meja, bekas makan malam barusan. Belum lagi cemilan khas Arab yang ada di lemari dan kulkas. Mawar sudah benar-benar kehilangan malu, saat Abizar menggerakkan kepalanya. "Ambil apapun yang kamu mau."
Mawar mengulum senyum.
"Jangan lupa, beri aku juga apa yang mau kamu makan. Aku juga lapar." Abizar mengusap perutnya sendiri. Mawar hanya mengangguk, dengan sesuka hati mengambil apa yang dia inginkan. Tentu saja dengan porsi dua kali lipat, karena ada perut Abizar yang juga harus diisi.
"Ana muhaqun fi ma qultuh , 'iinah mithl altifla. Alsaeadat tughadhiy altifla—benar 'kan apa yang kukatakan, dia seperti anak kecil. Sebahagia ini memberi makan seorang bocah," memerhatikan Mawar, Abizar terkekeh. Malik ikut tertawa sambil bersedekap dada, pemikirannya sama dengan Abizar. Mawar itu lucu dan sedikit aneh. Sedangkan Ashya hanya tersenyum kecil. Abizar menyadari raut wajah Ashya yang kurang terhibur, sepertinya kesedihan masih menyita pikiran dan perasaannya.
"Ayolah, Asyha. La taqlaq bishan dhalika. Faqat tajahal hadha alghabiu 'Akmal—jangan terlalu dipikirkan, abaikan saja Akmal yang bodoh itu." Abizar kembali membujuk ditangkupnya tangan Ashya yang mengangguk. Abizar mengusap pipi basah Ashya dengan punggung tangan besarnya, dalam genggamannya Abizar ingin memberikan Ashya kekuatan. Agar lebih bersabar dan tegar, karena Abizar tidak mau melihat keluarga yang dia kasihi serapuh ini.
"Tuan, Tuan." Mawar mendekat sambil membawa piring berisi kebap dan beraneka macam makanan lain. Wanita itu langsung duduk menghadap Abizar yang menahan senyum. Mawar memotong kebap itu menjadi dua bagian, bagian pertama dimakan oleh Abizar. Sisanya Mawar memasukkannya ke dalam mulut.
"Enak?" Abizar bertanya.
"Banget," Mawar mengangguk antusias.
"Ini bikin ngiler, Tuan," Mawar memperlihatkan makanan yang lain. Abizar pura-pura antusias, meniru gelagat Mawar yang tidak bisa berhenti tersenyum saat diberi makanan. Mawar memotong lingkaran kunafeh, hidangan berisi keju manis itu membuat Mawar menelan ludah. Mawar bersabar sedikit, dipotongnya beberapa bagian untuk Abizar makan lebih dulu. Baru dia sisanya. Abizar menerima suapan Mawar secara langsung, lelaki itu mengunyah. Lengket di dalam mulutnya, Abziar hanya tersenyum saat tak ada rasa yang menghiasi indra pengecapnya. Berbeda dengan Mawar, yang nyaris jingkrak-jingkrak.
"Ini namanya apa, Tuan?" Mawar memperlihatkan piring yang baru.
Abizar terdiam sebentar di liriknya Ashya. Dengan gerak bibir bertanya pada wanita itu. Ashya yang menjawab. "Shawarma."
Mata Mawar langsung bercahaya. "Sepertinya enak ...." Lupa adab sebentar, Mawar ingin memasukkan potongan pertama ke mulutnya. Abizar sudah membukakan gua di mulutnya sendiri, lalu melahap apa yang hendak Mawar makan. "Tuanmu dulu." Abizar tersenyum gemas.
Sedangkan Ashya dan Malik hanya bisa saling pandang. Mereka terkekeh secara bersamaan. Tingkah Mawar yang aneh, Abizar yang menanggapi dengan gemas dan keakraban keduanya yang tidak biasa. Setelah cukup lama diam memerhatikan mereka, akhirnya Ashya dan Malik ikut makan. Sekalipun tidak seheboh Mawar, mereka makan cukup lahap. Malik memang cukup kelaparan sedangkan Ashya merasa perutnya kosong setelah puas menangis.
"Ashya, Mawar malam ini tidur di kamarmu, boleh?" Abizar bertanya.
Ashya terdiam sebentar, lalu mengangguk. "Boleh."
Abizar menghela napas, "kuharap kamu bisa menjaganya dariku." Abizar berdecak, kesal pada dirinya sendiri yang terlalu bahaya untuk Mawar.
"Maksudmu?" Ashya terlihat bingung.
Abizar tersenyum tipis, diam sebentar, akhirnya lelaki itu melanjutkan. "Aku takut mendatangi kamarnya di tengah malam, setelah tahu dia juga menyukaiku. Kuharap, aku tak sebejat apa yang kutakutkan."
Ashya terlihat cukup kaget. Lalu kepala wanita itu mengangguk, "baiklah, akan kujaga dia darimu."
Abizar tertawa. Entah kenapa, balasan Ashya cukup menggelitik.
>><<
Saat diberitahu Abizar, untuk malam ini sampai seminggu ke depan Mawar akan tidur di kamar Ashya tapi barang-barangnya tetap di kamar yang bersebelahan dengan Abizar, Mawar dengan riang mengikuti langkah Ashya untuk menginap di kamar wanita itu. Mawar pikir, dia menyuruh Mawar menempati kamar Ashya untuk membujuk Ashya jika menangis lagi padahal Abizar hanya mengkhawatirkan Mawar karena Abizar adalah 'penjahat'-nya yang harus diwaspadai.
Ditempatkan satu ruangan yang sama, bahkan tidur bersebelahan di satu ranjang Mawar cukup canggung. Sebenarnya dia ingin mengajak Ashya mengobrol, karena Ashya terlihat tidak bisa tidur. Gerakan tubuhnya selalu berpindah-pindah dan terlihat tidak nyaman.
Tapi apalah daya Mawar? Mawar tidak bisa berbahasa Arab. Jadi mereka tidak bisa bicara dengan leluasa. Berjam-jam Mawar hanya bisa memerhatikan Ashya yang memberikannya punggung, wanita itu tidak kunjung bisa terlelap sama halnya dengan Mawar yang menjadi mengkhawatirkan Ashya.
Tatapan Mawar terkunci oleh indahnya rambut Ashya, yang semakin lama membuat mata Mawar berat. Wanita itu menguap, lalu dengan perlahan dipejamkannya mata. Ah, waktunya tidur. Besok dia harus melayani Abizar lagi, sekalipun Abizar bilang ini liburan, yang tugas Mawar sebagai pembantu juga diliburkan. Tapi Mawar tetap terbiasa bangun pagi, selain untuk salat Subuh tapi inilah rutinitasnya.
Mawar tidak sadar ruang di sebelahnya sudah kosong. Seseorang mengetuk pintu kamar Ashya, Ashya yang turun dan keluar. Ternyata Akmal, mereka terjebak adu bicara sebentar. Yang diakhiri oleh erangan frustrasi Akmal dan Ashya yang berakhir menangis. Akmal yang tidak tega berusaha membujuk Ashya dan memeluknya. Ashya menghindar lalu mengunci pintu dari dalam. Kehebohan di depan antara sepasang suami-istri itu tidak Mawar sadari. Mawar asyik terlelap, perutnya yang kenyang membuat tidurnya semakin rileks. Sekalipun keesokan harinya Abizar tidak sarapan, Mawar tidak perlu kelaparan.
Ashya mematung sebentar di ambang pintu, ditatapnya Mawar yang terlihat begitu nyenyak. Ashya mengambil kaca kecil yang ada di laci meja riasnya, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Ashya menghidupkan air keran hingga suara berisik itu meredam suara lain di dalam sana. Ashya menghancurkan kaca kecil yang dia bawa, menjadi serpihan kaca yang cukup tajam. Ashya menahan tangis, bibirnya bergetar. Dicekramnya kaca tersebut, dia sudah tidak tahan. Sebenarnya andai Abizar tidak mengetuk pintu kamarnya sebelumnya, Ashya ingin melakukan percobaan bunuh diri lebih awal. Tapi tertunda, namun akan disambung sekarang.
"Iilla, illahi ... aghfir li ya 'iilahi—ampuni hamba Tuhanku ...."
Tangan Ashya berceceran darah. Tak lama pandangannya gelap, tak perduli bak sudah penuh oleh air yang meluap, tubuh Ashya terkapar di lantai kamar mandi yang basah terkena air yang bersimbah.
>><<
Semalam Omar menemuinya. Omar cukup kaget anaknya benar-benar akan menginap di Saudi, lelaki itu terlihat cukup senang. Di dalam kamar Abizar mereka terjebak obrolan yang sangat panjang. Tumben Omar tidak menghajar atau menceramahi Abizar lagi karena memulangkan Layla. Sikap Omar malam ini—yang membuat Abizar kurang tidur karena harus meladeninya nyaris sampai Subuh—mirip sekali dengan sosok Ayah, sangat kebapakan. Entah kenapa Abizar jadi suka itu. Ternyata pria idaman Melati tidak begitu cuek.
Setelah salat Subuh, sekalipun makruh Abizar ingin mengistirahatkan diri. Lelaki itu sangat mengantuk, dibaringkannya tubuh ke ranjang. Padahal di luar terjadi kehebohan. Mawar gaduh memukul-mukul pintu kamar mandi saat airnya yang benar-benar meluap dari bak keluar dari cela bawah pintu, ada darah yang ikut mengalir mengotori lantai.
"NYONYA, buka! Buka! Nyonya!" Teriakan Mawar tidak sampai ke luar ruangan yang begitu luas tersebut. Mawar yang tidak bisa membuka pintu itu dengan paksa, berlari keluar. Mencari-cari Abizar, tapi di jalan dia berpapasan dengan Malik.
"Ada apa?" Malik bertanya.
"Itu ... itu ...." Mawar tidak bisa bicara dengan benar. Bibirnya meringis, lalu dengan paksa menyeret tangan Malik. Mawar menunjuk-nunjuk pintu kamar mandi. Awalnya Malik heran, tapi melihat darah bercampur air keluar dari cela bawah pintu, Malik langsung menghantamkan tubuh ke pintu kamar mandi untuk mendobraknya.
Malik mengerang frustrasi, digedor-gedornya pintu, berusaha memanggil Ashya. Tapi tak disahut. "ASHYA! ASHYA!" Malik memutar-mutar handle, mata Malik ikut memerah dan berair. "ASHYA!!" Raungan Malik memanggil semua orang yang lewat. Pelayan-pelayan wanita maupun lelaki, dan kakak-kakak Malik yang lain. Bersama-sama banyak tubuh membantu Malik mendobrak pintu dan terbuka. Ashya tergeletak lesu di lantai kamar mandi, wajahnya pucat. Malik mengerang frustrasi. Tak perduli apapun lagi, Malik segera menggendong tubuh Ashya dan berlari keluar.
"SEGERA HUBUNGI AMBULANCE!" Malik berteriak keras.
Malik mendekatkan kedua jarinya ke lubang hidung Ashya, syukurlah masih bernapas meskipun lemah. "Ayolah, Ashya jangan mati sekarang ...." Malik menangis. Dia berlari ke lantai bawah, sebentar lagi ambulance akan sampai.
"Ada apa ini?" Akmal terlihat bingung saat rumah benar-benar gempar. Wajah lelaki itu sedikit pucat, karena panik tak ada mulut yang sempat memberitahunya.
Mawar yang berdiri di sebelah Akmal berusaha memberitahunya dengan nada takut, "istrimu, Tuan ... Nona Ashya," karena Akmal bisa berbahasa Indonesia, Mawar bisa leluasa memberitahunya.
"Ada apa dengan istriku?!" Akmal meninggikan suara. Suara ambulance di halaman membuat wajahnya keras. Langkah Akmal ingin segera ke sana, tapi ditanyainya Mawar lebih dulu. Agar ada kepastian yang lebih.
"—melakukan percobaan bunuh diri."
Akmal tersentak lalu mengerang. Mata lelaki itu memerah dan berair, akhirnya menangis. Pasti karena pertengkaran mereka semalam ... Akmal segera ke halaman, dimana ada Malik yang tengah menggendong Ashya. Akmal langsung mengambil alih tubuh istrinya dari gendongan adik bungsunya.
"Darimana saja kau!?" Suara Malik terdengar marah.
Akmal diam, lelaki itu terpuruk di rumput sambil memeluk Ashya. Pendarahan di pergelangan tangan Ashya sudah dibalut dengan kain, Akmal menyentuhnya perlahan lalu terisak kencang. Akmal menciumi pipi dan kening istrinya, memohon kepada Tuhan dan wanita, Ashya jangan meninggalkannya ... Akmal butuh wanita ini, dia mencintai Ashya sepenuh hati, yang bahkan perasaan cinta itu tidak ada secuilpun untuk istri-istri Akmal yang lain. 

Komentar Buku (94)

  • avatar
    Wati Purnawati

    ceritanya bagus kak. lanjut up ceritanya kak.....😊

    29/05/2022

      0
  • avatar
    RamadhaniOcta putri

    novel yg bagus dan alur nya gk bikin bingung patut di kasi bintang 5😊😊 btw ada kelanjutannya gk

    10/04/2022

      2
  • avatar
    Syasya Liana

    novel nya menarik banget 🥺semngt terus tulis novelnya☺️

    09/04/2022

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru