Malam mulai menyelimuti kota saat Lukas dan Petrus meninggalkan kampus. Mereka baru saja menyelesaikan kelas terakhir dan kini berjalan menuju ke tempat parkir, bersiap untuk kembali ke apartemen mereka. Jalanan kampus yang biasanya ramai kini mulai lengang, hanya ada beberapa mahasiswa yang masih berkeliaran. “Lukas, besok kita ada presentasi, jangan lupa ya,” seru Petrus sambil membuka pintu mobil sedan hitam milik Lukas. “Tenang saja, semua sudah siap,” jawab Lukas dengan senyum, masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin. Mereka pun lalu keluar dari kawasan kampus dan mulai masuk ke jalan utama. Lalu lintas cukup lancar, memudahkan perjalanan mereka. Namun, ketika keduanya berbelok ke sebuah jalan yang lebih sepi, tiba-tiba enam pemotor dengan pakaian dan helm serba hitam muncul dan memblokir jalan di depan mereka. Lukas segera menginjak rem, menghentikan mobil dengan mendadak. “Ada apa ini?” tanya Petrus, mulai merasa cemas. “Sepertinya kita dihadang,” jawab Lukas, mencoba menilai situasi. “Tetap tenang, kita lihat apa yang mereka inginkan.” Salah satu pemotor melangkah maju, mengetuk jendela mobil dengan keras. Lukas menurunkan jendela sedikit, cukup untuk mendengar suara dari luar. “Keluar dari mobil sekarang juga!” hardik pemotor itu dengan suara kasar. Lukas dan Petrus saling pandang sejenak sebelum memutuskan untuk mengikuti perintah itu. Keduanya pria itu sepertinya tahu bahwa situasi bisa semakin berbahaya jika mereka tetap berada di dalam mobil. Dengan hati-hati, Lukas dan Petrus pun membuka pintu dan keluar dari mobil. Begitu mereka keluar, para pemotor lainnya juga turun dari motor mereka, mendekati Lukas dan Petrus dengan sikap mengancam. Salah satu pemotor yang tampak menjadi pemimpin kelompok itu melangkah maju. “Kalian pikir bisa main-main dengan Reza dan lolos begitu saja? Ini waktunya kalian menerima pelajaran,” tutur pemimpin geng motor itu dengan senyum sinis. “Jadi kalian ini suruhan Reza?” tanya Lukas, mencoba mengulur waktu sambil memikirkan langkah selanjutnya. “Benar. Reza tidak suka diusik, dan kalian sudah membuat kesalahan besar. Kenapa kalian suka mengganggunya? Terutama tentang Septin!” ujar pemimpin geng itu. “Oh … ini ternyata karena Septin?” seru Lukas. “Tentu saja kami akan melindungi Septin. Karena dia adalah teman kami! Enak saja kami menjerumuskannya kepada Si Reza, playboy cap kambing itu!” ujar Petrus menjelaskan. “Kurang ajar! Berani kalian mengejek Bos Reza?” Lalu kemudian tanpa peringatan lebih lanjut, para pemotor itu mulai melakukan penyerangan. Namun, mereka tidak tahu bahwa Lukas dan Petrus adalah petarung terlatih. Dengan gerakan cepat dan koordinasi yang baik, Lukas dan Petrus segera memasang kuda-kuda dan siap bertarung. Salah satu pemotor mencoba memukul Lukas dengan tongkat besi, tapi Lukas dengan sigap menghindar dan memutar tubuhnya, memberikan tendangan balik yang mengenai perut lawannya dengan keras. Pemotor itu malah jatuh terhuyung-huyung, merasa kesakitan dan tak mampu bangkit lagi. “Sial! Ternyata mereka jago bela diri!” seru salah satu dari mereka. Di sisi lain, Petrus berhadapan dengan dua pemotor sekaligus. Mereka menyerang dengan koordinasi yang cukup baik, tapi kecepatan dan kekuatan Petrus berada di atas rata-rata. Dia menghindari pukulan pertama, menangkap lengan lawan dan memutar tubuhnya, menjatuhkan pemotor pertama ke tanah. “Kurang ajar! Ternyata mereka sangat tangguh!” seru yang lain. Pemotor kedua mencoba menyerang dari belakang, tapi Petrus dengan cepat membalikkan badan dan memberikan pukulan telak di wajah lawannya, dan membuatnya tersungkur. Pemimpin geng itu tampak terkejut melihat rekan-rekannya terjatuh satu per satu. Dia lalu mencoba menyerang Lukas dengan pisau yang disembunyikan olehnya di balik jaketnya. Namun, Lukas sudah siap. Dengan gerakan cepat, dia menangkis serangan itu, memutar lengan lawannya dan merebut pisau dari tangannya. Sebuah tendangan keras ke dada pemimpin geng itu mengakhiri perlawanan mereka. “Hentikan! Hentikan! Kami menyerah!” teriak salah satu pemotor yang tersisa, melihat teman-temannya tak berdaya di tanah. Lukas dan Petrus saling pandang, napas Keduanya terasa berat tapi tetap terkendali. Mereka melihat keenam pemotor itu terkapar di tanah. Dan beberapa dari komplotan geng motor itu mulai merintih kesakitan, sementara yang lain tak mampu bergerak. “Ampun! Kami hanya menjalankan perintah dari Reza! Jangan sakiti kami lagi!” seru pemimpin geng itu dengan nada putus asa. “Makanya, jangan pernah bermain-main dengan kami!” seru Petrus setengah menghardik keduanya. Lukas pun lalu mendekati pemimpin geng itu, dan menatapnya tajam. “Katakan pada Reza, jika dirinya ingin balas dendam, dia bisa datang sendiri. Kami tidak takut padanya. Jangan jadi pengecut!” Petrus pun menambahkan, “Dan ingat, ini peringatan terakhir dari kami. Jika kalian berani mengusik kami lagi, kami tidak akan sebaik ini!” “Entah kalian dari sini!” teriak Lukas. Lalu dengan cepat para geng motor itu mulai meninggalkan tempat itu. Tak terkecuali Reza yang sedang berada di dalam mobil tak jauh dari tempat itu. Dia merasa sangat geram karena Lukas dan Petrus malah tak terkalahkan. Setelah memastikan para pemotor itu tidak akan menjadi ancaman lagi, Lukas dan Petrus kembali ke mobil mereka. Lukas menghidupkan mesin dan keduanya mulai melanjutkan perjalanan pulang dengan hati-hati, dan tetap waspada terhadap kemungkinan serangan lanjutan. Sesampainya di apartemen, mereka masuk dan langsung mengunci pintu. Lukas merebahkan dirinya di sofa, sementara Petrus mengambil minuman dingin dari dalam kulkas. “Ini gila, Lukas! Kita harus waspada setiap saat sekarang,” ucap Petrus sambil menyerahkan segelas air kepada Lukas. Lukas meneguk air itu dan menghela napas panjang. “Ya, tapi kita tidak bisa membiarkan mereka menguasai hidup kita dengan ketakutan. Kita harus tetap berdiri teguh.” Petrus mengangguk setuju. “Kita akan hadapi semua ini bersama. Reza dan gengnya tidak akan menang mudah.” Malam itu, mereka berdua merenungkan kejadian yang baru saja terjadi. Meski ancaman masih ada, mereka yakin bisa menghadapinya bersama-sama. Dengan persahabatan dan kemampuan bela diri yang kuat, keduanya siap menghadapi segala rintangan yang mungkin datang di masa depan. “Besok kita harus lebih hati-hati. Mungkin kita perlu merencanakan rute yang berbeda, jika pulang ke apartemen,” seru Petrus, sambil meletakkan gelasnya di meja. “Setuju. Dan mungkin kita juga perlu memberitahu Gideon tentang ini. Reza semakin nekat,” tambah Lukas, menatap langit-langit apartemen mereka. Petrus mengangguk. “Benar. Kita tidak bisa melawan mereka sendirian terus. Tapi satu hal yang pasti, kita tidak akan mundur. Apapun yang terjadi, kita hadapi bersama.” Malam semakin larut, namun tekad Lukas dan Petrus semakin kuat. Mereka tahu bahwa tantangan masih banyak ke depannya, tapi dengan keberanian dan persahabatan, keduanya siap menghadapi apapun yang datang. Lukas dan Petrus telah menunjukkan kepada Reza dan gengnya bahwa mereka bukanlah target yang mudah.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bgs thor
28/06
0sangat bagus lanjutkan
18/06
0keren banget
27/05
0Lihat Semua