logo text

Melakukan Itu Sampai Pagi

"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Adrian penasaran.
"Aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu."
Adrian mencium kedua mata Lyn, pipi Lyn, dan bibir Lyn.
"Aku lebih-lebih mencintaimu," ucap Adrian lalu kembali mendaratkan ciuman di bibir Lyn.
Kali ini Adrian mencium Lyn lumayan lama. Lyn tidak menolak ciuman Adrian, karena tidak ada perlawanan dari Lyn Adrian memperdalam ciumannya.
Adrian menggendong Lyn menaiki tangga. Lyn terkejut dengan sikap Adrian.
"Dri! Apa yang kamu lakukan? Kamu mau bawa aku ke mana?" tanya Lyn terkejut.
Adrian membuka pintu kamar Lyn, dan membawa Lyn masuk ke dalam kamar.
Adrian menurunkan Lyn dan menutup pintu. Adrian berjalan mendekati Lyn.
"Dri! Kamu jangan macam-macam ya!" ancam Lyn sambil terus berjalan mundur.
Tanpa sadar Lyn sudah berada di tepi ranjang. Adrian mendudukkan Lyn di tepi ranjang.
"Kenapa kamu begitu takut denganku?" tanya Adrian sambil membelai rambut Lyn.
"Habisnya kamu ini aneh, ngapain kamu bawa aku ke kamar kamu?"
"Untuk tidurlah," ucap Adrian dengan santainya.
"Kalau gitu sekarang kamu keluar, aku mau tidur," ucap Lyn sambil mendorong tubuh Adrian.
Bukannya pergi tapi Adrian malah menarik Lyn ke dalam pelukannya. Lyn bisa merasakan detak jantung Adrian yang begitu cepat. Adrian menatap Lyn dan mendaratkan ciuman ke bibir Lyn. Lyn tidak menolak ciuman Adrian.
Adrian merebahkan tubuh Lyn. Adrian tersenyum menatap Lyn dan membelai lembut pipi Lyn.
"Dri! Apa yang-"
Adrian menutup mulut Lyn dengan kedua jarinya.
"Aku hanya ingin bersamamu malam ini."
"Tapi, Dri, kita belum menikah."
"Kita akan segera menikah."
Adrian kembali mencium bibir Lyn dan tangannya mulai bergerilya menyusuri tubuh Lyn. Tanpa Lyn sadari mulutnya mengeluarkan desahan-desahan kenikmatan.
Mereka sama-sama merindukan kehangatan, saling menyalurkan hasrat masing-masing yang telah terpendam selama ini. Malam ini menjadi malam yang panjang untuk Lyn dan juga Adrian.
***
Adrian mulai membuka matanya dengan perlahan. Adrian melihat Lyn masih terlelap sambil memeluknya. Adrian menatap Lyn dan mengecup kening Lyn. Adrian membelai lembut pipi Lyn.
Lyn yang merasa ada yang mengusik tidurnya mulai membuka matanya dengan perlahan. Lyn terkejut karena dia tidur sambil memeluk Adrian, memeluk tubuh kekar yang kini berada di depan matanya.
"Pagi, Sayang," Sapa Adrian sambil mencium kilas bibir Lyn.
"Adrian, k-kamu! Ngapain kamu di kamarku dan kita kenapa-"
Lyn menghentikan ucapannya dan melihat dirinya dan Adrian berada di bawah selimut yang sama dan dalam keadaan yang tak pernah ia duga sama sekali.
"Apa kamu lupa, Sayang? Kenapa aku bisa ada di sini bersama kamu?" tanya Adrian sambil membelai lembut rambut Lyn.
"A-aku mau mandi, a-aku harus berangkat kerja," ucap Lyn gugup.
Lyn ingat apa yang telah terjadi sama dia dan Adrian. Bahkan dia merasa malu pada dirinya sendiri. Kenapa dia semalam tidak menolak Adrian sama sekali?
"Kenapa kamu sangat gugup kayak gitu? Apa kamu sudah ingat semuanya? Atau, perlu aku ulang kembali agar kamu bisa mengingatnya?" goda Adrian.
"TIdak! Aku ingat semuanya!"
"Kalau begitu pasti kamu juga ingat siapa semalam yang berteriak paling kencang dan menikmatinya," goda Adrian lagi.
Wajah Lyn semakin memerah. Lyn semakin tak punya wajah di hadapan Adrian.
"Kenapa kamu malu, Sayang? Aku senang semalam kamu menikmatinya. Itu buktinya kamu masih mencintaiku dan menginginkanku," ucap Adrian lalu mengecup kening Lyn.
"Aku mau mandi, karena aku harus berangkat kerja," ucap Lyn lalu bangun dari tidurnya.
"Kamu mau ke mana, Sayang? Aku tidak mengizinkan kamu pergi dari sini," ucap Adrian sambil menarik tangan Lyn.
Lyn terjatuh dalam pelukan Adrian. Adrian memeluk Lyn dengan sangat erat dan membisikkan sesuatu di telinga Lyn.
"Kamu tidak usah bekerja, karena aku sudah minta sama om untuk mengizinkan kamu untuk tidak bekerja selama satu minggu," bisik Adrian.
"Maksud kamu?" tanya Lyn mengernyitkan dahinya.
"Kamu cuti selama satu minggu, bukannya kamu sekretarisku? Jadi untuk apa kamu bekerja kalau aku tidak ada? Aku juga bilang sama om kalau kita sedang bersenang-senang sekarang," ucap Adrian sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Apa?!" ucap Lyn terkejut.
"Tidak usah terkejut begitu dong, Sayang. Kamu kan tau aku tidak bisa menyimpan rahasia apapun dari papa kamu."
"Tapi tidak harus bilang soal ini juga, Dri. Aku kan malu, apalagi kita kan belum menikah," ucap Lyn pelan.
"Kita akan segera menikah, kamu tenang saja. Biar aku yang mengurus semuanya."
Lyn tidak percaya Adrian akan dengan percaya dirinya menceritakan semuanya kepada ayahnya. Lyn lalu turun dari ranjang.
"Kamu mau ke mana?"
"Mandi," ucap Lyn sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Aku akan ikut mandi denganmu," ucap Adrian lalu turun dari ranjang.
"Tidak! Aku mau mandi sendiri!" seru Lyn lalu berjalan menuju kamar mandi.
Adrian tidak mendengarkan ucapan Lyn dan terus mengikuti Lyn masuk ke dalam kamar mandi. Mereka pun mandi bersama di dalam kamar mandi dan tentu saja mereka melanjutkan aktivitas itu kembali.
Adrian tidak mungkin bisa menahan diri saat melihat tubuh molek Lyn yang kini berada di depan matanya. Setelah satu jam mereka pun keluar dari kamar mandi.
"Jangan cemberut begitu dong, Sayang," ucap Adrian sambil mengekor di belakang Lyn.
"Apa semalam kamu belum puas, sampai pagi ini pun kamu masih melakukannya?" ucap Lyn dengan suara lesu.
"Tidak ada kata puas saat aku ingin bersamamu, Sayang. Sudah begitu lama aku menantikan saat-saat seperti ini," ucap Adrian sambil memeluk Lyn dari belakang.
"Tapi kan, Dri, aku capek. Belum juga istirahat, sudah langsung diajak tempur lagi," ucap Lyn sambil mengerucutkan bibirnya.
"Maaf, kalau begitu nanti aku belikan vitamin buat kamu agar tubuh kamu kembali fit, oke? Sekarang kita ganti baju habis itu ke kamar Kenzo, dia pasti sudah bangun."
"Oh iya, Kenzo, aku sampai lupa. Gara-gara kamu sih."
Adrian dan Lyn pun memakai pakaian. Setelah berpakaian mereka keluar dari kamar. Adrian turun menuju meja makan sedangkan Lyn masuk ke dalam kamar Kenzo.
Lyn tidak melihat Kenzo di dalam kamar. Lyn keluar dari kamar dan menuruni tangga. Lyn melihat Kenzo sudah duduk di meja makan bersama dengan Adrian. Lyn berjalan menuju meja makan.
"Kenzo sayang, sejak kapan kamu sudah berada di sini?" tanya Lyn sambil berjalan mendekati Kenzo.
"Sudah dari tadi, Bun, sebelum ayah datang," ucap Kenzo.
"Kamu tau tidak, Sayang, Kenzo sudah mandi lo ini. Anak ayah ternyata sudah besar sekarang, sudah bisa apa-apa sendiri," ucap Adrian bangga dan mengusap lembut puncak kepala Kenzo.
Lyn duduk di samping Kenzo dan mengambilkan sarapan untuk Kenzo dan juga Adrian. Bi Irma sudah memasak banyak makanan. Setelah selesai makan Adrian mengajak Kenzo untuk duduk di tepi kolam ikan sambil memberi makan ikan-ikannya.

Komentar Buku (702)

  • avatar
    Febby Dwi Lestari

    sangat bagus novel nya saya sukaa

    28/04/2022

      3
  • avatar
    TrsrmakerAsahi_

    cerita nya bagus euy...

    24/04/2022

      1
  • avatar
    ZonkiffeeAfrina

    cerita nya bagus banget

    17/04/2022

      5
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru