Lyn bahagia melihat Adrian dan Kenzo yang sedang bermain air. Air mata Lyn tanpa sengaja menetes dari kedua matanya. "Terima kasih atas kebahagiaan yang telah engkau berikan kepadaku. Engkau telah menghadirkan sosok laki-laki yang baik dalam hidupku. Aku janji aku tidak akan menyia-nyiakannya lagi. Aku akan membuatnya menjadi laki-laki yang paling bahagia di dunia," ucap Lyn sambil menatap ke arah Adrian dan Kenzo. Adrian dan Kenzo yang sudah lelah bermain berjalan menghampiri Lyn. "Kalian pada haus tidak?" tanya Lyn sambil menyodorkan jus kepada Adrian dan Kenzo. Adrian dan Kenzo mengambil jus itu lalu meminumnya. Adrian duduk di samping Lyn. "Jangan dekat-dekat, Dri, baju kamu basah," ucap Lyn sambil mendorong Adrian. Adrian hanya tersenyum dan menggeser duduknya agar jauh dari Lyn. "Bunda, Kenzo lapar!" "Ya sudah, sekarang kalian mandi dulu terus ganti baju, setelah itu kita makan. Kita cari tempat yang enak buat makan, di sini panas banget," ucap Lyn. "Siap, ayo, Sayang!" ucap Adrian lalu menggendong Kenzo. Mereka berjalan menuju pemandian. Lyn menunggu mereka di bawah pohon sebuah rumah makan yang tak jauh dari pemandian. Lyn memesankan beberapa makanan dan minuman. Setelah selesai mandi dan berpakaian, Adrian dan Kenzo berjalan menghampiri Lyn. Adrian duduk di samping Lyn sambil memangku Kenzo. Tak berselang lama pesanan mereka datang. Adrian dengan sangat telaten menyuapi Kenzo. Kenzo sangat bahagia karena kedua orang tuanya bisa berkumpul dan bersamanya sekarang ini. Kenzo mencium pipi ayah dan bundanya. "Ada apa, Sayang?" tanya Lyn heran. "Kenzo bahagia, Bun. Akhirnya Kenzo bisa berkumpul sama ayah dan bunda." Lyn memeluk Kenzo dan menciumi kedua pipinya. Adrian juga memeluk Lyn dan juga Kenzo. "Maafkan ayah, Sayang, karena tidak bisa memberikan keluarga yang lengkap untuk kamu. Tapi ayah janji, tidak akan lama lagi ayah akan memberikan apa yang kamu inginkan," ucap Adrian. "Dri!" seru Lyn terkejut saat mendengar ucapan Adrian. "Itu janji aku, Lyn." Setelah selesai makan mereka berniat untuk pulang karena hari mulai gelap. Mereka masuk ke dalam mobil. Lyn memangku Kenzo yang sudah sangat kelelahan. Lyn mengusap lembut puncak kepala Kenzo. "Kenzo capek ya?" tanyanya kemudian. "Iya, Bun, tapi Kenzo senang kok bisa jalan-jalan ke pantai sama ayah dan bunda. Lain kali kita ke sini lagi ya, Bun?" pinta Kenzo sambil tersenyum. "Iya, lain kali kita akan ke sini lagi," ucap Lyn sambil mengusap puncak kepala Kenzo. "Janji, Yah?" "Iya, janji," ucap Adrian lalu melajukan mobilnya. Adrian teringat akan sesuatu yang mau Lyn katakan, karena keasyikan bermain dengan Kenzo, Adrian melupakannya. "Lyn!" panggil Adrian. "Hem?" "Tadi kamu mau bicara sesuatu sama aku, kalau boleh tau apa itu?" "Nanti saja, tidak enak membicarakannya di sini?" "Apa itu ada hubungannya dengan aku dan Kenzo?" tanya Adrian penasaran. "Nanti kamu juga bakalan tau." "Atau kamu mau mengenalkan salah satu temanmu sama aku?" tebak Adrian. "Kenapa? Sabar ya, nanti aku akan kasih tau kamu." "Tapi Lyn, aku sangat penasaran nih." "Justru rasa penasaran itu yang membuatku semakin tidak sabaran, pokoknya kamu tidak akan menyesal deh kalau mau bersabar," ucap Lyn dengan senyuman di wajahnya. "Apaan sih Lyn, pakai acara rahasia-rahasiaan segala," ucap Adrian sambil cemberut. Mereka pun akhirnya sampai di rumah. Mereka turun dari mobil, Adrian menggendong Kenzo dan menidurkannya di kamar. Lyn berjalan menuju dapur dan meletakkan semua makanan yang ia beli ke dalam lemari pendingin. Lyn menaiki tangga dan berjalan menuju kamarnya. Lyn masuk ke dalam kamar dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi dan berpakaian Lyn keluar dari kamar untuk melihat acara TV. Lyn melihat Adrian sedang duduk sendirian di sofa ruang tamu. Lyn berjalan menghampiri Adrian, dia duduk di samping Adrian. "Kamu Lyn, kamu menginap di sini, kan?" tanya Adrian saat Lyn tiba-tiba duduk di sampingnya. "Iya, ini sudah malam, makanya aku mau menginap di sini lagi. Kamu lagi ngapain sendirian di sini?" tanya Lyn penasaran. "Aku lagi menunggumu. Aku ingin tau apa yang ingin kamu katakan sama kau tadi." Lyn mengambil napas dan membuangnya secara perlahan. Lyn menatap Adrian, dia tidak tau harus memulainya dari mana. "Ada apa, Lyn? Apa ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan?" tanya Adrian penasaran. "A-aku." "Kalau kamu lagi ada masalah ngomong sama aku, siapa tau aku bisa membantumu." "Aku tidak mau kamu mencari ibu tiri untuk Kenzo," ucap Lyn pelan. "Kenapa? Aku kan sudah bilang Lyn, aku tidak bisa selamanya hidup seperti ini. Aku juga butuh seseorang yang akan menyayangi ku dan memperhatikan aku." "Dri, apa kamu masih mencintaiku?" tanya Lyn sambil menatap kedua mata Adrian. "Ya, aku masih sangat mencintaimu." "Kalau begitu jangan kamu mencari wanita lain untuk menjadi ibu Kenzo." "Maksud kamu apa, Lyn? Aku tidak mengerti?" tanya Adrian bingung. "Apa kamu mau menerima janda seperti aku ini? Apa kamu tidak menyesal karena masih mencintaiku?" "Maksud kamu, kamu mau menerimaku?!" ucap Adrian sambil menggenggam tangan Lyn. "Tapi aku merasa tidak pantas untukmu, Dri." "Kenapa? Kamu tau kan betapa aku sangat mencintaimu?" "Karena aku janda kakakmu dan aku juga sudah mengkhianati dan mengecewakanmu." "Tidak, Lyn. Kamu tidak mengkhianatiku, itu semua bukan salahmu. Aku akan menerimamu dengan senang hati, apa benar kamu mau menerimaku lagi?" tanya Adrian memastikan. Lyn menatap Adrian dan menganggukkan kepalanya. Adrian sangat bahagia dan tidak percaya Lyn mau menerimanya lagi. "Ini bukan mimpi, kan, Lyn?" tanya Adrian masih tidak percaya. Lyn mendekatkan wajahnya ke wajah Adrian dan mencium kilas bibir Adrian. "Sekarang apa kamu masih mau bilang kalau ini mimpi?" ucap Lyn sambil tersenyum. Adrian langsung menarik Lyn ke dalam pelukannya. Adrian tidak menyangka penantiannya selama ini tidak sia-sia. Lyn akhirnya menjadi miliknya lagi. "Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu. Aku janji aku akan membahagiakan kamu dan Kenzo," ucap Adrian bahagia. "Maafkan aku ya, Dri, karena sudah membuatmu menunggu begitu lama." "Mau aku harus menunggu sampai berapa lama lagi pun akan aku lakukan, Lyn, karena hanya kamu yang aku cintai selama ini." "Terima kasih," ucap Lyn dengan senyuman di wajahnya. "Terus kapan kita akan menikah?" tanya Adrian sambil mengedipkan matanya. "Kamu lamar aku dulu ke orang tuaku." "Kamu tenang saja. Om dan tante mendukungku kok, mereka akan senang saat mengetahui kita akan menikah." Adrian memeluk Lyn dengan sangat erat. Lyn akhirnya merasa lega sudah mengutarakan isi hatinya. Lyn melepaskan pelukan Adrian dan menatap Adrian.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
sangat bagus novel nya saya sukaa
28/04/2022
3cerita nya bagus euy...
24/04/2022
1cerita nya bagus banget
17/04/2022
5Lihat Semua