Lyn mengambil napas panjang dan membuangnya kasar. Lyn menatap wajah Andre yang sedang gelisah. "Kak, pergilah. Temani lah Melanie, dia sangat membutuhkan kakak sekarang. Bukankah kandungannya sangat lemah? Kak Andre seharusnya memperhatikannya dan memberinya kasih sayang dan perhatian agar suasana hati Melanie tenang dan itu baik untuk kandungannya," pinta Lyn. "Sayang, kamu tau kan aku sangat mencintai kamu, tapi aku juga tidak bisa meninggalkan Melanie karena dia sedang-" "Aku tau, Kak, makanya aku lebih baik mundur daripada aku harus berbagi suami dengan Melanie. Aku tidak mau, Kak." "Sayang, selamanya aku hanya milik kamu, tidak akan ada orang lain yang akan memiliki aku selain kamu," ucap Andre sambil berjalan ke arah Lyn dan berjongkok di depannya. "Selamanya aku hanya suamimu, raga serta jiwa ini hanya milikmu," imbuh Andre sambil menggenggam tangan Lyn. "Tidak, Kak. Sekarang kakak sudah menjadi milik Melanie, jiwa dan tubuh kak Andre juga sudah menjadi milik Melanie. Kakak juga suami Melanie serta ayah dari anak yang kini sedang dikandung Melanie," ucap Lyn lalu melepas tangan Andre. "Sayang, jangan katakan itu. Aku tau aku salah, aku minta maaf." "Buat apa kakak minta maaf, ini bukan salah kak Andre. Lebih baik sekarang kak Andre keluar, aku mohon." "Tapi, Sayang-" "Aku mohon, Kak. Aku juga akan secepatnya mengurus perceraian kita, jadi kak Andre tidak perlu khawatir. Kak Andre cukup fokus saja sama kandungan Melanie, kasihan dia." "Sampai kapan pun aku tidak akan menceraikan kamu!" teriak Andre "Kak Andre tidak boleh egois, apa kak Andre berniat untuk mempertahankan kita berdua? Apa kak Andre berniat untuk memiliki kita berdua? Aku tidak mau, Kak. Sampai kapan pun aku tidak mau berbagi suami, sekarang kakak pikirkan baik-baik, pilih aku atau Melanie dan aku beri waktu satu minggu. Sekarang kakak keluar!" usir Lyn sambil menunjuk ke arah pintu. Andre menatap Lyn dan keluar dari kamar Adrian. Andre membanting pintu kamar Adrian. Blam! "Maafkan aku, Kak. Hanya ini jalan yang terbaik untuk kita," ucap Lyn sambil meneteskan air mata. Lyn menggendong Kenzo dan keluar dari kamar Adrian. Lyn memindahkan Kenzo ke kamarnya. Lyn sudah bertekad untuk mengakhiri pernikahannya, karena Lyn tidak sanggup jika harus hidup bersama dengan Melanie. Lyn juga menyadari jika dirinya sudah tidak pantas untuk Andre, Lyn merasa dirinya sudah sering mengecewakan serta menyakiti Andre. Bagi Lyn dengan melepaskan Andre maka Andre akan bahagia dengan keluarga barunya. *** Selang beberapa hari Melanie harus dirawat di rumah sakit karena kondisinya yang sangat lemah. Dokter menyarankan agar Melanie tidak terlalu banyak pikiran maupun stres karena itu akan berdampak buruk untuk kondisi kandungannya. Andre semakin berada di posisi yang sulit. Andre tidak mungkin meninggalkan Melanie di saat seperti ini. Saat ini Melanie sangat membutuhkan dukungan serta perhatian Andre. Sedangkan waktu yang ditentukan Lyn tinggal dua hari lagi. Andre sangat frustasi, dia sering marah-marah tanpa alasan, apalagi saat ini Lyn lebih memilih kembali ke Pekanbaru. Kedua orang tua Lyn sudah mengetahui perihal tentang rumah tangga anaknya. Dimas sangat kecewa dengan Andre. Dimas pikir Andre tidak akan pernah menyakiti Lyn dan menepati janjinya. Dimas dan Mikayla mendukung Lyn, jika dia memang ingin berpisah dengan Andre. Mungkin itu adalah jalan yang terbaik untuk mereka berdua. Mikayla tidak terima jika anak semata wayangnya harus hidup dengan wanita lain suaminya. "Sayang, kamu harus kuat demi Kenzo," ucap Mikayla sambil mengusap lembut punggung Lyn. "Iya, Bun. Hanya Kenzo yang membuat Lyn bertahan sampai sekarang." "Lalu bagaimana dengan perceraian kalian?" "Lyn tidak tau, Bun, tapi Lyn sudah mengirimkan surat cerai itu kepada kak Andre dan Lyn sudah menandatanganinya. Lyn harap kak Andre secepatnya menandatangani surat itu." *** Melanie sudah keluar dari rumah sakit, sekarang kondisinya sudah lebih baik. Andre selalu berada di sisi Melanie. "Kak!" panggil Adrian sambil berjalan ke arah Andre. "Ada apa?" "Ada surat untuk kakak," ucap Adrian sambil memberikan amplop coklat kepada Andre. "Dari siapa?" tanya Andre sambil menerima amplop itu. "Lyn." Adrian berjalan meninggalkan Andre dan Melanie. Andre penasaran apa isi amplop itu, Andre membuka amplop coklat itu. "Apa ini?! Kenapa Lyn mengirim ini? Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menceraikanmu, Lyn!" teriak Andre emosi. Andre berniat merobek surat itu tapi dicegah oleh Melanie. Melanie memohon kepada Andre agar Andre mau menandatangani surat cerai itu, karena Melanie sangat membutuhkannya. Melanie begitu takut Andre akan meninggalkannya. "Rayn, jika kamu tidak menceraikan Lyn, maka aku yang akan bunuh diri!" ancam Melanie. "Kamu ini bicara apa?! Mana mungkin aku akan menceraikan Lyn, sampai kapan pun aku tidak akan pernah menceraikan, Lyn!" teriak Andre emosi. "Kalau begitu kamu lebih memilih aku dan anakmu mati, karena aku tidak akan sanggup hidup tanpa kamu. Rayn, hanya kamu yang aku miliki, jika kamu pergi meninggalkanku, lebih baik aku mati," ancam Melanie lagi. "Mel, kamu jangan bikin aku tambah frustasi ya, aku tidak takut akan ancamanmu!" teriak Andre sambil menunjuk-nunjuk Melanie. "Oke, Ryan, kamu pikir aku tidak berani melakukan itu? Lihat saja, aku akan mati di depan kamu!" seru Melanie lalu berjalan menuju dapur. Melanie mengambil pisau dari dapur dan membawanya di depan Andre. Melanie berniat memotong nadi tangannya tapi dicegah oleh Andre. "Apa kamu sudah gila?! Apa kamu tidak kasihan sama anak kamu, hah?!" teriak Andre lalu mengambil pisau dari tangan Melanie lalu melemparkannya ke lantai. "Ya! Aku memang gila! Buat apa anak ini hidup jika dia harus hidup tanpa ayahnya, lebih baik aku mati bersama anakku!" "Jangan seperti itu, Mel." "Sekarang kamu pilih mendatangi surat itu atau kamu melihat aku mati di depanmu!" teriak Melanie. Andre mengacak-acak rambutnya karena frustasi. Andre ingat akan pesan dokter kepadanya agar tidak membiarkan Melanie stres, karena itu akan berdampak buruk untuk kandungannya. "Apa lagi yang kamu pikirkan, Rayn? Ah, perutku sakit!" teriak Melanie sambil menahan sakit di perutnya. Andre terlihat sangat panik, dia lalu berteriak memanggil Adrian agar membantunya membawa Melanie ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, dokter memeriksa keadaan Melanie. "Gimana, Dok, keadaan istri saya?" tanya Andre cemas. "Untung Anda langsung membawanya ke rumah sakit, jika terlambat sedikit saja maka Anda akan kehilangan anak Anda. Saya sudah memperingatkan Anda agar tidak membuat istri Anda stres, lebih baik istri anda dirawat untuk beberapa hari di sini agar kondisinya kembali pulih. Saya harap Anda lebih memperhatikan kondisi mental istri Anda agar dia tidak terlalu banyak berpikir," ucap dokter itu.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
sangat bagus novel nya saya sukaa
28/04/2022
3cerita nya bagus euy...
24/04/2022
1cerita nya bagus banget
17/04/2022
5Lihat Semua