"Ya, aku memang sudah gila, aku gila karena terlalu mencintaimu Lyn!" teriak Adrian. "Cukup, Dri! Aku ingin pulang!" teriak Lyn emosi. Adrian menarik Lyn lalu menciumnya dengan paksa. Adrian terus melangkah maju hingga tubuh Lyn menempel di dinding. Lyn terus meronta, tapi apalah daya, tenaga Lyn tidak sekuat tenaga Adrian. "Aku tidak akan pernah melepaskanmu! Ingat itu!" Ancam Adrian. Lyn terkulai lemas, air matanya mengalir deras. Melihat Lyn menangis, Adrian merasa sangat bersalah. "Lyn, maafkan aku, aku terbawa emosi," ucap Adrian sambil berjongkok di depan Lyn. "Kamu jahat, aku membencimu, Dri!" teriak Lyn keras. Adrian memeluk Lyn. "Maafkan aku," ucapnya. "Aku mau pulang sekarang!" "Baiklah, ayo kita pulang." Adrian membantu Lyn berdiri. Mereka berjalan menuju mobil, mereka masuk ke dalam mobil dan Adrian melajukan mobilnya. Sesampainya di rumah, Lyn membuka pintu. Lyn dan Adrian masuk ke dalam rumah, Lyn menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar. “Kok kamu sudah pulang, Lyn?" tanya Andre terkejut melihat Lyn masuk ke dalam kamar. "Aku tidak enak badan," ucap Lyn berbohong. Maafkan aku, Kak. Aku tidak bisa jujur sama kamu kalau tadi aku pergi sama Adrian, aku tidak mau menyakitimu, pikir Lyn dalam hati. "Kamu sakit apa? Apa kita perlu pergi ke rumah sakit?" tanya Andre cemas lalu menghampiri Lyn dan membawanya duduk di sofa. "Aku cuma pusing saja, mungkin hanya kelelahan." "Aku ambilkan obat ya?" "Tidak usah, Kak. Aku tadi sudah minum obat di kampus," ucap Lyn sambil menarik tangan Andre. Andre duduk di samping Lyn dan memeluknya. "Apa kita tunda dulu kepindahan kita?" "Tidak, kita pindah sekarang, aku sudah tidak sanggup jika harus satu atap sama Adrian." "Pasti sulit ya untuk melupakan Adrian, kalian kan sudah pacaran selama tiga tahun, kalian menghabiskan waktu bersama-sama." Lyn melepaskan pelukan Andre dan menatap Andre. "Kamu mau, kan membantuku untuk melupakan Adrian?" "Tentu saja, aku akan curahkan seluruh kasih sayang dan perhatian aku agar kamu bisa secepatnya melupakan Adrian," ucap Andre dengan senyuman di wajahnya. "Terima kasih." "Untuk apa berterima kasih, aku adalah suamimu, jadi sudah kewajibanku untuk membahagiakanmu." "Tapi aku bukan istri yang baik, aku selalu menyakitimu." "Itu karena keadaan yang membuat kita seperti ini, tapi aku yakin suatu saat kamu akan bisa menerimaku seutuhnya," ucap Andre lalu mengecup kening Lyn. *** Hari wisuda yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, dengan setelan kebaya berwarna cream Lyn dan Vivi terlihat sangat cantik. "Kamu sangat cantik, Lyn," puji Vivi. "Kamu juga." "Di mana Adrian?" tanya Vivi. "Aku tidak tau." "Apa Adrian masih belum bisa menerima semua ini?" tanya Vivi penasaran. "Aku tidak tau, aku sebenarnya juga tidak tega melihat Adrian selalu bersedih, makanya aku memutuskan untuk tinggal di kontrakanku lagi. Aku ingin secepatnya melupakan Adrian walau itu terasa sulit bagiku." "Aku tau Lyn gimana perasaan kamu, apalagi kamu dan Adrian sudah dekat selama tiga tahun, itu waktu yang cukup lama. Apalagi kalian selalu menghabiskan waktu bersama-sama." "Aku tidak mau membahas ini, rasanya semakin terasa sakit," ucap Lyn lalu melangkah pergi. Kini mereka berjalan menuju gedung tempat diadakannya acara wisuda dengan memakai toga yang menjadi kebanggaan para wisudawani. Acara dimulai dengan penyambutan rektor. Setelah selesai memindahkan tali yang dilakukan oleh bapak rektor, Vivi dan Lyn turun dari podium, mereka menghampiri keluarga masing-masing. "Selamat ya, Sayang! Akhirnya kamu lulus juga," ucap Mikayla sambil memeluk Lyn. "Makasih, Bun," ucap Lyn. "Selamat ya, Lyn. Ayah bangga padamu," ucap Dimas lalu memeluk Lyn. "Makasih, Yah," ucap Lyn. "Di mana suamimu?" tanya Dimas. "Tidak tahu, Yah. Katanya tadi masih ada meeting penting," ucap Lyn. Mereka pun akhirnya mengambil foto untuk kenang-kenangan. Lyn melihat Adrian yang kini tengah menatapnya dari kejauhan, ingin sekali Lyn berlari menghampiri Adrian untuk sekadar mengucapkan selamat atas kelulusannya, tapi Lyn tak berani melakukannya karena sekarang Lyn bukan siapa-siapanya Adrian lagi. "Itu suamimu, Sayang!" ucap Mikayla sambil melihat Andre yang sedang kesusahan melepaskan diri dari kerumunan para mahasiswi. "Menantu ayah memang tampan, hingga banyak wanita yang mengaguminya," ucap Dimas. Lyn melihat Andre yang sedang dikelilingi para wanita-wanita cantik. "Andre memang tampan, pasti banyak wanita yang tertarik padanya," gumam Lyn pelan. "Sayang, coba kamu hampiri suami kamu! Kasihan dia," ucap Mikayla. "Baik, Bun," ucap Lyn lalu melangkah menghampiri Andre. Andre melihat Lyn yang kini tengah berjalan ke arahnya. "Kak Andre! Dipanggil bunda!" teriak Lyn. "Siapa sih dia? Mengganggu saja," ucap salah seorang mahasiswi. "Cepetan, Kak! Kalau tidak aku marah, nih!" Ancam Lyn. "Siapa sih kamu?! Tidak sabaran amat!" seru salah seorang mahasiswa. "Maaf saya permisi dulu, istri saya sudah menunggu," ucap Andre. Hah?! Semua mahasiswi terkejut mendengar ucapan Andre dan langsung saja tanpa aba-aba mereka segera pergi satu persatu. "Maaf, tadi aku sudah berusaha menghindar, tapi mereka terlalu banyak," ucap Andre menjelaskan. "Tidak apa-apa, suamiku ini kan memang tampan jadi wajar dong banyak wanita cantik yang terpesona," ucap Lyn dengan cemberut. "Apa kamu cemburu?" tanya Andre dengan senyuman di wajahnya. "Apa? Cemburu? Ya tidaklah." Lyn lalu melangkah pergi. Aku tau kalau sebenarnya kamu itu cemburu, terlihat jelas di wajahmu, tapi kamu tidak mau mengakuinya, pikir Andre dalam hati. "Ayo, Kak! Kenapa malah melamun?!" teriak Lyn. "Iya, tunggu!" teriak Andre lalu berjalan mengejar Lyn. "Menantu ayah ini memang mempesona, gimana rasanya dikerubungi banyak wanita?" goda Dimas. "Capek, Yah," ucap Andre sambil menatap Lyn. Lyn hanya memalingkan wajahnya mendengar ucapan Andre. "Apa kamu tidak cemburu Lyn, suamimu jadi rebutan banyak cewek cantik," goda Dimas. "Tidak," jawab Lyn singkat. "Bohong, Yah. Lyn itu sebenarnya cemburu, lihat saja mukanya cemberut gitu," goda Andre. Mikayla dan Dimas hanya tertawa melihat tingkah anak dan menantunya. Mereka pun kembali mengambil foto untuk kenang-kenangan. "Ayo kita temui keluarga kamu, ayah juga ingin memberi selamat kepada adik kamu," ucap Dimas. "Baik, Yah." Mereka akhirnya berjalan menghampiri Adrian, Jericho dan Lisa yang sedang asyik berfoto. "Halo Om, Tante," sapa Adrian lalu mencium tangan Dimas dan Mikayla. "Selamat ya Adrian atas kelulusan kamu," ucap Dimas dan Mikayla. "Makasih ya Om, Tante," ucap Adrian. "Selamat ya, Dri, atas kelulusan kamu," ucap Lyn sambil tersenyum menatap Adrian. "Makasih ya, Lyn. Selamat juga atas kelulusan kamu, semoga semua mimpi-mimpi kamu tercapai," ucap Adrian dengan menepiskan senyumannya. "Makasih," ucap Lyn dengan menepiskan senyumannya. "Kalian mau langsung pulang atau masih mau di sini?" tanya Jericho. "Kami masih ada acara lain, Pa. Habis ini anak-anak mau bikin acara perpisahan," ucap Adrian.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
sangat bagus novel nya saya sukaa
28/04/2022
3cerita nya bagus euy...
24/04/2022
1cerita nya bagus banget
17/04/2022
5Lihat Semua