"Baik, Pa." "Papa sudah tidak sabar ingin melihatmu menikah," ucap Jericho lalu keluar dari kamar Andre. Yes! Akhirnya aku akan menikah dengannya, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya. Sudah 4 tahun aku tidak bertemu dengannya, aku sangat merindukannya, ucap Andre senang. Jericho berjalan menghampiri istrinya, dia ingin memberitahu kabar gembira ini kepada istrinya. Jericho memeluk istrinya dari belakang. "Ada apa, Pa? Malu kan kalau dilihat sama anak-anak." "Papa punya kabar gembira untuk mama." "Apa itu, Pa?" tanya Lisa lalu membalikkan tubuhnya menghadap suaminya. "Lamaran Andre diterima, Ma. Mikayla mau menikah dengan Andre," ucap Jericho senang. "Syukurlah, mama senang mendengarnya, mama sudah tidak sabar ingin melihat Andre menikah," ucap Lisa senang. "Papa juga, Ma," ucap Jericho sambil memeluk istrinya. Andre dan Adrian turun kebawah, mereka melihat kedua orang tuanya saling berpelukan. "Wah, ada kabar gembira apa ini sampai mama dan papa sebahagia ini?" tanya Adrian. "Sayang, lamaran kakak kamu diterima, sebentar lagi kakak kamu akan menikah," ucap Lisa sambil tersenyum. "Wah, selamat ya kak! Sebentar lagi kakak akan menikah," ucap Adrian lalu memeluk Andre. "Sudah lepaskan," ucap Andre. Lisa melihat Andre tidak senang dengan kabar gembira ini, dia berpikir Andre terpaksa menerima perjodohan ini. "Apa kamu tidak bahagia, Sayang?" tanya Lisa. "Itu tidak penting, Ma. Asal mama dan papa bahagia, maka Andre juga bahagia." "Tapi jika kamu tidak bahagia, gimana mama dan papa bisa bahagia, kami melakukan ini untuk kamu," ucap Lisa. "Aku bahagia kok, Ma. Jadi mama tidak usah khawatir," ucap Andre sambil memeluk mamanya. "Baiklah, besok kita akan menemui keluarganya. Adrian, apa kamu juga bisa ikut?" tanya Jericho. "Maaf Pa, Adrian tidak bisa ikut, karena Adrian besok ada janji sama Theo." "Tapi sayang, ini penting untuk kakak kamu," ucap Lisa. "Maaf Ma, tapi ini juga penting untuk Adrian, karena Adrian sama Theo mau mengecek lokasi untuk acara kampus Adrian," ucap Adrian merasa tidak enak hati. "Sudahlah, Ma. Ini kan baru acara lamaran, Adrian tidak ikut juga tidak apa-apa," ucap Jericho. Adrian melihat kakaknya senyum-senyum sendiri. "Wah-wah! Karena lamarannya diterima kakak jadi senyum-senyum sendiri," goda Adrian. "Apaan sih kamu? Sok tau!" seru Andre. "Baiklah, besok kita akan berangkat pagi dan malam kita sudah ada di rumah," ucap Jericho. "Oh ya Pa, Adrian titip salam saja untuk calon kakak ipar," ucap Adrian. "Baiklah." Adrian mengambil kunci mobil di atas meja dan bergegas untuk berangkat ke kampus. "Ma, Pa, Adrian ke kampus dulu," ucap Adrian sambil mencium tangan kedua orang tuanya. "Hati-hati ya, Sayang," ucap Lisa. "Baik, Ma," ucap Adrian lalu melangkah pergi. "Hari ini kamu tidak usah ke kantor, biar papa yang handle semuanya, sekarang kamu persiapkan diri kamu untuk besok," ucap Jericho. "Baik, Pa." *** Hari ini Andre dan keluarganya bersiap-siap untuk berangkat menuju Pekanbaru. "Sayang, apa kamu sudah siap?" tanya Lisa. "Sudah, Ma." Andre lalu menuruni tangga. "Di mana adik kamu?" tanya Jericho. "Dia tadi sudah pergi, Pa. Katanya mau ke rumah temannya," ucap Andre. "Ya sudah, ayo kita berangkat," ucap Jericho. Mereka keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil. Jericho melajukan menuju bandara. Sesampainya di bandara, Jericho memarkirkan mobilnya di parkiran bandara. Hari ini Andre terlihat sangat tampan dengan mengenakan jas putih, yang membuatnya semakin menawan. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam, mereka sampai di Pekanbaru. Mereka naik taksi untuk menuju rumah Lyn. Sesampainya di rumah Lyn, Jericho mengetuk pintu rumah Dimas. Tok! Tok! Tok! Lyn yang sedang melihat acara TV mendengar suara pintu diketuk, Lyn berjalan menuju pintu utama. "Sebentar," ucap Lyn lalu membuka pintu. "Maaf, cari siapa ya?" tanya Lyn saat melihat Jericho, Lisa dan Andre berdiri di depan pintu rumahnya. "Ini rumah Mikayla, kan?" tanya Jericho. "Iya Om, saya Lyn. Maaf ini dengan siapa ya?" tanya Lyn sambil menatap kedua orang tua Andre. "Saya teman ayah kamu, apa ayah kamu ada di rumah?" tanya Jericho. "Ada Om, mari silakan masuk," ucap Lyn sambil mempersilakan mereka masuk. "Makasih ya, Sayang," ucap Lisa sambil menyentuh pipi Lyn. Adrian menatap Lyn sampai tak berkedip, dia kagum melihat kecantikan Lyn. "Silakan duduk Om, Tante. Saya akan panggilkan ayah dulu," ucap Lyn. Lyn melangkah pergi dan menghampiri ayahnya di dalam kamar. Lyn membuka pintu kamar kedua orang tuanya. "Ayah, di luar ada yang mencari ayah, katanya teman ayah," ucap Lyn. "Siapa ya, Yah?" ucap Mikalya penasaran. "Nggak tau, Bun. Lebih baik kita lihat saja," ucap Dimas. Mikalya mendorong kursi roda suaminya menuju ruang tamu dan diikuti oleh Lyn. "Oh, kalian rupanya, kenapa tidak mengabari dulu kalau mau kemari?" ucap Dimas. "Maaf, setelah mendengar kabar gembira dari kamu aku sudah tidak sabar ingin cepat-cepat kemari," ucap Jericho. "Lyn, kasih salam buat om dan tante," titah Dimas. "Halo Tante, Om," sapa Lyn sambil mencium tangan kedua orang tua Andre. "Aku tidak menyangka anak kamu sudah sebesar ini, cantik lagi," puji Jericho. "Namanya juga anak gadis, jadi cepat pertumbuhannya," ucap Dimas. Lyn begitu penasaran, siapa sebenarnya mereka ini. Lyn menatap pria yang sedari tadi menatapnya. Siapa sih dia? Menatapku dari tadi, tidak sopan banget, gerutu Lyn. Mikalya menyenggol tangan Lyn, dia bisa mendengar ucapan Lyn, karena Lyn duduk tepat di sebelah bundanya. "Ada apa sih, Bun?" tanya Lyn pelan. "Oh ya Lyn, kamu belum kenal kan mereka ini siapa?" tanya Dimas. "Iya, Yah." "Mereka ini adalah calon mertua kamu dan pria yang duduk di depan kamu itu adalah Andre, calon suami kamu," ucap Dimas. Lyn sangat terkejut mendengar ucapan ayahnya, dia tidak menyangka mereka akan datang secepat ini. "aru juga kemarin diberi jawaban, sekarang sudah muncul di depanku, gumam Lyn dalam hati. "Lyn, coba kamu ajak Andre untuk berkeliling rumah, ada yang mau ayah dan bunda bicarakan sama om dan tante," pinta Dimas. "Baik, Yah," ucap Lyn tanpa bisa menolak. Walau Lyn enggan melakukannya, tapi Lyn tidak bisa menolak permintaan ayahnya. "Mari silakan ikut saya," ucap Lyn lalu berdiri dan melangkah pergi. Adrian mengikuti Lyn dari belakang, mereka berhenti di taman yang letaknya di samping rumah Lyn. Lyn duduk di kursi taman. "Maaf kita belum kenalan," ucap Andre. "Nggak perlu kenalan, aku sudah tau nama kamu dan kamu juga sudah tau nama aku," ucap Lyn ketus. Aku tidak menyangka ini cewek galak juga ya, tapi aku harus bersikap biasa saja, gumam Andre dalam hati.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
sangat bagus novel nya saya sukaa
28/04/2022
3cerita nya bagus euy...
24/04/2022
1cerita nya bagus banget
17/04/2022
5Lihat Semua