"Sakit, sakit sekali, aku sudah tidak sanggup," ujar Melanie sembari meneteskan air mata. "Jangan menyerah, Mel. Demi anak kita. Demi anak yang selama ini kita tunggu-tunggu kehadirannya, yang akan menemani hari-hari kita. Kamu harus terus berjuang, aku akan menemanimu di sini," ujar Andre sembari menepiskan senyumnya. Dengan perlahan Melanie menganggukkan kepalanya. Melanie mengikuti arahan dari dokter, dengan mengumpulkan sisa-sisa tenaganya Melanie mengedan sekuat-kuatnya. Terdengar suara tangisan bayi yang menggema di seluruh ruangan. “Oek! Oek!” Terlihat senyuman merekah dari bibir Andre dan Melanie. Tidak henti-hentinya Andre menciumi tangan Melanie yang masih digenggamnya. "Terima kasih atas perjuanganmu, akhirnya anak kita telah lahir," ucap Andre sembari mengecup kening Melanie. Melanie merasa sangat bahagia mendapatkan perlakukan seperti ini dari Andre. Dia bahkan rela menghadapi semua ini berkali-kali demi untuk mendapatkan perhatian dari Andre. "Selamat, Pak, Bu. Anak kalian terlahir dengan sehat dan tak kurang satu apa pun, anak kalian laki-laki," ucap sang dokter lalu memberikannya kepada Andre. Dengar perlahan dan hati-hati Andre menggendong anaknya. Andre kembali teringat saat pertama kali ia menggendong Kenzo untuk pertama kalinya. Andre mencium kedua pipi gembul anaknya. Andre membawa anaknya kepada Melanie. Dengan sisa-sisa tenaganya Melanie mengangkat tubuhnya untuk mencium pipi gembul anaknya. "Dia sangat mirip denganmu," ucap Melanie sembari menatap wajah tampan putranya. "Aku akan memberinya nama Rafael Radentha Pramudya," ucap Andre sembari mengecup kening putranya. Setelah puas memandangi dan menggendong anaknya Andre menyerahkan anaknya kepada suster untuk dimandikan. Andre keluar dari ruang persalinan untuk mengurus ruang rawat inap Melanie. "Makasih Andre, kamu masih mempunyai sedikit kepedulian untukku. Meski itu kamu lakukan semata-mata demi kelancaran kelahiran anakmu, tapi aku sangat bahagia. Aku berharap kamu akan seperti ini selamanya," ucap Melanie pelan sembari menatap kepergian Andre. Setelah mendapatkan penanganan sehabis melahirkan, Melanie dipindahkan ke ruang rawat inap. Saat ini Melanie tengah menyusui anaknya untuk pertama kali. Andre terus menatap wajah anaknya yang tengah asyik menyusu. Andre terus menerus mengusap lembut pipi gembul anaknya. "Makasih ya, kamu mau menemani aku saat melahirkan. Aku tadi hampir putus asa, untung ada kamu," ucap Melanie sembari tersenyum. "Itu sudah jadi kewajibanku sebagai suami kamu, aku hanya ingin menjadi ayah yang baik. Aku juga ingin melihat proses kelahirannya," sahut Andre. Andre mengambil Rafael yang sudah tertidur dari pangkuan Melanie dan menidurkannya di box bayi. "Kamu mau makan apa? Biar aku belikan," tawar Andre. Melanie menggelengkan kepalanya. Dia hanya ingin Andre berada di sisinya. Melanie tak ingin Andre pergi meninggalkannya. Walau Melanie menolak untuk makan, Andre tetap memaksa Melanie untuk makan. Andre dengan sangat perhatian menyuapi Melanie dengan perlahan. Melanie menatap Andre dengan senyuman di wajahnya. Aku ingin waktu tetap seperti ini, agar kepedulian Andre tidak akan pernah lenyap. Hanya Andre yang aku inginkan di dunia ini. Makasih Adnre, kamu sudah meluangkan semua waktumu hanya untuk menemaniku di sini. Semoga dengan hadirnya Rafael rumah tangga kita dengan perlahan akan membaik. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, batin Melanie. *** Sudah 2 bulan Melanie pulang dari rumah sakit sehabis melahirkan. Melanie senang karena kehadiran Rafael membuat Andre kembali mempedulikannya, bahkan Andre selalu pulang lebih awal hanya untuk melihat sang buah hati. Andre masuk ke dalam kamar dan melihat Melanie tengah menyusui Rafael. Andre meletakkan tas kerjanya di atas meja. Dia duduk di samping Melanie sembari mengecup kening putranya. Terlihat senyuman merekah di wajah Andre, karena anaknya terlihat sangat menggemaskan jika tengah tertidur sehabis menyusu. Andre hendak menggendong Rafael tapi dilarang oleh Melanie. "Mandilah dulu, kamu pasti capek," ujar Melanie sembari meletakkan Rafael di atas box bayi yang letaknya tak jauh dari ranjangnya. Melanie mendekati Andre dan mencoba untuk melepaskan dasi yang Andre pakai. Andre hanya diam saja saat Melanie melepaskan dasi dari kerah kemejanya. Melanie mendongakkan wajahnya menatap Andre, dia sangat merindukan saat-saat seperti ini. Andre menghela napas lelah dan sedikit mendorong tubuh Melanie agar menjauh darinya. Dia merasa tidak nyaman dengan posisinya sekarang, karena Melanie mulai mendekatkan wajahnya dan menatap lekat bibir Andre. "Maaf, aku sangat lelah dan ingin segera mandi." Andre lalu bergegas menuju kamar mandi. Melanie tersenyum tipis sembari mengepalkan tangannya. Dia mencoba untuk tetap tenang, dia tidak ingin memancing keributan dengan Andre. Melanie keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Dia ingin menyiapkan makan malam untuk Andre. Kalau Andre bekerja, Melanie hanya bisa memesan makanan dari luar, karena dirinya sekarang sudah tak bisa leluasa seperti dulu lagi. Semenjak kehadiran Rafael, Melanie sudah tak sanggup untuk mengurus rumah. Dia pun mempekerjakan asisten rumah tangga, tapi hanya sampai sore hari. Setelah selesai menyiapkan makanan di atas meja, Melanie memanggil Andre untuk makan malam. Andre keluar dari kamar dan berjalan menuju meja makan. Dia duduk di depan Melanie. Melanie mengambilkan makanan dan meletakkannya di depan Andre. Andre mulai menyantap makanan itu, karena Andre merasa sangat lapar. Semenjak ada Rafael, Andre selalu makan malam di rumah. Biasanya dia selalu makan di luar bersama dengan rekan kerjanya. Melanie menatap Andre yang tengah makan dengan lahapnya. "Kamu tidak makan?" tanya Andre lalu kembali memasukkan satu suapan ke mulutnya. Melanie menggelengkan kepalanya sembari tersenyum menatap Andre. "Kamu harus makan yang banyak biar ASI kamu melimpah dan Rafael juga tidak akan kekurangan ASI kamu," sambung Andre lagi. "Tadi aku sudah makan kok, nanti kalau aku lapar aku akan makan lagi," ucap Melanie. Setelah selesai makan Andre berjalan menuju ruang kerjanya. Andre memang banyak menghabiskan waktunya di ruang kerjanya setelah Rafael tidur, karena dia tidak ingin menghabiskan waktu di kamar bersama dengan Melanie. Andre terus berkutat dengan laptopnya di meja kerjanya. Dia selalu membawa pekerjaannya ke rumah hanya untuk melewati malamnya. Waktu menunjukkan pukul 23.00 WIB. Andre menutup laptopnya dan keluar dari ruang kerjanya. Biasanya jam segini Melanie sudah tidur, karena seharian kelelahan menjaga dan merawat Rafael. Andre masuk ke dalam kamarnya, dia melihat Melanie sudah terlelap. Andre berjalan menuju ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping Melanie. Andre menarik selimut untuk menyelimuti tubuhnya dan juga Melanie. Entah mengapa malam ini terasa begitu dingin. Andre mencoba untuk memejamkan matanya. Dia tidur dengan membelakangi Melanie. Melanie sebenarnya belum tidur, dia hanya pura-pura tidur, karena Melanie sangat merindukan Andre. Melanie memberanikan diri untuk memeluk Andre dari belakang, dia mencium punggung Andre. Andre yang saat itu belum tertidur sontak terkejut dengan perlakuan Melanie terhadapnya. Meski Melanie adalah istrinya, tapi Andre sudah tak pernah menyentuh Melanie lagi. Andre membalikkan tubuhnya menatap Melanie.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
sangat bagus novel nya saya sukaa
28/04/2022
3cerita nya bagus euy...
24/04/2022
1cerita nya bagus banget
17/04/2022
5Lihat Semua