"Cepetan, bilang apa permintaan kamu!" "Boleh enggak aku tidur di sini malam ini saja?" Memasang wajah memelas. "Apa?! Apa aku enggak salah dengar? Kamu mau tidur di sini?! Gila kamu ya?!" seru Lyn terkejut. Lyn menaikkan satu alisnya dan menatap tajam ke arah Adrian. "Sayang, kamu jangan salah paham, aku enggak ada niat apa-apa kok. Aku cuma ingin bersama kamu malam ini, karena aku sangat merindukanmu. Aku janji aku enggak akan melakukan apa-apa." "Tapi kamu tau kan kalau kita enggak bisa tinggal bersama, kita ini belum menikah," ucap Lyn takut. Lyn takut akan ada tetangga yang mendatangi rumahnya. Selain itu, dia juga takut Adrian akan melakukan hal-hal yang ada di luar dugaannya. "Aku enggak akan ngapa-ngapain kamu kok, aku juga enggak berani melakukan itu kalau kamu juga enggak menginginkannya." "Kalau kamu mau tidur di sini nanti kamu tidur di mana? Karena kamar satunya aku pakai untuk menaruh barang-barangku," ucap Lyn bingung. "Aku bisa tidur di sini," balas Adrian sambil menepuk karpet yang dia duduki. "Terus gimana dengan orang tuamu?" "Kalau soal itu gampang, aku tinggal bilang saja kalau aku tidur di rumah Theo." Lyn tidak tau harus mengatakan apa lagi, sebenarnya Lyn juga masih merindukan Adrian, dia juga ingin terus bersama Adrian. "Baiklah, tapi sekali ini saja ya, lain kali enggak akan pernah aku izinkan." "Terima kasih sayang, aku sayang kamu," ucap Adrian senang. "Tapi janji ya kamu tidur di luar," ucap Lyn sambil mengacungkan jari telunjuknya. "Iya, tenang saja. Aku enggak akan melakukan apa pun." "Ya sudah, aku mau mandi dulu." Lyn berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Gadis itu mengunci kamarnya, dia takut Adrian akan masuk ke kamarnya saat dia sedang mandi. Lyn masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan ritual mandinya. Setelah setengah jam, Lyn selesai mandi dan memakai pakaian, Lyn keluar dari kamar. Lyn berjalan menghampiri Adrian yang sedang asyik menonton TV. "Sayang, kamu enggak mandi?" "Ya mandilah sayang, kalau aku enggak mandi nanti bau lagi." Adrian lalu berdiri. "Ya sudah, sana mandi!" "Mandi di mana?" tanya Adrian sambil mendekati Lyn. "Ya di kamar mandilah sayang, masa mau mandi di sini," ucap Lyn kesal. "Mandi di sini juga enggak apa-apa," ucap Adrian sambil membuka bajunya. Lyn sontak langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Apa yang kamu lakukan?!" tanya Lyn terkejut. "Ya mau mandilah sayang," ucap Adrian sambil tersenyum melihat salah tingkah Lyn. "Tapi buka bajunya enggak di sini juga kali, dasar enggak tau malu!" Lyn lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Adrian. "Kenapa harus malu sayang? Kan aku cuma buka baju, apa kamu mau lihat aku buka celana juga?" goda Adrian. "Sudah sana, kalau mau mandi! Aku mau memasak untuk makan malam." Saat ini jantung Lyn berdetak kencang. "Nggak! Nggak! Sadar Lyn, sadar! Itu enggak boleh terulang lagi," ucap Lyn sambil menepuk kedua pipinya untuk mengembalikan kesadarannya kembali. "Kamu bilang apa, Sayang?" tanya Adrian yang masih berdiri di belakang Lyn. Lyn tidak menyadari kalau Adrian masih berada di belakangnya. "Ah, enggak apa-apa," ucap Lyn gugup. Lyn berjalan menuju dapur, dia berniat membuat nasi goreng untuk makan malam. Setelah setengah jam, makanan pun siap. "Sayang, ayo makan malam!" teriak Lyn sambil menaruh nasi goreng ke dalam piring. Adrian yang sudah selesai mandi keluar dari kamar. Lyn melihat Adrian hanya mengenakan kaos dalam. "Sayang, mana bajumu?" "Tadi baju aku jatuh, jadi basah deh." "Ya sudah, kita makan malam dulu saja, nanti aku akan ambilkan sweaterku," ucap Lyn sambil menarik salah satu kursi lalu dia duduki. "Masakan kamu selalu enak, Sayang," ucap Adrian sambil mengunyah makanannya. "Tentulah, Lyn gitu loh," ucap Lyn bergaya sok cool. Mereka akhirnya selesai makan, Lyn masuk ke dalam kamar dan mengambil sweater, bantal dan selimut dari dalam lemari. "Ini dipakai nanti kamu bisa sakit kalau enggak pakai baju," ucap Lyn sambil menyerahkan sweater-nya kepada Adrian. "Makasih, Sayang," ucap Adrian sambil menerima sweater itu dan memakainya. Lyn tersenyum manis saat melihat Adrian memakai sweater-nya, karena sweater itu pas di tubuh Adrian. Apalagi warnanya yang biru tua membuat Adrian terlihat semakin tampan. "Gimana penampilanku?" tanya Adrian sambil bergaya di depan Lyn. "Kamu cocok banget pakai sweater itu." "Oh ya, ini bantal dan selimut untuk kamu tidur," sambung Lyn sambil menyerahkan bantal dan selimut kepada Adrian. Adrian mengambil bantal dan selimut itu lalu meletakkannya di atas karpet. Lyn duduk sambil menonton TV, sedangkan Adrian menelepon mamanya. Tut.. Tut… Terdengar ponsel Lisa berbunyi. "Halo, Sayang," sahut Lisa. "Halo, Ma. Adrian mau minta izin, Ma. Malam ini Adrian mau menemani Theo, karena Theo di rumah sendirian," ucap Adrian berbohong. Melihat Adrian berbohong, Lyn langsung memukul lengan Adrian. "Aduh! Sakit tau," ucap Adrian pelan. "Sayang, kamu kenapa?" tanya Lisa cemas. "Ah, nggak apa-apa, Ma. Adrian cuma mau memberitahu mama, itu saja," ucap Adrian gugup. "Ya sudah, tapi kamu besok harus pulang ke rumah ya." "Baik, Ma. Selamat malam, Ma," ucap Adrian lalu mematikan telepon. Adrian tidur di pangkuan Lyn sambil menonton TV, malam ini mereka menghabiskan waktu dengan menonton TV, tak terasa waktu sudah semakin larut. "Sayang, aku sudah mengantuk, aku mau tidur dulu." "Baiklah sayang. Selamat tidur ya, semoga mimpi indah," ucap Adrian lalu bangun. Lyn berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Lyn membuka pintu kamar. Dia lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang, saking lelahnya tak butuh waktu lama Lyn pun terlelap. Adrian juga sudah terlelap di depan TV. Tengah malamnya, Adrian merasa sangat kedinginan. Walau Adrian sudah memakai sweater dan selimut, tapi rasa dingin masih menusuk sampai terasa ke tulang. Adrian bangun dan masuk ke dalam kamar Lyn. Adrian melihat Lyn sudah tertidur nyenyak, tanpa pikir panjang Adrian langsung naik ke atas ranjang dan tidur di samping Lyn. *** Keesokan harinya… Lyn merasakan berat di tubuhnya, dengan perlahan Lyn mulai membuka kedua matanya. Mata Lyn terbelalak, dia terkejut melihat Adrian kini tengah tidur di sampingnya sambil memeluknya. "Aa! Apa yang kau lakukan di sini?!" teriak Lyn terkejut. Tentu saja teriakan Lyn membuat pemuda yang tengah tidur di sampingnya sontak langsung bangun dan ikutan berteriak. "Ada apa sayang? Kenapa pagi-pagi kamu sudah berteriak? Bikin telinga aku sakit!" teriak Adrian sambil menutup kedua telinganya. "Kamu yang kenapa, kenapa kamu tidur di sini? Bukannya semalam kamu tidur di luar?" tanya Lyn lalu bangun dan turun dari ranjang.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
sangat bagus novel nya saya sukaa
28/04/2022
3cerita nya bagus euy...
24/04/2022
1cerita nya bagus banget
17/04/2022
5Lihat Semua