Beranda/The History Of Pulung Gantung/
Bab 24
Bab 24
Sementara di tempat lain. Seusai makan malam, Karina dan Nek Ening duduk bersama di ruang tamu rumah mereka. Nek Ening mulai menceritakan tentang jati diri dan juga masalalunya.
Pada malam itu, dimana Mbah Bejo telah berhasil menghabisi Pak Karsa dan kedua orang lainnya. Bu wening alias Nek Ening berusaha mati-matian melawan dukun sakti itu. Kekuatan Bu Wening yang tak seberapa jelas kalah telak dengan Mbah Bejo. Tubuh Bu Wening terlempar hingga menghantam sebuah pohon jati besar nan kokoh. Pada saat itu juga, dirinya langsung memuntahkan cairan kental berwarna merah pekat dari mulut dan hidungnya. Dirinya sempat pingsan, tapi Mbah Bejo mengira bahwa dirinya sudah tewas.
Saat Bu Wening membuka matanya. Dirinya sudah tidak mendapati keberadaan dukun laknat tersebut melainkan hanya tiga mayat orang kepercayaannya yang telah tewad di tangan Mbah Bejo.
Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya. Bu Weing menguburkan ketiganya di dalam satu lubang yang sama. Dirinya berjalan keluar hutan dengan langkah tertatih dan terseok-seok akibat mengalami luka parah. Akan tetapi, dirinya bisa sampai di sebuah perbatasan desa. Setelah melewati gapura, tiba-tiba seluruh pandangannya menjadi gelap dan ia tak ingat apa-apa lagi.
Ternyata dirinya ditolong oleh sepasang suami istri yang baik hati. Mereka merawat dan menyayangi Bu Wening seperti anak mereka sendiri karena kebetulan, mereka tidak memiliki anak hingga di usia senjanya.
Bu wening menceritakan semuanya kepada sepasang suami istri tersebut yakni Pak Badri dan Bu Badri. Mereka menyarankan untuk mengganti nama panggilan dari Wening menjadi Ening. Itulah sebabnya, di daerah itu Bu Wening dipanggil dengan nam Ening, bukan Wening.
Tujuannya adalah untuk menyamarkan dirinya dari pengejaran Keluarga Atmojo dan juga Mbah Bejo. Tidak menutup kemungkinan, jika sampai mereka tahu jika Bu Wening ternyata masih hidup, Keluarga Atmojo pasti akan menyuruh Mbah Bejo untuk menghabisinya sekali lagi, bahkan mungkin Pak Badri dan Bu Badri juga tak luput dari incaran mereka.
Air mata keduanya terus mengucur sepanjang Nenk Ening bercerita. Sesekali, mereka menyeka cairan bening yang keluar dari hidung masing-masing. Malam ini berubah menjadi malam kelabu penuh air mata.
Karina mendekap erat tubuh tua nan ringkih itu. Mencoba untuk memberikan kekuatan sekaligus sebagai bentuk dukungan serta simpati akan kisah hidup wanita tua yang ada di pelukannya saat ini.
Karina tak menyangka jika dirinya masih diberikan kesempatan oleh tuhan untuk bertemu dengan ibu kandungnya yang selama ini terpisah. Keduanya menangis haru.
Sejak pertama menemukan Karina tergeletak di tengah hutan dalam keadaan tak sadarkan diri. Sebenarnya Nek Ening sudah dapat merasakan ikatan batin mereka. Namun, dirinya tidak mau terlalu berharap banyak karena takut kecewa. Nek Ening menganggap itu hanya sebagai ungkapan rasa rindu akan ketiga putrinya yang entab berada dimana.
Kini, salah satu diantara mereka sudah berada di hadapannya. Dan ia berjanji akan membantu Karina untuk menemukan saudarinya yang lain yaitu Lastri.
Karina sudah menceritakan kepada Nek Ening atas hal yang menimpa kakaknya yaitu Karisma. Nek Ening sempat syok mendengar kabar jika Karisma telah tiada. Ia bahkan sempat menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi dan menyelamatkan putri pertamanya itu.
Karina berusaha menenangkannya dengan mengatakan bahwa itu semua bukanlah salahnya. Melainkan salah dari Keluarga Atmojo dan Mbah Bejo. Setelah mendengar perkataan anak keduanya, Nek Ening menjadi semakin membenci keluarga laknat itu.
Tanpa terasa, malam sudah semakin larut. Mereka memutuskan untuk pergi tidur bersama. Karina ingin tidur dipelukan ibu kandungnya yang belum pernah ia rasakan selama ini. Nek Ening pun menyetujuinya, ia pun juga merasakan kerinduan yang sama seperti putrinya.
Mereka berdua terlelap di ranjang yang sama dengan posisi saling memeluk satu sama lain, seakan menyalurkan rindu yang telah lama terpendam. Melewati malam kehidupan baru keduanya.
***
Sukma Kuncoro yang merasuk ke dalam tubuh Lastri merasa kewalahan menghadapi kekuatan Mirah yang seperti dibantu oleh jutaan iblis. Beberapa kali tubuh Lastri terpental mengantam pohon jati besar dan berakhir menghantam tanah. Tak ayal, hal itu membuatnya mengeluarkan banyak darah dari mulut dan hidungnya.
"Ternyata kekuatanmu tidak ada apa-apanya denganku, Kuncoro. Hahaha." Mirah tertawa lebar.
Lastri menyeka cairan kental berwarna merah itu secara kasar. Dirinya tidak akan menyerah begitu saja, meski kini sukma ayahnya telah terpisah dari tubuh kasarnya.
"Jangan terlalu jumawa dulu kamu nenek peot. Aku pasti akan menemukan kelemahanmu dan menghancurkannya hingga ke akarnya!"
"Cih! Dasar anak ingusan tak tahu tata krama!" bentak Mirah murka.
Mereka pun kembali bertarung. Mbah Tejo dan Pak Singgih yang mengetahui jika kekuatan Lastri dan mirah tidaklah sepadan. Mereka membantu Lastri untuk mengalahkan Mirah. Sementara Adrian masih dialanda kebingungan, dalam hati dia ingin sekali membantu Lastri, Mbah Bejo dan Pak Singgih, tapi dia tak mau dibilang durhaka karena telah melawan neneknya sendiri.
"Brakkkkk ...."
Suara benturan lumayan keras di iringi lenguhan menahan rasa sakit datang dari mulut Mbah Tejo, Pak Singgih dan juga Lastri. Dirinya yang mencoba mendekat ke arah sosok Mirah yang masih berdiri kokoh memasang kuda-kuda, tiba-tiba saja terhempas ke belakang menghantam dinding papan.
Mbah Pak Singgih sadar akan kekuatan yang mereka miliki tak sepadan dengan sosok bersanggul di hadapan mereka saat ini. Namun demi sang Anak, ia memberanikan diri untuk terus melawan.
Berkali-kali tubuh rentanya mencobq bangkit dan mendekat, tapi kembali ia terhempas. Sampai akhirnya sebuah lengkingan tawa ngikik dari sosok perewangan Mirah membuat tubuh renta berbalut kulit keriput Pak Singgih tak mampu lagi untuk sekedar berdiri.
Mbah bejo berusaha menahan Pak Singgih agar tidak lagi mendekat lagi. Pria tua berjambang putih itu membisikan sesuatu ke telinga Pak Singgih, yang lalu diangguki oleh mereka kedua sebagai kode.
Saat hitungan ke tiga, tubuh Mbah Tejo melesat melompati pundak Pak Singgih untuk mencabut tusuk konde yang berada di sanggul Mirah lalu melemparkannya ke arah Pak Singgih. Dengan sigap Pak Singgih menangkap tusuk konde tersebut lalu menancapkannya tepat di jantung Mirah.
Seketika wanita tua menjerit kesakitan diikuti oleh suara lengkingan dari para perewangannya yang selama ini telah mengabdi begitu setia padanya.
Meski merasa kesakitan, tapi nyatanya tenaga Mirah masih cukup besar untuk marik paksa tubuh kurus Pak Singgih dan Mbah Tejo lalu menghantamkan berkali-kali ke batang pohon jati besar. Pak Singgih dan Mbah Tejo tewas seketika. Sementara tubuh Mirah berubah menjadi asap hitam hitam yang mengepul, lalu perlahan menghilang di terpa angin. Tepat di saat itu Adam baru datang dari rumah Pak RT mengambil obat-obatan untuk Adrian menatap bingung dengan apa yang sudah terjadi.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (73)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
aku suka cerita nya
02/05/2025
0👍👍👍💪👍
13/08/2023
0nice
26/03/2023
0Lihat Semua