“Aku tahu! Tapi, tidakkah Kak Konan terlalu ikut campur masalahku? Aku memiliki cara untuk bertarung dan hidup sendiri. Andai batas wilayah tidak berubah, mungkin aku bisa pulang sendiri dengan tenang dan tepat waktu.” Konan terdiam. Ia tak bisa menjawab perkataan Lunar karena ia menyadari jika ini juga merupakan kesalahannya. Tapi Konan tetaplah Konan. Ia tak mau mengaku salah dan dirinya harus selalu benar. Di mata siapa pun itu. “Kau mate Davian, sudah seharusnya aku menjagamu.” “Tapi bukan berarti harus mendikteku dengan segala yang Kakak inginkan. Aku bukan pengganti Davian. Aku juga bukan adik atau keluarga kalian dan harus mendapatkan dikte seperti ini. Jika Kakak tidak keberatan, Kakak bisa pergi. Aku bisa mengurus diriku sendiri.” Lunar menghentakkan kakinya dengan kesal begitu Konan tetap keras kepala pada pendiriannya. Memang, apa salahnya yang ingin mempertahankan diri dengan wujud fisiknya ini? Ia sudah lumayan hebat di arena tanding. Terakhir kali ia berubah karena menghadapi musuh yang kuat, ia kehilangan kesadaran dan begitu ia kembali, hanya kehancuran yang ia saksikan. Menjadi Delta seperti ini juga bukan keinginannya. Jika boleh memilih, lebih baik ia memiliki status yang lain saja. “Sudahlah, Nar. jangan pikirkan hal lain karena kau itu istimewa. Kita istimewa. Dan terlahir menjadi istimewa adalah anugerah untuk kita,” bisik Nathaline di mindlink mereka. Lunar ingin membenarkan perkataan Nathaline, tetapi salah satu sudut hatinya tetap mengatakan jika status yang ia miliki adalah kutukan yang buruk. Kejadian tak enak selalu hadir di hidupnya dan ia sudah merasa jengah karenanya. Padahal, usianya belum menyentuh seperempat abad. Lantas, bagaimana jika ia bertambah usia? Apakah tak akan ada hal baik yang bisa ia temukan? “Maafkan aku,” lirih Konan. Ia menekan harga dirinya yang setinggi langit itu untuk meminta pada Lunar karena ia merasa bersalah. Perkataan Lunar menyadarkannya jika mereka tak terikat apa pun selain perkenalan karena Davian. Meski Lunar mate Davian, bukan berart hal itu menjadikan Lunar sebagian tanggung jawabnya terpusat pada Lunar seperti tanggung jawabnya pada Davian. Lunar tetaplah Lunar. Meninggalnya Davian bukanlah sebuah alasan untuk membenarkan perilakunya yang sudah dirasa berlebihan seperti ini. “Sudahlah, Kak. Kita hanya perlu berjlan lebih cepat agar bisa sampai sebelum hari mulai gelap. Aku tak ingin kehilangan pekerjaanku karena hal ini.” Masih dengan menahan kekesalannya, Lunar mencoba bersikap biasa pada Konan. Jujur saja, hatinya meluluh karena mendengar ucapan maaf dari wanita yang lebih tua darinya dan pernah menjadi salah satu orang yang berharga bagi mate-nya. Ia tak ingin mengecewakan Davian, jadi sebisa mungkin ia akan memaklumi sikap Konan padanya. Mungkin, suatu saat nanti Konan tak akan melakukannya lagi jika mengetahui apa yang telah ia sembunyikan padanya. “Kita akan lebih cepat sampai jika berubah.” Nah, Konan mulai lagi. “Jika Kakak ingin cepat sampai, berubah dan pergilah terlebih dahulu. Aku akan menikmati perjalananku!” sarkas Lunar. Harus berapa kali ia menjelaskan pada Konan jika ia tak bisa berubah sesuka hatinya? Selain bukan hanya karena rasa sakitnya, melainkan karena kondisi? “Hey, kau tak bisa seperti itu. maksudku, kita bisa menghemat waktu perjalanan dan tenaga. Bukankah kau juga baru pulih dari lukamu?” “Lakukan apa yang Kakak mau! Dan biarkan aku melakukan hal yang aku sukai. Jangan lagi mengikuti dan biarkan aku yang akan menyelesaikan masalahk sendiri.” Lunar tahu jika ini hanya omong kosong. Akan menjadi sulit jika ia kembali tanpa alasan yang jelas karena terlambat. Ah, andai waktu bisa diputar, ia pasti akan meminta perpanjangan libur. “Tak perlu membentakku seperti itu. Aku hanya menyarankan agar perjalanan kita berakhir lebih cepat dan kau bisa istirahat. Jika memang tak suka dengan saranku, ya, sudah! Aku tak suka dibentak seperti itu!” balas Konan. Lagi-lagi, sifat manjanya sebagai putri sulung yang terlahir dengan sendok emas meski rogue ia keluarkan lagi. Memang benar, Konan tak pernah mengalami bentakan selama ia tumbuh. Termasuk dari ayah atau ibunya, mereka terlalu memanjakan Konan dengan menuruti perintahnya dan mengabaikan hal yang bisa mengubah sifatnya menjadi lebih sensitive akan bentakan. Padahal, mereka hidup sebagai werewolf, dan hidup menjadi werewolf bukan hal lembut untuk dijalani. “Jika Kakak masih menyinggung perubahan, aku tak akan segan untuk memilih berjalan sendiri saja.” “Hey! Kita itu werewolf, sudah sepatutnya kita tak melupakan jati diri kita seperti ini. Atau kau mengerti apa yang kumaksud? Aku heran, sebenarnya kau ini werewolf atau bukan, sih? Masa menahan sakit akibat perubahan saja tak kuat? Lemah!” Cukup! Lunar sudah cukup bersabar saat Konan terus menerus mengatakan untuk berubah. Ia lebih senang melakukan perjalanan dengan sosok Riana yang lebih lemah lembut. Riana tak banyak protes atau bertanya apa pun padanya. Juga, dengan sukarela menjadi tunggangannya saat ia tak bisa berubah. Tidak seperti Konan yang selalu memaksanya untuk berubah dan tak mau membiarkan tubuhnya ditunggangi. Jika sedari awal ia tahu begini, lebih baik ia menolak saja saat Konan menawarkan bantuan untuk mengantar. “Aku tak bisa berubah sembarangan karena aku yakin jika aku berubah, kau tak akan mampu menahan wujudku, Konan!” Suara Lunar terdengar dalam. Begitu Konan melihat ke matanya, warna mata Lunar berubah dan tidak sama antara keduanya. Celaka! Jika sudah begini, Konan tak bisa lagi macam-macam dengan Lunar.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
sangat bagus saya suka sama novel nya
28/11
0sangat menarik untuk di lihat
28/08/2025
0menarik
12/07/2025
0Lihat Semua