Bab - 13

Halimah POV
Sedari pagi, air muka Kak Yanti sudah nggak enak dipandang. Bawaannya marah dan ketus. Aku jadi bertanya-tanya sendiri dalam hati, apa mungkin aku ada salah sama dia yang nggak disadari. Kalaupun ada aku salah, ngapa dia nggak ngomong langsung. Kayak gini ditahan-tahan, orang jadi berprasangka yang tidak-tidak jadinya.
Kasihan aku tengok Kak Siska terbaring di kamar. Aku pun sedang mengandung seperti yang Kak Siska alami. Atas dasar rasa peduli itulah, aku berinisiatif menyuapinya bubur. Sambil kuajak ngobrol ringan tentunya. Nggak ada pula niat lain. Dikiranya aku cari muka atau apalah, padahal semua kulakukan lillahi taala. Apalagi sama-sama perempuan kek gini, kan. Minimal aku dah punya pengalaman mengandung Samudera. Lain hal dengan Kak Siska yang baru sekali ini pun merasakan kek mana menjadi orang hamil.
Hingga suara gaduh dari luar terdengar. Kak Yanti sedang bertengkar dengan Bang Hendar. Awalnya aku berusaha nggak peduli, itu urusan rumah tangga orang. Nggak ada hak aku ikut campur. Mau bergulat pun mereka, ya silahkan. Tetapi, lama-lama kok jengah juga aku rasanya, karena sudah bawa-bawa nama Bang Galih. Kek mana nggak mendidih darah kita, kan. Suamiku yang selama ini berkorban paling banyak, malah disalah-salahkan. Sesabar-sabarnya aku sebagai istri, nggak akan diam kalau misalkan suamiku yang dijelekkannya.
"Aku nggak mau tahu ya, Bang. Secepatnya kita pindah dari sini. Ngontrak lagi sementara. Terus Abang minta juga rumah sama Paktua Syarif sekalian. Biar impas dengan saudara-saudara kau yang lain!" titah Kak Yanti keras. Nggak pernah aku dengar dia semarah itu sebelumnya. Sampai kuelus perut besarku, dalam hatiku, 'Amit-amit jabang bayi.'
"Kek ada gila-gilanya kau sekarang, Yan!" Bang Hendar menjawab agak berbisik, tapi masih bisa kami dengar dengan jelas.
Semakin kusimak, makin dia ungkit-ungkit semuanya. Seperti ada kebencian berakar kuat pada Bang Galih. Heran pula aku 'kan, ternyata kebaikan Kak Yanti selama ini hanya topeng. Busuk hati berulat-ulat. Macam menjijikkan kali suamiku di matanya.
Nggak tahan aku setelah dia bilang Bang Galih yang mengompori Paktua Syarif. Seolah-olah suamiku orang paling serakah di antara mereka—empat bersaudara. Enak kali moncongnya menuduh yang bukan-bukan pada Bang Galih.
Muak kali aku dengar tuduhan nggak berdasar Kak Yanti, kuhampiri juga mereka berdua akhirnya.
"Kami pun nggak perlu grosiran itu, Kak, Bang. Meski selama ini hidup alakadarnya, tapi kami bahagia. Kalau Abang suka, Abang ambillah kesempatan itu. Aku habis melahirkan nanti juga bisa lagi kerja kek biasanya. Macam serakah kali kami kelen anggap.
Jangan cemas nggak bisa makan, Allah Tuhan Semesta Alam adalah yang paling kaya. Nggak akan mungkin hamba-Nya kelaparan." Aku menyela di antara pertengkaran mereka.
Kak Yanti menatapku seperti makin benci. Siapa yang gentar memangnya? Disangkanya lantaran aku mengandung, jadi wanita lemah nggak bisa melawan gitu? Sungguh salah besar dia.
"Ribut-ribut apa loh?" Bang Galih muncul dari pintu dapur.
"Soal harta lagi, ck!" decak Bang Galih menatap sepele pada abangnya.
"Jangan salah paham pula, Galih." Bang Hendar berusaha tenang.
"Ntahlah, ya! Nggak habis-habisnya perkara di atas rumah ini. Tenanglah kelen, mau berkuasa di atas harta Mamak yang nggak seberapa ini, silakan. Aku nggak peduli."
Aku genggam tangan Bang Galih. Mereka seolah-olah memandang kami gila warisan. Lantaran kami selama ini miskin, kebetulan juga semua sertifikat atas nama Bang Galih. Cemas betul nampaknya akan kami kuasai semua yang ada di sini.
Aku berani sumpah demi Allah, sebesar biji bayam nggak akan pernah makan tanah untuk menyambung hidup. Selagi masih ada tubuh sehat, tulang delapan kerat, artinya masih bisa berusaha.
Aku pun nggak berniat, amit-amit jabang bayi, harus hidup dalam bayangan hutang. Cukuplah merasa syukur dengan rezeki yang sudah dijatahkan oleh Allah. Nggak perlu bermewah-mewah.
Kupastikan Kak Siska dalam keadaan baik. Air minum, tisu, dan minyak kayu putih sudah disediakan dekat dengan jangkauan dia. Aku kemudian beranjak keluar, menarik tangan Bang Galih keluar dari belakang.
Berbelok ke kanan, mengitari setengah rumah Mamak. Aku membawa Bang Galih ke rumah Wak Wati. Nggak ada orang di sini, Wak Wati sedang ke kedai pergi belanja.
Sebenarnya aku juga nggak sekuat itu. Aku rapuh dan perasa. Dikatakan kalau Bang Galih yang kongkalikong makanya sertifikat atas namanya, terluka dalam hatiku ini.
Kalau tadi bisa kutahan, kini nggak kuat aku. Tumpah ratapku dalam pangkuan Bang Galih. Pikiranku melayap kemana-mana.
"Nggak dulu, nggak sekarang, kok orang-orang gampang kali memandang rendah pada kita, Bang. Serendah itu kah derajat kita?"
"Ngomong apa loh, Dek?"
"Kak Yanti terlalu banyak komentar yang menyakiti hati. Aku tahan terus, aku sabar selama ini. Kok makin dibiarkan malah makin nggak ada sungkannya. Dia guru 'kan?"
"Udahlah, nggak apa hina di mata manusia, Dek. Asalkan mulia di mata Allah."
Nggak ngerti lagi aku sama Bang Galih ini, loh. Terbuat dari apa hatinya. Kalau aku, udah segitu kali orang ngata-ngatain, adu tumbuk pun aku sanggup. Sumpah.
"Ya terus kek mana, iya Abang ambil juga tawaran Paktua itu. Kataku janganlah, Bang. Jalan ke depan masih panjang, nggak perlulah ambil ya." Aku memohon pada Bang Galih.
Dianya diam aja. Nggak tahukah kalau aku sudah kek gini mohon-mohon. Buat apa loh diambil, toh selama ini kita tetap makan setiap hari.
"Belum Abang putuskan soal itu, masih bimbang kali."
"Apa pula pakai bimbang segala, Bang."
Kutengok Bang Galih berkali-kali mengatur ritme napasnya. Padahal nggak pacu lari. Kenapa pula ngos-ngosan?
"Kau kapan perkiraan ini, Dek?"
"Abang ini lain dibahas, lain pula ditanya. Kata Kak Marta 2 bulan lagi."
"Oh udah dekat."
"Eh, apa itu namanya ... Abang jangan lupa ngurus BPJS ke puskesmas."
Hanya anggukan kecil balasannya. Kadang gemas juga kita tengok laki lemah geriknya kek gini, we.
"Dek, pokoknya kau bersikap seperti biasa dengan Kak Yanti. Kataku mungkin dia sedang banyak masalah di sekolah, terbawa sampai ke rumah. Nanti juga baik sendiri."
"Kalau sekedar cingcong biasa, aku nggak masalah. Dia bawa-bawa Mamak, bawa-bawa Abang, itu aku nggak bisa terima!"
"Daah ... dah! Jangan temperamen, eh. Nanti lahir anak kau itu keluar, Dek. Udah ya, sabar aja dibanyakin."
Hingga aku mengiyakan permintaan Bang Galih, masih juga terdengar baku hantam dari sebelah. Aaiih, kasihannya Kak Siska sendirian dengar orang kelahi.
"Mana itu Halimah, mana itu Galih, suruh dia keluar!" teriak Kak Yanti.
Udah gila betina ini nampaknya. Bang Galih yang keluar. Aku dikurungnya dalam kamar. Duh, rugi aku nggak ikut tawuran jadinya 'kan.

Komentar Buku (221)

  • avatar
    Amarilis

    cerita yang sangat menggugah hati dan juga bagus. Semangat thor

    22/04/2022

      0
  • avatar
    Ita

    baguss bgt ini jadi suka deh ❤️

    29/08

      0
  • avatar
    JUNAEDI

    bbbb

    03/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru