"Nggak nyangka juga aku, Paktua sampai menanyakan tanah ini ya? Kalau dipikir-pikir memang nggak salah, pada dasarnya kita memang numpang di tanah keluarga Bapak. Menjadi nggak wajar karena momennya. Aku kira mereka datang betul-betul karena peduli. Udah usaha loh aku bersangka baik, Mamak kita baru meninggal kan. Halaaah, dugaanku salah besar. Ada kepentingan lain ternyata. Sampai manalah kan harta ini bisa dibawa. Tamak itu namanya." Bang Danang bersungut-sungut. "Kau ngerti hukum, tugas kau itu!" sahut Bang Anton. "Aku nggak yakin, Bang. Entah ada atau tidak sertifikat tanah ini. Kalaulah enggak ada, bisa terusir kita dari sini," keluhku pesimis. "Nggak segampang itu main usir-usir orang, Lih. Bisa jadi boomerang untuk mereka. Ntahlah aku pening, mana yang harus aku dahulukan. Pokoknya kelen bantu doa ya. Kita ini bisa kalau bersatu. Jangan selisih paham terus. Kasihan Mamak, sedih beliau tengok kita!" tegas Bang Danang. Lega juga rasanya melihat optimisme Bang Danang. Nampaknya badai besar sedang menari di depan kami. Namanya masalah ya harus di selesaikan, bukan? Selesai Ashar berjamaah, sekalian lewat kujemput Halimah ke rumah Marta. Sempat juga mengobrol sebentar mengenai kondisi Halimah. Kata Marta, sejauh ini semua baik-baik. Bagiku, perempuan satu ini terlalu kuat. Kadang merasa bersalah sendiri aku padanya. "Kenapa tadi rupanya Wak Wati jemput Abang?" Halimah akhirnya bertanya. Kami berjalan pelan menuju rumah. "Nggak ada. Tamu dari keluarga Bapak tadi datang." "Oh, alhamdulillah ya, mereka datang akhirnya." "Iya alhamdulilah, Mah." Dalam hatiku, entahlah harus alhamdulilah atau astaghfirullah ini, Halimah. Kau nggak perlu tahu masalah ini dulu. Nanti-nanti ajalah. Kasihan kau nanti kepikiran. Ketika melewati rumah Pak Haji Basir, beliau sedang berdiri di depan pagar. Entah sedang menunggu seseorang atau sekadar lihat-lihat saja. Kusapa beliau, demikian pula Halimah. "Dari mana kelen?" sapa Pak Haji Basir. "Pak Haji, ini dari tempat Marta. Periksa kondisi Halimah. Kebetulan istri Bang Danang juga sedang dirawat." Aku menunduk sedikit. "Haih, kenapa rupanya istri si Danang?" "Alhamdulillah sedang mengandung pula, Pak Haji." "Masya Allah, tabarakallah. Akhirnya dijawab doa si Danang oleh Allah." Pak Haji berbinar matanya. "Galih, habis ini kalau nggak sibuk, bisa bantu ke sini. Di dapur ada ubin pecah satu. Menurutku lebih baik dibongkar sekalian dia. Ganti baru, rasanya di gudang ada ubin yang belum dipasang," ulas Pak Haji. "Baik, Pak Haji. Aku antar dulu Halimah pulang." "Oh iya, silakan. Hati-hati kau ya, Halimah. Jangan buru-buru kali jalannya," pesan Pak Haji sebelum kami melangkah menjauh. Begitu sampai di rumah, kucucikan kaki Halimah. Membimbingnya naik ke rumah Wak Wati. Memapahnya untuk berbaring agak sebentar. Kularang dia kerja-kerja lagi. Kalau mau makan, tinggal suruh Samudera ambilkan nasi. Aku yang jerih melihat Halimah membawa perut besarnya. Setelah memastikan Halimah nyaman, aku beranjak lagi kembali ke rumah Pak Haji Basir. Setidaknya sebelum Magrib pasti bisa kuselesaikan. Ubin satu itu, entenglah. Masalah geleng itu, we. Beberapa langkah aku berjalan, terdengar panggilan. Bang Danang rupanya. Mungkin dia mau ke tempat Marta lagi. "Mau ke mana, Lih?" "Ke rumah Pak Haji Basir, ada kerjaan sedikit. Abang ke Marta kah?" Bang Danang mengangguk, "Lih, soal yang tadi. Sudah kubahas dengan kawan-kawanku. Aku bilang kemungkinan terburuknya, sertifikat kita nggak ada." Sambil berjalan pelan, kami mengobrol. "Terus, Bang." "Ya kayak gitulah, kawanku bilang sama. Nggak semudah itu main usir-usir aja. Apalagi kita mendiami dan mengurus tanah itu sudah puluhan tahun." Benar juga, sependapat aku dengan Bang Danang. "Opsi berikutnya, kalau memang nggak ada sertifikat, ya kita yang urus." "Tapi kan besar biayanya, Bang? Belum lagi mengurut silsilah ini itu, kan. Urusan ke agraria, notaris, panjang itu." "Tidak akan sepanjang itu kalau kita ada uang." Bang Danang menyipitkan matanya. "Pakai calo?" "Terdengar kurang ajar ya, Lih. Tapi, kalau mau cepat dan tidak ribet, ya begitulah." "Duit dari mana?" Aku pesimis akhirnya. "Gampanglah. Nanti kita pikirkan. Soal ini belum kubicarakan dengan Abang kita yang dua. Entah mereka kek mana nanti nanggapinya." Nggak tahunya kami udah sampai aja di depan rumah Pak Haji. Aku berbelok dan Bang Danang lurus menuju rumah Marta. Kalau kuperhatikan dari belakang, ada kayaknya menyusut badan si Sumo itu. Ah sudahlah. "Assalamualaikum, Pak Haji." Aku berseru sebab tidak ada sesiapa pun di luar. "Walaikumsalam, masuk aja, Lih. Nggak dikunci." Sahutan dari arah belakang terdengar. Pelan-pelan kudorong pintu, langsung menuju dapur di mana Pak Haji Basir sudah mulai memukul-mukul ubin dengan palu. "Menurutku dengan martil lebih cepat, Pak Haji." "Oh, kek gitu pula? Martil ada di gudang, kau ambillah ." Pak Haji Basir menyerahkan kunci padaku. "Tapi, nanti hilang-hilang di sana, Pak Haji?" "Kau orang jujur, Lih. Lagian apa betul isi gudang itu yang bisa kau curi, ha?" Aku membungkukkan badan menghormati Pak Haji. Tetap sungkan rasanya, we. Sekembalinya dari gudang, langsung saja mulai kuhancurkan ubin yang rusak itu. Sampai copot dan bersih sisa-sisanya. Kemudian, kuaduk semen sebagai dasarnya. Menempelkan ubin baru dan membersihkan tepi-tepinya. Singkat aja, selesai pekerjaanku. Kurapikan kembali barang-barang yang tadi terpakai. Meletakkan pada tempatnya masing-masing. Setelahnya, kucuci tangan dan kaki. Kemudian, menemui Pak Haji Basir di beranda depan. "Sudah selesai Pak Haji, tinggal menunggu kering." Aku duduk di seberang beliau. "Terimakasih banyak ya, Lih. Kau itu selalu sungguh-sungguh mengerjakan sesuatu, itu yang membuatku salut." Aku tertunduk malu dipuji begitu. "Lih, betul tadi Armen ke rumah? Paktua kau itu nampak lewat olehku. Syukurlah, keluarga bapak kau datang juga, ya." "Alhamdulillah, Pak Haji." Singkat saja jawabanku. "Ada sawahku di seberang sawah Mamak kau ya. Bisa kau urus tahun ini, Lih. Aku ini sudah tua dan renta, Lih. Nggak kuat lagi ngurus-ngurus sawah, kebun. Ummi pun sama, berjalan aja susah. Kau urus sawah itu, Lih. Kalau panen, hasilnya bagi dua saja. 50:50. Jangan cemas soal biaya mulai dari menanam sampai panen. Butuh pupuk, segala macam, tinggal kau bilang aku. Ketika panen nanti, kita keluarkan lagi semua biaya itu. Sisanya baru kita parohan. Kek mana, ada kau sanggup, Lih?" Ya Allah, sampai nggak bisa berkata-kata rasanya. "Bulan depan sawah itu panen serentak, Lih. Kalau lagi rezeki bagus, mungkin ada 1500 sukat padi hasilnya bersih. Nggak ada orang lain nampak yang bisa kupercayai. Kalau anak-anakku, kau tengoklah. Mana kuat mereka hidup di kampung ini." Masih tercekat kerongkongan ini rasanya. Sampai nggak terjawab pertanyaan Pak Haji Basir. "Kek mana, sanggup nggak, Lih?" Ingin kali kubilang, 'insya Allah sanggup,' tapi entahlah, kok nggak mau keluar suaraku. Akhirnya, hanya anggukan sebagai tanda persetujuan aku dan beliau. "Alhamdulillah. Oh ya, jadi kek mana, apa kata Paktua kau tadi?" Sedih menyergap dadaku seketika. Perlahan dan tertatih kuceritakan pada Pak Haji Basir. Beberapa kali terucap astaghfirullah dari bibir beliau. "Nggak ada otaknya itu Armen. Jangan cemas kau ya, Lih. Selagi masih ada Pak Haji Basir di sini, nggak ada yang bisa usir-usir kau dari rumah kau. Nggak peduli aku mau si Armen itu orang paling kaya di Dairi, se-Indonesia sekalian, se-Dunia bila perlu. Nggak takut aku!" cecar Pak Haji. "Katanya tiga hari lagi mau balik tengok sertifikat," ucapku menahan sebak. "Tenanglah, kita tunggu dia ramai-ramai, ya kan." Melega jiwa dan pikiranku mendengar dukungan dari Pak Haji Basir. Tersenyum lebar juga aku, sampai kering gusiku. Hehe. Tbc
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (221)
Amarilis
cerita yang sangat menggugah hati dan juga bagus. Semangat thor
cerita yang sangat menggugah hati dan juga bagus. Semangat thor
22/04/2022
0baguss bgt ini jadi suka deh ❤️
29/08
0bbbb
03/07
0Lihat Semua