#97

Maya mendengus kesal, ia menatap tajam ke arah lelaki yang dulu pernah tinggal di hatinya. Dia melihat eskrim dan coklat yang dibawa oleh Satriya, lelu mengambilnya dengan sangat kasar.
Maya menyenggol pundak Satriya dengan sangat keras, menandakan kalau dirinya sangat marah terhadap lelaki itu.
"Jangan terlalu membenciku sayang, nanti anakmu mirip denganku! jika anak itu mirip denganku, maka semua orang pasti mengira dia itu anakku!" ucap Satriya santai.
Dia mendudukkan tubuhnya tepat di samping wanita yang di cintainya.
Maya tak menghiraukan ucapan Satriya, dia lebih memilih menikmati eskrim strawberry. Bahkan dia mengabaikan keberadaan Satriya di sampingnya.
Meskipun agak risih, karena Satriya terus menatapnya tanpa berkedip. Tetapi Maya tetap melanjutkan memakan eskrimnya dengan sangat lahap.
dret..., dret...
ponsel Satriya bergetar, menandakan ada panggilan masuk. Dia segera menjauhi Maya untuk segera mengangkatnya.
Maya bernafas lega, saat Satriya menjauhinya. Dia lebih memilih menyalakan televisi, dan mencari Chanel yang ia suka.
"Ada apa?" tanya Satriya saat sudah mengangkat telponnya.
"Tuan, ada masalah di perusahaan. Sepertinya anda harus segera datang kemari tuan." Ucap Boby kepercayaan Satriya.
"Tidak bisakah kau menanganinya? aku sangat sibuk di sini." Satriya memberi alasan, bukankah benar kalau dirinya tengah sibuk menjaga wanita yang di cintainya ini.
"Maaf tuan, untuk kali ini anda harus datang. Kalau tidak, maka para investor akan mencabut kerjasama mereka."
"Sebenarnya ada masalah apa?"
"Sebaiknya anda datang tuan, kalau tidak perusahaan kita terancam bangkrut!"
Sebenarnya Satriya tak ambil pusing dengan perusahaan yang di bangunya itu, toh pekerjaan yang sedang ia jalani sekarang jauh lebih menguntungkan dari perusahaanya.
Ya Satriya memiliki bisnis ilegal. Bahkan Satriya sudah hampir setahun menggeluti bisnis ini.
Awalnya dia menolak, tetapi seseorang yang mengajaknya terjun ke dunia bisnis ini menunjukkan kekayaan yang dia miliki.
Satriya yang tergiur dengan harta yang di miliki oleh sahabatnya, akhirnya memutuskan untuk ikut serta bisnis ini.
Ia tahu, kalau bisnis ini sangat berbahaya dan melanggar hukum. Tetapi dia tidak peduli, selama dirinya mendapatkan apa yang dia inginkan kenapa tidak?
Jadi untuk bisnis hotelnya, itu hanya untuk menutupi bisnis ilegal yang tengah dia geluti. Jika bisnis itu bangkrut, maka tidak ada lagi untuk menutupi bisnisnya ini.
"Baiklah, saya akan datang segera."
Sebelum pergi dia ingin berpamitan dengan Maya, dia juga harus memastikan kalau wanitanya ini merasa nyaman dan tidak mencoba untuk kabur dari sini.
Jika Maya berhasil maka, tidak menutup kemungkinan wanita ini akan terluka. Mengingat banyaknya jebakan yang di siapkan.
"Dek...," Satriya menghentikan ucapannya, saat melihat Maya tertidur di depan televisi. Tangannya masih setia memegang keris yang dia makan tadi.
'Bisa-bisanya tidur dengan eskirm.' Satriya menggeleng pelan dan mengambil wadah eskrim lalu di letakkanya di atas meja.
Satriya membawa tubuh mungil ke kamarnya, Satriya perlahan meletakkan tubuh mungil Maya dengan sangat hati-hati, dia tak ingin wanitanya ini terbangun.
"Aku akan pergi sebentar, aku harap kau tak berulah!" Setelah mengatakan hal itu, Satriya mengecup kening Maya, dan memandangi wajah cantik yang tengah terlelap itu.
Setelah puas, Satriya keluar dari kamarnya dan segera meninggalkan rumah untuk segera pergi kekeantornya.
Ia tak peduli kalau dia akan sampai larut malam nanti, karena dia harus segera menyelesaikannya agar bisa cepat kembali, dan bersama dengan wanita yang di cintainya.
Sementara itu Dirga tengah berada di apartemen milik sahabatnya Leo. Dia dan Leo sedang menyusun rencana untuk bisa menyelamatkan istrinya.
Meski terkesan memakan waktu cukup lama, tetapi dia harus benar-benar menyusunya dengan sangat matang, ia tak ingin istri atau anak-anak buahnya terluka.
Sebisa mungkin, ia tak ingin ada pertumpahan darah. Meski itu sangat kecil kemungkinannya, setelah mengingat siapa Satriya sebenarnya.
Ya, Dirga sudah menyelidiki tentang Satriya. Dia tak menyangka kalau Satriya terlibat dalam bisnis ilegal, yaitu peradangan narkoba.
Maka tak heran, kalau Satriya memiliki segalanya dan bisa berbuat apa saja. Untuk kali ini, Dirga juga bekerjasama dengan polisi untuk meringkus Satriya dan komplotannya.
"Bagaimana apa ada kabar?" tanya Dirga pada Leo.
"Ya, tadi Bram sudah memberitahuku, kalau rencana kita berhasil. Sekarang Satriya sudah menuju ke kantornya." jelas Leo.
"Bagus, kita lanjutkan rencana selanjutnya." Leo mengangguk.
"Aku sudah tidak sabar untuk bisa segera membawa istriku kembali." gumam Dirga yang masih bisa di dengar oleh Leo.
Leo menoleh ke arah Dirga, begitupun juga Dirga. Mereka saling melempar senyum, Dirga menerima minuman yang di sodorkan oleh sahabatnya ini.
"Kau tau Dirga? dulu aku mengira kau takkan bisa jatuh cinta lagi, tetapi aku salah! Bahkan, aku bisa melihat cintamu lebih besar dari almarhumah Raisa, tunanganmu dulu." Leo berucap sambil menatap langit yang berhiaskan bintang di malam hari.
"Aku juga tak menyangka bisa jatuh cinta lagi, Maya memang wanita yang berbeda, dan hal itu membuatku tertarik dan menyukainya. Tetapi sayang, cinta kami tak bisa semulus dengan apa yang kami inginkan. Masalah seolah datang bergantian, tak ada habisnya." keluh Dirga.
"Jangan pantang menyerah, anggap saja ini bumbu dari cinta kalian. Aku yakin masalah yang kalian hadapi sekarang akan cepat selesai, dan kalian akan hidup bahagia bersama anak kalian nanti."
Dirga menatap leo tersenyum, "Terima kasih, karena sudah mau membantuku."
"CK, tidak ada yang gratis! akuni ingin kau membuatku!"
"Cih, kau itu selalu saja tidak berubah! baiklah, apapun yang kau inginkan akan aku akan kabulkan, jika itu masih wajar! jika tidak, maka jangan harap!"
"CK, padahal aku sudah senang, tapi kau malah membatalkannya." Gerutu Leo.
"Memangnya apa yang kau inginkan?"
"Yakin kau ingin tahu?" Dirga mengangguk menata wajah Leo serius.
"Jika misi kita berhasil, aku ingin pergi jalan-jalan berdua dengan istrimu, dan aku ingin dia menciumku." Ucao Leo dengan wajah tengilnya.
Dirga langsung melempar botol kosong ke arah sahabat lucknatnya itu.
"Jangan harap, jika kau berani menyentuh istriku, Maka jangan salahkan aku jika istri bar-barmu itu mengamuk." Ancam Dirga.
Ha
Ha
Ha
Tawa Leo pecah seketika, melihat bagaimana wajah sahabatnya yang tengah kesal. Apalagi, Dirga selalu membawa istrinya, jika dia tidak menyukai apa yang Leo ucapkan.
"Sudahlah, ayo kita ke tempat dimana Satriya berada. Karena si brengsek itu sudah sampai."
Wajah Leo langsung berubah serius saat mendapatkan pesan dari Bram. Dirga langsung mengangguk dan segera berjalan keluar bersama Leo. Mereka akan segera menjalankan misi mereka untuk menyelamatkan Maya.
"Ingat, kau harus bisa mengontrol emosimu jika kamu ingin rencana kita berhasil." Peringat Leo, yang di jawani anggukan oleh Dirga.

Komentar Buku (154)

  • avatar
    AstutiWidia

    seneng bagus ceritanyaa

    9d

      0
  • avatar
    bongekMuhamadidrisbongek

    novela emang bagus

    05/07

      0
  • avatar
    Bambang Biantoro

    mntap

    03/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru