"Sha, buka pintunya sayang, ini ibu!" Teriak ibu Shanum. Sudah hampir 5 menit ia menunggu di luar apartemen milik Satriya, bahkan sudah beberapa kali ia mengetuk pintu. Tetapi sang pemilik apartemen tak menyahuti, atau membuka pintu. "Sebaiknya kita panggil keamanan Bu, takutnya terjadi sesuatu!" ucap ayah Shanum. Ibu Shanum mengangguk dan membiarkan suaminya untuk turun ke bawah, dan memanggil ke amanan. Tak butuh waktu lama, dua orang keamanan langsung datang, dan membawa kunci cadangan untuk membuka pintu apartemen. "Shanum...." Panggil ayah dan ibu Shanum secara bersamaan. Mereka terkejut saat melihat tubuh lemah putrinya, tergeletak tak sadarkan diri dengan darah segar menggenang di tubuh putri mereka. Tanpa pikir panjang, mereka langsung membawa tubuh Shanum pergi ke rumah sakit. Selama perjalanan ibu Shanum mencoba membangunkan putrinya, berharap putrinya merespon. Tetapi putrinya sama sekali tidak merespon panggilan mereka. Dengan perasaan sedih, wajah mereka juga sudah basah oleh air mata. "Ayah, coba ayah telpon Satriya. Seharusnya dalam keadaan seperti ini dia ada disini!" ucap sang ibu. Tak butuh waktu lama mereka sampai di rumah sakit, dengan cepat para dokter dan suster segera menangani Shanum. "Bu, Satriya tidak bisa di hubungi!" "Mungkin dia sibuk, yah! biarkan saja, nanti kita telpon lagi! lebih baik kita hubungi ibu suci!" Ayah mengangguk dan segera menghubungi besanya. Sementara ibu meremas kedua tangannya, berharap anak dan cucunya selamat. "Ibu suci sedang ada di Bandung, dia akan segera kesini!" Ibu hanya mengangguk, pandanganya tak lepas dari pintu UGD, berharap seseorang keluar dari sana dan memberitahukan bagaimana keadaan anak dan cucunya. Tetapi harapan tinggallah harapan, seseorang yang di harapakan keluar dari ruangan itu tak kunjung keluar. Ceklek.... Terdengar suara pintu telah di buka, menampilkan sosok suster, hal itu membuat ibu dan ayah menghampiri suster itu. "Keluarga pasien?" "Kami orang tua pasien dokter!" jawab sang ibu was-was. "Suaminya kemana Bu?" "Suaminya masih di luar kota suster!" "Baiklah, keadaan pasien sangat kritis, dan kami harus melakukan operasi! kami harus mendapat ijin dari keluarga pasien terlebih dahulu." jelas suster panjang lebar. Tangan ibu meremas yang ayah yang sedari tadi ia genggam. Perasaan takut dan sedih menjadi satu. "L-lakukan yang terbaik untuk cucu dan anak saya dokter!" kali ini ayah yang berbicara, karena ibu hanya diam saja dengan perasaan yang campur aduk. Suster itu mengangguk dan menyerahkan beberapa kertas untuk di tandatangani. Sampai dua jam berlalu, semenjak suster tadi masuk, pintu itu masih tertutup dengan rapat. Tidak ada tanda-tanda seseorang ingin membukanya. "Yah, Shanum yah!" ucap ibu kawatir. "Sudah ibu tenang saja, pasti semuanya akan baik-baik saja!" ucap ayah berusaha menenangkan.
Waktu terus berputar hingga jam menunjukkan pukul 10 malam, dokter pun baru saja keluar dari ruangan dimana Shanum tengah ditangani. ceklek.... Akhirnya pintu terbuka dan menampilkan seorang dokter dengan raut wajah lelahnya. "Bagaimana keadaan anak saya dokter?" tanya ibu tak sabaran, saat dokter itu menghampiri mereka. "Maaf ibu, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tetapi ibu Shanum tidak bisa kami selamatkan, ibu Shanum kehabisan banyak darah dan tidak bisa bertahan! untuk bayinya, masih bisa diselamatkan dan jenis kelaminnya perempuan." Ayah dan ibu sama-sama menangis, entah mereka tak bisa menggambarkan perasaan mereka. Ada rasa bahagia dan sedih bercampur jadi satu. Sedih karena putri mereka satu-satunya telah meninggal, mereka senang karena cucu mereka telah selamat. Mereka juga sangat menyayangkan sikap Satriya, di saat Shanum membutuhkannya, lelaki itu tak bisa di hubungi. Entah kemana lelaki yang berstatus sebagai suami Shanum itu. 🌹🌹🌹🌹 Malam ini Maya habiskan untuk mencicipi semua kuliner yang ada di pasar malam. Tentu saja hal itu membuat Dirga sedikit kawatir, karena istrinya ini terlalu banyak makan. Bukanya dia pelit, tetapi dia hanya takut kalau perut istrinya akan sakit. "Kita pulang saja yuk sayang, ini udah malam!" "Jam berapa emangnya mas?" "Sudah jam 10 malam!" jawab Dirga setelah melihat jam yang melingkar di tangannya. "Hah, kalau papa sama Mama mana?" tanya Maya terkejut, dan dirinya sudah tidak melihat kedua mertuanya itu. "Mereka sudah pulang! sekarang giliran kita yang harus pulang, Mas gak mau kamu kecapekan!" "Gendong!" pinta Maya dengan manja, kalau boleh jujur dia juga sudah sangat lelah. Tetapi demi ingin mencoba semua kuliner yang ada, dia tidak merasakannya. Tetapi saat suaminya, mengajaknya pulang, dia tiba-tiba merasa lelah. Aneh kan? Dirga tersenyum dan langsung menggendong tubuh mungil istrinya, dia mengecup pipi chubbynya, lalu melangkah menuju mobil. Tak butuh waktu lama mereka sampai di hotel, dimana mereka menginap. Dirga menoleh ke arah istrinya, yang ternyata sudah tertidur. Dirga tersenyum dan segera menggendong istrinya, lalu membawanya masuk ke dalam kamar mereka. Dirga membantu melepaa jacket dan sepatu yang di kenakan oleh Maya. Bahkan dia juga membersihkan tubuh Maya dengan kain basah. Setelah selesai, dia menyelimuti tubuh mungil istrinya dan mengecup lembut keningnya. Lalu setelah itu, dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak butuh waktu lama, Dirga sudah menyelesaikan kegiatanya. Ia juga ingin segera merebahkan tubuh lelahnya lalu tidur sambil memeluk tubuh mungil istrinya. Ting.... Terdengar bunyi pesan masuk, saat Dirga ingin merebahkan tubuhnya. Ia mengumpat, karena merasa terganggu dengan bunyi ponselnya. Dengan malas dia langsung mengambil ponselnya dan segera membuka pesan itu. 'Dirga, tolong ke temui aku di cafe bawah! kami harus menandatangi dokumen penting!" Kedua alis Dirga saking menaut, dia sedikit heran karena Dewa kakaknya menyuruhnya untuk bertemu dan menandatangi dokumen, di hari libur dan mereka saat ini sedang liburan. "Kau membawa pekerjaan kesini?" balas Dirga. "Iya, kau ingat dengan pak Radit? dia menyuruhku untuk membawa dokumen ini dan mau tidak mau aku membawanya." balasnya. "Baiklah aku akan segera kesana!" balas Dirga dengan cepat. Sebelum peegi, Dirga melihat Maya sebentar untuk memastikan kalau istrinya ini tengah tidur dengan lelap. Ia mencium kening istrinya sebelum akhirnya pergi untuk menemui kakaknya. Dirga melangkahkan kakinya dengan lebat, ia ingin segera sampai di cafe dan segera menyelesaikan pekerjaannya, lalu setelah itu kembali memeluk tubuh mungil istrinya. Dirga melihat sekeliling Cafe untuk mencari kakaknya, tetapi ia tak melihat kakaknya. Yang ia lihat justru Riska yang tengah melambaikan tangannya, memberi isyarat untuk menghampirinya. Dirga memutar bola matanya malas, meski enggan ia tetap berjalan menuju meja dimana kakak iparnya itu berada. "Mana Dewa?" tanya Dirga dingin. "Dia sedang berada di kamar mandi, duduklah!" jawab Riska lembut. Mau tidak mau Dirga menuruti permintaan Riska. "Apa Dewa menitipkan dokumen kepadamu?" "Tidak, minumlah! Dewa sudah memesankan untukmu! dan tunggu saja, sebentar lagi dia akan datang!" Dirga hanya diam dan mengambil minuman yang ditawarkan oleh Riska lalu meminumnya tanpa rasa curiga.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
seneng bagus ceritanyaa
10d
0novela emang bagus
05/07
0mntap
03/07
0Lihat Semua