Dirga berlari ke arah Maya dengan raut wajah kawatir. Maya yang tengah menahan rasa sesak di dadanya ditambah wajahnya yang memerah dan terasa sangat panas. "Maya kamu kenapa?" tanya Dirga,dia membawa kepala Maya ke pangkuanya dan memencet tombol darurat. Dirga sangat kawatir karena Maya terlihat begitu tersiksa,dengan tubuhnya yang sudah memerah dan nafasnya tersenggal,seperti kesusahan bernafas.Maya memegangi dadanya karena begitu sangat sesak dan sakit. hingga tak lama Maya menutup matanya secara perlahan dan Maya sudah tak sadarkan diri.
Dirga menjadi bertambah panik,dia menepuk pelan pipi Maya, "Maya bangun, jangan buat saya kawatir." Dirga berusaha membangunkan Maya,tetapi Maya tak merespon. "tuan lebih baik anda tunggu di luar." ucap suster yang baru masuk bersama dengan dokter, suster itu menarik Dirga untuk keluar. Dirga mau tak mau harus menunggu di luar dengan perasaan cemas dan kawatir menjadi satu. dia mulai menyalahkan dirinya sendiri. "apa yang sudah aku lakukan?jika saja aku bisa mengontrol emosiku pasti ini semua takkan terjadi." Dirga mengacak rambutnya frustasi,dia berjalan mondar mandir sambil sesekali melihat ke arah pintu. berharap seseorang keluar dan memberitahunya keadaan Maya. sungguh jika sesuatu terjadi dengan Maya dia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri. cukup sekali ia kehilangan orang yang di cintainya,ia tak ingin hal itu terjadi lagi. bahkan dia berjanji dengan dirinya sendiri akan merubah sikap pemarahnya,dan akan melakukan apapun agar Maya mau menerimanya. "suami ibu Maya?" suara seorang dokter berhasil membuyarkan lamunan Dirga. "ya dokter saya." aku Dirga,bukankah mereka akan menikah cepet atau lambat,tidak ada salahnya kan kalau dia mengaku sebagai suami Maya? "bisa kita bicara?" ucap sang dokter dan langsung di angguki oleh Dirga,dia berjalan di belakang dokter setengah baya itu menuju ruangannya. "bagaimana keadaan istri saya dokter?" tanya Dirga tak sabaran. dokter itu menghembuskan nafas kasar,lalu menatap secara intens kepada Dirga. sementara Dirga juga menatap balik ke arah sang dokter. "kondisi Bu Maya sekarang baik-baik saja,dan janinya juga walau sempat ada kendala karena alergi ibunya kambuh." "alergi?" tanya Dirga bingung. "jangan bilang kalau anda tidak tahu kalau istri anda mempunyai alergi air mata?bukankah anda suaminya?" Dirga langsung terdiam berpikir. memang dia sama sekali tidak tahu menahu tentang alergi Maya. "dan jangan bilang anda tidak tahu kalau istri anda ini beberapa Minggu yang kalau sempat di rawat di rumah sakit ini karena alerginya kambuh!" Dirga hanya menggeleng pasrah. sekarang dirinya baru sadar saat pertama kali dirinya menghina Maya dan Maya tanpa pamit pergi meninggalnya,di kantor. ternyata Maya sedang menangis dan menahan rasa sakit yang sudah ia berikan terhadap Maya. "ya Tuhan apa yang sudah aku lakukan?kenapa dia tidak memberitahuku perihal masalah ini?maafkan saya Maya,saya benar-benar lelaki bodoh." gumamnya frustasi. "sudahlah tuan,tidak ada yang perlu anda sesali semuanya sudah terjadi. beruntung pasien baik-baik saja,sekarang yang perlu anda lakukan adalah memperbaikinya dan saya harap anda tidak membuat istri anda semakin tertekan karena bisa bisa membuat anda kehilangan dua orang sekaligus,dan jika itu terjadi maka anda akan menyesal seumur hidup anda." pesan sang dokter Dirga hanya mengangguk dan membenarkan ucapan sang dokter. setelah berbincang cukup lama perihal kesehatan Maya,Dirga pamit untuk segera kembali ke kamar Maya. setelah masuk dimana Maya berada,Dirga melihat wajah Maya yang masih terlihat pucat. dan matanya masih setia terpejam. Dirga duduk di samping Maya,di raihnya tangan Maya yang terbebas dari selang infus dan mengecupnya lembut. "hei...kenapa kamu tidak bilang perihal penyakitmu?jika kamu bilang maka saya akan lebih berhati-hati,dan menjagamu. maafkan saya juga karena sudah membuatmu begini,om janji setelah ini tidak akan ada kesakitan yang kamu terima. om akan berusaha membahagiakanmu hingga kamu akan lupa caranya menangis,dan alergimu itu akan hilang karena kamu tidak akan pernah menangis." janji Dirga. sementara itu Satriya dudukndi ruang tamu apartemennya,dia masih tak menyangka kalau Maya bisa berubah menjadi seperti itu. "sudahlah mas tak perlu di pikirkan,sekarang kita sudah tahu bagaimana sifat aslinya kan?harusnya mas beruntung karena sudah pisah dari wanita mu ra han itu." ucap Shanum sambil membuka kotak obat yang dia bawa dan segara membukanya lalu mulai mengobati luka-luka Satriya. Satriya langsung menatap tajam ke arah Shanum,dia tidak suka Shanum menghina Maya. "bukankah kau lebih murahan dari Maya Shanum?apa kau tidak ingat saat kamu hamil dengan Niko dan memilihnya dari pada aku?kau rela memberikan keperawananmu kepada Nico karena dia lebih kaya dariku?dan bahkan kau malah menceraikannya setelah dirinya bangkrut dan malah mendekatiku untuk kembali. dan betapa bodohnya aku malah mau menerimamu dengan tangan terbuka dan bahkan aku rela menyakiti orang yang begitu tulis terhadapku hanya karena demi wanita ular sepertinmu." tekan Satriya. Shanum yang mendengar kalimat panjang dari Satriya hanya diam mematung karena Satriya sudah tahu betapa busuknya dirinya. "mas...." "cukup Sha,aku sudah memikirkan ini dengan matang. awalnya memang aku ingin memberimu kesempatan kedua tetapi setelah aku mengetahui kebenaran ini dan bagaimana kamu jahatnya dengan Maya,maka aku putuskan akan menceraikanmu setelah kita berpisah. kamu tak perlu kawatir tentang anak yang kamu kandung,biar saya yang merawatnya dan kamu akan saya beri kompensasi." "gak mas, aku gak mau pisah berikan aku kesempatan untuk memperbaikinya kembali." mohon Shanum,dulu memang dirinya ingin kembali dengan Satriya karena hartanya,tetapi setelah hidup bersama Satriya dan melihat betapa Satriya mencintai dan menyayanginya membuatnya jatuh hati pada Satriya. bahkan peehatian kecil yang di berikan oleh Satriya mampu membuatnya jatuh cinta dan jika dirinya harus berpisah maka dia tidak akan pernah terima itu. "maaf Sha,ini sudah keputusanku. aku tak ingin hidup bersama wanita ular sepetimu dan anakku akan pasti juga tidak menginginkan ibu jahat sepetimu." ucap Satriya lalu beranjak meninggalkan Shanum yang masih diam terpaku mendengar ucapan Satriya. sungguh ia tak dapat membayangkan bagaimana dirinya akan berpisah dengan Satriya. "tidak,apapun yang terjadi aku tidak akan pernah mau pisah. ini semua gara-gara Maya,sepertinya aku harus menyingkirkan wanita itu,agar Satriya mau kembali padaku." gumam Shanum. setelah mengucapkan niatnya kepada Shanum Satriya lebih memilih membersihkan dirinya. dan berendam air hangat sejenak berharap mengurangi rasa sesak di dadanya. sungguh ia tak menyangka kalau Maya bisa melakukan hal sehina itu. dirinya tahu kalau apa yang menimpa dirinya karena sudah ia sakiti. "maafin mas Maya,karena mas kamu menjadi rusak seperti ini. mas janji akan memperbaiki semuanya dan akan menjadikanmu milik mas lagi." gumam Satriya. bukan karena rasa bersalah Satriya ingin kembali dengan Maya,tetapi lebih karena perasaan cintanya terhadap Maya,karena jujur Satriya mencintai Maya dan bodohnya dia baru menyadari saat Maya sudah pergi dari sisinya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
seneng bagus ceritanyaa
8d
0novela emang bagus
05/07
0mntap
03/07
0Lihat Semua