"apa semuanya sudah siap?" tanya Dimas pada Maya. "sudah pak,dan semuanya sudah menunggu bapak." jawab Maya. Dirga berdiri,dan berjalan keluar untuk menghadiri meeting yang di adakan di kantornya Maya mengekor di belakang Dirga. banyak pasang mata yang melihat Maya dengan pandangan iri,pasalnya Maya begitu mudah mendapatkan pekerjaan sebagai asisten pribadi Dirga,padahal dia hanya tamatan SMA. Maya hanya membiarkan mereka membicarakannya,Selama ia tak terganggu. ia hanya ingin fokus dalam bekerja untuk menggapai cita-citanya. Dirga memasuki ruangan yang sudah ada beberapa orang penting di perusahaanya, peehatian mereka teralihkan dengan kedatangan Dirga dan Maya,tak sedikit dari mereka bebisik menanyakan siapa gadis cantik yang bersama dengan Dimas, tetapi Dirga tak menghraukan bisikan-bisikan yang mengganggu pendengaranya,ia lebih memilih untuk berjalan menuju kursi kebesaranya. sementara Maya berdiri di samping Dimas dan menyodorkan beberapa berkas penting kepada Dimas,lalu setelah itu ia duduk di samping Dirga. "selamat pagi semua,mari kita mulai saja rapat kalini." ucap Dirga tanpa basa basi. mereka memulai rapat dengan tenang,bahkan tak jarang mereka saling bertukar pendapat. bahkan Dirga juga melibatkan Maya untuk memberikan pendapat. dan di luar dugaan banyak yang menyetujui pendapat Maya. Dirga semakin kagum pada gadis kecil yang berada di sampingnya ini,dia tidak salah memilih Maya sebagai asistennya. dua jam rapat baru selesai,mereka berjabat tangan mereka sangat puas dengan rapat hari ini apalagi dengan ide Maya,mereka sangat yakin hotel yang baru di buka pasti akan berkembang dengan cepat. "katakan dimana anda bisa mendapatkan asisten seperti nona Maya tuan Dirga?" tanya salah satu rekan bisnisnya. "itu biar menjadi rahasia saya." ucap Dirga tersenyum lalu membalas jabat tangan dari salah satu rekan bisnisnya. "oh,ya nona Maya jika anda bosan bekerja dengan tuan Dirga maka saya dengan tangan terbuka menerima anda,dan ini kartu nama saya." ucapnya menyodorkan kartu nama kepada Maya. Maya mengangguk dan tersenyum menerima kartu nama itu.setelah itu pria yang seusia Dirga itu pamit undur diri,Maya dan Dirga mengantarkannya sampai parkiran. Dirga mengepalkan kedua tanganya saat lelaki itu mencoba merayu Maya untuk bekerja dengannya.jika Dirga tidak mengingat pria itu adalah salah satu pemegang saham tertinggi di perusahaanya pasti sudah ia pukul wajah sok tampan itu. "buang ini,kau tak memerlukanya." Dirga mengambil kartu nama yang ada di tangan Maya dengan kasar dan meremasnya kemudian membuang ke tempat sampah. "lah...kok di buang om,siapa tahu suatu saat Maya membutuhkanya." ucap Maya cemberut. Dira menatap tajam ke arah Maya dan berjalan mendekati Maya, membuat Maya melangkah mundur karena melihat tatapan marah dari kedua bola mata Dirga. hal itu membuat Maya mengingat bayangan Satriya saat memukulnya dan berakhir dirinya di rawat di rumah sakit bahkan dirinya hampir kehilangan anaknya. Maya menggeleng, "jangan..."ucap maya berjongkok berusaha melindungi dirinya sendiri saat melihat tangan Dirga mengayun untuk mengukungnya. "tidak...aku mohon jangan pukul aku." ucap Maya lirih Dirga yang melihat Maya ketakutan,langsung panik. "hei...siapa yang akan memukulmu?" tanya Dirga lembut dan menyentuh pundak Maya. Maya mendongak menatap kedua manik hitam milik Dirga,setelahnya Maya tersadar itu hanyalah sebuah ketakutannya saja tidak ada Satriya itu hanya bayang-bayang yang sangat sulit untuk ia hilangkan. untuk sesaat pandangan mereka saling beradu,lagi-lagi Dirga melihat sorot mata penuh kesedihan dari kedua bola mata Maya. "kamu kenapa,siapa yang akan memukulmu?"tanya Dirga lembut. "maaf om,Maya gak bermaksud." "sudahlah lebih baik kita pergi makan siang,kamu pasti lapar kan?" Dimas mengalihkan pembicaraan. Maya mengangguk kemudian berdiri dan berjalan meninggalkan kantor,dan mengikuti langkah Dirga. sebenarnya Dirga sangat penasaran dan ingin menanyakan apa yang tengah terjadi pada Maya,tetapi ia sadar kalau itu pasti sangat bersifat pribadi bagi Maya,biarlah lain kali ia akan bertanya kepada Maya,atau menunggu Maya menceritkanya sendiri. tanpa merek sadari ada sepasang mata cantik yang mengawasi mereka,wanita itu mengepalkan kedua tanganya. sungguh ia merasa iri dengan sikap Dirga yang bisa begitu lembut dengan Maya,padahal mereka baru saja mengenal beberapa hari. sedangkan dirinya sudah hampir setahun dan sudah berbagai macam cara ia lakukan untuk menaklukan Dirga,tetapi Dirga sama sekali tak meliriknya. "apa sih bagusnya dia?sudah jelas aku lebih cantik darinya,awas kamu Maya." gumam Siska. Siska adalah anak dari salah satu rekan kerja Dirga,dia adalah sekertaris Dirga. dia sengaja berkerja di perusahaan Dirga hanya untuk mendekati lelaki itu,tentu saja orang tua Siska setuju,karena Dirga adalah menantu idaman mereka. mendapat restu dari orang tuanya dia berusaha mendekati Dirga dengan cara bekerja dengan Dirga. namun sayang Dirga sama sekali tidak tertarik dengan Siska,berbagai macam cara telah ia lakukan tetapi Dirga sama sekali tak meliriknya. "bagaimanapun caranya aku harus mendapatkannya,dan untuk Maya aku harus menyingkirkanya sebelum Dirga jatuh kepelukanya." gumamnya. setelah mengatakan itu Siska meninggalkan tempat itu,dia harus mencari cara untuk menyingkirkan gadis ingusan itu dari sisi Dirga. Siska menjatuhkan bobot tubuhnya di kursinya,dan mengambil ponselnya untuk menelpon seseorang. "aku butuh bantuanmu untuk menyingkirkan seseorang." ucapnya saat panggilan tersambung. "...." "kamu tak perlu kawatir masalah bayaran,bahkan aku akan membayarmu lebih jika kamu berhasil melakukanya." ucap Siska. setelah mengucapkan itu,dia mematikan sambungannya,lalu melempar poselnya kesembarang arah. "kamu tunggu saja,Maya kamu akan menyesal karena telah berani mendekati Dirga,karena dia hanya milikku." ucap siska sambil tersenyum licik
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
seneng bagus ceritanyaa
8d
0novela emang bagus
05/07
0mntap
03/07
0Lihat Semua