Satriya memilih untuk masuk ke dalam kamarnya,perlahan ia membuka pintu,ia melihat Maya yang sudah tertidur membelakangi pintu. ia mendekati sang istri yang sudah tertidur pulas,di lihatnya wajah Maya dengan seksama,tangannya terulur untuk mengelus rambut sang istri. Maya yang merasa ada yang mengelusnya,seketika ia membuka matanya dan menatap orang yang sudah mengelus rambutnya. ia menatap Satriya dengan tersenyum. "mas," ucap Maya yang masih memejamkan matanya.ia benar benar merasa ngantuk karena dia dengan sengaja meminum obat tidur.dia meminum obat tidur karena menghindari pertengkaran dengan satriya. memang begitulah Maya,jika dia sedang kalut atau dalam masalah ia lebih memilih meminum obat tidur menghindari masalah. ia tahu ini salah tapi dia tidak ingin menangis saat menghadapi kenyataan yang ada di depan matanya.lebih baik ia tidur dan menenangkan pikirannya. Satriya yang melihat Maya menahan kantuk tersenyum melihatnya. "sudah tidur saja,gak usah di paksa kamu pasti lelah" ucap Satriya mengecup kening Maya lembut ia pun lebih memilih merebahkan tubuhnya di samping Maya dan menarik Maya ke dalam pelukannya. "maafin mas may,mas akan berusaha untuk tetap bisa mencintaimu dan mempertahankan rumah tangga kita." ucap hati Satriya sebelum ia terbuai dalam mimpi menyusul sang istri _____ "pagi bunda." sapa Maya kepada mertuanya "pagi juga sayang,duh segera bener mukanya." hehehe... "bunda masak apa?" Maya dan ibu mertuanya sedang asik berbincang tanpa menyadari Satriya yang sudah duduk di meja makan menunggu makanan matang. "duh asik bener ngobrolnya,sampai gak sadar Satriya sudah ada disini." sontak mereka menoleh lalu tersenyum, "maaf ya mas,hari ini adalah hari Kusus Maya dan bunda jadi mas gak boleh ganggu." ucap Maya memperingatkan satriya hanya bisa pasrah jika sang istri sudah bicara seperti itu. _____ "Maya...mas pergi sebentar ya,ada hal penting yang harus mas kerjakan." "memang hal penting apa mas? ini kan hari Minggu." "ini katanya ada klien yang ingin bertemu hari ini,katanya besok dia tidak bisa menemui mas,jadinya ya hari ini." "ya udah kalau itu penting,mas hati hati di jalan ya." satriya mengangguk dan mengecup kening Maya lembut sebelum ia pergi dan tak lupa ia berpamitan kepada sang bunda. Maya melihat mobil Satriya yang mulai menghilang dari pandangannya,ia menatap sendu kepergian satriya.ia merasa Satriya pergi bukan karena masalah pekerjaan tetapi ia ingin menemui shanum. segera ia menggeleng kuat saat pikiran negatifnya merasuki dalam pikirannya. "hus...hus...pergi jauh pikiran negatif." ucap Maya sambil menggeleng kuat "kamu kenapa mau?" ucap mertuanya menepuk pundak Maya "gak apa apa kok bunda." jawab Maya tersenyum lembut "dari pada melamun mending kamu bantuin bunda nanam cabai di belakang ruamah." Maya mengangguk dan mengikuti langkah kaki sang mertua. "bagaimana hubungannya dengan satriya?" tiba tiba mertuanya menanyakan hal itu Maya menoleh lalu tersenyum getir, "hubungan Maya sama mas Satriya baik kok bunda,bunda gak usah khawatir." sang bunda pun meletakan alatnya yang ia gunakan untuk menanam cabai. di raihn dan di genggamnya tangan Maya erat. "bunda berharap kamu bisa sabar dalam menghadapi Satriya,bunda yakin Satriya pasti akan bisa sangat mencintai kamu.apapun yang terjadi bunda berharap kamu akan tetap bersama Satriya." Maya tersenyum lalu mengangguk.sejujurnya ia tidak tahu apakah ia akan sanggup menjalani cinta yang bertepuk sebelah tangan ini? ia akan mengusahakan ya,tetapi jika Satriya yang menginginkannya untuk pergi dari kehidupannya dia akan melakukanya. sampai sore Satriya belum ada tanda tanda untuk pulang,Maya sudah mencoba menghubunginya tetapi nomornya tidak bisa di hubungi.berbagai macam pikiran buruk menghinggapi pikiran maya.ia berusaha menepis pikiran pikiran buruk yang menghasutnya. "Maya apa yang kamu lakukan disini,ayo masuk ini sudah mau magrib tidak baik jika masih berada di luar." perintah sang bunda ia tahu Maya sedang gelisah menunggu Satriya,tetapi beliau juga tidak mau menantunya terus berdiri di luar rumah,ia tak mau Maya sampai sakit karena terus menunggu di luar apalagi sekarang hujan di Sergai angin yang kencang. "tapi mas Satriya belum pulang bund dan nomornya tak bisa dihubungi Maya khawatir bund." ucap Maya dengan rasa kekawatiranya. "sudah kamu jangan berpikiran macam macam,Satriya pasti baik baik saja,percaya sama ibu.ayo masuk dan tunggu di dalam." akhirnya Maya pasrah dan menuruti perintah mertuanya itu. sementara itu Satriya tengah menemani shanum di rumah sakit,wanita itu keguguran karena ia terjatuh dari tangga. tadi saat ada telpon dari shanum ia tak sengaja mengangkatnya,saat ia mengangkat telpon terdengar rintihan shanum yang meminta tolong,Satriya yang panik langsung bergegas menemui shanum.untung Maya percaya dengan alasan yang dia berikan sehingga ia bisa menolong shanum walau dengan cara membohongi shanum. Satriya bingung pasalnya saat Satriya kerumahnya shanum rumah tampak sepi tidak ada siapapun,ia masuk begitu saja saat melihat pintu rumah shanum tak terkunci,saat ia masuk keeumah shanum pemandangan yang ia lihat adalah shanum yang sudah terbaring lemah di atas lantai dengan darah berceceran. ia tidak tahu kemana perginya suami shanum,kenapa ia bisa tega meninggalkan shanum sendirian saat dirinya tengah hamil. tanpa berpikir lama Satriya lalu membawa tubuh shanum dalam gendongannya dan di bawanya kerumah sakit. jujur Satriya merasa sakit saat melihat shanum seperti ini dia tahu ini salah tetapi ia tak bisa membohongi hatinya kalau ia masih sangat mencintai shanum.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
seneng bagus ceritanyaa
10d
0novela emang bagus
05/07
0mntap
03/07
0Lihat Semua