Beranda/cintamu seperti buah srikaya/
Ending
Enam bulan kemudian....
Maya sedang berjalan santai di taman rumahnya. dengan perut yang sudah membesar, membuatnya sedikit kesusahan saat melakukan aktifitas.
Kandungannya kini sudah menginjak 9 bulan, dokter memperkirakan kalau Maya akan melahirkan satu Minggu kedepan.
Mendekati hari kelahiran, Maya memilih untuk sering melakukan olah raga ringan. Seperti saat ini, berjalan-jalan tanpa alas kaki di atas rumput hijau di taman rumah ibu mertuanya.
"Dek, sini minum susunya!" Dirga mendekati istrinya dan menuntunnya untuk duduk dan meminum susu khusus ibu hamil.
"Dek, jangan terlalu capek! ingat kata dokter." Dirga mengingatkan.
"Justru kata dokter, aku harus banyak bergerak supaya nanti lahirannya lancar mas!" Maya mencoba menjelaskan kepada suami posesifnya ini.
"Iya, tapi mas gak mau kamu kecapekan."
"Sudahlah mas, aku mau mandi dulu, gerah." Maya lebih memilih untuk menjauh dari sang suami, percuma juga berdebat dengan suaminya.
Ujung-ujungnya Dirga tak mau kalah dan tidak mau dibantah. Ya semenjak kejadian dirinya di culik, Dirga semakin protektif dan bahkan suaminya ini menyewa beberapa bodyguard untuk menjaganya, berlebihan memang.
Tetapi Maya mengerti dengan kekhawatiran sang suami, jadi dia sama sekali tidak protes selama dirinya tidak merasa terganggu, Maya menurut saja.
Toh, itu semua demi kebaikannya. Maya mengelus perutnya yang tiba-tiba terasa nyeri, Maya menghentikan langkahnya berharap rasa sakit itu menghilang.
"Kenapa dek?" tanya Dirga khawatir.
Maya menatap suaminya menggeleng menampilkan senyumnya. Ia melanjutkan langkah kakinya saat nyeri kembali menyerang.
Maya sudah merasakan nyeri di area perutnya sejak subuh tadi. Tetapi dia mengabaikan hal itu, dan memilih untuk berjalan-jalan untuk mengurangi rasa sakit yang ia alami.
Setelah berjalan-jalan, rasa nyeri yang menyerangnya agak mereda, tapi selang beberapa menit nyeri itu sakit lagi.
Dulu, waktu kandungannya berumur 7bulan, Maya juga pernah mengalaminya hal seperti ini, kata dokter itu hanya kontraksi palsu.
Hari ini dia juga merasakan hal yang sama, dia pikir ini hanyalah kontraksi palsu seperti sebelumnya. Mengingat kata dokter perkiraan lahirnya masih satu minggu kedepan, jadi Maya mengira ini hanyalah kontraksi palsu.
"Kamu yakin baik-baik saja?" tanya Dirga sekali lagi,
"Iya mas, aku aaakkkhhh...." ucapan Maya terpotong saat merasakan sakit yang luar biasa di perutnya.
"Sakit mas," keluhnya.
"Dek, sepertinya kamu akan lahiran!" Ucap Dirga panik, apalagi saat melihat ada cairan bening yang keluar dari sela-sela kaki istrinya.
Maya mencengkram kuat lengan sang suami, saat dirinya merasakan sakit yang luar biasa di perutnya.
"Ma, Mama...." Dirga memanggil namanya dengan nada khawatir.
"Ada apa sih teriak-teriak?"
"kayak dihutan saja, kamu teriak-teriak Dirga." Papa ikut menimpali ucapan istrinya.
"Ya ampun, Maya kenapa Dirga?" tanya mama panik saat melihat Maya terduduk di lantai.
"Sepertinya Maya mau melahirkan ma!"
"Kalau begitu ayo cepat bawa kerumah sakit!" perintah papa.
Dirga langsung menggendong Maya dan segera membawanya ke mobil yang sudah di siapkan oleh papanya.
Sementara mama Maryam akan menyusul, karena dia harus menyiapkan keperluan Maya saat di rumah sakit nanti.
'Duh, gak sabar gendong cucu!' gumamnya senang, Maryam dengan cepat melangkahkan kakinya menuju kamar Maya untuk mengambil barang-barang yang sudah di siapkan oleh Maya jauh-jauh hari.
"Pak Yanto ayo cepat, Maya sudah sangat kesakitan!"
"I-iya tuan, ini sudah cepat tapi jalanan macet." Jawab pak Yanto tak kalah gugup.
Dirga berdecak, bisa-bisanya di saat seperti ini jalanan macet. Dia melihat ke arah sang istri yang sudah berkeringat dingin, wajahnya tengah menahan kesakitan.
Meskipun Maya tak mengeluh, tetapi Dirga bisa melihat bagaimana wajah pucat sang istri yang tengah menahan rasa sakit yang di alaminya.
"Sabar ya sayang, sebentar lagi kita sampai!" Dirga mencoba menenangkan istrinya, lalu mencium keningnya lembut tak lupa tanganya juga ikut mengelus perut istrinya yang terasa sangat kencang ini.
"Baby, sabar ya nak! sebentar lagi kita pasti akan bertemu!" ucap Dirga mencium perut buncit istrinya.
Sungguh ajaib, setelah Dirga mencium perut buncit istrinya rasa sakit yang di alami Maya sedikit berkurang, perutnya tak sesakit tadi.
Maya menatap Dirga tersenyum lembut, ia membalas tangan Dirga yang tengah menggenggam erat tanganya.
"Mas, jangan khawatir kami pasti baik-baik saja!" Maya mencoba menenangkan sang suami agar tidak terlalu mengkhawatirkanya.
Butuh waktu 20 menit mereka sampai di rumah sakit, Maya langsung di larikan di ruangan bersalin. Dirga selalu setia menemani sang istri.
"Sayang kamu pasti kuat, kamu pasti bisa membawa anak kita untuk melihat dunia sayang!" Dirga terus menyemangati sang istri, agar istrinya ini bisa lebih kuat lagi.
Selama persalinan Dirga tak henti-hentinya berdoa dan memberi semangat kepada sang istri, hingga satu jam kemudian terdengar suara yangis bayi terdengar begitu nyaring.
"Sayang kamu berhasil, terima kasih karena sudah memberiku harta yang paling berharga di dunia ini, terima kasih karena sudah mau berjuang melahirkannya sayang!" ucap Dirga sambil mencium kening istrinya dengan lembut.
"Selamat Pak, Buk, anaknya laki-laki dan sangat tampan seperti ayahnya." ucap sang dokter dan meletakkan bayinya di atas dada Maya. Hal ini dapat membantu untuk Inisiasi Menyusu Dini.
Maya yang masih lemah, hanya tersenyum dan mengangguk. Tanganya mengelus lembut bayi mungil yang sedang berada di atas dadanya, Dia sangat bersyukur dan terharu karena sudah berhasil melahirkan seorang anak laki-laki untuk suaminya.
Setelah semua selesai, Dirga langsung mengadzani anaknya dan menyerahkan anaknya kepada suster untuk di tangani lebih lanjut.
______
Di sebuah ruangan, dimana Maya tengah di rawat semua keluarga nampak bahagia. Mereka berebutan untuk menggendong anaknya.
"Ma, gantian dong! papa juga ingin menggendong cucu papa!"
"Iya Pa, sabar! Mama belum puas gendong cucu mama!" Maryam tak mau memberikan cucunya kepada sang suami, karena dirinya masih belum puas untuk menggendong cucu pertamanya ini.
"Mama ini!" kesal Tomi, "Oh iya, kalian sudah memberikan nama untuk anak kalian?" tanya Tomi kepada anak dan menantunya.
"Sudah pa, kami sudah menyiapkan nama jauh-jauh hari!" jawab Dirga.
"Oh ya? siapa namanya?" kali ini mamanya yang bertanya.
"Namanya Mahendra Prayoga!"
"Wah nama yang bagus, semoga menjadi anak yang shaleh ya sayang!" ucap Maryam sambil mencium gemas cucunya ini.
"Amien..." semua orang mengaminkan doa Maryam.
Maya sangat bahagia, saat melihat keluarganya yang dengan senang hati menyambut kelahiran anaknya.
Dalam hatinya berdoa, semoga kebahagiaan mereka tidak akan pernah hilang. Apalagi dengan hadirnya Mahendra di keluarga mereka.
Ini semua adalah awal kebahagiaanya bersama dengan keluarga kecilnya. Meskipun ia tahu, bahwa cobaan akan terus mendatanginya, tetapi dia akan berusaha untuk menghadapinya dengan ikhlas.
Selama suami dan anaknya berada disisinya, maka dia tidak akan merasa kekurangan apapun, karena merekalah harta yang paling berharga baginya.
Ia sadar, waktu akan terus berjalan dan masalah akan terus menghampirinya. Tetapi ia yakin, akan bisa melewatinya bersama sang suami dan anaknya kelak.
The EndUnduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (154)
Share
Selesai
Rekomendasi untuk Anda
seneng bagus ceritanyaa
21h
0novela emang bagus
05/07
0mntap
03/07
0Lihat Semua