Hari Itu Tiba

Fernanda memandang papanya dengan wajah bersemu merah.
“Iya, Pa,” ucapnya pelan. Dia merasa malu, tapi ada rasa senang menyelimuti hatinya. “Aku juga sayang Mario.”
“Kamu sungguh-sungguh, Nak?” tanya Celia. Selama ini dia tidak begitu yakin putrinya bisa mencintai seorang pemuda setelah semua yang dilaluinya.
“Iya, Ma. Sangat sayang.” Fernanda tersenyum tipis, lalu menunduk.
Hati Celia menghangat. Dia tidak tahu keputusan ini benar atau tidak. Putrinya sungguh-sungguh jatuh hati pada Mario. Mario mau menikahinya, karena dia dan Yonathan yang memintanya. Dia berharap, Mario akan tulus berusaha mengasihi Fernanda.
“Baiklah. Kita akan atur kapan kita bisa melangsungkan pernikahan kalian,” kata Yonathan.
“Pa, tidak usah buat pesta besar. Nanda ingin semua sederhana, tapi khidmat.” Gadis itu meminta dengan sungguh.
“Iya, Sayang. Tentu,” kata papanya dengan senyum lega.
Selesai pembicaraan, Yonathan dan Celia kembali ke ruang kerja. Mario pamit pulang. Fernanda mengantar cowok itu hingga di teras rumah.
"Senyum, dong," ujar Mario. Fernanda terlihat tegang.
Tentu saja. Masih seperti melayang, akhirnya dia menerima permintaan Mario untuk menikah. Meskipun itu idenya, dan Mario ternyata sungguh melamarnya, semua ini seperti aneh.
"Iya …." Fernanda menarik sedikit senyumnya.
"Aku pulang." Mario naik ke atas motornya, lalu melajukan motor itu meninggalkan Fernanda yang terus menatapnya hingga tak nampak lagi.
"Mario ...," bisik Fernanda. "Aku memang mencintaimu."
*****
Fernanda menatap wajahnya di cermin. Gaun putih simple, tanpa banyak renda. Hanya di lengan dan bagian pinggang ada beberapa lekukan dan butiran mutiara melengkapinya. Tubuhnya yang kurus tidak kelihatan aneh dengan gaun itu. Gaun itu pas menghias tubuh mungilnya. Riasannya tidak mencolok tetapi cocok dengan wajah imutnya. Melenyapkan semua pucat di wajahnya itu, membuat Fernanda tampak lebih segar dan berbinar.
Seperti inikah rasanya mengenakan gaun pengantin?
Cantik, ya, hari ini Fernanda benar-benar cantik. Dalam waktu dua jam ke depan dia akan menjadi seorang istri. Tidak pernah terbayangkan olehnya, harapan ini akan jadi nyata. Sejak kejadian mengerikan itu, dia mengubur dalam-dalam keberaniannya dekat dengan laki-laki. Dia memasang pagar kebencian untuk semua pria, kecuali papanya.
Tapi Mario menggoyahkan semua kebencian dan ketakutannya. Sekalipun dia belum bisa bebas bersikap pada orang yang dicintainya itu, tapi dia merasa Mario memberikan rasa aman dan hangat padanya. Hatinya berbunga, tetapi dadanya tidak bisa berdegup normal. Masih ada sedikit rasa takut menghadapi semua ini. Apakah pilihannya ini benar? Apakah dia dan Mario akan baik-baik saja?
Bisikan dalam hatinya berkumandang. “Bukankah ini impianmu? Menikah dengan pria yang kamu jatuh hati padanya? Pria yang baik dan bertanggung jawab? Mario sudah menunjukkannya kepada adik-adiknya. Tentu dia akan lakukan hal sama denganmu. Dia bilang dia sayang padamu. Dia ingin membahagiakanmu! Tidakkah kau mau tunjukkan, ya, kamu bahagia dengan apa yang diberikannya padamu. Tersenyum, Fernanda! Buat mereka yang memikirkan kebahagiaanmu tahu, kamu bersukacita dengan semua ini…”
Ya, Fernanda harus bahagia. Jika Tuhan ijinkan ini yang terjadi, pasti ada hal baik yang menunggunya di sana. Bukan hanya untuknya, tapi juga buat Mario, pria yang sudah memiliki tempat istimewa di hatinya.
“Sayang, kamu sudah siap?” tanya Celia yang sudah masuk ke kamar Fernanda. Kamar ini dihias dengan cantik untuk hari ini. “Ya Tuhan, anak mama cantik sekali.” Celia terdengar begitu gembira melihat putrinya di depannya dengan gaun pengantin, siap menuju hari besarnya itu.
Fernanda tersenyum. “Terima kasih, Ma.”
“Ayo, Sayang, Papa sudah menunggu.” Celia menggandeng putrinya dengan rasa syukur yang penuh di hatinya. Fernanda mengikuti langkah mamanya.
Di ruang depan, Yonathan dan Bi Ati sudah menunggu. Mario akan langsung ke gereja, mereka akan bertemu di sana. Om Renno dan istrinya yang akan menjadi wali Mario. Mereka juga sudah dekat dengan Mario karena Mario bekerja dengan sangat baik selama ini di kantor Om Renno. Dan Mario menjadi salah satu karyawan terbaiknya.
“Anak Papa ….” Yonathan tak bisa membayangkan anak kesayangannya, satu-satunya ini sudah siap menikah hari ini. Sama sekali tak pernah dia pikirkan. Hatinya begitu haru. Rasanya ingin menangis karena bahagia. Pelupuk matanya sudah mulai berair. Dia mengerjap sambil memeluk Fernanda.
“Woww … Cantiknya.” Yonathan mengecup kening Fernanda. Fernanda merangkul pinggang papanya erat. Dia ingin berterimakasih dengan itu. Dia tersenyum sepenuh hati, bersyukur.
“Ayo berangkat,” ajak Papa.
Mereka pun meninggalkan rumah menuju gereja yang jaraknya kira-kira 20 menit perjalanan dari rumah itu.
*****
Mario sedang merapikan dasinya. Memastikan jasnya sudah pas, kerah bajunya, ya semua harus sempurna hari ini. Baju putih, jas putih dengan dasi biru berpadu putih, senada dengan bunga kecil yang menempel di saku kiri jasnya. Dia gagah sekali. Kelihatan begitu dewasa.
Miki memandangi saja kakaknya itu yang berdiri di depannya, membelakanginya, menghadap cermin. Dia yang justru galau.
“Kak, kamu yakin dengan semua ini?” tanya Miki.
“Kenapa?” Mario merapikan lagi ujung rambutnya.
“Menikah sekali seumur hidup, Kak,” ujar Miki. “Aku tidak yakin kamu mencintai gadis jahat itu.”
Miki memang tidak bisa melarang Mario tidak menikah dengan Fernanda. Tapi dia masih belum lega kalau kakaknya akan menikah sekarang. Menurutnya ini terlalu terburu-buru. Miki juga masih lebih yakin kalau Mario tidak cinta Fernanda.
“Miki, Fernanda sudah berubah. Apa kamu belum merasakannya? Dia mencintaiku. Bukan hal yang mudah untuknya menikah denganku, meskipun dia merindukan sebuah keluarga buat dirinya,” jawab Mario.
“Oke, aku akui dia sudah jauh lebih baik. Tidak tepat lagi kubilang dia si hati jahat. Tapi, apa benar dia jodohmu dari Tuhan?” ujar Miki. Dia masih belum lega dengan yang terjadi pada kakaknya.
Mario membalikkan badan menatap Miki. “Jodoh? Aku bahkan tidak memikirkan itu. Yang aku tahu aku ingin menikahinya dan membuatnya bahagia.”
“Dan kamu makin yakin melakukannya karena Om Nathan dan Tante Celia memintanya. Aku tahu, mereka hari itu ke rumah minta kamu menikahi Fernanda, kan?” sahut Miki. “Sudah pasti kamu tak bisa menolak, Kak. Kita berhutang terlalu besar pada mereka.”
Mariodi satu sisi membenarkan perkataan Miki. Tapi tidak mungkin dia katakan sebenarnya memang itu juga alasannya. Dia ingin berterimakasih pada kedua orang tua itu, yang dengan tulus hati peduli padanya dan kedua adiknya, ketika semua seperti meleburkan hidupnya. Ini yang bisa dia lakukan, membahagiakan anak tunggal mereka.
“Ki, aku melakukannya karena aku mau. Aku sayang Fede,” tegas Mario.
“Apa kamu bahagia, Kak?” tanya Miki lagi.
Mario tersentak dengan pertanyaan itu. Tapi dia tidak bereaksi. Beberapa saat dia diam. Lalu tersenyum. Dia membalikkan badan lagi ke arah cermin.
“Tentu saja. Ini hari pernikahanku,” tukas Mario. Oh, tidak, ada rasa menyayat di hatinya walaupun itu sangat sedikit.
“Sungguh, kamu yakin?” Lagi Miki bertanya.

Komentar Buku (138)

  • avatar
    KustoyoPuput

    bagus banget

    11/07

      0
  • avatar
    HerdikaGalang

    baik baguss pokoknya bacanya betah deh

    08/02

      0
  • avatar
    HastutiTri

    bagus banget

    13/11

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru