Esok hari datang. Malik berlarian menuju ruang kerja Adikara sambil membawa tab kerjanya. Dengan tergesa, Malik mengetuk pintu ruang kerja Adikara, dan begitu mendapat persetujuan untuk masuk, Malik melangkah—setengah berlari, ke dalam ruangan itu. “Permisi, Pak.” “Ada apa? Kau terlihat buru-buru sekali.” “Ini kondisi darurat, Pak. Informasi mengenai nona Athena Amerta sebagai korban yang disandera oleh Samsul bocor ke media. Berita yang keluar memang tidak menyebutkan nama asli, tapi menyebutkan ciri-ciri dan inisial nona Athena.” Malik menjelaskan sambil mengulurkan tab kerjanya yang telah menampilkan sebuah artikel berita. Pada headline berita tersebut tertulis ‘Identitas Seorang Sandera Kasus Penculikan Terkait Keluarga Konglomerat Terungkap’. Malik juga menggeser layar untuk menunjukan artikel berita kedua dengan judul ‘Jadi Kekasih Keluarga Konglomerat, Terancam Maut’. Dan artikel terakhir yang ditunjukan oleh Malik berjudul ‘Gadis SMA Jadi Sandera Kasus Penculikan Terkait Keluarga Konglomerat’. Melihat ketiga judul berita tersebut membuat Adikara menghela napas panjang sambil memijat kepalanya yang mendadak pening. “Sejauh mana berita ini tersebar?” “Sepertinya pihak sekolah juga sudah tahu, Pak. Pada salah satu artikel berita ini menyebutkan asal sekolah nona Athena.” Malik menjawab dengan yakin. “Lalu bagaimana dengan keluarga Athena? Mereka sudah tahu kalau berita ini bocor ke media?” wajah Adikara terlihat lebih khawatir dari sebelumnya. “Kedua adiknya mungkin sudah tahu. Tapi orang tuanya … saya belum memastikan hal itu, Pak. Akan segera saya cari tahu dan tangani masalah ini secepatnya.” Malik menunduk sopan sambil menarik kembali tab-nya yang disodorkan pada Adikara. Adikara mengangguk. “Pastikan bahwa kondisinya tidak memburuk. Dan kalau terjadi sesuatu kepada orang tua Athena, hubungi Hera. Sepertinya Hera sudah menemukan donor jantung untuk Roy Hermanto.” “Baik, Pak.” Setelah berucap demikian, Malik segera meninggalkan ruang kerja Adikara dan menjalankan tugasnya. ### Di tempat lain, Roy sedang duduk bersantai sambil menikmati kopi hitam. Tangan kanannya memegang ponsel yang menampilkan laman berita di salah satu platform digital. Sudah menjadi sebuah kebiasaan baginya untuk menyerap informasi melalui media, karena hal tersebut juga dapat berkaitan dan berpengauh pada pekerjaannya. Ketika sedang asyik menggulir layar untuk mencari berita, Roy memencet salah satu berita teratas yang telah dijangkau oleh lebih dari tiga ribu pengguna dalam satu jam terakhir. Matanya dengan saksama membaca kalimat demi kalimat dalam berita tersebut. Sampai di tengah-tengah berita, cangkir kopi yang sedang dipegangnya terlepas dari tangan dan menciptakan banyak pecahan di lantai. “A-a-a …” napasnya seketika sulit untuk diembuskan. Roy mencengkeram kaosnya di bagian dada yang tiba-tiba merasa sakit luar biasa. Semenatra itu, Elva yang sedang memasukan baju-baju Athena ke dalam tas secara diam-diam agar Roy tidak curiga—untuk dibawa ke rumah sakit. Wanita itu mendengar suara benda yang terbuat dari kaca terjatuh cukup keras. Tubuhnya langsung bergerak meninggalkan kamar Athena. “Pa? Papa? Suara pecahan apa itu, Pa?” Elva menuruni tangga dengan tergesa. Wanita paruh baya itu mencari asal suara yang didengarnya. Lalu ketika Elva sampai di ruang keluarga, ia melihat Roy yang sudah terduduk lemas dengan mata terpejam. Pecahan cangkir terlihat di dekat kaki kursi sebelah kiri. Elva buru-buru mendekat. “PAPA!” Elva menangis begitu tubuh Roy sampai di pelukannya. Meski gemetar, sebelah tangannya menggapai ponsel di meja dan menekan kontak nama paling atas. “A-alfred …” Elva langsung bicara begitu telepon diangkat. “Mama? Kenapa Mama nangis?” dari seberang telepon, Elva bisa mendengar nada suara khawatir dari Alfred. “Pa-papa …” “Papa kenapa?!” “Ambulan … panggil ambulan ke sini. Papa pingsan.” Lalu telepon dimatikan sepihak oleh Alfred. Sementara Elva mengguncang tubuh Roy, dan menepuk-nepuk pipi suaminya itu sambil menangis. Dalam hati Elva telah memanjatkan doa-doa agar sesuatu yang buruk tidak menimpa suaminya. ### Beberapa saat kemudian, Roy telah dibawa ke rumah sakit terdekat. Berita itu telah sampai hingga ke telinga Hera melalui Malik. Karena itulah Hera langsung meminta agar Roy segera dipindahkan ke rumah sakit tempatnya bekerja. Hera berlarian di koridor rumah sakit untuk menemui keluarga yang mewakilkan Roy. Tiba di ruang tunggu, Hera mendapati seseorang yang sedang menunduk dengan bahu bergetar karena tangis. “Wali dari bapak Roy Hermanto?” Hera bertanya hati-hati. Orang itu mendongak, dan Hera bisa langsung tahu kalau dia adalah ibu dari Athena karena wajah mereka yang mirip. “Iya. Saya istrinya.” Hera tersenyum profesional. “Tolong tanda tangani surat persetujuan rawat inap untuk penjadwalan operasi atas nama bapak Roy Hermanto. Setelah itu Anda bisa mengisi berkas-berkas lebih lengkapnya di meja administrasi.” Elva mengangguk. “Terima kasih, Dok.” wanita paruh baya itu baru saja hendak melangkahkan kaki ke arah meja administrasi, namun ia menghentikan gerakannya. “Maaf kalau saya lancang. Tapi apa Dokter Hera ini adalah orang tua dari Ares Adiwangsa?” Elva melirik ke arah bordiran nama pada jas dokter yang dikenakan Hera. Hera tersneyum kikuk. “Benar. Anda ibu dari Athena Amerta, betul?” Elva mengangguk lagi. “Tapi kenapa suami saya dipindahkan ke sini? Apa perkataan Athena tempo lalu tentang donor yang berusaha dicari oleh keluarga Ares itu benar?” Hera tersenyum ramah. “Benar.” kemudian ia melanjutkan, “Sebaiknya kita bicara di ruangan saya.” Tidak ada jawaban dari Elva selama beberapa detik. Tapi kemudian wanita paruh baya itu mengangguk. Hera langsung mengarahkan Elva untuk mengikutinya berjalan ke ruang kerjanya. Sampai di ruangan Hera, Elva dipersilakan duduk terlebih dulu. Hera menekan tombol pada telepon di ruangannya, lalu beberapa menit kemudian seorang suster masuk ke dalam ruangannya. “Ada yang bisa saya bantu, Dokter Hera?” “Setelah pemeriksaan menyeluruh pasien Roy Hermanto, tolong pindahkan ke ruang rawat inap, dan atur jadwal operasi secepatnya. Ini surat persetujuan wali. Administrasi akan segera saya urus. Terima kasih, ya.” Hera menyerahkan surat persetujuan yang telah ditandatangani oleh Elva. “Baik, Dok.” Hera kembali beralih pada Elva setelah suster tersebut keluar. Ia menyuguhi minum untuk Hera. “Maaf, kebetulan teh sedang habis jadi hanya ada air putih.” Elva tampak tidak keberatan. “Ada beberapa hal yang sepertinya harus dibicarakan,” ucap Elva. “Saya setuju. Kita memang harus bicara sebagai wali dari Ares dan Athena.” “Saya merasa keberatan dengan tindakan keluarga Anda.” Elva lansung mengutarakan pendapatnya. “Karena keluarga Anda yang sudah menyebabkan anak saya, Athena, harus mengalami hal mengerikan seperti itu. Lalu suami saya yang juga mengalami serangan jantung dan harus segera dirawat kemudian menjalani operasi.” “Saya mengerti …” “Tidak.” Elva langsung menyanggah. “Anda tidak mengerti. Karena kondisi saya saat ini adalah kebingungan antara harus membenci keluarga Anda, atau berterima kasih karena telah mendapatkan donor untuk suami saya.” Hera mengembuskan napas perlahan. “Anda boleh merasakan kedua hal itu.” kemudian wanita itu tersenyum profesional. “Saya akan bicara sebagai orang tua dari Ares, bukan sebagai dokter yang akan mengoperasi suami Anda.” jeda sesaat. “Saya meminta maaf soal kasus yang melibatkan Athena menjadi korban. Saya tidak akan menyangkal bahwa keluarga saya tidak bersalah. Anda boleh membenci saya dan suami saya atas hal ini, karena kelalaian kami di masa lalu lah yang menyebabkan ini terjadi. Tapi saya mohon jangan menyalahkan Ares, karena dia tidak tahu apapun. Saya dan suami saya sudah lama menyembunyikan kasus ini dari Ares. Meski akhirnya Ares tahu, dia sudah berusaha memperbaiki hubungan dengan Athena.” “Jadi apa yang sebenarnya Anda inginkan?” “Saya hanya ingin urusan ini diselesaikan oleh sesama orang dewasa. Dan saya memohon dengan sangat kepada Anda, untuk tidak menekan Ares dengan mengatakan bahwa ini adalah kesalahannya, atau berusaha memisahkan Ares dan Athena. Karena Anda juga pasti tahu, kedua anak itu tidak akan mendengarkan perkataan orang tua yang sudah terlanjur salah ini.” Elva terdiam beberapa saat. Lalu akhirnya menghela napas. “Sebenarnya saya juga sadar atas usaha Ares untuk membuktikan kepada saya dan suami saya bahwa dia pantas untuk mendapat kepercayaan. Penculikan Athena memang disebabkan karena sebuah kelalaian, tapi akhirnya Athena juga bisa ditemukan berkat keluarga Anda. Suami saya juga bisa mendapatkan donor karena usaha Ares yang tidak ingin melihat Athena dengan orang lain. Saya sangat paham hal itu. Tapi, sebagai orang tua Anda pasti tahu rasanya tidak ingin kehilangan seorang anak. Saya tidak bisa melihat Athena dalam bahaya seperti itu lagi.” Mendengar kalimat kehilangan seorang anak, mata Hera seketika berkaca-kaca. “Saya tahu betul perasaan itu.” isakan tangis Hera mulai terdengar. “Saya pernah kehilangan seorang anak, dan itu terjadi karena kelalaian saya sebagai orang tua. Saya juga pernah merasa gagal menjadi seorang ibu. Tapi Ares adalah satu-satunya harapan saya untuk memperbaiki kesalahan saya di masa lalu. Dan untuk mewujudkan itu, saya tidak ingin melihat Ares kembali terpuruk jika harus kehilangan Athena.” Elva yang melihat Hera menangis menjadi salah tingkah. “Saya bisa paham perasaan itu, tapi …” “Saya mohon ...” Hera menjatuhkan diri dengan berlutut di depan Elva, yang mana membuat wanita itu terkejut. “Saya mohon maaf karena ingin menjadi egois. Jangan renggut Athena dari Ares. Saya tidak bisa melihat Ares jatuh lagi. Saya … saya … saya mungkin akan benar-benar hancur.” “Mama!” Hera dan Elva sama-sama menoleh ketika mendengar suara yang mereka kenali. Kedua wanita itu bisa melihat Ares dan Athena berdiri di ambang pintu dengan pandangan yang sulit diartikan.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
menarik
08/12
0good luck
03/08/2025
0bagus
13/06/2025
0Lihat Semua