“I don’t know. Episode ini bukan lagi tentang cinta. Bukan lagi tentang luka dan segala jenis persamaannya. Kali ini benar-benar tentang aku, seorang remaja biasa yang harus banyak berpikir… apa yang harus kulakukan selanjutnya?” Athena membuka episode podcastnya. Ia membuatnya tanpa script kali ini. “Mungkin selama ini kalian mengenal aku sebagai Sang Kebijakan. Ya, karena memang itu arti namaku. Athena itu adalah Dewi Kebijaksanaan, dan aku menyebut diriku sendiri Sang Kebijakan. Tapi kali ini aku tidak bisa menjadi seseorang yang bijak seperti biasanya. Sudah kubilang, aku hanya remaja biasa, bukan Dewi dari Mitologi Yunani. Aku bukan putri kesayangan Zeus, aku hanya anak dari pria biasa yang bisa sakit, marah, dan egois.” Athena berusaha menahan air matanya sebelum melanjutkan. “Mendengar kabar itu membuat aku seperti menemukan jalan buntu. Meski aku percaya, kalau Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi apa yang Hambanya bisa lakukan. Tapi sekarang aku benar-benar merasa… bahkan duniaku tidak lagi utuh. Memang, dunia ku sudah lama hancur berkeping-keping, tapi kali ini kepingan itu tidak bisa diperbaiki lagi. Aku merasa kehilangan arah, tersesat, dan hanya ingin menyerah. Memangnya apa yang bisa dilakukan remaja usia 17 tahun?” “Aku bahkan masih merasa ambigu antara kebenaran dan sisi baik. Karena sejauh yang aku hadapi, kebenaran-kebenaran yang aku ketahui baru-baru ini bukannya malah membuat aku menjadi lebih baik, tapi malah semakin menekanku pada perasaan dingin dan kosong yang aku tidak tahu itu apa. Selama ini aku terdengar bijak dan bisa menemukan jalan keluar untuk setiap apa-apa yang sedang kalian hadapi. Aku membaca cerita kalian yang masuk ke e-mailku dan berusaha menjadi penengah untuk menemukan solusi. Tapi bagi diriku sendiri… aku hanya seseorang yang bahkan tidak bisa melihat mana yang lebih aku butuhkan karena terlalu dibutakan oleh perasaan.” “Meski menangis bukan jawabannya, tapi aku membutuhkan itu sekarang. Dan mengingat itu, membuatku berpikir bahwa… apa selama ini aku jarang menangis karena Tuhan ingin aku menyimpan air mata untuk hari ini?” Athena mulai meneteskan air mata. “Kadang memang seperti itu, kan? Kita bisa saja menjadi bijak untuk orang lain, merasa hebat dalam urusan mencari solusi masalah orang lain, tapi untuk apa yang kita hadapi secara langsung dan nyata … mendadak kita merasa seperti orang asing yang tidak mengenal diri sendiri. Kita bahkan tidak bisa objektif untuk urusan hati. Rasa sesak terlalu membuat kita empati dan akhirnya menuntun pada kesubjektifan solusi. Kita… tidak mengenal diri sendiri.” Athena menghentikan rekamannya. Selesai mengunggah episode terbarunya, Athena mengusap wajahnya yang basah karena air mata. Matanya bengkak dan hidungnya memerah. Sekujur tubuhnya merasa dingin dan tidak berdaya disaat bersamaan. Suara ketukan pada pintu membawa kesadaran Athena. Dengan susah payah gadis itu melangkah untuk membuka pintu kamarnya. Pintu terbuka, dan sorot Athena bisa menangkap Roy sedang berdiri di sana. “Papa …” “Boleh Papa masuk?” Berbeda dengan suara Athena yang parau, suara Roy terdengar halus dan tenang. Athena mengangguk pelan, menyingkir sedikit agar Roy bisa melangkah ke dalam kamarnya. “Apa Papa ganggu kamu?” tanya Roy lagi. Athena menggeleng cepat. Roy duduk di kursi putar yang tadi Athena duduki untuk merekam episode podcastnya. Sementara gadis itu duduk di tepi ranjang kamarnya. “Apa sudah terlambat untuk Papa meminta maaf?” Athena terdiam lama, begitu juga dengan Roy. “Meski maaf nggak akan merubah keadaan, tapi maaf bisa meringankan perasaan sesal dan menyudahi konflik yang ada kan, Pa?” Roy mengangguk sambil tersenyum kecil. Ia menatap putri satu-satunya yang ia miliki cukup lama. Dari luar Roy memang terlihat baik-baik saja, tapi hatinya terasa nyeri melihat putrinya yang ikut menderita karena dirinya. “Apa selama ini… Papa selalu minta aku untuk mandiri karena itu? Karena Papa sakit dan takut aku nggak bisa jaga diri sendiri kalau Papa pergi?” tanya Athena lagi. Roy berdiri, berpindah duduk ke sebelah Athena. “Memang itu salah satu alasannya.” Roy mengelus rambut Athena yang terurai. “Tapi alasan utamanya adalah, karena Papa berharap kamu bisa kuat kalau harus menghadapi cobaan seperti ini.” Athena kembali meneteskan air mata. “Aku nggak bisa, Pa. Mana bisa aku tetap baik-baik aja sementara Papa lagi berjuang dan aku nggak tahu.” Roy mendekap Athena dari samping. “Maaf karena Papa sudah egois. Maaf sudah membuat kamu harus ikut menanggung ini semua. Maaf kalau selama ini kamu belum bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan. Dan maaf untuk semua waktu tersulit yang harus kamu lalui tanpa Papa, Nak.” Athena menggeleng, ia menyembunyikan wajahnya di dalam dekapan sang ayah. Roy mengusap punggung anaknya sambil berusaha menahan isakannya sendiri. “Nggak, Pa… aku nggak apa-apa,” Athena terisak, “Aku nggak apa-apa selama Papa masih di sini. Papa harus ada di samping aku selama mungkin.” Lepas sudah isakan Roy. Mendengar putrinya menangis pilu membuat lukanya lebih perih dari pada apapun. Roy dan Athena saling mendekap untuk waktu yang cukup lama. Sampai isakan Athena mereda, pria paruh baya itu baru rela melepaskan pelukannya. “Athena, dengarkan Papa.” Roy mengangkat kepala Athena agar menatap matanya. “Setelah kamu tahu semuanya, Papa tidak bisa memaksa. Semua keputusan ada di tangan kamu. Papa tidak akan lagi melarang apa yang ingin kamu lakukan. Kalau kamu mau membatalkan perjodohan dengan Aditya, Papa tidak akan mempermasalahkan itu lagi. Karena bagi Papa, sekarang kebahagiaan kamu adalah yang terpenting.” Athena terdiam lama, kemudian ia kembali memeluk Roy. “Bagi aku, Papa adalah yang terpenting lebih dari apapun.” ### Athena duduk pada kursi panjang di kantin bersama dengan Sidney dan Ares. Siomai dan es teh manis ada di hadapannya, namun Athena tampak tidak tertarik. Ia hanya mengaduk-aduk siomainya sambil melamun. Bahkan piring siomai milik Ares sudah bersih tak bersisa, begitu juga dengan milik Sidney. “Ana?” Athena masih fokus dengan pikirannya sendiri. Kepalanya menunduk, melihat siomai miliknya dengan bumbu kacang yang sudah bercampur tak berbentuk. “Na?” Sidney yang giliran memanggil. “Athena!” Ares dan Sidney memanggilnya bersamaan. Athena mengangkat kepalanya, melihat ke arah Sidney di hadapannya dan Ares di sebelahnya secara bergantian. “Ya?” “Lo mikirin apa sih?” tanya Sidney. Wajahnya sedikit kesal. “Ah, itu…” “Apa yang harus aku lakuin?” tanya Ares dengan suara pelan, “Kamu mau aku ngelakuin apa disaat dunia kamu mulai runtuh?” “Eh?” Athena kaget dengan pertanyaan Ares. “Aku tahu semuanya. Alfred dan Alvin cerita.” “Apa? Tahu apa?” kini Sidney yang tampak kebingungan. “Kok Ares bisa tahu sedangkan gue nggak?” Sidney protes. “Kita bahas itu nanti aja.” Athena menghela napasnya. “Nanti aja itu kapan?” Ares menatap wajah Athena serius, mengabaikan pertanyaan Sidney. “Buat apa kamu update episode podcast terbaru itu kalau kamu udah nemuin solusinya? Aku tahu apa yang kamu pikirin.” “Kamu nggak tahu.” sanggah Athena. “Episode podcast?” Sidney bergumam sendiri, kemudian jarinya bergerak untuk mencari tahu episode terbaru yang diunggah oleh Athena dan mendengarkannya. “Kamu lupa kalau aku juga punya masalah yang sama?” Pertanyaan Ares yang terakhir membuat Athena terdiam. “Terus aku harus gimana? Aku nggak mau dijodohin sama Kak Adit, tapi aku juga nggak mau kehilangan Papa.” Ares tersenyum kecil. “Pendonor itu nggak harus dari keluarganya Aditya, kan? Banyak pendonor di luar sana yang mungkin cocok buat Papa kamu.” “Ares bener.” Sidney menimpali setelah selesai mendengar podcast Athena. “Lo nggak harus ambil pusing karena itu. Semua bisa selesai asal kita nemuin pendonor lain, kan?” Athena menatap Sidney lama. “Dan jangan lupa kalau gue marah karena lo nggak cerita soal ini. Apa harus gue denger ini lewat orang lain, padahal gue sahabat lo, Na?” “Bukan saatnya buat marah, Sid,” lerai Ares. “Sorry. Masuk akal kalau Nana mungkin emang nggak bisa cerita ke gue. Tapi AL kembar … awas aja mereka berdua!” Sidney mengepal tangannya kuat. “Makasih udah mau selalu ada buat gue, Sid.” Athena tersenyum kecil. “Maaf juga kalau gue nggak kepikiran buat cerita sama siapapun.” Sidney menghela napas pelan. “Yah, mau gimana lagi, kan? Gue udah mulai terbiasa sama semua ini.” Sidney ikut tersenyum kecil, menguatkan Athena. “Nah, sekarang kamu abisin siomainya,” ucap Ares. “Udah jelek tampilannya.” “Siapa suruh lo aduk-aduk begitu?” omel Sidney. “Aku pesenin yang baru.” Ares bangkit, mengambil piring siomai—yang sebenarnya masih penuh, untuk mengembalikannya. Dan pergi membeli sepiring siomai yang baru sebagai pengganti milik Athena yang sudah ‘jelek’ tampilannya. “Wah, bucinnya Ares udah nggak ketolong.”
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
menarik
08/12
0good luck
03/08/2025
0bagus
13/06/2025
0Lihat Semua