Athena sudah mengganti pakaiannya dengan kembali menggunakan seragam sekolah. Ares sepertinya sudah tertidur pulas di sofa. Fredi keluar Apartemen untuk menelepon seseorang. Athena yang ditinggal sendirian hanya bisa menatapi wajah polos Ares ketika tertidur. Beberapa kali Athena melihat jam di pergelangan tangan kirinya, waktu menunjukan pukul 5 sore. Ia menghela napas pelan, mempertimbangkan apakah harus menunggu Ares sampai bangun, atau kembali pulang ke rumahnya tanpa mendapat jawaban yang ia inginkan. Saat Athena sedang merenung, suara perutnya memecah keheningan. Fredi yang telah selesai menelepon, kembali ke ruang utama dan kebetulan mendengar suara perut Athena yang berteriak meminta makan. “Ah, maaf, Kak.” Athena memegangi perutnya. Fredi tertawa pelan, “Baru aja gue mau ngajak lo makan di luar.” “Eh, nggak usah. Sebetulnya saya berniat pulang.” “Jangan!” Fredi seketika mencegah, “Maksudnya, gue nggak enak bikin anak orang kelaperan dan pulang sendirian. Kalau lo nggak mau makan di luar, biar gue pesen makan aja, baru nanti gue anter balik.” “Nggak, Kak Fredi nggak perlu nganter saya pulang.” Fredi menggeleng, “Gue sekalian mau anter Ares ke rumahnya. Kayaknya dia bawa mobil. Tadi yang gue telepon itu om Adi. Gue ngasih tahu kalau Ares ada di sini supaya om Adi nggak khawatir.” “Oh gitu.” Athena mengangguk pelan, “Terus nanti Kak Fredi balik ke Jakarta naik apa?” Fredi tertawa lagi, “Tenang aja, Athena. Usuran itu gampang.” Athena lagi-lagi mengangguk, sedikit merasa tidak enak namun tidak bisa menolak. “Lo mau makan apa?” tanya Fredi, bersiap memesan makanan melalui aplikasi. “Apa aja, Kak.” “Lo ada alergi sesuatu, nggak?” “Nggak ada, Kak.” “Lo suka pedes?” “Suka banget!” Athena kelewat semangat menjawabnya. “Oke.” Fredi tertawa kecil melihat Athena yang tersenyum malu, “Lo kebalikannya dari Ares.” lanjut Fredi, tidak ingin pembicaraan mereka terhenti. “Kebalikan gimana maksudnya, Kak?” “Ares nggak suka pedes. Dia juga punya beberapa alergi.” “Ares nggak suka pedes?!” Athena hampir memekik. Ia melirik ke arah Ares, takut membangunkannya. “Kenapa lo kaget gitu?” tanya Fredi. “Ah itu,” Athena tertawa pelan mengingat momen Ares yang terpaksa memakan Richeese saat hari di mana mereka pergi ke Mall untuk menonton film. Athena mengingat jelas wajah Ares yang berkeringat, dan berusaha menahan rasa pedas. Momen ketika Ares kewalahan mencari air untuk meredakan rasa pedasnya, membuatnya tertawa. “Kenapa ketawa?” Fredi heran. Penasaran dengan apa yang ada di pikiran Athena. “Ares pernah makan Richeese sampai kepedesan, padahal itu level biasa. Muka dia jadi merah terus keringetan.” Athena kembali tertawa. Fredi memperhatikan lekat-lekat wajah Athena ketika membicarakan Ares. Ada sebuah pancaran berbeda dari mata gadis itu, dan Fredi bisa melihat dengan jelas. Mungkin bukan hanya dirinya, tetapi semua orang yang bicara dengan Athena ketika sedang membicarakan Ares pasti akan tahu. “Lo sesuka itu sama Ares?” Fredi tanpa sadar menanyakan itu. “Eh?” “Muka lo kelihatan seneng gitu ngomongin Ares.” Athena tersenyum kecil, “Saya keinget momen itu, dan ngerasa seneng aja pas sadar dulu ternyata Ares dan saya sedeket itu. Tapi ngeliat kondisi sekarang, saya jadi ngerasa sedih lagi.” “Gue yakin Ares nggak benci sama lo.” “Semoga aja begitu.” Athena menghela napas pelan. Ares bergerak di atas sofa. Ia tampak sedang memperbaiki posisi tidurnya. Athena dan Fredi spontan menoleh. Mata Ares terbuka perlahan, ia seketika meringis dan memegangi kepalanya saat mencoba untuk bangun. “Ares.” Athena mendekat. “Kepala lo gimana, Res? Mau gue buatin madu anget lagi?” “Arghh!” Athena membantu Ares untuk duduk. “Lo… gapapa?” tanya Athena. Mata Ares sudah terbuka sepenuhnya. Ia melihat Athena yang ada di sebelahnya, dan juga pada Fredi yang berdiri di hadapannya. Kepalanya masih terasa sakit, namun ia berusaha memahami situasi. “Ngapain lo di sini?” kata Ares pada Athena dan Fredi, “Gue di mana?” Fredi menghela napas pelan, “Apartemen Xavier.” “Oh.” “Oh?!” balas Fredi, suaranya mengeras, “Ngapain sih lu minum sampai segininya?” “Bukan urusan lo.” Ares merebahkan dirinya pada kepala sofa. “Bukan urusan gue?!” ulang Fredi lebih marah, “Lo bikin semua orang khawatir, Res. Athena bahkan sampai nyari lo ke Jakarta. Dia nyamperin gue di kampus buat tahu posisi lo ada di mana. Ternyata lo malah—” “Lo nggak berhak marah sama gue sekarang, bro. Lo nggak tahu apa yang terjadi.” “Gue tahu! Gue tahu kalau lo bukan pembunuh Ariel. Kenapa lo harus marah segitunya padahal lo sendiri juga tahu bukan lo penyebab Ariel meninggal!” Ares terdiam. Kepalanya masih sakit dan semakin sakit ketika mendengar omelan Fredi. Ia menghela napas panjang dan memejamkan mata. Kemudian matanya kembali terbuka dan bertatapan dengan Athena. Gadis itu sedari tadi terdiam, hanya memperhatikan. Ares bisa melihat wajah bingung dan juga penasaran Athena. “Lo nggak balik? Lo udah tahu posisi gue, kan?” “Ares, gue—” “Lo nggak lihat? Gue lagi nggak ada niat buat berdebat sama siapapun.” “Gue bukan mau berdebat,” Athena mengusap wajahnya pelan, “Seperti yang Kak Fredi bilang, gue percaya lo nggak mungkin ngelakuin itu. Gue nyari lo karena butuh penjelasan secara langsung.” “Athena.” Suara Ares menegas, “Lo minta penjelasan sama dengan lo ngajak gue berdebat. Gue sekarang lagi nggak pengen ngomong sama siapapun. Lo mending balik.” Suara perut lapar Athena kembali berbunyi. Gadis itu seketika salah tingkah, antara malu dan juga merasa canggung dengan situasi. Beberapa detik setelah suara perut Athena berhenti, bel pintu apartemen Xavier berbunyi. Fredi segera melangkah untuk membuka pintu. Meninggalkan Athena dan Ares sesaat dalam keheningan yang sangat mencekat. “Setelah makan, lo balik.” kata Ares. Athena mengangguk pelan. “Athena balik bareng lo. Gue yang nyetir.” kata Fredi yang sudah kembali. Lelaki yang datang membawa makanan pesanan mereka segera meletakannya di meja, dan berlalu ke dapur untuk mengambil alat makan. Beberapa detik kemudian, ia kembali ke ruang utama dan duduk di sofa depan Ares. “Gue sengaja pesen makanan yang nggak pedes. Takut-takut kalau lo bangun.” Ares melirik Athena, kemudian menggaruk lehernya yang tidak gatal, “G—gue bisa makan pedes.” “Athena tahu lo nggak suka pedes.” balas Fredi. “Rahasia apa lagi yang lo ungkap?” sarkas Ares. “Tenang aja, gue cukup peka untuk nggak bilang apa-apa.” Athena yang tidak paham apa yang sebenarnya sedang mereka bicarakan, hanya bisa terdiam. Namun ia tersenyum kecil, bersyukur ternyata Ares memiliki sahabat sebaik Fredi yang sangat peduli padanya. “Dimakan, Na.” “Ah, iya.” Athena tersadar dari lamunan. Mereka membuka bungkusan nasi goreng yang masih hangat dan segera memakannya dalam diam. Athena melirik ke arah Ares dan Fredi yang memakan nasi gorengnya dalam tempo yang cepat. Tidak, tetapi karena kunyahannya saja yang terlalu lama. Sampai ketika ia berusaha mempercepat makanya, dirinya malah tersedak. Uhuk... Uhuk! Uhuk! Tangan Ares bergerak mengambil gelas di meja dan menuangkan air mineral untuk Athena. Gadis itu menerima uluran gelas dari Ares dan segera meneguknya cepat. Ia berusaha mengatur napasnya agar kembali normal. Fredi memperhatikan itu semua. Matanya menatap gantian kepada Ares dan juga Athena. Ia diam-diam tertawa kecil. Namun, karena mereka hanya bertiga dalam suasana yang hening, Ares bisa menyadari tawa kecil Fredi. “Kenapa ketawa lo?” “Nggak.” dusta Fredi, namun senyuman lebar tetap hadir di wajahnya. Sepertinya Ares baru menyadari apa yang terjadi. Ia menoleh pada Athena di sebelahnya yang kembali melahap nasi gorengnya dalam khidmat. Kemudian Ares beralih menatap Fredi. “K—karena gue di sebelah dia. Dan gelasnya juga deket sama gue, jadi…” Fredi mengangguk-angguk masih dengan senyuman di wajahnya. Ares pasrah, “Oke. Apapun yang lo pikirin, terserah lo aja.” “Iya. Karena lo nggak tahu apa yang gue pikirin sekarang.” Athena merasa seperti orang asing yang berada di antara dua manusia yang sedang berperang dingin. Selain adanya hawa canggung, ia juga merasa bahwa dirinya tidak seharusnya berada di sana. Entah karena ia merasa Ares sedang sensitif, atau hanya karena ia tidak mengerti pembicaraan orang ‘dewasa’. Kalau diingat-ingat, memang benar hanya Athena yang lebih muda di antara mereka. Karena pada kenyataannya, usia Ares dan Fredi adalah sama. Kecanggungan dan atmosfer yang dingin semakin terasa ketika Fredi telah selesai dengan makanannya lebih dulu, dan lagi-lagi harus meninggalkan Athena dengan Ares dalam keheningan. “Lain kali nggak usah nyari gue. Bikin repot orang aja harus nganter lo balik segala. Terus, ngapain tadi lo harus pake bajunya Sela? Kalau lo punya kartu anggota, mau telanjang sekalipun lo bisa masuk ke Clubnya Xavier.” “Gue bakal balik abis ini. Nanti gue minta Kak Fredi biar nggak usah nganter gue.” “Kak Fredi?” ulang Ares. “Iya.” Ares menghela napas. Seketika nafsu makannya menghilang. Ia langsung meneguk air dalam gelas. “Itu… gelas gue.” Ares tersedak minumannya. Athena ikut kaget dengan suara batuk Ares yang begitu jelas di sebelahnya. Namun diam-diam Athena tersenyum kecil, merasa lucu melihat Ares yang salah tingkah. Fredi telah kembali, “Ayok, Na. Gue anter lo balik.” “Nggak.” Ares menyela, “Lo nggak perlu bawa mobil gue. Biar gue aja, sekalian balik.” Fredi dan Athena melihat ke arah Ares seketika. “Lo baru sadar. Lo nggak bisa nyetir setelah minum.” kata Fredi sambil menggeleng. “Gue udah sadar,” Ares bangkit dari duduknya, “Gue sepenuhnya sadar!” Ares berputar. Memperlihatkan pada Athena dan Fredi bahwa dia baik-baik saja. “Tapi, Res—” “Ana, bawa tas lo. Kita balik sekarang.”
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
menarik
08/12
0good luck
03/08/2025
0bagus
13/06/2025
0Lihat Semua