logo text

44. Ledakan Amarah

Athena berjalan masuk ke gerbang sekolah bersama Sidney. Karena sahabat berponinya itu memutuskan untuk menginap di rumahnya, maka sopir yang biasa menjemput Sidney pun harus menjemput mereka berdua ke rumah Athena, sekaligus mengantarkan mereka ke sekolah. Untung-untung Athena tidak perlu naik ojek online hari ini.
Suasana tampak sudah ricuh sekali, padahal pagi baru saja datang. Seakan ada sebuah kabar menggemparkan yang mengguncang satu sekolah. Athena dan Sidney pun ikut penasaran atas apa yang sedang terjadi.
“Eh, sorry. Ada apa, sih?”
Sidney menahan salah satu siswa yang berlari kecil di depannya. Siswa tersebut melihat Sidney dan Athena bergantian, kemudian menggaruk kepala canggung.
“Ehem, itu… Ares ngamuk.”
“Ares ngamuk?!” ulang Athena kaget.
“Ngamuk gimana maksudnya?” tanya Sidney, lebih tenang dari Athena.
“Nggak tahu juga, tapi katanya dia lagi nyari orang yang nyebarin videonya.” kata siswa tersebut. Jawabannya masih belum memberikan penjelasan.
“Hah? Video apa?”
Mendengar kata “video” membuat Sidney was-was. Jangan sampai hal yang pertama kali dialami olehnya dan Athena terulang kembali. Jika iya, maka itu akan menjadi mimpi buruk bagi mereka berdua.
“Lo cek aja di postingan akun draf sekolah. Video Ares sama lo waktu itu yang sempat dihapus, ada lagi. Tapi kali ini headline-nya beda.”
Athena dan Sidney semakin was-was mendengar penjelasan itu. Mereka dengan cepat membuka ponselnya dan menulusuri timeline aplikasi sosial media berwarna hijau untuk melihat video yang dimaksud.
Mata Athena melotot seketika saat membaca headline berita di portal yang terdapat pada akun draf sekolah yang dikelola oleh siswa. Di sana tertulis, “BUKTI BAHWA ARES LELAKI KASAR YANG MEMBUNUH SAUDARA KEMBARNYA SENDIRI” sebagai judul, terdapat beberapa kalimat berita yang mengatakan bahwa Ares menjadi putra satu-satunya seorang Hakim dan Dokter yang terkenal, dan dia memiliki saudara kembar bernama Ariel yang saat ini sudah meninggal. Di sana juga disebutkan bahwa Ares iri kepada saudara kembarnya yang terlahir lebih pintar dan unggul darinya, sehingga menyebabkan rasa benci dan Ares pun membunuh saudaranya sendiri. Di bawahnya, terdapat pula video peristiwa ketika Ares mencekik leher Athena menggunakan kabel di depan ruang sound system.
Athena belum sempat meletakan tasnya di kelas. Namun ia langsung berlari mencari keberadaan Ares. Sidney yang khawatir pun ikut berlari menyusul Athena.
###
“MANA?” Ares berteriak setiap memasuki kelas yang dilaluinya, “DI MANA ORANG YANG NYEBARIN VIDEO ITU?!”
Lelaki itu bahkan menggebrak meja, melempar penghapus papan tulis, juga memberikan tatapan garang pada setiap murid yang dilihatnya. Athena muncul dengan napas yang tersengal usai berlari.
Di koridor depan kelas, mata mereka bertemu. Kemudian wajah Ares semakin marah saat melihat Athena. Lelaki itu mendekat, dan langsung menarik kerah seragam Athena—membuat gadis itu terlonjak kaget.
“LO!” mata Ares melotot galak, “Cuma lo yang tahu kalau gue itu anak Hakim Tertinggi dan Dokter bedah jantung. Lo juga ada di dalem video itu. Jadi ini ulah, lo?!” Ares menekan setiap kata-katanya, bahkan terdengar geraman pada suaranya.
“A—Apa?”
“Lo yang udah sebarin informasi ini, kan?”
“Ares, gue nggak tahu—”
Ares semakin mencengkeram kerah seragam Athena sampai gadis itu kehilangan kata-katanya. Sidney belum muncul karena ia memiliki kemampuan berlari yang buruk. Orang-orang ikut memekik takut saat Ares semakin terlihat buas.
“Lo pasti kesel sama perlakuan gue. Gue paham kalau lo mau ngejatuhin gue. Jadi, seberapa jauh yang lo tahu? Papa yang ngasih tahu ini semua?”
“Apa?” Athena semakin tidak mengerti, “Gue nggak paham ke arah mana pembicaraan lo, Ares. Lepasin gue.” Athena mendorong tubuh Ares sekuat tenaga sampai cengkeraman lelaki itu terlepas.
“Jangan pura-pura polos deh, lo. Setelah gue tolak, pasti lo ngerasa harga diri lo hancur. Jadi ini balasan lo buat gue? Dan lo sebut gue pembunuh? Hah!”
Terdengar bisik-bisik yang semakin keras dari orang-orang yang sedang menonton adegan itu di hadapan mereka. Bahkan ada yang diam-diam memotret kejadian itu, dan merekamnya.
“Ares, gue sama sekali nggak tahu soal itu. Gue nggak tahu lo punya kembaran, dan gue—” Athena menggantungkan kalimatnya, ia sadar bahwa Ares sudah tahu rencana yang dibuat Adikara untuk meminta bantuannya mengawasi Ares.
Athena baru sadar, bahwa Ares sudah mengetahui ‘persekongkolan’ dirinya dengan Papa dari lelaki yang saat ini menatapnya tajam.
“Sialan. Lo mau bilang apa, hah?!”
Ares hendak mencengkeram kemeja Athena lagi, sebelum Sidney datang dan melempari Ares dengan tasnya. Orang-orang kembali memekik.
“Brengsek!” Sidney menyumpah. Ia menyembunyikan Athena di belakangnya, “Lo nuduh Nana kayak gitu? Lo pikir dia punya video itu? Lo bego, ya? Bahkan awalnya dia yang dituduh cari perhatian karena video itu, ngapain dia harus nyebarin ulang, hah?!” Sidney geram.
“Lo! Jangan ikut campur!” Ares berusaha menyingkirkan Sidney dari hadapannya.
“ARES!” Sidney memekik keras, “Masalah siapa orang tua lo, itu nggak penting buat disebarin sama Nana. Dan juga, dengan ngetik nama lo di internet, sekarang semuanya bisa dicari. Bahkan sampai hal sepele! Lo jangan berani-berani nuduh temen gue kayak gitu!”
“Semua info tentang gue udah dihapus dari internet. Jurnalis bangsat itu juga udah dituntut karena nyebarin info terakhir kali. Jadi, siapa lagi yang bisa tahu, hah?”
“Lo harus sadar, Ares. Lo pikir, kenapa semua informasi lo bisa bocor? Ya karena sifat lo yang nyebelin. Siapa yang nggak benci sama lo? Mereka di luar sana bisa aja yang jadi dalangnya. Hacker andal berkeliaran di mana-mana!” Sidney terus memberikan kemungkinan logis.
“Sid,” Athena mencengkeram kemeja belakang Sidney, “Udah.” bisiknya.
Ares tertawa kencang. Orang-orang yang mengerubungi mereka semakin ngeri dengan tindakan Ares. Asumsi di dalam kepala mereka menguat, tentang Ares yang membunuh saudara kembarnya sendiri, karena sikap Ares yang kasar dan bak psikopat saat ini.
“Lo semua cuma ikan-ikan kecil di laut yang nggak tahu apa-apa. Jadi lo nggak usah sok kenal sama gue, dan sok tahu atas apa yang terjadi.”
Sidney ikut menertawakan Ares, “Eh cowok gila, denger ya. Seharian kemarin itu Nana ada dalam pantauan gue. Dia nggak mungkin nyebarin informasi sampah kayak gitu. Saksinya bahkan bukan cuma gue, tapi ada nyokapnya, dan dua adiknya. Lo kenal betul kan sama AL kembar?”
Mendengar nama AL kembar membuat Ares terdiam. Tatapannya menjadi kosong sesaat, kemudian berubah lagi. Ia melirik ke arah belakang Sidney, di mana Athena bersembunyi. Senyum iblis kembali ia pancarkan, membuat orang di sekitarnya kebingungan. Karena tidak ada yang tahu mengenai siapa yang sedang mereka bicarakan.
“Ares… gue harus ngomong sama lo.” ucap Athena pelan.
“Dan gue nggak sudi lihat lo lagi.”
Lelaki itu melenggang pergi. Ia merogoh kantong celananya, mengeluarkan ponsel dari sana, kemudian menelepon seseorang. Athena hanya bisa melihat Ares berjalan menjauh sambil berbicara di telepon dengan wajah marah. Sidney membubarkan kerumunan, kemudian akhirnya menuntun Athena untuk kembali ke kelas mereka.
###
Waktu istirahat Athena gunakan untuk melamun. Walau Elva sudah menyiapkan bekal makanan kesukaan Athena dan Sidney, buktinya gadis dengan rambut yang dicepol itu bahkan tidak melirik bekalnya sedikit pun.
“Na, ini nyokap lo udah bikinin sandwich daging asap kesukaan lo. Nggak mau dimakan?” Sidney menyenggol lengan Athena agar tersadar dari lamunan.
“Nggak nafsu makan.”
“Ini lihat dulu, Na. Tuh, dagingnya sampai tumpah-tumpah.”
“Sid… jadi alasan Ares ngejauhin gue karena dia udah tahu gue ketemu sama bokapnya dan ngelakuin apa yang bokapnya minta.” ucap Athena dengan pandangan kosong ke depan sambil menopang dagunya dengan kedua tangan yang dikepal.
“Ares lagi.” cibir Sidney.
Athena seakan tidak mendengar, “Sid… berarti kata-kata dia ke gue di parkiran Mall waktu itu cuma alasan dia doang. Artinya… dia nggak beneran benci sama gue, kan?”
“Na, kayaknya beneran ada kerusakan deh di otak lo. Kemarin lo lupa ada pelajaran sejarah dan cabut gitu aja. Sekarang lo nggak tertarik sama sandwich daging asap kesukaan lo. Terus lo malah senyum setelah dibentak dan dicekik sama cowok gila itu?! Na, lo yakin nggak harus ke psikiater?” Sidney menyentuh kening Athena.
Gadis itu menyingkirkan tangan Sidney dari dahinya, “Sid. Berarti… masih ada kemungkinan dia suka sama gue, kan?”
Sidney menghela napas, “Athena, mana ada cowok yang suka sama cewek malah nyekik kayak tadi? Terus dia nuduh lo pula, sambil teriak. Dan setelah dia tahu lo bersekongkol sama bokapnya, lo pikir dia mau maafin lo?”
Wajah Athena berubah kesal, “Sid, kok lo malah bikin gue overthinking sih?!”
“Lebih baik lo jatuh sekarang daripada lo udah keburu terbang jauh, terus jatuhnya lebih sakit.”
Kali ini wajah Athena menampilkan kesedihan. Ia merenungi kata-kata Sidney sambil menenggelamkan wajah pada lipatan tangannya di atas meja.
“Iyaya, gue nggak nyangka juga si Ares cowok kayak gitu.”
“Katanya dia pindah-pindah sekolah karena di-drop out.”
Telinga Athena merasa sangat panas mendengar kalimat-kalimat yang diucapkan siswa-siswi yang baru saja masuk ke dalam kelasnya.
“Masa sih? Ya ampun, pantesan aja dari awal dia pindah banyak banget tingkahnya. Gue berharap sih dia pindah aja dari sini.”
“Bener, nggak sudi juga sih satu sekolah sama pembunuh.”
“Heh, kalian nggak punya bukti. Jangan ngomongin orang di belakang kayak gitu.” Athena akhirnya angkat bicara karena tak tahan mendengarnya.
Sidney di sebelahnya hanya bisa menghela napas.
“Na, lo nggak ngeri sama dia? Bukanya dari awal dia mainin lo, ya?”
“Iya bener tuh, dia juga sempet bikin lo jadi bahan gosip di sekolah. Lo sama dia beneran pacaran nggak, sih?”
“Apapun masalahnya, itu bukan urusan kalian. Jadi mendingan kalian diem aja.” kata Athena, masih berusaha membela Ares. Meski di dalam hatinya ia juga tidak yakin apa yang sebenarnya terjadi.
“Cih, lo ngebelain dia karena lo suka sama dia, kan? Katanya lo ditolak sama dia?”
“Eh, hati-hati kalau ngomong.” Sidney ikut angkat suara, “Nana nggak pernah ditolak Ares karena selama ini cowok itu yang nempelin Nana terus.” bela Sidney.
Siswa-siswi yang tadi bergosip tertawa pelan, “Sid, lo nggak tahu ya? Lo juga digosipin, tuh.”
“Apa?” wajah Sidney mulai terlihat kesal.
“Banyak yang ngira lo lesbian karena selalu ngebelain Athena dan ngintilin dia kemana-mana. Kalau dilihat-lihat, iya juga.”
“SIALAN!”
Sidney hendak melempari mereka dengan tempat pensil kalau saja namanya dan Athena tidak dipanggil dari arah pintu kelas oleh seorang siswa.
“Sidney, Athena, kalian dipanggil ke ruang kepala sekolah.”

Komentar Buku (84)

  • avatar
    Rosmina

    menarik

    08/12

      0
  • avatar
    DarlianmonHendrik

    good luck

    03/08/2025

      0
  • avatar
    MuliantiNisa

    bagus

    13/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru