logo text

32. Tawa Dalam Tangis

Ares mengajak Alfred dan Alvin keluar dari kamar Athena. Ia sengaja memberikan Sidney ruang untuk mengajak Athena bercerita. Ares sangat paham bahwa biasanya para perempuan akan selalu mencurahkan hati ketika mereka merasa sakit, baik batin maupun fisik. Yah, sama seperti Mamanya—Hera, pasti akan selalu meminta Ares bercerita tiap ia sedang demam, katanya mendengar suara orang lain saat sakit itu menciptakan suasana positif, kata Hera.
“Mau ngomong apa, Bang?” Alfred buka suara lebih dulu.
Ares menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, kedua lelaki yang lebih muda darinya 3 tahun itu paham kalau Ares hanya mencari alasan.
“Pasti mau ngasih Nana dan Sidney ruang.” tebak Alvin.
“Kelihatan banget, ya?” tanya Ares dengan tawa canggung.
Dua lelaki kembar itu mengangguk bersama.
“Gue cuma ngasih kesempatan ke Ana buat numpahin semuanya ke Sidney. Gue tahu banget kalau alasan orang sakit itu bukan cuma dari virus atau bakteri aja. Tapi bisa karena dipicu stress dan tekanan.”
“Duduk dulu, Bang. Ngobrol enaknya sambil main PS, nggak sih?” kata Alfred, lebih kepada mengajak dari pada bertanya.
Mereka duduk sila di atas karpet ruang TV. Alfred mengeluarkan PS4 miliknya, sedangkan Alvin mengambil camilan dan minuman dari dapur. Ares hanya menunggu sambil menebak apa yang sedang diperbincangkan oleh Athena dan Sidney.
Alvin sudah kembali sambil memeluk banyak camilan dan minuman kaleng, meletakkannya di meja kayu jati yang rendah.
“Bang, gue ada pertanyaan buat lo.” Alvin buka suara sambil mulai mengunyah camilan, sedangkan Alfred ikut mendengarkn sambil menyiapkan PS4.
“Apa tuh?”                                           
“Kayaknya lo mulai suka beneran ya, Bang, sama Nana?”
Ares terdiam cukup lama. Pertanyaan itu juga menghantuinya selama beberapa hari sejak ia bertemu dengan kedua sahabatnya di tempat bermain billiard terakhir kali. Apa ia benar-benar suka dengan Athena?
“Gue juga nggak ngerti. Tapi kalau Ana nggak masuk sekolah kayak hari ini, gue kesepian. Terus gue juga sering mikirin dia tanpa sadar. Kalau dibayangin dia pacaran sama cowok lain, itu gue nggak tahu. Tapi yang gue yakini sih, dia juga bakal terpesona sama gue.”
Alfred dan Alvin menghentikan kegiatannya sejenak ketika mendengar pengakuan dari Ares. Dua anak kembar itu masih tidak percaya bahwa seorang lelaki, lebih tepatnya Ares Adiwangsa bisa berkata sejujur itu. Bahkan tanpa ada mimik malu atau canggung.
“Kayaknya lo tanpa sadar udah suka sama Nana sebesar itu, Bang.”
“Sebesar apa?”
“Gue nggak tahu pasti, tapi kayaknya sih di dalem hati lo itu, lo udah suka sama Nana dengan tulus. Dan sebenernya lo nggak mau mengakui itu.” kata Alvin.
“Gitu, ya?” tanya Ares.
Lelaki itu malah mengambil camilan, membukanya, dan melahapnya santai. Dua lelaki kembar yang melihat itu hanya bisa geleng kepala. Sebenarnya kepribadian Ares itu sedikit aneh menurut mereka.
“Terus lo mau gimana, Bang?” Alfred ikut nimbrung. Membiarkan PS4 tergeletak begitu saja di atas karpet, padahal sudah siap dimainkan.
“Gimana apanya, nih?”
“Lo mau nembak Nana?”
“Ah itu…” Ares mengunyah camilannya sambil berpikir, “Nggak.”
“Kenapa?” tanya Alfred kaget.
“Karena belum pasti juga Nana suka sama gue atau mau sama gue. Kalau gue ditolak, nanti dia malah ngehindar terus dari gue. Asal kalian tahu ya, di sekolah itu dia jago banget sembunyi dari gue, hahahaha.”
“Cemen banget lo, Bang. Masa mundur cuma karena takut ditolak sama Nana?” protes Alvin.
“Bukan cuma itu. Sebenernya kalau gue ditolak Ana pun, gue bisa aja nyari cewek lain dengan mudah. Tapi Ana itu bukan cewek kebanyakan, jadi gue nggak mau buang kesempatan. Gue yakin nanti dia juga bakal jatuh sama gue, hahahahaha.”
Ares tertawa lumayan kencang. Tingkat percaya dirinya yang tidak pernah turun membuat AL kembar tidak bisa berhenti menggelengkan kepala. Menurut AL kembar, kepala Ares telah terbentur sesuatu sampai sifatnya berubah begitu saja.
“Lo punya tujuan apa, Bang?”
Tawa Ares terhenti. Menatap pada Alvin yang melihatnya serius.
“Apa?”
“Lo punya tujuan apa deketin Nana selama ini? Kalau bukan karena suka atau mau dapetin hatinya. Mending lo stop dari sekarang.”
“Udah kayak cenayang aja lo. Ceritanya mau jadi adik yang baik?” kalimat Ares memang sedikit sarkas, “Apapun tujuan gue, sebenernya itu tetep jadi urusan gue sendiri. Masalah gue bakal beneran sama Ana atau nggak, itu tergantung Ana sendiri.”
“Maksudnya?”
“Setelah dia tahu apa alasan gue selama ini deketin dia, ada 2 kemungkinan yang bisa gue prediksi. Yang pertama, dia bakal ngerasa nggak pantes atau nggak sanggup ketemu sama gue, dan yang kedua dia bakal berusaha nutup mata dan cuek aja.” ucap Ares sambil mengacungkan jari-jarinya.
“Nana punya salah ya? Apa sih kesalahan dia sampai lo segininya, Bang?”
Ares terdiam. Ia juga selalu menanyakan hal yang sama pada dirinya sendiri akhir-akhir ini. Apakah Athena benar-benar salah? Apa Athena adalah alasan mutlak atas kepergian Ariel? Apakah Athena memang kepakan pertama dalam teori butterfly effect? Apakah selama ini dirinya yang salah menduga, atau memang sengaja menduga Athena bersalah hanya demi kepentingan batin dan jiwanya?
“Jawabannya bakal ada dalam waktu dekat. Mungkin gue bakal jujur ke dia. Nanti, setelah gue siap, dan setelah gue rasa Ana siap denger semuanya.”
“Okey kalau gitu. Gue pengen sih yang terbaik buat kalian berdua.”
“Apaan yang terbaik?”
Athena muncul dari balik tembok pembatas antara ruang TV dan ruang tamu. Sidney menyusul di belakang Athena. Gadis yang rambutnya sudah kembali tercepol itu masih mengenakan piyama. Wajahnya masih pucat namun tidak semuram saat Ares pertama kali datang. Sepertinya pembicaraan mereka lancar, pikir Ares.
“Lo udah nggak pusing? Masih ada yang sakit? Bisa nelen makanan?” Ares tampak khawatir. Dia menyentuh kening Athena, membuat gadis itu sedikit terkejut.
“Emangnya lo pikir gue catur nggak bisa nelen?” balas Athena masih dengan cibiran.
Tiga orang lainnya yang tidak masuk dalam percakapan hanya menatap dua insan itu dalam diam. Siapapun tahu kalau Ares benar-benar sudah menyukai Athena. Hanya lelaki itu saja yang belum menyadarinya. Mungkin rasa egois dan juga luka yang dia bawa masih lebih dominan dipikirannya.
“Apaan yang terbaik?” tanya Athena lagi, “Ngomongin gue ya?”
“Tahu aja.” Ares tertawa pelan.
Lelaki itu kini memposisikan duduknya di depan TV besar, kemudian mengambil stik playstation yang tergeletak di atas karpet. Alfred yang lebih dekat dengan stik playstation satunya ikut mengambil dan duduk di sebelah Ares menghadap ke TV.
“Gue kayaknya bakal sembuh setelah makan pizza deh, Res.”
“Nggak denger.”
“Gue mau yang full cheese ya.” ucap Athena tak mengindahkan kalimat Ares sebelumnya.
Lelaki itu melempar HP tanpa menoleh, yang untungnya bisa ditangkap oleh Sidney. “Pesen, Sid.” ucapnya singkat, padat, dan jelas.
Athena tertawa kencang mendapati sifat Ares yang akhir-akhir ini begitu penurut. Mungkin benar yang dikatakan Sidney, kalau Ares menyukainya. Walau memang setengah dari dirinya tidak ingin percaya begitu saja. Karena masih banyak yang belum ia ketahui tentang Ares. Karena itu Athena harus tetap berhati-hati. Namun kalau benar adanya begitu, ini adalah kesempatannya untuk mengubah Ares.
‘Gue nggak paham banget sama mereka. Bukannya kelihatan jelas kalau Ares dan Nana sama-sama suka? Apa cuma gue doang yang berharap kayak gitu?’ Sidney berkata dalam hati sambil mengotak-atik HP Ares untuk memesan pizza. Ia menggunakan kesempatan itu sebaik mungkin untuk memeras kantong Ares yang sepertinya juga tidak akan habis hanya dengan membeli lima kotak pizza berukuran besar dan beberapa minumannya.
“Awas loh ya besok nggak masuk sekolah lagi. Kalau nggak, gue bakal dateng ke sini diem-diem terus ketemu sama nyokap lo. Oh, kalau bisa gue temuin bokap lo.”
“Nyari mati itu namanya, Bang.”
“Pengen dikebiri kayaknya si Ares.”
“Kalau gitu nanti the end of the story.”
Alfred, Sidney, dan Alvin menyahuti perkataan Ares bergantian.
Lelaki itu terpingkal-pingkal setelah mem-pause permainannya. Respon mereka sangatlah menghibur bagi Ares. Tapi, kenapa hatinya begitu sedih? Kenapa saat ia tertawa lepas seperti itu ada rasa perih yang menyahut minta diobati? Ares tidak mengerti, tapi ia tahu satu hal pasti. Secepat mungkin ia harus memberitahu Athena alasan kenapa dia datang ke kehidupannya saat ini.
“Res,” Athena memanggil.
Ares masih saja tertawa. Tidak bisa berhenti.
“Ares.” panggil Athena lagi.
Ares berusaha menghentikan tawanya, tapi senyum tidak juga luntur dari wajah, “Apa?”
“Lo nangis?” wajah Athena tidak terkejut sama sekali. Ia tetap dengan wajah datarnya.
“Hah?” Ares menyentuh pipinya, basah. Lelaki itu yang tampaknya lebih terkejut.
“Lo serem banget deh, kayak joker tahu nggak? Ketawa, tapi hati lo sakit.” ucap Sidney.
“Ares, lo baik-baik aja, kan?” tanya Athena, sedikit khawatir.
“Gue… gue nangis?”

Komentar Buku (84)

  • avatar
    Rosmina

    menarik

    08/12

      0
  • avatar
    DarlianmonHendrik

    good luck

    03/08/2025

      0
  • avatar
    MuliantiNisa

    bagus

    13/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru