Athena membuka matanya perlahan. Hanya ada cahaya remang-remang dari lampu tidur di kamarnya. Kepalanya sudah tidak seberat tadi sebelum ia minum obat dan tidur. Hari ini ia tidak masuk sekolah, ternyata demamnya semakin tinggi. Tiap sakit tenggorokan, ia memang akan merasakan demam. Elva sudah memberikan Athena wejangan agar tidak perlu keluar kamar, semua pekerjaan rumah yang biasa Athena kerjakan tidak perlu lagi dikerjakan olehnya. Athena berusaha menyerat tubuhnya untuk bersandar pada kepala ranjang. Ia mengambil ponselnya dari nakas untuk mengecek jam. Waktu menunjukan pukul 3 sore lewat 12 menit. Gadis itu juga bisa melihat belasan panggilan tak terjawab dari Ares, dan 2 pesan dari Sidney yang baru dikirim 20 menit lalu. Athena membuka pesan Sidney lebih dulu. Sidney: NANA! Lo nggak masuk karena sakit ya? Udah gue isi sakit ya absen lo. Sidney: Na, kayaknya Ares nekat dateng ke rumah lo karena teleponnya nggak diangkat. Athena otomatis menegakkan diri. Kepalanya semakin pening saja melihat pesan terakhir Sidney. Ares mau datang ke rumahnya disaat Elva sedang tidak bekerja? Bisa-bisa ia mendapatkan banyak pertanyaan yang akan menodongnya nanti. Athena segera menekan tombol telepon hijau untuk memanggil Ares. Telepon langsung diangkat sejak dering pertama. Athena menahan napas sejenak untuk menenangkan dirinya. Mungkin saja Ares akan memberikan makian atau cercaan dari seberang telepon. Atau mungkin ancaman lain yang akan membuat kepalanya semakin pusing. “H-Halo?” tanya Athena, masih dengan suara yang serak. Tidak ada suara selain helaan napas dari seberang telepon, “Ares?” ulang Athena. “Emang ya. Gue paling nggak tega marah sama orang sakit. Gimana keadaan lo?” “Denger suara lo kepala gue tambah sakit.” Lalu setelahnya Ares mematikan telepon. Athena terdiam kaget dengan tindakan Ares yang tidak seperti biasanya. Gadis itu hanya menatap kosong ke layar ponsel yang hitam. Kenapa ia merasa kecewa saat Ares mematikan telepon tadi? Pintu kamarnya terbuka. Cahaya dari luar kamarnya menerobos masuk, menciptakan siluet dua orang yang berdiri di depan pintu kamarnya. Athena hapal betul bahwa itu adalah bentuk perawakan dua adik kembarnya. Ia tidak menggubris, dan memilih kembali meletakkan ponselnya di nakas. “Ngapain kalian masuk?” tanya Athena malas tanpa melihat pada dua adiknya. Lampu kamar Athena dinyalakan. Gadis itu berniat menoleh ke arah adik kembarnya, namun yang ia tangkap adalah tubuh nyata seorang Ares Adiwangsa. Tubuhnya membeku, oksigen di otaknya seakan ikut hilang sampai pikirannya kosong dan hanya bisa terdiam seperti orang bodoh ketika Ares mendekat ke arahnya. Lelaki itu memasukan tangan ke dalam kantong celananya, menatap Athena yang sedang duduk di atas kasur dengan saksama. “Ngapain lo berdiri doang di situ? Latihan jadi patung?” “Lo yang bilang kalau denger suara gue kepala lo makin sakit, ya jadi gue diem aja.” Athena tidak habis pikir, bagaimana bisa Ares menganggap candaannya itu sebagai hal yang serius? Padahal biasanya Athena juga sering kali berujar asal pada Ares, dan tidak ditanggapi oleh lelaki itu. Tapi kali ini Ares tampak berbeda. “Kok lo dibolehin masuk ke dalem? Nyokap gue mana?” “Gue nggak ketemu sama nyokap lo. AL kembar yang bukain pintu.” Athena mengerjap beberapa kali. Saat sadar dengan situasi, ia mengembuskan napas lega. Artinya, Elva tidak akan membombardirnya dengan berbagai pertanyaan. Kini giliran ia merasa gugup karena berada di dalam satu ruangan yang sama dengan Ares. Hanya berdua, di kamarnya. Ya walaupun pintu kamarnya terbuka lebar, dan lampu menyala terang. Suara detakkan jantungnya kian membesar dan iramanya semakin cepat. “Demam lo tinggi banget ya sampai muka lo jadi merah.” “Ha-Hahahaha, iya.” Athena salah tingkah. Ia merutuki diri dalam hati. “NANAAAAA!” Lengkingan panjang dari luar kamar Athena terdengar sampai ke dalam. Dua detik setelahnya Sidney masuk dengan dada yang naik turun karena kehabisan oksigen. Athena yang melihat sahabatnya seperti itu hanya bisa geleng kepala. Ares bergeser sedikit saat Sidney berjalan mendekat ke kasur Athena dan merangkak ke atasnya, ikut duduk sambil menyilakan kaki di depan Athena. Dalam hati Athena bersyukur atas kedatangan Sidney, karena ia tidak bisa mengendalikan ekspresi jika sudah salah tingkah. “Teriakan lo masih aja segede itu di rumah orang yang lagi sakit.” cibir Ares pelan, namun dapat didengar oleh Sidney dan Athena. “HEH! Lo mau tahu kenapa gue sampai segininya?! Gue panik bukan main pas lo nekat dateng, takut lo ketemu sama tante Elva. Terus lo juga sih nyetir mobil gila-gilaan, jadi sopir gue juga harus ikut ngebut bikin gue degdegan!” oceh Sidney panjang lebar. “Emangnya kenapa sih kalau gue ketemu sama tante Elva? Lagian gue sebelumnya emang udah ketemu, ya kan, Ana?” tanya Ares. “Iya. Tapi… sebenernya nyokap gue kurang suka kalau ada laki-laki dateng ke rumah.” “Tenang aja, Mama nggak bakal pulang sebelum gue suruh pulang.” Alfred memunculkan dirinya. “Mama emang harus balik ke kerjaannya, dan Mama ngerasa lega karena gue bilang Sidney bakal dateng jagain Nana.” lanjut Alvin. “Al, gue mau nanya.” “Iya, Bang?” ucap Alfred dan Alvin bersamaan. Sidney melongo mendengar panggilan AL kembar kepada Ares. Sedikit tidak terima, iri, marah, dan juga heran. Matanya ia alihkan pada Athena yang sudah memasang tampang tanpa dosa. “Ikut gue deh.” Ares keluar kamar Athena, diikuti oleh AL kembar. Dan menutup pintu kamar Athena, memberikan ruang untuk dua sahabat itu berbincang. Sidney semakin membulatkan mata saat dua adik kembar Athena langsung patuh pada permintaan Ares. Lagi-lagi tatapan meminta penjelasan ia layangkan pada Athena. Gadis yang rambut cepolnya terurai itu hanya bisa memberikan senyum tanpa dosa. “Jelasin.” pinta Sidney tegas. “Sid, banyak banget yang belum gue ceritain. Jadi ini bakal panjang. Lo jangan marah dulu sebelum gue selesai cerita, okey?” “Okey, gue siap.” Lalu mengalirlah sebuah cerita panjang Athena. Dimulai dari kedekatan Ares dan AL kembar yang tak pernah ia duga terjadi begitu saja di belakangnya, kunjungan Athena bersama dua adik kembarnya ke rumah Ares dan harus membohongi orang tuanya, menjelaskan bahwa Sidney dan Tristan ia masukan ke dalam kebohongannya sebagai alasan, juga kejadian Hera dengan dapur yang berasap saat kunjungannya, dan bagaimana Ares memperlakukan Hera. Athena juga sudah menjelaskan tentang perkataan Hera soal dirinya yang diminta untuk membantu Ares dan menjadi orang terdekatnya. Sidney mendengarkan semua itu dengan saksama. “Jadi, gue nggak bisa nolak kehadiran dia lagi, makanya gue ngebiarin dia bawa gue ke UKS dengan syarat dia nggak boleh bikin onar.” Sidney masih diam, berusaha memahami semua cerita Athena, “Okey. Jadi lo nggak bakal ngehindar dari dia lagi?” tanya Sidney memastikan, Athena mengangguk, “Kalau dia yang ngehindarin lo gimana?” tanya Sidney lagi. “Gimana maksudnya?” “Dari cerita lo, gue bisa nangkep kalau Ares kayaknya bakal marah seandainya dia tahu lo diminta buat “mengawasi” dia atas permintaan orang tuanya. Dari sifat dia, prediksi gue sih… dia bakal ngehindarin lo karena hal itu bertentangan sama apa yang diminta orang tuanya. Selama ini dia selalu ngelakuin hal kebalikan dari yang orang tuanya minta, kan?” kata Sidney, mengutip kata ‘mengawasi’ dengan jarinya. “Tapi gue lebih yakin kalau motif dia buat ngedeketin gue selama ini lebih kuat dari pada rasa marahnya sama orang tuanya, Sid. Maksud gue… dari cerita orang tuanya, gue juga sadar kalau Ares emang berubah setelah ketemu gue. Itu semua pasti karena tujuan awal dia buat nyari gue, lebih kuat dari rasa bencinya sama orang tua dia.” Sidney menggelengkan kepala, “Nana, lo jangan terlalu polos dan nggak peka deh jadi cewek. Coba lo pikirin nih ya… kenapa dia benci sama orang tuanya? Karena dia ngerasa semua yang direncanain orang tuanya itu selalu jadi kesialan buat dia. Terus sekarang lo diminta buat mengawasi dia atas keinginan orang tuanya juga, apa dia nggak bakal nganggep kalau selama ini dia juga salah udah deketin lo?” “Sid, omongan lo muter-muter bikin kepala gue sakit.” Sidney menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan, ia memang tidak boleh kesal dan harus lebih sabar menghadapi Athena yang sedang sakit. “Intinya gini, kalau seandainya semua yang lo duga itu salah, dan apa yang gue prediksi itu bener, menurut lo bakal gimana?” Athena terdiam sesaat, “Ya… berarti emang itu kesalahan gue.” “Bukan-bukan. Maksud gue, bukan gimana lo bakal ngadepin dia. Tapi gimana perasaan lo nanti? Dia bakal ngejauhin lo, atau lebih parahnya lagi dia bakal ikut benci sama lo. Kalau itu semua terjadi, gimana?” “Bukannya dari awal dia emang udah benci sama gue? Lo lupa kalau dia udah gangguin gue selama ini? Tujuan awal dia juga pasti karena ada sesuatu yang dia cari, dan karena itu dia ngedeketin gue.” Sidney memasang tampang datar, “Gini nih, kalau orang buta soal cinta. Nggak peka dasar lo.” “Kok jadi gue yang nggak peka?” protes Athena. “LO BEGO BANGET ABISNYA, KESEL GUE.” “YA DI MANA LETAK SALAHNYA?” “Astaga Nana… lo kalau lagi sakit tambah bego dan ngeselin, Na.” Sidney berusaha mengontrol rasa gemasnya, “Lo pikirin baik-baik ya, Athena Amerta. Kenapa dia berubah sejak ketemu sama lo? Kenapa dia jadi lunak sama lo? Kenapa dia akhir-akhir ini lebih serius dibanding biasanya? Kenapa dia mau repot-repot dateng ke sini cuma karena lo nggak angkat telepon? Kenapa dia nggak pernah lagi bikin onar di sekolah? Lo pasti tahu jawabannya.” “Kenapa?” Athena berpikir, Sidney menunggu sahabatnya itu tersadar. Athena cukup lama terdiam, memikirkan kemungkinan-kemungkinan dan mengaitkannya dengan tujuan yang mungkin Ares miliki. Tapi dia lupa satu hal. Jantungnya mendadak kembali berpacu cepat, wajahnya memerah. “Dia suka gue?”
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
menarik
08/12
0good luck
03/08/2025
0bagus
13/06/2025
0Lihat Semua