logo text

Bab 5 Suami dan Pelayan tidak tahu diri

"jadi selama ini kamu sudah memberikan obat tidur di susu hamil yang selalu aku minum, pantas setiap habis meminumnya aku selalu tertidur sampai pagi." batin Jihan.
Namun semalam karena kekenyangan setelah makan martabak keju coklat yang di bawakan Angga untuknya membuatnya kekenyangan dan membuatnya tidur lebih awal dan melupakan susu hangat yang biasa di buatkan Angga untuknya,  sampai kemudian rasa haus terpaksa membangun kan nya di tengah malam. 
"Aku pikir kamu membuatkan aku susu hangat setiap malam sebulan ini karena perhatian kamu sebagai seorang suami kepada istrinya, ternyata aku salah itu hanya caramu untuk bisa membuatku tertidur agar kamu bisa bersama gundikmu itu mas. " Jihan menghapus air matanya yang mulai menggenangi pelupuk matanya. 
Jihan masih mematung di balik pintu sampai tiba-tiba dia merasa tubuhnya terdorong masuk. 
"yang kamu ngapain di balik pintu gini ?" tanya Angga yang kesulitan membuka pintu kamarnya karena ada yang mengganjal, dan ternyata itu adalah istrinya yang sedang berdiri mematung di balik pintu.
"Eh nggak papa ini mau mandi, baru mau ambil kimono di sini." jawab Jihan sambil menunjuk gantungan yang berada di balik pintu dan lekas menghapus jejak air matanya agar Angga tidak sampai mengetahui bahwa dirinya menangis. 
"Ohh.. yaudah yang aku berangkat dulu ya." Ujar Angga memajukan bibir nya hendak mengecup kening Jihan. 
"Iya ." Jawab Jihan singkat seraya menghindari Angga. 
"Kenapa yang kok kamu gamau di cium ?" tanya Angga heran dengan sikap Jihan. 
"gapapa cuma aku kok sekarang agak eneg ya setiap deket kamu, mungkin bawaan bayi kali." Jihan beralasan, padahal sebenarnya dia jijik di sentuh oleh Angga yang sudah mengkhianati dirinya.
"masak gitu sih."
"ya emang gitu, ga percaya ? coba deh kamu searching di google, banyak kok kejadian seperti itu." jawab Jihan ketus. 
"Iya iya yang percaya, lagian kenapa sih masalah gitu aja kamu nyolot."
"nah kamu ga percaya sama aku, emangnya kapan sih aku pernah bohong sama kamu, emangnya kamu pembohong ?"gerutu Jihan. 
"Kok gitu sih yang, emangnya aku bohong apa sama kamu ?"
"Ya mana kutahu, kan kamu yang bohong ya jadi kamu sendiri yang tahu bohong apa."
Angga terdiam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu.
"yaudah lah terserah kamu, aku pamit dulu ya." Angga membungkuk lalu mencoba mencium perut Jihan, namun kembali Jihan menghindar dengan mundur selangkah dari Angga. 
"Kan aku udah bilang lagi males deketan sama kamu, jadi gausah deket-deket aku, apalagi cium perut aku. " 
"Kok gitu sih yang, aku kan cuma mau cium anak aku."
"Kok gitu kok gitu , gausah lebay deh, kayak aku ga tau kelakuan kamu aja." hampir saja Jihan keceplosan menyebut tentang perbuatan Angga. 
"Perbuatan apa maksud kamu."
"udahlah lupain, sana cepet berangkat ke kantor ntar telat aku yang si salahin."
"yaudah aku berangkat dulu. " Pamit Angga. 
"Mmmm... " Jihan hanya membalas dengan gumaman. 
"Kamu gamau temenin aku keluar sayang? " Angga membujuk sang istri. 
"Kamu gimana sih mas, bisa ga sih ngerti ucapan aku? Kan aku udah bilang lagi males deketan sama kamu. " Bentak Jihan. 
"Iya iya maaf... " Balas Angga kemudian keluar dari kamar. 
Brak... 
Jihan membanting pintu kamarnya sesaat setelah Angga keluar dari kamarnya, lalu melihat suaminya dari jendela kamarnya, benar saja dugaannya, sebelum pergi Angga dan Dara masih menyempatkan diri untuk saling bermesraan. 
"Bener-bener sinting dan ga tau malu, apa mereka ga takut kalau sampai ada orang lain yang melihat kelakuan mereka berdua." Gumam Jihan geram memperhatikan tingkah sejoli yang tampak sedang kasmaran itu. 
"Kamu hati-hati ya sayang... " 
Jihan menguping ucapan Dara yang tidak tahu malu membelai pipi tuannya yang tak lain adalah suami Jihan. 
"Iya sayang, kamu jangan sakit hati ya dengan sikap Jihan tadi, kamu tahu sendiri bukan kalau dia lagi hamil jadi sensitif. " Balas Angga dengan senyum mesra. 
"Iya aku tahu kok sayang, lagipula aku kan juga harus tahu diri kalau aku ini kan hanya selingkuhan kamu, dan aku juga cuma pelayan di rumah ini, jadi harus bisa menempatkan diriku. " Balas Dara sendu lalu menundukkan kepalanya. 
"Udah-udah jangan sedih ya, nanti aku transfer buat kamu. " Hibur Angga lalu meraih kedua tangan Dara. 
"Bener sayang? " Rona wajah Dara langsung berubah mendengar kalimat yang keluar dari mulut Angga. 
"Bener lah, kapan sih aku pernah bohong sama kamu sayang. " 
Dara tersenyum makin lebar, kemudian memeluk pinggang Angga dan meletakkan kepalanya di dada Angga. 
"Ehh sayang udah udah, gimana nanti kalau Jihan tiba-tiba keluar dari kamarnya dan melihat kita. " Angga mendorong perlahan tubuh Dara agar menjauh dari nya. 
"Oh iya lupa, maaf sayang. " Balas Dara kemudian merapikan dasi yang di kenakan Angga. 
"Yaudah aku pergi dulu ya. "
"Iya sayang. "
Jihan merasa begitu muak melihat adegan percintaan dua manusia pengkhianat itu, kalau saja tidak bisa menahan emosinya, ingin sekali saat ini Jihan keluar dan menghajar mereka berdua. 
"Saat ini aku belum tahu apa yang akan kulakukan untuk membalas kalian, tapi aku pasti tidak akan membiarkan kalian berdua berhubungan dengan tenang di rumahku. " Ucap Jihan. 

Komentar Buku (44)

  • avatar
    Runil Ofline

    like yau sedih

    18/06/2025

      0
  • avatar
    Riski Krisna

    keren

    28/02/2025

      0
  • avatar
    Ram Dhani

    bagus

    10/12/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru