logo text

Bab 47 Lisa Berbuat Ulah

Lisa yang mendengar teriakan itu langsung menghampiri Fara di kamarnya. Dia segera memberikan pelukannya untuk Fara supaya tenang. Namun, Fara masih terus menyalahkan dirinya sendiri.
Dalam hati Lisa sangat puas melihat pertengkaran yang terjadi di antara mereka. Lisa merasa bahwa permainannya sangatlah apik. Tak ada lagi rasa peduli maupun iba. Lisa seperti hilang rasa kemanusiaan.
"Minum dulu, Mbak Fara! Sudah, tenangkan diri Mbak Fara!" pinta Lisa sambil memberikan segelas air.
Setelah tenang, Fara pun pergi tidur. Lisa masih menemaninya di dalam sana. Mengetahui Fara telah memejamkan mata, Lisa mengamati seisi kamar Fara. Kamar impian perempuan pada umumnya. Luas dan penuh barang-barang koleksi yang mahal. Dari lemari kaca tersebut, Lisa dapat melihat beberapa koleksi tas dan sepatu Fara.
"Aku akan memiliki itu semua nanti," kata Lisa dalam hati.
Pandangan Lisa tertuju pada sebuah foto keluarga Fara ketika masih kecil. Dengan posisi Fara di tengah—dicium oleh papa dan mamanya. Foto itu membuat Lisa iri dan berkaca-kaca. Di sampingnya pun terdapat foto Fara ketika kelulusan yang hanya didampingi sang papa. Di bawahnya juga ada foto yang membuat Lisa semakin panas melihatnya, yaitu foto pernikahan Fara dan Arga.
"Kenapa hidupnya harus sempurna seperti ini? Sudah kaya, cantik, suaminya juga kaya dan ganteng lagi. Kenapa sempurna sekali, sih?" Lisa menatap Fara yang sedang tidur itu.
"Bahkan tidur saja seperti princess," gumam Lisa kemudian beranjak dan meninggalkan Fara.
Ketika Lisa sedang mengambil di dapur, Arga langsung menarik tangannya dan membawanya ke luar. "Kenapa istri saya bisa sangat percaya sama kamu? Kenapa kamu mau saja tinggal di sini? Kamu sengaja mau mengatakan tentang kejadian hari itu?" tanya Arga sambil menyapu pandangan karena khawatir Fara melihat.
"Tidak, Tuan. Saya juga tidak tahu kenapa Mbak Fara begitu percaya sama saya. Kenapa Tuan begitu takut kalau saya akan mengatakan itu?"
"Dengar, Lisa! Saya sangat mencintai Fara. Tidak akan ada yang bisa menggantikan posisinya di hidup saya."
"Tapi apa yang sudah Tuan Arga lakukan kepada saya? Bagaimana jika saya hamil?"
"Lisa! Pelankan suaramu! Saya masih tidak percaya jika saya melakukan itu sama kamu."
"Jelas saja karena Tuan sedang mabuk."
Arga pergi meninggalkan Lisa karena merasa begitu pusing. Di saat mabuk seperti itu, Arga tak ingat lagi apa yang telah terjadi. Itulah mengapa ia merasa tak melakukan apapun kepada Lisa.
***
Hari ini Fara berpakaian sangat rapi. Dia sudah siap untuk berangkat ke kantor dan mengurus semuanya. Arga pun masuk ketika Fara sedang memperbaiki penampilan rambutnya.
"Fara!"
Fara tak menyahuti. Dia masih ingat bagaimana Arga marah dan mendorongnya kemarin. Ketika melewati Arga, tangan Fara dicekal. Namun, mereka tak saling tatap. "Mau bicara apa? Aku buru-buru."
"Saya akan mendampingi kamu."
"Kita punya kesibukan masing-masing. Aku bisa sendiri," jawab Fara yang masih tak menatap Arga. Dia pun melepas tangannya dan melangkah pergi.
Di meja makan, semua masih terasa kaku. Arga mencuri pandang kepada Fara yang tampil berbeda hari ini sambil makan roti sedikit demi sedikit. Berbeda dengan Fara yang sama sekali tak mau melihat wajah Arga.
Setelah sarapan, Fara langsung mengajak Lisa untuk segera ke kantor. Namun, langkah Fara terhenti dan melihat ke arah suaminya. "Aku pergi dulu," ucap Fara kemudian berlalu.
Lisa menyunggingkan senyum melihat sikap Fara yang dingin kepada Arga. Ketika hubungan mereka semakin renggang, maka Lisa akan mulai mengambil hati Arga.
Arga menggebrak meja karena kesal. Dia merasa bahwa hidupnya sudah benar-benar hancur. Sikap Fara yang berubah menambah kekesalan di hatinya. Arga pun menghubungi Reyhan supaya mengajaknya untuk melupakan masalahnya.
***
Berhari-hari sudah Fara masih bersikap dingin kepada Arga. Walau Arga sudah berusaha mengajaknya berbicara, tetapi Fara selalu menghindar. Hal itu membuat Arga selalu pulang larut malam bahkan menjelang pagi. Menurutnya, percuma saja berada di rumah jika tak diizinkan memasuki kamar karena Fara selalu menguncinya.
Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi dan seperti biasanya, Arga baru tiba di rumah. Dia langsung menuju ke kamar yang biasa ia tempati sendiri tanpa Fara. Betapa terkejutnya ia ketika menyalakan lampu. Seorang wanita tengah tidur tengkurap dengan mengenakan pakaian yang sangat tipis. Arga tak dapat melihatnya secara jelas karena pandangannya buram. Rasa kantuknya tak dapat ia tahan lagi.
"Fara? Kamu tidur di sini?" tanya Arga sambil mendekat perlahan.
Arga pun langsung memeluknya dan menciumi rambutnya. "Fara saya kangen sama kamu. Saya kangen tidur bersama kamu," ucap Arga berbisik.
Tiba-tiba saja Lisa berbalik dan mendorong tubuh Arga. "Mau apa, Tuan?"
Arga pun terkejut dan langsung berdiri menjauhi ranjang. "Kenapa kamu di sini, Lisa?"
"Saya yang seharusnya tanya sama Tuan. Kenapa Tuan Arga ada di sini? Ini kamar yang saya tempati."
"Tidak. Saya yang menempati kamar ini."
"Bukankah tadi sore saya sudah mengatakan jika akan pindah ke kamar ini? Dan kamar Tuan Arga ada di belakang. Jangan-jangan, Tuan Arga sengaja mau mengulangi kejadian di hari itu?"
"Hei, jangan menuduh saya! Kapan kamu bilang akan bertukar kamar dengan saya? Saya tidak dengar."
"Saya sudah bilang tadi, Tuan. Mbak Fara pun tahu itu," jawab Lisa yang membuat Arga bingung.
Arga bahkan tak ingat kapan Lisa meminta bertukar kamar. Memang, tadi ia mengatakan hal itu, tetapi ketika Arga sedang menerima panggilan telepon. Saat itu Arga fokus dengan panggilan di ponselnya. Jadi, ia tak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Lisa.
Lisa pun mulai menangis yang membuat Arga semakin bingung. "Saya mencoba untuk diam ketika Tuan sudah menodai saya. Semua saya lakukan demi menjaga perasaan Mbak Fara dan hubungan kalian. Tapi apa? Tuan Arga bahkan ingin melakukannya lagi."
"Oke, maaf. Mungkin saya nggak dengar kalau kamu bilang mau tukar kamar. Tapi saya nggak ada niatan untuk menodai kamu, Lisa," ucap Arga kemudian keluar dari kamar.
"Mas Arga!" tegur Fara yang melihat Arga keluar dari kamar Lisa.
"Fara?"
"Ngapain di kamar yang ditempati Lisa?" tanya Fara sambil menatap tajam.
"Ti–tidak, Fara. Kamu salah paham, Sayang. Saya tidak tahu kalau Lisa ingin bertukar kamar. Saya langsung masuk saja tadi. Begitu sudah berada di dalam, saya langsung keluar."
"Bohong!" bantah Fara tak percaya.
"Tidak, Sayang. Saya tidak berbohong."
Lisa pun ikut keluar kamar karena mendengar keributan antara Fara dan Arga. "Maaf, Mbak Fara. Tuan Arga tidak berbohong. Tuan Arga memang salah kamar. Tuan tidak tahu. Tapi tadi Tuan langsung minta maaf sama saya dan keluar," ujar Lisa menimpali.
"Mbak Fara jangan salah paham sama Tuan Arga."
Tanpa mengatakan apapun, Fara meninggalkan mereka. Arga pun mengejar Fara, tetapi Fara sudah mengunci pintu kamarnya lagi. "Fara, buka, Sayang! Sampai kapan kamu akan diemin saya begini? Fara, saya perlu bicara sama kamu, Sayang!"
"Fara, jangan diemin saya seperti ini. Saya nggak sanggup, Fara." Arga terus mengetuk pintu kamar Fara—berharap dibuka.

Komentar Buku (175)

  • avatar
    AmeliaReinata

    cerita yang begitu menguras emosi dan air mata semangat author sukses terus untuk semua karya karya nya 💪

    18/05/2022

      0
  • avatar
    TiaArumi

    kasian bangat sama Fara aku bacanya jadi ikut sedih , , ,ga sabar nunggu kelanjutan jalan ceritanya akan seperti apa.. sangat penasaran ...

    28/04/2022

      0
  • avatar
    Enden Nurjaman

    muwantaaapp luar biasa

    19/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru