logo text

Bab 14 kedatangan Mertua

Part 18
Kedatangan Ibu mertua kerumah
Pagi ini, tepat tiga hari setelah kepulangan ku kembali kerumah. Semua kembali normal, suamiku pergi bekerja, dan aku kembali sebagai ibu rumah tangga yang melakukan semua pekerjaan rumah sendiri sambil mengasuh balita.
Pukul 10.00 pagi, saat semua pekerjaan sudah beres, anakku sudah tidur lagi setelah selesai mandi dan sarapan. Aku sedang duduk diruang tamu sambil nonton TV. Tiba tiba sebuah suara mengagetkan ku. Suara seorang wanita yang tak asing bagiku.
"Assalamualaikum.. "
"Waalaikumsalam" Aku bangkit dari duduk, lalu melangkah ke pintu depan.
"Mamak? " Rupanya ibu mertuaku. Ibu dari Mas Farid.
Ada apa mertuaku datang kesini tiba tiba tanpa menghibungiku lebih dulu, biasanya beliau akan menelpon atau menanyakan kabar Azka lebih dulu.
"Dimana Azka? " Tanya mertua dengan Raut wajah tidak bersahabat.
"Lagi tidur mak, masuk dulu mak" Aku mempersilakan mertua masuk kedalam rumah.
Beliau masuk sambil menjinjing sebuah tas besar, tak biasanya beliau membawa tas sebesar ini kerumahku jangan jangan..
"Mirna, aku mau menginap disini, tolong kamu taruh tas ini dikamar" Ucap mertua seraya menyerahkan tas besar yang ia bawa padaku.
Benar dugaanku, beliau membawa tas besar karena akan menginap disini. Apa apaan ini? Baru berapa hari aku baikan dengan Mas Fandi, mengapa ibunya malah datang dan ingin menginap disini, membuat suasana hatiku jadi tidak nyaman saja.
"Tapi mak, kami hanya punya satu kamar dirumah ini, dimana mamak mau tidur? " Ucapku tanpa basa basi. raut wajah ibu mertuaku nampak tidak senang mendengar kata kataku.
Aku berkata apa adanya, rumah kami memang hanya satu kamar. Itupun kami tempati bertiga dengan Azka. Lalu, dimana si mertua akan tidur?
"Apa? Cuma satu kamar? Yang benar saja? Masak kalian bikin rumah cuma satu kamar? kalau anakmu besar nanti, apa dia masih tidur sama kalian? kenapa gak buat dua kamar? " Tanya mertua membuatku seketika tumbuh tanduk.
Aku yang merasa tidak nyaman dengan kata katanya pun tidak tinggal diam saja.
"Mak, tanyakan itu sama anakmu, dialah yang membangun rumah ini bukan aku" Jawabku ketus.
Aku masih berusaha untuk sabar, namun kata kata pedasnya membuatku seketika tak bisa menahan emosi.
"Sama saja, kamu juga kan yang minta dibuatkan rumah sama Farid? Kenapa kamu gak minta dibuatkan dua kamar? kalau ada tamu yang datang begini mau nginap dimana? "
Semakin lama ocehan mertua membuatku semakin geram.
"Mak, jika mamak kesini hanya mau komplen masalah rumahku, ini bukan waktu yang tepat. Karena aku sedang tidak ingin berdebat dengan siapapun, kepalaku pusing dan tubuhku lelah, Mamak kan bisa tidur di ruang tamu"
"Kok kamu bicara seperti itu? Kamu gak hargai mertua, dasar menantu durhaka! "
Loh, kok aku pula yang disalahin? apa aku salah bicara? aku bicara apa adanya.
"emangnya ada yang salah dengan ucapan Mirna? kenapa mamak malah ngatain Mirna menantu durhaka? "
"kamu ini ya.. malah nyahut aja, gak sopan, durhaka"
ada saja salahku dimatanya, tak pernah aku benar dimatanya sekalipun.
Kata katanya semakin membuatku geram.
"Apa mamak bilang? Aku menantu durhaka? Mamak kira aku senang sekali jadi menantumu ? Aku senang sekali jadi istri anakmu? Aku capek jadi menantu penurut yang selalu dibandingkan, aku capek jadi menantu yang selalu direndahkan dan asal mamak tahu, aku capek punya mertua judes kayak mamak, yang selalu mencari kesalahan menantu, selalu membela anaknya meski anaknya salah, selalu menyalahkan menantu, aku capek tahu mak! "
Kesabaranku sudah diambang batas, kata kata itu akhirnya keluar juga dari mulutku. Hilang sudah kesabaranku menghadapi mertua satu ini, aku yang dulu selalu diam saja saat di omeli, di kata katai, di rendahkan, kini aku tak akan diam lagi. Cukup sudah dulu aku bersabar.
Ku lihat mertuaku ternganga mendengar kata kataku, aku yakin beliau pasti shock bukan main. Bayangkan saja, aku menantu yang pendiam, penurut, dan selalu sabar, kini meledak ledak di depan mertua.
Beliau kira aku diam karena aku takut padanya, oh tidak. Aku diam selama ini karena aku mengingat pesan ibuku untuk selalu menghargai mertua, tapi, jika mertua tak pernah menghargaiku, untuk apa aku diam saja. Maafkan Mirna buk kali ini Mirna tidak bisa menuruti perintah ibuk.
Mertua ku masih diam mematung memandangku dengan penuh tanda tanya. Pasti beliau kaget sekali.
"Kenapa mak? Kenapa mamak diam saja? Benar kan apa yang aku katakan? Apa mamak belum sadar juga? Atau aku harus menumpahkan segala keburukan mamak sekarang? " Ucapku tak kalah garang.
Kali ini aku tak sanggup diam lagi, cukup sudah aku diam selama ini, cukup sudah aku sabar dan menerima segala hinaan dan makian dari beliau. Bahkan, Dicerai anaknya pun aku sudah tak peduli lagi, aku sudah sangat lelah menghadapi mereka semua.
"kamu bukan Mirna yang dulu.. kamu berubah" ucap Mertua dengan tatapan yang sulit kuartikan.
"iya, benar. aku bukan lagi Mirna yang dulu. Mirna yang dulu sudah tidak ada lagi, Mirna yang lugu, polos, penurut dan sabar sudah lama hilang, mirna yang sekarang adalah Mirna yang tak akan tinggal diam saat dia disakiti bahkan dengan kata kata sekalipun"
Mertuaku menggeleng geleng kepala mendengar ucapanku.

Komentar Buku (100)

  • avatar
    Annaznissa

    best cerita nya

    29/12

      0
  • avatar
    Rianto To

    bagus banget

    14/11

      0
  • avatar
    Sul80Sam

    bagusssaa

    26/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru