Beranda/Werewolf Girl In Love/
part 27
Bismillah
Werewolf Girl In Love
#part 27
#by: R.D.Lestari.
Pagi itu Kia memberanikan diri melangkah keluar rumah, melihat beberapa orang sedang berkebun.
Memang terlihat cukup aneh, di tengah hutan yang lebat terdapat petakan kebun yang lumayan banyak.
Ternyata hidup di tengah hutan tak seburuk yang Kia pikirkan. Mereka sama, hanya di waktu-waktu tertentu mencari mangsa.
"Kau suka tempat ini? apakah kau tak rindu duniamu yang gemerlap?" tiba-tiba suara seseorang terdengar lirih di belakangnya. Kia terjingkat karena kaget dan menoleh kebelakang.
"Tom?"
"Hai,"
"Kamu ngapain di sini?"tanya Kia saat melihat lelaki kekar itu berada di dekatnya.
"Aku sengaja mengikutimu untuk ... minta maaf," jawabnya dengan suara bergetar.
Kia terdiam, mengingat kejadian tadi yang membuat hatinya sakit. Namun, detik berikutnya ia mengulas senyum manis sebagai tanda ia menerima permintaan maaf dari Tom.
"Ya, bukan sepenuhnya salahmu. Ini takdirku," lirih Kiara sembari tersenyum getir.
Ia lalu berbalik dan melangkah meneruskan perjalanannya. Ia ingin melepas perasaan sesak yang selama ini mengikat hatinya.
"Apa kau sangat mencintai manusia itu? jika ia hidup, seharusnya ia kembali padamu," seraya mengikuti langkah Kia, pemuda itu mencoba bertanya.
Terdengar helaan dari gadis di depannya. "Ya, aku sangat mencintainya, tapi aku pun tak bisa untuk memaksanya. Bagaimana pun kini kami berbeda, dan dia berhak untuk hidup normal,"
Kia berusaha keras untuk bisa memandang hidupnya kini dalam lingkup yang berbeda.
Ia harus berpikir rasional, tak boleh egois. Hadi pun berhak bahagia. Bersamanya hanya akan ada derita, dan cinta memang butuh pengorbanan.
"Emh, sudahlah. Apa kau mau melihat-lihat tempat yang indah? aku akan mengajakmu ke sana," usul Tom yang langsung membuat wajah sendu Kia menjadi sumringah.
"Bolehkah? aku setuju kalau begitu," Kia terlihat amat excited. Tom pun tersenyum padanya.
Senyum yang untuk pertama kali ia ulas pada seorang gadis, dan Kia merasa senang, karena Tom kini baik padanya.
Mereka berjalan beriringan, sesekali Tom mendahuluinya sebagai penunjuk jalan.
Ternyata Tom sangat ramah dan juga suka bercerita, membuat Kiara nyaman dan perjalanan terasa menyenangkan.
Lima belas menit perjalanan, mereka akhirnya sampai di sebuah air terjun yang cukup tinggi.
Airnya dingin dan jernih, membuat Kiara tak sabar untuk mandi di bawahnya.
Gadis itu begitu riang saat kakinya menyentuh air dan tanpa sadar berenang.
Tom terpana saat melihat gadis itu mandi di bawah pancuran air. Rambut ikalnya basah dan wajahnya tampak sangat natural saat terkena sinar matahari yang melewati rimbunan pepohonan rindang di sekitar hutan.
Begitu tenang, hanya terdengar kicauan burung dan bunyi gemericik air.
"Kau tak ikut mandi, Tom?" sapanya saat melihat Tom yang berdiri terpaku tak jauh darinya.
Tom hanya mengangkat bahu. "Aku tak bisa berenang," tolaknya.
"Ah, kau pasti berbohong," tawa Kia. Lagi, Tom merasakan hal aneh dalam hatinya saat melihat gadis itu tertawa seperti tanpa beban.
Wajahnya terlihat cantik. Tom akhirnya turun dan melepas pakaiannya.
Kali ini Kia yang tak sengaja menatap otot dan dada Tom yang bidang, ia terkesiap. Pemandangan itu mengingatkannya pada sesuatu.
Seketika hatinya sakit, ia teringat pada Hadi, momen di mana ia melihat tubuh kekar Hadi. Kia menoleh ke arah lain dan tanpa sadar air matanya mengucur di ujung mata.
Tom berenang ke arahnya, sedang Kia menyeka air mata yang sempat membasahi pipinya.
"Kia, ayo, berenang," ajaknya seraya memercikkan air ke tubuh Kia.
"Hei kau bilang tadi tak bisa berenang? ternyata pandai berbohong, ya," Kia pura-pura merajuk.
"Ha-ha, untuk teman baru, aku rasa tak masalah jika sedikit di bohongi," selorohnya.
Byurrr!
Kia kembali masuk ke dalam air dan berenang menjauhi Tom. Mereka tampak mulai akrab. Kia bersyukur karena hari ini Tom bisa membuatnya tertawa.
Hari itu di habiskan dengan bercanda gurau tanpa kesedihan, meski sesekali bayang Hadi melintas di pikiran, Kia berusaha semampunya untuk melupakan.
Menjelang sore, Tom mengajak Kia pulang. Kia tak lupa mengucapkan terima kasih saat Tom berpamitan padanya.
Farah yang melihat Kia yang nampak mulai bersemangat merasa senang. Ia bersyukur Kia pandai berbaur dan berharap gadis itu bisa menerima keadaan nya dan melupakan sakit hatinya.
***
"Akkhhh!"
Hadi mencengkeram kepalanya yang tiba-tiba sakit. Siluet wajah Kia berkelebat berulang kali di pikirannya.
"Hadi," ibunya yang sedang memasak langsung berlari kearahnya.
Ya, sudah beberapa hari ini Hadi pulang kampung dan tinggal di rumah orang tuanya.
Menjelang pernikahannya yang tinggal beberapa hari lagi, Hadi merasa perlu menenangkan diri.
Ragu, keraguan kian melingkupi hatinya. Merasa jika Dita bukanlah wanita yang ia suka.
Semakin lama dekat dengannya, Hadi semakin gusar.
"Hadi, kamu kenapa, Nak? ada yang salah dengan kepalamu?" wanita paruh baya itu menyentuh kepala anaknya dengan lembut.
Hadi masih memegangi kepalanya yang terasa berputar, ia terduduk dan memori-memori bersama Kia terputar satu persatu seperti film meski terputus-putus.
"Ibu ... aku ... tak bisa menikah dengan Dita ...akhhh!"
Ibu termangu. Merasa shock dengan penuturan anaknya, tapi yang lebih membuatnya shock adalah bau menyengat dari arah dapur disertai asap yang membumbung.
"Astaga! masakanku!" Ibu terjingkat dan bergegas lari ke arah dapur, sedang Hadi masih menunduk dan memegangi kepalanya yang masih terasa sakit.
"Ki-- Kia ... Sayang ...,"
Beberapa menit kemudian Ibu dengan tergopoh-gopoh berjalan dari arah dapur membawa segelas air teh hangat untuk anaknya, Hadi.
"Ini, Nak, minum dulu. Lalu pelan-pelan ceritakan pada Ibu," ucap Ibu sembari menyodorkan air untuk anaknya, Hadi mendonga dan meraih teh hangat dari tangan ibunya.
Glek-glek!
Pemuda tampan bermata indah itu menghela napas dalam. Sakit di kepalanya sudah berkurang.
Ia lalu menoleh ke arah ibu yang kini duduk di sebelahnya, menatap dengan gusar.
"Pernikahanmu tinggal beberapa hari lagi. Ibu sudah mengabarkan kepada sanak saudara tentang berita baik ini. Apa yakin mau di batalkan?" kilat kecewa begitu terpancar di mata tuanya.
Hadi mendesah. Ia lalu menatap langit ruang tamu. "Ibu ... tahukah sebuah kebenaran yang kini terungkap?" Ibu hanya menggeleng pelan.
"Ini bukan suatu kebetulan. Entah apa motif Dita berkata bahwa aku tunangannya, tapi ... semua itu bohong belaka,"
"Hah?" Ibu melongo mendengar cerita Hadi.
"Tak mungkin, Hadi. Dita anak yang baik," kilah Ibu.
Hadi menundukkan kepalanya dan menggeleng.
"Dia mungkin baik, Ibu. Namun, di mataku dia tak lebih dari seorang pembohong besar!" Hadi menatap ibunya. Wanita itu terkesiap melihat kilat amarah terekam jelas di mata anak laki-lakinya.
"Hadi...,"
"Aku memang akan menikah, tapi bukan dengan dirinya, tapi dengan adiknya, Kia,"
"Kia ....?"
****Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (86)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
good novel
16/04/2022
0bagus banget
04/06/2025
0baguss
18/04/2025
0Lihat Semua