Suasana Kampus tempat Kia dan Hadi menimba ilmu tiba-tiba mendadak ramai dengan riuh rendah suara mahasiswa. Semua orang saling pandang seolah tak percaya akan kabar yang baru saja mereka dengar. Kematian Titan dan Joe seolah menambah daftar panjang kematian satu gank pria tampan dan juga punya kekuatan di kampusnya itu. Ada yang bersyukur, tapi tak pelak ada juga yang menyesalkan kematian mereka yang tak wajar. Namun, yang membuat mereka bergidik ngeri, bekas cakaran dalam dan sosok yang pernah terungkap. Makhluk berbulu, tinggi dan besar yang menyeringai sempat membuat seluruh kota di cekam ketakutan. Begitupun dengan kematian kedua teman mereka. Beragam spekulasi muncul. Apa yang membuat satu gank itu hingga mereka mati terbunuh. Semua seolah menjadi misteri dan bola panas yang menggelinding. Berita itupun sudah sampai di telinga keluarga Kia. Pak Wijaya menerima berita dengan tangan bergetar. Sempat melaporkan keberadaan Kia yang bagai hilang di telan bumi selama berhari-hari, malah berita menegangkan tentang kawan Kampus Kia yang ditemukan dengan kondisi mengenaskan. Hati orang tua mana yang tak hancur. Terkaan bahwa Kia adalah sosok di balik monster pemangsa itu, kini berbalik. Bagaimana jika malah Kia adalah salah satu korban dari runtutan kematian yang terjadi pada mahasiswa di kampus yang sama. Pak Wijaya menekan dadanya yang tiba-tiba terasa sakit. Seperti di tusuk berjuta belati. Ia akhirnya memilih untuk duduk dan mengatur napasnya agar bisa berjalan normal seperti biasa. Setelah Ia rasa sakitnya mereda. Tangannya mulai mencari kontak di layar ponsel, dengan kerutan yang tercipta di wajahnya, lelaki itu menghubungi salah satu nomor yang tertera di sana. ["Halo, Dita. Papa ingin Kamu pulang sekarang! penting!"] Ia lalu menutup telponnya. Lelaki bertubuh sedikit gemuk itu melangkah pelan dengan salah satu tangan masih menekan dadanya. Kriettt! Manik coklatnya menyisir semua ruangan saat pintu kamar miliknya itu mulai terbuka lebar. Erika, istri yang sudah menemaninya hampir dua puluh tujuh tahun itu nampak lemah di atas kasur. Tatapannya yang sayu menjadi pertanda rasa sedih di hatinya. Sedikit terkejut dengan kedatangan suaminya yang tiba-tiba, wanita bermata sembab itu berangsur menaikkan tubuhnya dan bersandar di kepala ranjang. Dengan langkah gontai, Pak Wijaya mendekati Nyonya Erika yang menatapnya penuh kebimbangan. "Ma ...," lirihnya. "Apa ada kabar tentang Kia, Pa?" pertanyaan itu selalu terlontar di bibir pucatnya. Setiap hari, setiap detik harapan tentang kabar anaknya selalu ia nantikan. Papa menggeleng pelan. Ia lalu duduk di pinggir ranjang dan menatap manik coklat istrinya yang mulai berembun. Sempat menghela napas dalam, setiap melihat wajah istrinya, Ia pasti teringat pada putri bungsunya yang tak tau kemana, karena wajah mereka yang mirip. Belakangan ini mereka pun baru tau jika Hadi pun turut hilang. Namun, karena keluarga Hadi jauh, hilangnya Hadi tak begitu menjadi berita besar seperti hilangnya Titan dan Joe, juga Kia. "Titan dan Joe, sudah di temukan," sedikit mendesah, Papa membuka pembicaraannya. "Kia ...," "Belum ada kabar, tapi ada kabar buruk tentang mereka," "Kabar buruk?" netra Mama membulat. "Ya, mereka tewas dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Luka cakar yang menganga, menyebabkan darah tak henti mengalir dan menyebabkan kematian. Sedangkan Joe, tulangnya patah," "Apa semua itu, Kia penyebabnya, Pa?" "Papa ragu. Apa iya anak kita sekarang seorang monster pembunuh, Ma?" "Atau mungkin Kia dan Hadi adalah salah satu korban dari kebuasan makhluk itu ... Papa jadi tambah khawatir pada keadaan Kia, Ma," Pria paruh baya itu menunduk. Mama mematung. Ia menggigit bibir saat mendengar suara isakan dari lelaki yang amat Ia cinta. Tanpa sadar, rasa sedih pun menyelusup relung hatinya. Bulir bening itu menyeruak keluar tanpa bisa Ia cegah. Tangisnya pun pecah seiring tangan lemahnya yang meraih tubuh ringkih di hadapannya. Kedua orang tua Kia itu kini menumpahkan segala lara dan emosi yang memenuhi semua relung dalam jiwanya. "Pa ... cari Kia, Pa. Walaupun Ia sudah tak bernyawa, Mama ingin melihat Ia untuk yang terakhir kalinya," tergugu, tapi Mama berusaha kuat, meski hatinya kini hancur. "Ma ... sabar, Ma. Polisi saat ini masih intens bersama Basarnas mencari kemungkinan korban lain yang ada di hutan," "Untuk sekarang, Mama istirahat dan berdoa. Semoga Kia dalam keadaan baik-baik saja," Papa mengusap bulir bening yang masih tersisa di wajah pucat Mama. Mama mengangguk. Ia kemudian meraih tangan suaminya dan mencium dengan penuh cinta. Ia tak ingin terlihat lemah. Harus kuat demi suami dan anak-anaknya yang lain. Harapan harus tetap berkobar dalam hatinya. Kia pasti selamat dan Ia akan kembali pada pelukannya. *** Suara hiruk pikuk terdengar dari balik bukit tempat Kia dan Hadi yang sedang asik berbincang. Wajah Hadi berubah gusar. Begitupun Kia yang menggenggam tangan Hadi kencang. "Hadi, suara ramai apa itu? terdengar walau sayup, semakin kesini semakin kencang dan sepertinya mendekat ke arah kita," Hadi bangkit dan melangkah mendekati jendela kamar. Tampak di antara pepohonan orang-orang berdatangan. Membawa parang dan beberapa cangkul, seperti orang yang pulang dari ladang. Namun, mereka berteriak seperti menyeru sesuatu. Hadi terhenyak. Napasnya rasa tercekat. Apa yang telah Ia perbuat bersama Kia, hingga membuat banyak orang berdatangan dalam keadaan marah? "Itu Dia!" salah satu dari rombongan itu menatapnya garang, seolah ingin memangsa. "Ada apa, Hadi? mengapa terdengar banyak langkah kaki menuju rumah? teriakan mereka sangat mengerikan," tukas Kia yang saat itu memegangi perutnya yang kembali terasa sakit. "Hmmh, Kamu tunggulah di sini, Kia, Sayang. Aku akan menemui mereka," Hadi melempar senyumannya pada Kia. "Tapi, Hadi ...," "Apa pun yang terjadi padaku, Aku selalu mencintaimu. Ingat, Kamu jangan terus bersedih. Karena Aku pasti akan selalu ada untukmu," "Hadi... Kau bicara apa? A-- Aku...," Tanpa memperdulikan ucapan Kia, Hadi tetap melangkah menuju pintu depan yang di ketuk kencang. Kriett! Dengan gagah berani Hadi bertemu dengan rombongan pria berotot kekar yang menatapnya tajam. "Kau! manusia! berani-beraninya masuk ke kawasan kami, apa Kau tak takut mat*?" "Sudahlah, teman-teman. Lelaki ini baik. Ia tak akan berlaku jahat pada kita!" Seru salah satu dari mereka yang menyeruak dari dalam rombongan. Manik coklat Hadi bersinar, menangkap sosok yang ternyata Albert, orang baik yang sudah menolongnya. "Apa Kau lupa, Al? saat kita mencari makan dan tak sengaja berpapasan dengan bangsa manusia, mereka beramai-ramai datang untuk memburu kita. Mereka kejam!" tukasnya. Pria berotot bermata biru itu menunjuk ke arah Hadi. "Apa kabarnya dengan bangsa kita? salah satu dari kita telah menggigit gadis di dalam sana! dan menyebabkan Ia menjadi bangsa kita!" "Bangsa kita?" ****
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
good novel
16/04/2022
0bagus banget
04/06/2025
0baguss
18/04/2025
0Lihat Semua