logo text

Bluesky 20

   "Langit budeg!!!"
Salsa berteriak tepat di samping sepupunya itu. Dari tadi, dia bertanya pada Langit tapi pria malah pura-pura tak mendengarnya.
"Apa sih, Sa?" menghela napas dalam-dalam dan berbalik menatap adiknya itu.
"Lu diajak ngomong ngeselin banget, ya! Kesel gue sumpah, ngidam apa tante gue sampe punya anak ngeselin begini."
Buk!
   Satu timpukan mendarat di jidatnya yang lebar, tapi tak selebar lapangan golf.
"Ngomong di jaga, pake bawa-bawa mama segala," omel Langit.
"Lagian lu ngeselin amat, sih! Apa susahnya jawab gue iya atau ga doang dari tadi." Salsa berdecak kesal.
"Tau ah, pertanyaan lo gaje."
"Bancat! Gue nanya serius lo bilang gaje?      Oh come on, Langit Julian Pratama!"
  "Tau ah, Sa. Lu tanya aja langsung ke cowok lu, dia  ketemu sama siapa tadi malem, pulang langsung ga?  Pasti di jawab, kan beres."
   Salsa mencebikkan bibirnya kesal. Bicara dengan Langit membuat darahnya naik.
   "Awas aja lo minta tolong lagi ke gue. Gue ngambek sama lo!"
Salsa beranjak pergi, tapi suara Langit menginterupsinya untuk diam.
"Ngambek kok bilang-bilang, dasar bocah."
"Pacaran jangan posesif gitu makanya. Si Hendra cerita ke gue kalau semalem dia ketemu temen SMP-nya di jalan, abis itu dia anterin pulang karena itu cewek mabok. Tapi dia ga sendiri, ada si Bram yang temenin."
Salsa mangap-mangap, seolah kehilangan suara.
  "Ja-jadi dia ga selingkuh?" Memastikan dugaannya salah.
  "Lu sih, ditelpon sama dia ga mau diangkat. Dia kan jadi telponin gue kek orang pacaran."
   "Huhh syukurlah. Lagian lu dari tadi gue tanya Hendra ada cerita ga nya ke lu, lu diemmmm aja kek orang budeg  plus bisu. "
   Salsa merengut, cuma dia yang kesal punya sepupu seperti Langit yang kata orang-orang pria baik.
  "Makanya nikah, biar ga salah paham terus sama pacar sendiri. Kalau nikah kan dia punya tanggung jawab gede buat bahagiain elo. Lo bisa tinggal bareng dia, Lo bisa.... auuuhhh, sakit Salsa!"
"Rasain! Emang enak wkwkw."
Salsa mencubit dengan keras lengan Langit, membuat pria itu meringis kesakitan. Langit menatap tak suka pada Salsa yang tertawa puas setelah mencubitnya.
"Lu mah mendingan gue liat kesel dari pada seneng. Lu kesel cuma cerewet doang, kalau seneng tangannya juga jelalatan gini," sungut pria itu.
"Yeey yang penting bukan mata gue yang jelalatan, ye kan?" Laras memainkan alisnya.
"Serah lu!"
      Langit hanya geleng-geleng karena kelakuan adiknya ini. Tadi malam Salsa nginap di rumahnya. Semalam mereka hanya bawa satu mobil untuk pura-pura beneran sedang sibuk depan Biru karena itu alasan Langit agar pulang lebih awal dari Panti dan berhasil tak bertemu dengan Awan.
Mereka pergi dengan mobil Hendra dan pulang diantar pria itu. Namun, setelah Hendra dalam perjalanan pulang,  entah siapa yang mengirimi Salsa foto yang menampilkan Hendra sedang dipeluk sama cewek lain dan foto saat Hendra memasukkannya ke dalam mobil. Salsa jadi terbakar cemburu buta melihatnya. Setelah mengirim beberapa pesan yang meluapkan kekesalan. Salsa tak mau lagi menyentuh ponselnya karena tau ada panggilan-panggilan masuk dari nomor yang dia spesial kan.
    Hendra sendiri sedang menolong teman sekolahnya dulu yang mabuk dan jalan sendiri di jalan raya, dia tak ingin sesuatu yang tak diinginkan terjadi pada temannya. Hendra memasukkan gadis itu ke dalam mobil dan langsung menelpon salah satu temannya yang rumahnya tak jauh dari sana untuk menemaninya mengantarkan gadis itu pulang supaya tak terjadi fitnah. Bram dengan senang hati menemaninya, dia tau kalau Hendra memang dari dulu punya rasa peduli yang tinggi pada siapapun, apalagi pada yang dikenalnya.
    Namun, setelah mengantar Bram pulang, Hendra mengecek ponselnya dan menemukan chat panjang kali lebar kali tinggi dari Salsa yang isinya kekecewaan gadis itu terhadap dirinya. Dia menelpon Salsa langsung. Sayangnya, gadis itu tak mau menerima panggilannya. SMS, chat semuanya tak dibalas.
Hal itu jelas membuat Hendra uring-uringan. Akhirnya, setelah lelah menghubungi Salsa tapi tak ada respon, jalan tengahnya adalah mengubungi Langit. Hendra meminta Langit untuk berikan ponselnya pada Salsa agar mereka bisa bicara. Namun, saat Langit mencari Salsa di kamarnya, gadis itu sudah tidur dengan lelap. Tak tega rasanya dia membangunkan gadis itu yang ia tau sangat lelah membantunya dan menggantikan perannya di rumah sakit.
     Langit mengatakan dia akan memberitahukan ini pada Salsa besok dan Hendra menyetujuinya.
  Paginya, saat Langit baru saja duduk di meja kerjanya, pintu kamarnya diketuk dan itu adalah Salsa. Langit tau Salsa akan menanyakan tentang Hendra padanya, itu kebiasaan mereka kalau berantem, pasti Langit adalah jalan penengah mereka untuk kembali baikan.
Kelakuan jail Langit kumat untuk membuat kesal sepupunya ini. Toh hari ini mereka tak bekerja karena hari libur dan terjadilah keributan kecil itu di ruang kerja yang sekaligus kamarnya.
   Tok...tok..tok...
Suara ketukan pintu mengalihkan atensi dua orang yang tengah berdebat di dalam ruang itu. Mereka menoleh ke pintu yang menampilkan gadis yang membuat Langit terpesona di pagi hari.
"Mba Biru?"
"Eh, maaf, aku ganggu obrolan kalian ya? Tadi mama nyuruh panggil kalian buat sarapan bareng." Biru tersenyum pada dua insan yang menatapnya.
  "Ga kok, Mba. Kita ga lagi ngobrol ini, tapi lagi berantem!" Sungut Salsa dan bangkit.
  "Lu yang duluan mancing-mancing! Lengan gue biru nih gara-gara tangan rese lo yang jelalatan. Main, cubit-cubit aja!"
   "Yeee bilang aja lo mau carper ke Mba Biru, pake nyebut-nyebut namanya segala. Modus lo ah!"
Dasar Salsa, Langit kan emang beneran carper halus, kenapa dia malah perjelas.
"Yok Mba, jangan lama-lama di sini. Itu orang sakit jiwa," ledek Salsa dan mengamit lengan Biru. Gadis berhijab abu tua itu hanya tersenyum dibuatnya. Dia tak heran melihat interaksi dua insan ini, mungkin mereka jarang akur karena mereka adalah satu ibu susuan.  Mamanya Salsa tak bisa memberikan asi pada Salsa kecil, dan mama Ranti yang kebetulan sudah melahirkan Langit yang sebentar lagi berhenti asi'an, menawarkan diri untuk memberikan ASI-nya pada adiknya itu. Dari pada pakai susu formula, nanti malah banyak efek sampingnya untuk baby yang baru lahir. Mereka semua setuju saja dan tumbuh lah Langit dan Salsa yang seperti tom and Jerry. Mereka bentar-bentar ribut, bentar-bentar saling cari, persis saudara kandung. Mama sudah ceritakan itu pada Biru saat mereka duduk berdua, mama Ranti takut Biru cemburu melihat kedekatan Salsa dan Langit yang hanya sepupu di mata orang-orang. Kan banyak sekali terjadi di film-film bahkan kehidupan nyata. Padahal, mereka saudara kandung karena satu susuan dan tak bisa menikah. 
Meskipun tak mendengar cerita itu pun Biru tak menaruh sedikitpun rasa itu pada Salsa. Dia malah senang Langit terus-menerus bersama Salsa dari pada satu jam bersama Laras.
   "Morning, Mom."
Cup!
Satu kecupan mendarat di pipi kanan wanita paruh baya itu. Siapa lagi kalau bukan Langit pelakunya.
"Morning, Boy."
   "Wihh..kok nasi gorengnya keliatan enak banget, sih? Ini Mama yang masak?"
Langit yang duduk mengambil tempat di sebelah Biru tergoda dengan tampilan nasi goreng yang seperti di restoran.
"Bukan, itu bukan masakan mama."
"Terus?"
Langit mengeryit, bi Hanum sedang izin dua hari ini untuk menjenguk anaknya yang lahiran, mungkin balik hari ini. Tapi, mana mungkin balik sepagi ini. Lalu, siapa?
"Itu masakannya Istri kamu dong."
"Hah?"
Langit terbengong, dia melirik pada Biru kemudian.
"Mba kok ga panggil Aca bantuin Mba masak, sih?" Salsa jadi tak enak, masa iya dia yang sehat malah santai sementara Biru yang jelas-jelas pasiennya malah memasak untuk mereka.
  "Ga pa-pa kok, Sa. Lagi pula ini bukan mba doang yang masak, Mama juga bantuin, ya kan Mah?"
  "Tapi resepnya dari kamu semua," balas Ranti.
Disampingnya, Langit sudah merapatkan do'a makan, dan mulai menyantap masakan Biru.
"Enak, Ru."
Semuanya terkekeh dibuatnya, tak sabaran banget mencicipi masakan sang istri. Entah kenapa, kemarin Biru merasa Langit sedikit sebal saat dia masak nasi goreng untuk Awan.  Jadi, pagi-pagi sekali dia berkutat di dapur dan menyiapkan masakan yang sama dengan yang kemarin ia buat untuk abangnya itu. Tak salah kan ke geeran pada suami sendiri seperti Biru.
  "Masakan mantu mama emang paling the best deh. Kalau gini mama mau belajar masak sama kamu, Ru."
Ranti terus memuji menantunya, dia senang melihat Biru malu-malu di depannya.
"Makasi, Mah."
Salsa sendiri hanya menikmati saja setelah memuji sekali saat pertama kali sendok masuk ke mulutnya. Gadis itu bahkan sampai nambah dengan nasi goreng yang Biru sediakan dalam bakul kecil.
"Mas Langit mau nambah lagi?"
Biru menawarkan pada Langit karena pria itu sudah hampir menghabiskan isi piringnya.
"Boleh. Tapi..."
Langit menggantung ucapannya, semua orang jadi menatapnya.
"Tapi apa, Mas?"
"Tapi kamu yang suapin."
Hening.
Salsa, Biru dan mama menatap Langit seperti terkejut. Selanjutnya Salsa malah terkekeh merusak suasana.
"Yeyy modus lu," sungut Salsa dengan riang.
  Ranti juga geleng-geleng dibuatnya. Tapi, dia senang melihat Langit yang mulai menunjukkan cintanya pada sang istri.
"Ya ga pa-pa kan kalau mau disuapin sama istri sendiri? Ada yang salah?"
  Seharusnya ga ada Ngit, ga ada. Tapi, kali ini kamu salah Ngit, salah besar karena...
"Istri?"
Deg!!
Semua yang berbeda di meja makan menjadi diam dan sontak berbalik menatap sumber suara yang sangat dikenal mereka dan sangat horor di telinga mereka.
Tatapan nyalang gadis itu cukup menghidupkan alarm bahaya dalam otak Langit.
   "Laras?"

Komentar Buku (246)

  • avatar
    Yu Ayuu Opi

    Bagus banget ceritanya ,, sedih,lucu, dan so sweet

    08/05/2022

      0
  • avatar
    KusumaAlus Wirahadi

    Novel ini adalah perjalanan emosional yang memikat, membangun dunia yang terasa begitu nyata hingga saya tenggelam sepenuhnya di dalamnya. Alur ceritanya mengalir indah, penuh kejutan yang tidak terduga, dan pembangunan karakterisasinya sungguh brilian. Protagonisnya memiliki kedalaman dan kompleksitas yang membuat pembaca benar-benar peduli pada nasib mereka. Setiap bab menyisakan jejak pertanyaan filosofis dan refleksi mendalam tentang kehidupan, cinta, dan pengorbanan. Ini adalah karya sastra

    23/11

      0
  • avatar
    sandra233nadia

    bguss

    30/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru