Bab 9 acht

Katharina tidak menolak ketika Siegfried menaut tangannya dengan lembut dan membawanya ke parkiran untuk mengantarnya pulang.
Lelaki itu juga tanpa ragu menaikkan gadis itu ke dalam mobil range rovernya dengan mengangkat tubuh mungilnya.
"Terima kasih!" cetus Katharina ringan, lelaki itu tersenyum samar.
Dengan penuh perhatian dia juga memakaikan seat beltnya sambil tidak sedikit pun lepas memandangi wajah cantik gadis itu.
Katharina mengulum senyum menatapi perhatian demi perhatian yang lelaki itu berikan. Hatinya jadi serasa berbunga dengan desiran halus yang terus menyambanginya.
"Wooow, butterflies in my stomach," gumam Katharina dengan senyum. Siegfried hanya menatapnya.
Sepanjang perjalanan itu mereka tidak berbicara banyak. Siegfried hanya menanyakan arah menuju apartement gadis itu.
Setelahnya mereka terdiam, tanpa kata. Walaupun terkadang mereka saling melirik dengan senyum tersungging di bibir mereka.
Sampai di pelataran parkir apartement gadis itu tanpa ragu Siegfried ikut turun dari mobilnya dan dia mengantarkannya sampai ke depan pintu apartementnya.
"Kau mau mampir?" tanya Katharina berbasa basi ketika mereka sampai di depan pintu apartement gadis itu.
Siegfried menatap Katharina yang terlihat sedang membuka kunci pintu apartementnya setelah gadis itu memasukkan passwordnya.
"Tanggal kita bertemu sepuluh tahun lalu," ucap Katharina ringan, sambil menolehkan wajahnya menatap lelaki yang sedang menatapnya.
"Maksudmu?" tanya Siegfried bingung, keningnya berkerut.
"Password apartementku ini. Masuklah."
Katharina mempersilahkan lelaki itu untuk masuk dan Siegfried menurut, lalu dia dengan santainya duduk di sofa yang tersedia di sana.
"Duduklah, sebentar aku ambilkan minum," ujar gadis itu ringan. Wajah gadis itu terlihat sedikit canggung.
Kemudian gadis itu berlalu menuju pantry dan mengambil minuman dingin untuk dirinya dan juga lelaki itu yang tak lepas terus memandanginya.
Lama mereka saling diam. Tidak ada satu orang pun yang membuka percakapan. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Dengan perlahan Siegfried mendekati Katharina. Lelaki itu menatap lekat mata biru gadis itu, lalu tangannya mempermainkan rambut pirangnya.
Bibir lelaki itu tertarik membentuk senyuman. Dia seakan-akan bingung, apa yang harus dibicarakan. Perlahan dia menghela napasnya.
"Ehm, apa kita benar-benar bertemu sepuluh tahun lalu?"
Suara berat lelaki itu terdengar, sedikit bernada ragu. Katharina menatapnya. Dia kini merasa yakin, ada sesuatu yang terjadi dengan lelaki yang kini duduk dihadapannya sehingga tidak mengenalinya.
"Siegi, apa kau benar-benar melupakan aku?" lirih gadis itu dengan perasaan sedih.
Lelaki itu diam dengan sorot mata jujur penuh penyesalan. Katharina menyadari penuh bahwa lelaki ini tidak berbohong.
"Ya Tuhan, Siegi. Entahlah apa yang terjadi pada dirimu," gumam gadis itu lagi, lelaki itu hanya menatapnya.
Katharina menatap mata lelaki itu, lalu dia mulai mendekat dan tanpa ragu Katharina menyatukan bibirnya dengan bibir lelaki itu. Menciumnya dan melumatnya lama.
Gadis itu seolah ingin menghadirkan bayangan keberadaannya kepada lelaki yang kini membalas ciumannya walaupun ragu.
Mereka terlarut dalam hasrat yang penuh gairah. Masing-masing merasakan getaran yang tidak lagi dapat mereka elakkan, sampai gadis itu menarik diri dan lelaki tersentak.
"Aku seolah begitu akrab dengan ciuman ini, ya Tuhan. Aku seakan hapal dengan bibir menggoda ini. Aku teramat merindukannya."
Siegfried sempat berucap sangat lirih di sela-sela lumatan bibirnya. Desahan napas lelaki itu tanpa disadarinya lolos seiring usapan lembut tangan halus Katharina.
Gadis itu begitu menggoda dengan elusan yang menyusuri lengan berototnya yang dihiasi beragam tattoo, lalu seolah tersadar. Siegfried tersentak dan sedikit menjauhkan dirinya.
"Ya, Tuhan. Sebenarnya siapa dirimu. Kamu tahu, aku tidak pernah merasakan hal ini. Yang kuingat hampir lima tahun aku di kota ini. Bertemu dengan banyak wanita, tapi tidak ada satu pun yang dapat mengusik hatiku."
Mata lelaki itu menatap lekat dengan gelisah wajah di depannya. Ada sinar kekhawatiran juga rindunya yang terbaca sangat jelas di sana.
Katharina balas menatap lelaki itu dengan senyum terukir manis di bibirnya. Hatinya begitu terasa linu, ada perasaan sakit juga bahagia yang kini berpadu mendapati kenyataan ini.
"Me? I'm yours, Siegi," ucap Katharina pelan dengan senyum.
Siegfried menggeleng tegas, tangannya menyentuh kalung yang tergantung di lehernya, lalu dia kembali teringat pembicaraannya dengan Carl tadi di rumah sakit.
Carl mengatakan bahwa dia sering kali mengigau dan menyebutkan nama seorang gadis yang dia sendiri tidak kenal, mungkinkah gadis itu yang saat ini ada depannya.
"Katharina," gumam Siegfried tanpa sadar dengan suara berat.
Gadis itu tersenyum lebar menatap lelaki yang kini lekat menatapnya. Binar kebahagiaan itu terbias di mata biru gadis itu.
"Kau selalu mengucapkan namaku dengan sangat lengkap." 
Banyak tanya yang mengendap di pikiran Siegfried. Banyak yang harus dia tahu. Tapi dia sadar, bahwa gadis ini memang berada di sana.
Tersembunyi di bagian hatinya. Sedikit dalam, sampai dia tidak mengingatnya tapi akan muncul kepermukaan tanpa mampu dia tolak.
Mata lelaki itu terpejam. Kepalanya menengadah tapi tangannya mencari tangan gadis itu dan menggengamnya erat. Dia seolah ingin mencari kekuatan.
"Carl tadi mengatakan bahwa aku sering kali menyebutkan nama itu ketika terlelap dalam tidurku. Aku sering kali mengigau dan aku juga menyadari kini, dalam diamku kerap kali aku menggumamkan nama itu," ujar Siegfried sambil menatap wajah gadis itu yang tertunduk, lalu mata lelaki itu memicing.
"Lalu akan muncul bayangan seorang gadis muda ketika aku memejamkan mata atau ketika aku hampir tergoda oleh pesona seorang wanita. Gadis muda berambut pirang gelap dengan mata beriris biru nan cantik."
Perlahan sekali Siegfried membuka matanya dan menatap Katharina yang kini matanya telah berkaca-kaca.
Dengan lembut dan penuh perasaan lelaki itu kembali mencium bibir gadis itu. Dia menyadari sepenuhnya gadis yang duduk dihadapannya ini yang kerap muncul dalam bayangannya. Siegfried mencium lagi bibir itu, sedikit lama.
"Ternyata bibir inilah yang kurindukan selama ini, sampai aku tidak tergoda untuk mencium bibir wanita mana pun," ucap Siegfried lirih. Tangannya lembut memegang dagu gadis yang kini terisak.
"Apa yang terjadi padamu sepuluh tahun ini, Siegi. Sehingga kau tidak mengenaliku?"
Sambil terisak lirih dan mengulirkan air mata di wajahnya Katharina bertanya. Lelaki di depannya menggeleng lemah. Matanya kembali terpejam. Lirih lelaki itu berucap dalam rasa gusar.
"Aku tidak tahu."

Komentar Buku (97)

  • avatar
    HidayahNur

    bagus ceritanya👍👍

    24/07

      0
  • avatar
    Aril 5076498 masuk y

    menak bngt nih brow

    21/04

      0
  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    bagus banget...

    06/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru