logo text

BAB. 71 Mengolah Santan Kelapa Menjadi Minyak Goreng

Keesokan harinya setelah sarapan pagi di tepian Pulau Asu, cuaca begitu cerah dan angin sepoi-sepoi menyapa wajah mereka. Edu, Ronald, dan Hezki, tiga sahabat baik itu, sedang berdiri di bawah pohon kelapa yang tinggi menjulang. 
Mereka berencana untuk memanen buah kelapa dan membuat minyak goreng segar darinya. Para kekasih mereka, Mira, Lia, dan Sera, sedang berdiri agak jauh dari pohon kelapa dengan harap-harap cemas, menantikan para pria turun dari pohon.
 
"Kalian yakin bisa turun dengan selamat nantinya?" tanya Mira dengan wajah penuh kekhawatiran mewakili kecemasan kedua temannya yang lain.
 
Hezki, yang dikenal sebagai yang paling berani di antara mereka, tersenyum dan menjawab, 
"Tentu saja, Mira! Kami sudah sering melakukannya sebelumnya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
“Tapi kami tetap, khawatir!” sergah Sera.
 
 "Ha-ha-ha. Kalian tenang saja, Sera. Kami sudah menguasai teknik memanjat pohon kelapa dan kami telah terbiasa melakukan petualangan seperti ini sebelumnya. Percayalah, kami akan turun dengan selamat." tutur Ronald. 
 
Edu, yang biasanya lebih pendiam, tersenyum samar.
 "Jangan khawatir, Lia. Kami akan berhati-hati."
 
Lia, yang selalu paling cemas di antara para gadis, tidak bisa menahan kekhawatirannya.
 "Tolong, kalian turunlah dengan hati-hati ya, teman-teman. Jangan sampai terjadi apa-apa."
 
Sera, yang selalu menjadi sosok yang penuh semangat, memberikan dukungan.
 "Kalian pasti bisa, Guys! Ayo, tunjukkan keberaniannya!"
 
Dengan penuh semangat dan keberanian, Edu, Ronald, dan Hezki mulai memanjat pohon kelapa yang tinggi. Para pemuda itu saling memberikan dorongan dan bantuan satu sama lain. Setiap langkah mereka diikuti dengan kehati-hatian dan kejelian. Ketiga pria itu terlihat seperti trio pemanjat pohon yang terampil.
 
Sementara para gadis yang berada di bawah pohon tidak bisa menahan napas. Setiap gerakan pria-pria itu membuat hati mereka berdegup kencang. Akan tetapi Lia, Sera, dan Mira berharap ketiganya bisa turun dengan selamat dan membawa buah kelapa yang banyak.
 
Setelah beberapa saat yang terasa seperti berjam-jam, akhirnya ketiga gadis dapat melihat Edu, Ronald, dan Hezki mulai turun perlahan dari pohon kelapa. Wajah mereka penuh dengan kegembiraan dan kepuasan.
 
"Tadaaa! Kami berhasil!" seru Edu dengan bangga.
 
Para gadis bersorak dan memberikan tepuk tangan meriah untuk mereka. 
“Hore! Kalian berhasil, Bro!” teriak mereka kompak.
Mira, Lia, dan Sera segera berlari mendekati mereka dengan senyum bahagia di wajah masing-masing.
 
"Kalian luar biasa!" ucap Mira sambil memeluk Hezki.
 
Lia yang juga ikut memeluk Edu, mengangguk setuju.
 "Kami sangat bangga dengan kalian. Terima kasih sudah melakukannya dengan baik."
 
Sera, yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, berteriak,
 "Kalian adalah pahlawan kami!" serunya semakin erat memeluk Ronald.
 
Edu, Ronald, dan Hezki terlihat malu-malu menerima pelukan dan pujian dari pacar-pacarnya. Mereka tahu betapa pentingnya peran para gadiss sebagai kekasih yang selalu mendukung mereka.
Setelah melewati petualangan yang melelahkan memanjat pohon kelapa, Edu, Ronald, Hezki, Lia, Sera, dan Mira duduk berjejer di sekitar pohon kelapa, menikmati pemandangan indah di sekitar mereka. Suasana pantai yang sejuk dan tenang membuat semua orang merasa rileks dan damai.
 
Edu yang sedang mengambil sepotong pisang rebus, berkata 
“Wah, pisang rebusnya enak sekali.”
“Terima kasih sudah memasaknya, Guys!” sahut Ronald.
“Sama-sama, Bro. Senang rasanya bisa berbagi makanan dengan kalian semua,” tutur Sera.
Hezki lalu meminum air kelapa muda itu, seraya berkata,
“Air kelapa muda ini benar-benar menyegarkan. Pas banget untuk menghilangkan dahaga setelah memanjat pohon kelapa tadi”
Ronald tersenyum, sembari angkat bicara,
“Betul sekali, Bro Hezki. Pantai ini memang memberikan keindahan dan kesejukan yang tak tergantikan.”
“Aku juga suka suasana di pulau tak berpenghuni ini. Begitu tenang dan damai,” celutuk Sera sambil menikmati angin sepoi-sepoi.
Mira yang sedang memandangi laut, juga berkata,
“Lautnya begitu biru dan jernih. Pulau ini benar-benar surga tersembunyi.”
“Kita beruntung bisa menemukan tempat seperti ini. Tidak ada yang mengganggu ketenangan kita di sini,” ujar Lia yang dibalas anggukan oleh semua orang.
 
Saat itu, angin sepoi-sepoi mulai bertiup pelan, membawa aroma segar dari laut. Suara deburan ombak yang lembut dan suara burung camar yang berterbangan menambah kesan damai di sekitar mereka.
 
Edu yang sedang menikmati segarnya angin itu, segera angkat bicara,
“Ah, rasanya seperti kita berada di surga. Betapa indahnya alam ini.”
Hezki sambil mengangguk setuju, pun angkat bicara,
Ya, Bro! Pulau ini memang memiliki keajaiban yang tak terhingga. Kita harus terus menjaga keindahan ini.”
“Saya setuju, Bro Hezki. Kita harus terus berusaha untuk melestarikan alam ini agar generasi mendatang juga bisa menikmati keindahannya,” tutur Ronald.
 
 Mereka pun melanjutkan perbincangan mereka dengan penuh keceriaan. Di bawah pohon kelapa yang rindang dan diiringi angin sepoi-sepoi, mereka merasa bahagia dan bersyukur atas momen indah yang mereka alami bersama.
Setelah selesai beristirahat, para pria dan para wanita itu mulai melanjutkan kegiatan mereka untuk membuat minyak goreng dari buah kelapa.
 
Edu, Ronald, dan Hezki terlihat sedang membuka sabuk kelapa dan juga isi buah kelapa. Ini adalah langkah pertama dalam proses pembuatan minyak goreng dari buah kelapa.
“Bro! Kita pisahkan buah kelapa dari sabuknya, ya?” ajak Edu kepada kedua sahabatnya.
“Beres, Bro.” sahut keduanya.
 Setelah buah kelapa dibuka, langkah selanjutnya adalah memisahkan daging kelapa dari kulitnya. Daging kelapa kemudian dicuci hingga bersih. Kegiatan ini dilakukan oleh Lia, Sera dan Mira.
 Setelah dicuci, daging kelapa perlu diparut menggunakan alat pemarut. Parutan kelapa ini akan digunakan dalam proses selanjutnya.
Parutan kelapa yang telah dihasilkan kemudian dicampurkan dengan air kelapa. Campuran ini akan menjadi bahan dasar untuk membuat minyak kelapa.
Tahap berikutnya adalah memeras campuran parutan kelapa dan air kelapa. Mereka menggunakan kain bersih untuk melakukan ini. Proses pemerasan ini akan menghasilkan santan kelapa.
Setelah mendapatkan santan kelapa, santan tersebut perlu dipanaskan dalam wadah yang tahan panas.
 Santan kelapa dipanaskan hingga airnya menguap dan hanya tinggal minyak kelapa saja.
“Guys, kalian bisa menambah kayu bakar, sekarang.” ujar Hezki kepada para gadis.
“Beres, Bro.” sahut Mira mewakili kedua sahabatnya.
 Setelah air menguap dan hanya tinggal minyak kelapa, saring minyak kelapa menggunakan saringan. Mereka menggunakan kain yang bersih untuk menghilangkan sisa-sisa padatan yang mungkin masih ada.
Minyak kelapa yang telah disaring kemudian disimpan dalam wadah yang bersih dan kedap udara oleh para gadis. 
“Finally! Proses pembuatan minyak kelapa selesai juga!” ujar Sera senang.
“Hari telah berganti menjadi sorei. Bagaimana jika kita berenang bersama di lautan, untuk merayakan keberhasilan kita hari ini?” tawar Ronald kepada semua orang.
“Wah! Itu ide yang sangat bagus, Bro!” sahut Edu.
“Ayo, Sayangku! Time to swimming in the blue ocean!” ucap Edu sambil meraih tangan kekasihnya, Lia.
“Hei! Kami juga tak mau ketinggalan!” Hezki juga ikut menggandeng tangan Mira dan mulai berlarian mengejar pasangan sebelumnya, Edu dan Lia.
“Hei! Kok kami ditinggal? Kan ide berenang di laut berasal dariku?” tukas Ronald tak habis pikir melihat tingkah kedua sahabatnya dan para kekasih mereka yang meninggalkannya bersama Sera di tepian pantai.

Komentar Buku (43)

  • avatar
    VirgoMrs.

    petualangan seru

    28/06

      0
  • avatar
    Rhw Faith

    wow mantap

    18/06

      0
  • avatar
    War Zek

    Mantap......

    04/02

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru