Chapter 75

Dua minggu telah berlalu sejak aku sepakat untuk bekerja sama dengan Aquilo. Aku sedang duduk santai di sofa ruang keluarga sambil menonton televisi.
Berkat hadiah dari kontes berburu yang kumenangkan beberapa bulan lalu, aku dapat hidup santai tanpa bekerja sama sekali. Uang itu cukup untuk menghidupiku selama kurang lebih 2 tahun.
Siaran televisi yang kunonton sebagian besar membahas tentang keadaan wilayah utara. Terkadang berita tersebut juga membahas tentang keadaan wilayah selatan, timur, barat, dan bahkan keadaan negara lain.
Anehnya, belakangan ini aku tidak mendengarkan ada berita dari Ibu Kota. Selama beberapa hari terakhir, sama sekali tidak ada siaran yang membahas tentang keadaan Ibu Kota.
Aku mengangkat tangan kananku dan meletakkan jari jempol dan telunjukku pada bibirku. Kutatap layar kaca di depanku dan berpikir dengan serius.
'Aneh, padahal biasanya selalu ada berita tentang Kota Centralis, bahkan berita paling tidak berarti tentang mereka pun tetap disiarkan, tapi kenapa belakangan ini tidak ada satu pun yang membahas keadaan Ibu Kota?
'Apa terjadi sesuatu di sana? Kalau memang terjadi sesuatu di Ibu Kota, justru berita tentang keadaan Ibu Kota akan tersebar dimana-mana, bukan sebaliknya seperti ini.'
Kejanggalan itu membuatku curiga akan sesuatu. 'Tidak biasanya mereka diam seperti itu. Jangan-jangan rencana untuk mengendalikan pikiran penduduk negeri sudah dimulai?'
Aku menggelengkan kepalaku. 'Itu tidak mungkin karena dulu Nona Tabella bilang kalau dia akan mengundur pelaksanaan rencana itu menjadi bulan depan. Jadi, setidaknya masih ada waktu 2 minggu lagi sebelum dia menjalankan rencananya.'
Aku mencoba untuk berpikir positif dan kritis, tetapi kejanggalan itu membuatku tidak ada pilihan lain selain mulai berpikir yang tidak-tidak.
Aku melepaskan tangan kananku dari bibirku dan menurunkannya ke atas permukaan sofa berwarna krem yang lumayan empuk ini. Kukepalkan tanganku dengan erat hingga urat-urat timbul pada permukaan kulit tanganku.
'Ini tidak bisa dibiarkan. Aku tidak boleh tinggal diam seperti ini. Aku harus melakukan sesuatu untuk menghentikan rencana itu, tapi bagaimana?'
Tiba-tiba aku teringat akan seseorang yang dapat membantuku. Aquilo, orang mengajakku untuk bekerja sama dengannya untuk memberontak melawan Quattor.
Dia pernah mengatakan kepadaku untuk tidak meremehkan kemampuannya dalam menggali informasi.
Mungkin aku bisa memberitahunya tentang rencana Nona Tabella untuk mengendalikan pikiran semua warga negara agar tunduk pada pemerintah.
Dengan informasi itu, dia dapat mencari bukti yang dapat menarik simpati rakyat sehingga mereka akan melakukan demonstrasi untuk menolak dan melawan rencana itu.
Aku tersenyum puas saat membayangkan kejadian itu dalam kepalaku. 'Setelah itu, rakyat akan kehilangan kepercayaannya terhadap pemerintah dan menuntut untuk membubarkan Quattor.'
Senyuman pada bibirku berubah menjadi sebuah seringaian. 'Dengan begitu, tirani korup itu akan lengser dan ketidakadilan di negara ini akan menghilang bersama dengan mereka.'
Seringaian pada bibirku sirna saat sebuah keraguan memasuki pikiranku. 'Namun, apa aku bisa mempercayainya dengan informasi itu? Bagaimana kalau dia malah menyalahgunakan informasi yang kuberikan?
'Atau bagaimana kalau dia malah menggunakan informasi itu untuk menusukku dari belakang? Akulah yang akan paling dirugikan di sini. Aku tidak boleh memberitahunya secepat ini karena aku masih kurang mempercayainya.'
Bunyi langkah kaki tertangkap oleh telingaku. Aku tersadar dari pikiranku yang mendalam dan mengalihkan pandanganku ke arah asal bunyi itu.
Bunyi langkah kaki itu berasal dari tangga yang berada tak begitu jauh dariku menandakan ada seseorang yang sedang menaiki tangga itu.
Orang yang menaiki tangga itu menampakkan dirinya. Orang itu merupakan seorang pria berambut biru tua yang mengenakan mantel abu-abu.
Aku melebarkan mataku saat melihat sosok yang baru saja naik ke lantai 3 ini. Kusebut namanya dengan nada heran, "Aquilo?"
Bola matanya yang berwarna perak langsung mengarah ke arahku begitu aku menyebut namanya. Dia tersenyum lebar dan mengangkat tangan kanannya.
"Yo, Cae, kebetulan sekali kamu lagi di luar kamarmu saat aku mau bertemu denganmu," sapanya dengan nada sok bersahabat, padahal kami baru bertemu sebanyak dua kali.
Aku bangkit berdiri dari sofa dan menatapnya dengan was-was. "Kamu stalker, ya? Untuk apa kamu datang ke sini?" tanyaku dengan curiga.
Aku melipat tanganku di dada dan mencengkeram lenganku sendiri. 'Kebetulan macam apa ini? Dia muncul begitu saja saat aku sedang memikirkannya. Membuatku merinding saja.'
Dia tertawa dengan nyaring. "Hahaha! Lucu sekali kamu! Begitu, ya, cara kamu memperlakukan temanmu?" sindirnya sambil tertawa, padahal tidak ada yang lucu untuk ditertawakan.
Aquilo melangkahkan kakinya ke arahku. Aku tetap berdiri di tempatku dan memperhatikan gerak-geriknya dengan waspada. 'Apa yang mau dilakukannya sampai-sampai mendatangiku ke indekos ini?'
Saat dia sudah dekat denganku, tanpa aba-aba dia langsung menarik kerah bajuku sehingga tubuhku tertarik ke arahnya. Dia membisikkan sesuatu pada telinga kiriku.
"Jangan bersikap curiga begitu, nanti pemilik indekos ini curiga. Tadi sebelum aku naik ke sini, aku sudah bilang kepadanya kalau aku ini temanmu dan ada urusan denganmu."
Sontak aku langsung menarik badanku untuk menjauh darinya dan menepis tangannya yang mencengkeram kerah bajuku.
Aku ber oh ria sambil mengibas-ngibaskan bajuku yang kusut karena cengkeraman tangannya.
Kutatap Aquilo yang berdiri sejauh 1 meter di depanku. "Jadi, kenapa kamu mencariku?" tanyaku heran.
Aquilo memasukkan tangan kanannya ke dalam saku mantelnya dan merogoh apa yang ada di dalam kantung itu. Dia mengeluarkan selembar kertas yang dilipat-lipat hingga berukuran kecil.
Dia membuka lipatan kertas itu lalu dia menyodorkan kertas itu kepadaku. "Baca itu," ucapnya dengan nada seperti memerintahku.
Kuambil selembar kertas itu darinya dan membaca apa isi dari kertas yang diberikannya kepadaku.
Setelah aku membaca sebagian isi artikel itu, kertas itu terlepas dari tanganku dan jatuh ke lantai. Mataku terbuka lebar dan menatap ke arah kertas yang berada di atas lantai yang putih bersih.
"Layla akan datang ke kota ini ...?" gumamku dengan suara kecil. Senyuman kecil mulai tercipta pada bibirku.
'Dia datang ke sini ... itu artinya aku bisa bertemu dengannya lagi.' Aku menutup mulutku dengan telapak tanganku untuk menyembunyikan senyuman haru yang terpasang pada bibirku.
Aku tersenyum haru karena mengetahui bahwa 3 hari lagi Layla akan datang ke kota ini. Aku merasa senang dan bersemangat ingin segera berjumpa dengannya.
Tiba-tiba Aquilo berbicara kepadaku sehingga kebahagiaan itu sirna. "Ya, anggota Quattor itu akan datang ke sini, tapi apa kamu tidak merasa aneh?" tanyanya yang menghancurkan suasana hatiku.
Senyuman yang ada pada wajahku langsung luntur. "Maksudmu?" Aku bertanya balik kepadanya.
Dia meletakkan tangan kanannya pada pinggangnya dan mengangkat tangan kirinya setinggi dada lalu menjawab, "Bukannya itu aneh, mereka tidak pernah keluar dari Ibu Kota, tapi tiba-tiba sekarang mereka akan mengunjungi wilayah utara."
Aku terdiam mendengar penjelasannya. Apa yang dia katakan terdengar masuk akal. Treis ataupun Quattor, mereka tidak pernah meninggalkan Ibu Kota. 'Lalu kenapa sekarang mereka malah mau datang ke Kota Boreus?'

Komentar Buku (526)

  • avatar
    JordanAsep

    gak ngerti judul tapi seru di baca

    09/05/2025

      0
  • avatar
    diowidadio

    nanti ya

    22/04/2025

      0
  • avatar
    OrpalaNovia

    bagus kak

    29/03/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru