Chapter 47

"Layla, aku akan mengirimmu ke tempat yang aman. Tolong jangan kembali ke sini apa pun yang terjadi," bisikku kepada Layla. Kulihat daun telinganya memerah karena tanpa aba-aba aku berbisik tepat pada telinganya.
"Tidak mau. Ak-" Protesannya terputus saat bayangan hitam tiba-tiba muncul dan menyelimuti dirinya. Tubuhnya yang tadi berada dalam dekapanku langsung lenyap bersama dengan bayangan itu.
Kini, di lorong ini, hanya ada aku dan Alcyone yang sangat ingin membalas dendam kepadaku. Dia terdiam setelah melihat Layla hilang dari penglihatannya dalam sekejap mata.
"Bagaimana, ya? Kamu tidak akan bisa merebutnya dariku kalau dia tidak ada di sini," ledekku sambil tersenyum mengejek. Aku sudah tidak peduli lagi untuk menjaga sikapku terhadapnya karena dia telah bertekad untuk menghancurkanku.
"Kurang ajar ...," geramnya mengepalkan tangannya dengan erat. Dia mengangkat tangan kanannya ke atas. Muncul ratusan anak panah yang terbuat dari es di udara.
Aku memasang kuda-kuda bersiaga terhadapnya. 'Meskipun kamu anaknya kakek dan nenek, aku tidak akan menahan diriku lagi karena kamulah yang duluan ingin menghabisiku.'
Diarahkannya tangannya yang terangkat ke arahku dengan jari telunjuk yang menunjukku. Seketika anak-anak panah itu melesat ke arahku dari arah depan.
Kuciptakan dinding berwarna hitam pekat di depanku untuk memblokir serangan itu. Bunyi sesuatu yang pecah mengisi latar belakang. Aku hanya berdiri diam di balik dinding itu.
Kutatap telapak tanganku yang sedikit gemetaran. 'Ini buruk. Energiku yang tersisa tidak sebanyak yang kukira. Hari ini aku sudah menggunakan terlalu banyak energi, ditambah lagi menteleportasikan Layla yang memakan cukup banyak energi. Kalau begini. Kemungkinan 70% aku tidak bakal bisa menghentikannya dengan energi sesedikit ini."
"Lebih baik kita hentikan pertengkaran ini. Kakek dan nenek pasti juga tidak mau kita saling bertarung seperti ini," bujukku yang berharap dia akan menerima bujukanku, tetapi itu tidak semudah yang kuharapkan.
"Beraninya kamu menyebut orang tuaku dengan akrab begitu!" serunya menembus dinding di depanku dan menerjang ke arahku.
Dia menyerangku dengan sabit kecil yang terbuat dari es. Kuhindari serangannya, tetapi tidak menyerang balik dia karena ingin menghemat energiku. Aku harus mencari celah untuk mengakhiri pertarungan ini dengan satu kali serangan dan serangan itu tidak boleh membunuhnya ataupun membuatnya terluka berat. Cukup kedua orang tuanya saja yang sudah menjadi korbanku.
Orang yang berkekuatan es itu terus menyerangku tanpa memberikan jeda untukku bernapas. Semua serangannya benar-benar kuat dan memiliki jangkauan yang luas, pantas disebut sebagai pemilik 'Arte' berisiko tinggi. Namun, serangan-serangan itu tidak begitu cepat sehingga aku dapat menghindarinya dengan mudah.
"Berhenti menghindar dan lawan aku dengan serius!" teriaknya yang kesal karena aku terus saja menghindar dan tidak melawannya, padahal aku sengaja tidak menyerangnya karena tidak ingin melukainya dan untuk menghemat energi.
Dia menghentakkan kakinya dengan kuat membuat permukaan lantai membeku. Lapisan es itu meluas hingga menyelimuti dinding dan pilar-pilar. Aku melepaskan pijakan kakiku dari lantai agar tidak ikut membeku bersama permukaan marmer putih itu.
Tanpa aba-aba dia muncul di hadapanku. Dia melayangkan sabit es miliknya ke arahku. Dengan sigap kutangkis serangannya dengan tongkat panjang yang terbuat dari bayangan yang dipadatkan. "Kamu kira aku akan termakan serangan yang sama seperti dulu?" tanyaku sambil tersenyum sinis. Aku yakin di balik topengnya, dia pasti memasang ekspresi kesal.
Dia menendang perutku dan menjauh dariku. Tendangannya meninggalkan sedikit kristal es yang menempel di bajuku. Kusibakkan pakaianku untuk menghilangkan es itu.
"Lebih baik hentikan pertarungan ini. Kamu juga sudah mulai kelelahan dan kehabisan energi, kan?" bujukku sekali lagi agar dia mau berhenti menyerangku.
"Aku tidak akan berhenti sampai salah satu dari kita mati," tolaknya dengan niat membunuh yang kuat.
Aku mengepalkan tanganku mendengarnya berkata demikian. 'Sampai salah satu dari kami mati katanya? Itu sama saja berarti dia ingin membunuhku atau aku membunuhnya.
Mendadak suhu di ruangan terbuka ini menjadi dingin sekali. Temperatur tempat ini turun dengan drastis. Bahkan suhu di tempat ini jauh lebih dingin daripada di Kota Boreus yang setiap hari bersalju.
Udara yang kuhirup terasa begitu dingin sehingga tenggorokan dan paru-paruku serasa akan membeku. Kepulan uap dingin tampak keluar dari hembusan napas kami.
"Kamu ... apa kamu serius dengan ini?" tanyaku sambil memeluk diriku sendiri akibat perubahan suhu yang drastis ini. Dia hanya diam saja, tidak menjawab pertanyaanku.
"Aku yakin teknik ini membutuhkan energi yang sangat besar. Kamu tidak perlu memaksakan dirimu seperti ini," lanjutku sambil berharap kali ini dia akan mendengarkanku.
Akhirnya dia membalasku, tetapi balasan itu benar-benar dingin. "Ada lagi yang mau kau katakan?" tanyanya dengan nada datar. Aku menggertakkan gigiku mendengar pertanyaan itu.
"Berhentilah menjadi keras kepala! Kamu bisa mati kalau kamu melakukannya lebih dari ini!" bentakku sambil menunjuk dia dengan jari telunjukku.
Orang berjubah hitam yang berdiri beberapa meter di depanku itu berdiri dengan tegap, tetapi kalau dilihat dengan lebih teliti, aku dapat melihat tangan dan kakinya yang bergetar kecil. Dia telah mencapai batasnya.
Suara deheman keluar darinya. Dia masih keras kepala ingin meneruskan pertarungan ini dan membuat dirinya terbunuh karena menggunakan kekuatannya dengan terlalu berlebihan.
Kurasakan jari tanganku mulai terasa kebas. Kulihat keadaan tanganku yang mulai membeku dimulai dari ujung jariku. 'Dia ... benar-benar mau membunuhku?!'
Tiba-tiba sebuah pedang berukuran besar yang terbuat dari es terbang ke arahku. Saat aku hendak menghindarinya, kakiku malah tidak dapat digerakkan. Kakiku tidak dapat diangkat karena membeku di lantai.
Aku langsung mengerahkan 'Arte'-ku untuk menghancurkan senjata tajam yang mengarah ke arahku. Kristal es dan uap dingin mengambang di udara mengganggu penglihatanku.
Tidak kusangka ada serangan lain yang terbang ke arahku tepat setelah aku menghancurkan pedang tadi. Kugerakkan pinggangku ke kanan untuk menghindari pedang es berukuran kecil yang melewati leherku.
Aku merinding menyaksikan diriku yang nyaris mati. 'Ini gila. Telat sedetik saja aku bakal kehilangan leherku. Ditambah lagi kakiku membeku di lantai, aku tidak bisa menghindar lagi!
'Aku harus mengakhiri ini secepatnya sebelum seluruh tubuhku membeku dan dipenggal olehnya! Ini tidak cukup, mau tidak mau aku harus melawannya dengan kekuatan penuh. Kalau aku terus menahan diri, akulah yang akan terbunuh!'
Kuciptakan 6 anak panah dengan 'Arte'-ku. Anak-anak panah itu melesat ke arahnya secepat kilat. 'Meskipun serangan itu tampak kecil, daya hancurnya tidak boleh diremehkan. Bahkan orang terkuat di dunia sekali pun akan terluka parah jika terkena serangan itu.'
Itulah yang kupikirkan, tetapi kenyataan tidak seperti yang kupikirkan. Keenam anak panah itu berhenti di udara dan membeku, dilapisi oleh kristal es yang tebal lalu pecah menjadi serpihan kecil.

Komentar Buku (526)

  • avatar
    JordanAsep

    gak ngerti judul tapi seru di baca

    09/05/2025

      0
  • avatar
    diowidadio

    nanti ya

    22/04/2025

      0
  • avatar
    OrpalaNovia

    bagus kak

    29/03/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru