[Marian Tammie] Kuberi kalian sebuah saran agar bisa hidup tenang: jangan pernah berpikir untuk mengubah penampilan hanya karena ingin dipuji oleh orang semacam Alexis. Kuingatkan, jangan pernah! Itu adalah hal yang paling bodoh yang pernah kulakukan. Rasanya sangat bodoh saat aku menatap diriku di cermin dan berpikir betapa aku ternyata cantik. Rasanya sangat bodoh saat membayangkan reaksi Alexis saat melihatku. Sangat bodoh ketika aku berharap dia berkata, "Kamu cantik banget." meskipun seharusnya aku tahu kalau itu tidak akan terjadi. Padahal aku sudah cukup percaya diri saat Tj memujiku. Tapi Alex mengabaikanku, bahkan ketika aku mengubah penampilan pun, Alex masih bisa-bisanya memikirkan cewek lain. "Dia ngajak kamu pulang bareng." kata Ail datar. "Ah! Jangan ingaten aku lagi, dong!" Aku tengkurap di tempat tidur, meredam jeritan pada bantal sambil menggoyang-goyangkan kaki. Ail menghela napas di sisi tempat tidur. Yah, itu adalah kebodohan kedua yang kulakukan. Alex mengajakku pulang bareng, cuma-cuma, naik sepeda seperti waktu lalu. Aku membayangkan langit jingga yang akan kami saksikan bersama, pasti akan menjadi momen yang sangat berharga jika saja itu terjadi. Sayangnya momen semacam itu tidak terjadi. Dan, tidak akan pernah. Tidak saat Alex masih menjadi milik orang lain. Ponselku membunyikan notifikasi, aku buru-buru membukanya, tapi kemudian menghela napas. Barga mem-posting foto berdua dengan Vanya di Starbucks. "Aku bingung, kamu itu sukanya sama siapa." Rupanya Ail lagi curi-curi pandang ke ponselku. Aku buru-buru mematikan ponsel, lalu mencebik padanya. "Aku tuh sebenernya gak ada perasaan sama Barga. Tapi ... ah, susah jelasinnya!" "Oh, iya, deh. Aku tau." Kutatap Ail. Ail melanjutkan dengan muka datar tanpa dosa. "Kamu itu iri 'kan sama mereka?" "Ih, bukan! Tau, ah!" Kesal, deh, kalau sahabatku saja tidak memahamiku, padahal kami sama-sama cewek. Iya, deh, iya, cewek penuh perhatian dan kasih sayang seperti Ail memang tidak akan mungkin bisa mengerti jalan pikiranku. Ia tidak mengerti rasanya kesepian itu. Mungkin lebih baik, dia tidak akan pernah mengerti. "Aduh, aduh, gak biasanya kamu sampe galau begini banget." Ail menggelengkan kepala sambil mengusap-usap rambutku. "Kalo udah begini, sih, mendingan kita ... maling?" Aku memutar bola mata, lalu menjawab hambar. "Haha, lucu. Maling apa? Maling hati John?" Kepalaku yang tadinya diusap jadi dijitak. "Serius, nih. Kayaknya itu maling, deh." Aku langsung duduk, mengintip penasaran melalui jendela. Ada bayang-bayang yang melompati atap-atap rumah. Ada tiga orang, pakaian serba hitam membuat mereka terlihat seperti bayangan. Mereka mengenakan tudung, dan salah satunya menyandang alat memanah. Tidak salah lagi, itu pasti Robin Hood! "Ail!" Aku langsung berdiri, menoleh pada Ail dengan wajah yang kuyakini berseri-seri. "Ail, aku mau keluar sekarang!" "Apa? Enggak! Udah malem gini!" "Ayolah, Il ...." Aku mulai merengek. "Biar mood aku balik lagi, nih. Kamu cuma tinggal pastiin gak ada yang masuk kamar aku, dan kalo ada yang nanyain aku, bilang aja aku udah tidur." Ail memutar bola mata. "Terus gimana caranya kamu keluar, hm?" "Trampolin di taman samping masih ada 'kan?" Ail berjalan ke arah jendela dan melihat ke bawah. "Masih ada, tuh." katanya, sedetik kemudian ia terkesiap. "Tammie! Jangan bilang kamu mau ...." "Sstt, udah, deh, Il. Kamu tenang aja." potongku. "Aku 'kan udah terlatih." "Ya, tapi tetep aja ...." Ail terlihat panik dan cemas. Aku jadi tidak tega meninggalkannya. Tapi di sana ada Robin. Cowok misterius si pahlawan dalam bayangan yang sangat jarang ditemui. Aku sangat beruntung bisa bertemu dengannya lebih dari sekali, sementara polisi pun mungkin belum pernah berbicara dengannya secara langsung. Aku tidak bisa melewatkan kesempatan ini. "Ail, tolong kali iniii aja." Aku memohon, menampilkan ekspresi semanis dan semenyedihkan yang kubisa. Sebelum Ail memprotes, aku sudah naik ke jendela, aku menoleh dan tersenyum sebentar sebelum akhirnya melompat. Desiran angin dingin menyambutku, dan jantungku berdebar karena ketinggian. Aku merapatkan kedua kaki sehingga saat mendarat, aku bisa memantul di trampolin dan mendarat sempurna di atas dinding pagar. Kulihat, Ail memelototiku dari jendela kamar. Dengan rambut hitam legam dan kulit pucatnya, dia terlihat seperti hantu. Aku tak punya waktu untuk mengurusinya, Robin bisa datang dan pergi kapan saja, dan aku juga tidak mau ketahuan satpam rumah dan berakhir dengan hukuman ayah. Jadi aku pun melompat ke aspal luar yang keras dan dingin. Karena tidak memakai alas kaki, kakiku jadi sakit. Mungkin telapak kakiku sekarang sudah pecah-pecah. Tapi tidak ada waktu untuk mengeluh, Robin bisa pergi kapan saja. Aku menyusuri aspal pelan-pelan sambil melihat ke atap-atap rumah. "Robin!" Aku memelankan suara saat memanggilnya. "Robin Hood!" Ada dua persimpangan, dan aku bimbang. "Tadi saya ngeliat bayang-bayang di sekitar sini." "Mungkin cuma kucing, Pak. Kita harus patroli di sisi lain komplek juga." Terdengar beberapa langkah kaki di kejauhan, dan itu membuatku takut. Aku takut tertangkap. Jadi aku berbelok asal ke kiri dan terus mencari. "Robin, kamu di mana?" Tubuhku menggigil, entah karena dingin, atau karena paranoid. Dan lagi-lagi aku sadar bahwa ini adalah tindakan yang sangat bodoh. Aku keluar dari rumahku yang aman dan nyaman, mengambil resiko mendapatkan hukuman berat hanya demi menemui seorang kriminal. Langkahku memelan karena bimbang, tapi hatiku tetap ingin menemukannya. "Robin ...." Aku berbisik. "Robin, aku tak--" Lengan seseorang melingkari perutku dan sebelah tangannya membekap mulutku, tubuhku melayang, tertarik ke samping dengan cepat, sedetik sebelum para satpam komplek berbelok ke jalan itu. Aku tertelan pepohonan, menerobosnya hingga sampai di taman komplek yang sepi. Aku terduduk di rumput saat orang itu melepaskanku. Napasku terengah, dan aku sangat syok melihat mereka bertiga berdiri menjulang di hadapanku. Tiga cowok berpakaian serba hitam, bertudung dan memakai masker slayer. Entah kenapa, mereka terlihat sangat keren. Robin membungkuk di depanku sambil menyerahkan air minum. Aku mengenalinya karena warna rambut dan matanya. Selagi aku minum, Robin mengobati telapak kakiku. Tangannya terampil, dan dia memperlakukanku dengan lembut. "Kenapa di luar?" Suara Robin terendam slayer. Aku tersentak, baru sadar kalau dia juga menatapku. "A-aku pengen ketemu kamu. Udah lama kita gak ketemu. Apa kabar? Apa semuanya lancar?" Mereka bertiga menatapku seolah-olah akulah yang membuat situasi menjadi tidak lancar. Oke-oke, aku tahu apa yang harus kukatakan. "Maaf, ya." Ringisku. "Gak papa." kata Robin. Salah satu teman Robin memberikan sebuah isyarat yang tak kumengerti. Robin mengangguk, lalu kedua temannya berjalan menjauhi kami. Kini, aku dan Robin duduk berdampingan sambil memandangi taman. Kalau pagi atau siang, biasanya taman ini ramai oleh para pedagang dan orang-orang yang berolahraga. Sekarang taman ini begitu sepi, tapi terasa sejuk dan indah. Kuperhatikan Robin dari samping. Di mataku, dia terlihat sangat memukau. Entah karena keterampilannya, penampilannya yang misterius, atau tindakannya atas dasar kepedulian terhadap masyarakat. Aku sangat mengagumi Robin. Tapi aku juga menyadari betapa kosongnya mata itu memandang. Seperti matahari, berpijar, tapi kesepian. Robin menoleh. Aku membuang muka malu. "Robin," kataku, sambil memeluk lutut. "Kamu itu sebenernya siapa, sih? Apa kamu orang yang aku kenal?" Robin tidak menjawab. "Kamu tau, gak? Aku itu suka banget sama kamu dari awal kamu datang ke kamar aku." Ini memalukan, tapi aku tidak bisa menghentikannya. "Kamu kelihatan keren dengan semua tindakan kamu dan penampilan kamu." "Aku suka sama kamu," Aku kembali menatap Robin. "Bahkan tanpa aku perlu tau siapa kamu." Robin hanya menatapku tanpa menjawab. Aku tidak mengerti arti dari tatapannya. Sedih? Tapi, kenapa dia sedih? Aku baru hendak bertanya saat Robin bangkit dan berjalan melewatiku begitu saja. Aku ikut bangkit. "Tunggu, jangan pergi dulu!" Tapi langkah Robin semakin cepat. Aku mengejarnya dengan berlari. "Robin!" Aku tahu, jika aku tidak mengejarnya, aku pasti tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Aku mengulurkan tangan, berusaha meraih sesuatu, tapi kemudian Robin berbalik, aku menubruknya, dan kami berdua jatuh terjerembab di tanah. Robin mengerang. "Maaf!" Aku berusaha bangkit, tapi pergerakanku terhenti saat melihat wajahnya. Tudung Robin lepas, begitu pun slayer yang menutupi wajahnya. Ia menatapku kaget, dan mungkin wajahku tak kalah kaget lagi karena sosoknya yang sebenarnya. "Alexis?" Pekikku. "Minggirlah!" Alex mendorongku agar bisa bangun. "Apa yang--jadi, selama ini kamu? Alex--" Aku tidak tahu apa yang sebenarnya ingin kukatakan. Aku terlalu terkejut. Aku sangat syok. Bukan karena Robin Hood adalah Alexis, tapi karena aku ..., "Rob!" Temannya memanggil sambil beelari. "Apa yang terjadi?" Tapi, tunggu. Aku mengenal suara-suara ini. "John? Tj?" Mereka berpandangan, dengan lesu, salah satunya membuka penyamaran, ternyata itu memang John. "Maaf, Tammie." Aku menggeleng tak percaya. "Gimana bisa--" "Emangnya kenapa?" potong Alex, suaranya terdengar marah. Ia bangkit, dan menatapku dingin. "Kenapa lo sepanik itu? Lo nyesel, hah? Lo nyesel suka sama gue? Karena gue Alexis, lo gak mau suka sama gue?" Apa-apaan omongannya itu? Emosiku tersulut. Aku ikut berdiri dan menatapnya kesal. "Kamu apa-apaan, sih? Bukannya kamu yang gak suka sama aku?" kataku, "Aku suka sama kamu! Tapi kamu udah nolak aku 'kan?" "Apa maksud--" "Kamu nolak aku, Alex!" Jeritku. Gawat, air mataku keluar. Aku meledak. "Kamu pasti udah sadar sama perasaan aku. Tapi waktu itu, kamu bilang ke aku, kamu udah punya pacar ... Lucy 'kan? Karena itu aku pergi tiba-tiba. Itu menyakitkan buat aku ...." Alex diam, ekspresinya berubah menyesal. Aku sibuk menghapus air mataku, sementara perasaanku campur aduk. Aku malu dilihat menangis begini. Aku juga sakit hati karena Alexis. Aku benar-benar merasa bodoh, aku merasa dipermainkan oleh lingkaran perasaan ini. "Udahlah!" putusku. Lalu sebelum mereka sempat bertindak, aku berlari pulang.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
dah habis dah 😭😭.buat novel mcm ni lagi..
31/03/2022
0Keren 👍
14/06/2025
0baguss
22/03/2025
0Lihat Semua