Chapter 45

Tahun 2023
“Setelah hamil kamu makin cantik, Gis,” kata mama Aldo.
“Iya, dong, Ma. Kalau dia enggak cantik, ngapain aku sampai sujud-sujud di kaki Mama demi biar dikasih izin menikah?” balas Aldo.
Giska tersipu dipuji oleh mama mertuanya yang sebelumnya tidak merestui hubungan mereka. Giska tersenyum menunduk malu menatap tangannya yang sedang digenggam oleh beliau, memancarkan kehangatan dan pengertian. Membuat perempuan 26 tahun itu rindu pada mamanya yang telah lama wafat.
Tadi mereka mampir ke rumah besar ini karena Mama ingin memberikan satu set daging Wagyu hadiah dari kolega Papa. Semula Aldo tidak mau, tetapi kebetulan mereka dari acara bookfair di salah satu mall, dan Giska memaksa Aldo kemari agar Mama tidak marah.
“Udah, kamu di rumah aja, Gis, biar Aldo yang cari duit.” Mama melirik anak bungsunya, lalu kembali ke Giska. “Fokus aja ke kesehatan kamu, biar kandungan kamu enggak keguguran. Dia ini anak mama yang paling pinter. Jadi, sayang banget kalau gennya nggak diturunkan.”
“Iya, Ma.” Giska tersenyum, tetapi dalam hati dongkol.
Secara tidak langsung dituduh tidak sehat dan tidak pandai menjaga kesehatan, sehingga dia gampang keguguran. Namun, Giska memilih hanya mengangguk sopan daripada mendebat beliau. Aldo berdeham beberapa kali, memandang sekilas ke sang istri yang terlihat sedih. Terlihat ingin menyelamatkan Giska dari serangan tajam mulut Mama.
“Nanti dululah, Ma. Kami masih pengantin baru, masih anget-angetnya. Nggak usah buru-buru, cucu mama dari Ko Glen dan Ko Iwan udah banyak. Biarin aku sama Giska pacaran sampai puas.”
Mama melepas tangan Giska dan mengambil satu cangkir teh. “Ya, terserah kalian aja, Mama cuma mau ngingetin, Giska ini umurnya 26 mau ke 27 tahun dan sudah tidak muda lagi. Takutnya kalau hamil ketua’an nanti bayinya kenapa-kenapa,” tutur Mama santai, dilanjut menyesap minuman.
Aldo memutar mata. “Iya, deh, iya. Mama jangan khawatir.” Lalu tertawa hambar.
Giska menendang kaki Aldo, mereka juga saling memandang tajam karena berbeda pendapat. Kemudian keduanya pamit pergi karena takut terjebak macet, Mama melepas kepergian mobil Aldo sampai di gerbang. Beliau melambaikan tangan sambil tersenyum tipis. Giska memperhatikan sosoknya yang semakin kecil dari kaca spion.
Tiga bulan ini dia menjalani status baru sebagai istri Aldo, di dalam hati kecilnya masih ada keinginan untuk memiliki karier sendiri, tetapi ternyata mama mertuanya tipe orang yang cukup konservatif. Bagi beliau, wanita harus di rumah dan mengurus sang suami, karena urusan mencari uang adalah tugas Aldo.
Sore ini hujan gerimis, jalanan menjadi licin dan kendaraan bergerak pelan seperti siput. Giska melamun memandang ke luar, sementara Aldo fokus menyetir. Tidak ada suara lain di antara mereka selain lagu slow rock klasik Barat kesukaan Aldo. Barangkali, suaminya punya cita-cita menjadi rocker selain jurnalis.
Sesampainya di komplek perumahan mereka, Aldo keluar dan berlari kecil demi membuka gerbang. Baru kemudian menyetir lagi menuju halaman. Giska turun terlebih dahulu dan berjalan cepat menuju ke lantai dua.
Sementara itu, Aldo sibuk menutup kembali gerbang dan memasukkan mobil ke dalam garasi. Pria itu menyadari bahwa sang istri sedang dalam suasana hati yang buruk, dia tersenyum samar saat memasuki rumah sambil membawa semua makanan dan bingkisan dari Mama. Setelah menaruh daging ke freezer, Aldo berjalan menyusul ke kamar utama di lantai dua. Aldo tersenyum geli saat memijakkan kaki di sana, sedikit terkejut mendapati helai demi helai pakaian sang istri yang berserakan di lantai, arahnya menuju ke kamar mandi dalam. Aldo memungut satu per satu dan tidak bisa berhenti tersenyum.
“Gis, Gis, ngambekan,” gumam Aldo.
Dia menaruh pakaian Giska ke keranjang kotor di depan kamar mandi, terdengar suara shower yang cukup deras selagi Aldo melepas pakaiannya sendiri. Giska sedang marah dan Aldo tahu harus apa.
***
“Gis, jangan dipegang-pegang. Nanti kalau rusak, aku marah, loh.” Aldo tanpa menatap sang istri, masih fokus pada bermain game dari PS keluaran terbaru.
“Pelit,” gumam Giska. Dia mengambil salah satu action figure Iron Man dari lemari kaca, lalu dikembalikan setelah puas memandangi.
Mereka ada di ruangan santai yang terletak di lantai satu, tempat di mana Aldo biasa bermain game. Sejak lima belas menit lalu Giska melihat-lihat koleksi action figure milik sang suami, tiga bulan tinggal bersama dan Giska baru tertarik mengamati ratusan benda mahal itu dari dekat. Aldo pernah berkata, jika semua harga belinya dijumlahkan, maka bisa untuk membeli lima mobil baru.
Karena Aldo suka membaca buku, di rumah ini juga ada perpustakaan sekaligus ruang kerja. Giska heran, antara hobi membaca buku dan bermain game adalah dua hal yang kontras, tetapi Aldo pernah berkata, “Di ruang bermain aku adalah Aldo yang masih ABG dan suka main game, di perpustakaan aku adalah Aldo yang fokus dan serius.” Lalu meringis seperti anak kecil, Giska saat itu tergelak mendengar pernyataan aneh tersebut, seolah-olah Aldo ini punya kepribadian ganda.
Giska mendekat ke sofa, duduk di sisi Aldo dan bersandar pada bahu, menatap tidak mengerti pada game di depan mereka. Karena Giska hanya sekadar suka bermain game ringan, jadi, dia lebih memilih memandangi wajah suaminya.
“Dagingnya mau dimasak jadi apa? Udah aku taruh di freezer,” ucap Aldo sambil melirik sekilas.
“Nggak tahu, aku males masak. Kapan-kapan aja,” jawab Giska sambil mengusap-usap kumis Aldo.
Di luar masih gerimis, entah kapan hujan akan berhenti. Berat sekali rasanya setelah bertemu dengan mama Aldo, ucapannya menusuk ke relung hati Giska. Rasanya seperti sedang memperebutkan Aldo dengan ibu mertuanya. Dia tahu Aldo adalah anak kesayangan keluarganya, tetapi Mama seharusnya menyadari bahwa anak bungsunya ini telah menjadi suami seseorang, dan apa pun keputusan mereka berdua adalah privasi rumah tangga.
Giska memandangi jendela ruangan ini demi melihat bulir-bulir air yang membasahi pohon-pohon di luar. Sesekali mendesah panjang sambil memeluk Aldo, masih kesal walaupun satu jam yang lalu di-servise serta dicumbu habis-habisan oleh sang suami. Rongga dadanya masih panas membara, emosi memikirkan perkataan mamanya Aldo.
“Kok, makanannya belum datang, ya?” gerutu Giska.
Mereka tadi sepakat memesan makanan untuk dinner karena Giska malas memasak, Aldo pun juga bukan tipe orang yang bisa menyantap makanan sisa tadi pagi, padahal masih ada capcay dan ayam goreng. Pria itu hanya bisa makan masakan baru, jadi, Giska harus selalu memasak tiap kali Aldo lapar. Tuan Muda memang berbeda, cibir Giska suatu ketika.
“Sabar. Ini lagi hujan, Sayang,” balas Aldo, masih sibuk main game.

Komentar Buku (34)

  • avatar
    MlehoyArtaa

    hai saya mau sepeda listrik

    02/03/2024

      0
  • avatar
    ImoetWahyu

    bagus ceritannya

    26/01/2024

      0
  • avatar
    ArdianaYoga

    🥰🤩

    25/01/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru