Setelah kedatangan Chaca tadi pagi dan ia mengatakan semuanya pada mas Tyo,aku menjadi semakin simpati padanya. Ia mau mengakui kesalahannya di masa lampau dan ia mau menebus kesalahan kedua orang tuanya karena telah membuang darah dagingnya itu. Tak ku sangka Farzhana,gadis kecilku adalah seorang cucu dari konglomerat entah aku harus bahagia atau sedih dengan hal ini. Aku bahagia karena masa depan Zhana akan terjamin baik pendidikan maupun segala kebutuhannya. Sedangkan aku sedih seandainya zhata di ambil dariku. Aku belum siap harus berpisah dengan putri yang aku besarkan dengan penuh kasih sayang. "Assalamualaikum. Pak ,buk."sapa zhana. "Anak ibu sudah pulang. Kamu segeralah ganti baju dan makan,nak."kataku. "Nanti saja buk. Aku mau buat pesenan peyek untuk tokonya ci mini. Katanya tinggal sedikit buk."terangnya. "Zhana. Bagaimana kalau kita menggaji orang untuk membuat peyek? Bukankah usaha peyek kita sudah berkembang pesat? Supaya kamu nggak capek nak."kataku. "Bagus juga usul ibu. Kita bisa membantu perekonomian warga sekitar untuk memenuhi kebutuhannya ya buk."kata zhana antusias. "Sudah. Ganti baju dulu sana. Nanti kita bicarakan lagi."kata mas Tyo. "Kebetulan. Memang ada yang ingin aku tanyakan pada kalian."kata Zhana berubah serius. Kemudian Zhana berjalan menuju kamar. Sedangkan aku dan mas Tyo hanya saling pandang. Tak berapa lama Zhana sudah kembali membawa sepiring nasi dan sayur gudek kesukaannya. "Buk. Suapi aku ya."pintanya. Aku hanya mengangguk dan menahan agar air mata tak menetes.aku mulai menyuapinya dengan perlahan. " Ibu,kenapa nangis?"tanya zhana sembari mengusap pipiku. "Ibu terharu padamu,nak. Kamu berhasil memajukan usaha kita.apa jadinya bila ibu tanpamu."kataku terbawa emosi. "Buk. Kendalikan dirimu."kata mas Tyo sembariengenggam tanganku. "Ada apa buk?"tanya zhana. Aku masih terdiam. Sampai Zhana selesai makan baru aku akan menceritakan semuanya. "Nak. Maaf selama ini ibu dan bapak menyembunyikan semuanya darimu. Ibu pikirkanlagi adalah saat yang tepat kamu mengetahui semuanya. Usia kamu sudah 13 tahun,kamu tentu sudah bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi."kataku terhenti. "Katakan buk. Ada apa?"tanya zhana. "Kamu bukan putri kandung kami,nak. Waktu itu kamibelum di karuniai anak. Di saat usia pernikahan kami sudah memasuki5 tahun. Tanpa di duga ada orang yang meletakkan bayi di depan bengkel bapak. Dan kami mengasuhnya. Itulah kamu nak."kataku "Tapi percayalah. Kami menyayangimu seperti putri kami sendiri. Bahkan kamipun mendidiknya dengan sebaik mungkin.namun kini kami takut kehilanganmu nak."kataku dengan terus terisak. Mas Tyo hanya mampu mengusap pundaknya tanda memberi kekuatan. "Lalu siapa orang tua kandungku buk? Terimakasih sudah merawat kulit buk."kata zhana sembari memelukku. "Nak,dengarkan baik-baik cerita ibu.dari cerita ibu,kamu akan tau siapa orang tuamu. Bahkan bapak dan ibu baru mengetahuinya pagi ini."kataku zhana diam,dia terus menciumi tanganku menandakan ia sama sekali tidak marah. Malah ia semakin menyayangiku. "Dulu,ada seorang gadis remaja dengan pergaulan bebas dan hidup bebasnya.kemudian wanita itu hamil. Namun sang pacar tak menginginkannya. Pacarnya bersikeras untuk menggugurkan kandungannya. Gadis itu menolak. Begitupun dengan kedua orang tua gadis itu.karena mereka dari keluarga terpandang,tentu mereka malu memiliki anak yang hamil di luar nikah."terangku, "Namun gadis itupun bersikeras akan merawat anaknya. Akhirnya orangtuanya gadis itu memutuskan untuk mengasingkan anak-anak di sebuah villa hanya bersama pengasuhnya. Setelah bayi itu lahir kedua orang tuanya itu meminta sang pengasuh untuk membuang bayi yang baru lahir itu. Karena sang pengasuh tak tega maka ia meletakkannya di depan bengkel. Dan awalnya setiap hari pengaduk itu mengintai sang bayi. Memastikan keadaan sang bayi.kemudian menjadi seminggu sekali,sebulan sekali. Dan katanya sampai sekarangpun masih terus memantau perkembangan sang bayi yang sudah remaja itu. Kemudian pengasuh itu mengatakan pada ibu kandung sang bayi tentang keadaan putrinya,karena sang ibu kandung terus menerus mencarinya. Bahkan ibu itu menolah untuk di nikahkan. Karena hanya mau merawat bayi yang dulu ia lahiran." "Dan ia sangat bahagia setelah menemukanmu. Ia mencari cara agar bisa dekat denganmu. Kemudian ia membuat perjanjian dengan bapak. Kalau bapak harus menikah dengannya walau hanya setatus. Ia tak meminta cinta dari bapakmu. Ia hanya menginginkan cinta anaknya kembali."kataku. ."apakah,Tante Chaca ibuku?"tanya zhana. "Iya nak. Dia adalah ibu kandungku. Namun ibu minta,kamu jangan membencinya. Bukan keinginannya untuk menelantarkannya."terang suamiku. "Bapak benar nak. Tadi pagi Chaca datang ke rumah. Menjelaskan alasannya menikah dengan bapak. Dan kini ibu tak keberatan dengan itu."terangku. "Tapi tetap saja cara Tante Chaca salah. Bukan dengan memberikan luka seperti ini."berontak ya. "Sabar nak. Sudahlah. Toh semuanya sudah terjadi.".terangku. "Maafkan bapak. Bapak waktu itu hanya memikirkan biaya rumah sakit ibumu."kata mas Tyo sembari mengusap kepala zhana. "Pak,buk. Apakah aku masih boleh memanggil kalian bapak dan ibu? Apakah aku masih boleh tinggal dengan kalian."tanya zhana dengan tatapan penuh harapan. "Tentu sayang."kataku sembari memeluknya erat. "Sampai kapanpun kamu tetap putri kami nak. Takkan berubah."kata mas Tyo. "Terimakasih untuk semuanya."zhana kini menangis tersedu. Kini kami kembali menjalani hidup seperti sedia kala. Zhana tak lagi membahas tentang statusnya. Dan aku sibuk dengan usaha baruku. Kini rumah produksiku sudah semakin pesat. Bahkan sekarang memiliki lima karyawan bagian produksi dan pengemasan. Sementara untuk mengantarkan pesanan tetap di antar oleh mas Tyo kadang ada juga pembeli yang datang ke rumah. Beberapa Minggu terahir Chaca tak pernah datang ke rumah. Bahkan kami sampai lupa kalau aku memiliki madu Chaca. Sampai suatu siang,Chaca datang ke rumah. Saat itu aku sedang berada di dapur bersama para pekerjanya.mengetahui kedatangannya aku langsung beranjak menemuinya di ruang tamu. "Lama nggak keliatan Cha?"tanyaku. "Iya mbak. Ada beberapa urusan dan persiapan menyambut kalian di rumah."katanya. "Bagaimana keadaan mbak?"tanya Chaca. "Alhamdulilah. Membaik. Hanya bertambah tua dan badan cepet lelah."kataku sembari tersenyum. "Cha,aku dan mas Tyo sudah mengatakan semuanya pada Chaca. Di depanku Chaca tak mengatakan apapun. Marah atau benci. Dan diapun sudah tau kalau kamu ibu kandungnya."terangku. "Terimakasih mbak. Apa mbak sekeluarga bersedia ikut tinggal di rumahku?"tanyanya. "Terus terang kalau aku keberatan,Cha. Aku baru saja meringis usaha. Masa mau di tinggal ?"terangku. "Nanti mbak bisa setiap hari kesini mbak."terangnya. "Nanti aku pikirkan dulu."kataku. "Aku rasa zhana bersedia tinggal di sana kalau bersama mbak dan mas Tyo."pinta Chaca. "Lebih baik kamu bicara dulu dengan Chaca. Nanti apa pendapat dia."kataku. "Baik mbak. Kalau begitu aku Palit dulu mbak."katanya. "Hati-hati."kataku.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (150)
2024Flora
bagus
07/08
0
Angga Patwal
binta 5
08/06
0
Fa Rhma
Sebenernya ceritanya bagus,tapi banyak minusnya,banyak banget typo dalam penulisan, seharusnya diteliti lagi sebelum diterbitkan.
bagus
07/08
0binta 5
08/06
0Sebenernya ceritanya bagus,tapi banyak minusnya,banyak banget typo dalam penulisan, seharusnya diteliti lagi sebelum diterbitkan.
23/05
0Lihat Semua