POV Chaca2

aat sampai di rumah pertama orang yang aku temui adalah mbok Jum.
"Mbok,apa mbok sibuk?"tanyaku seraya memeluk mbok Jum,saat aku dapati mbok Jum sedang menyiapkan makan malam.
"Kenapa neng? Pengantin baru kok murung." Goda mbok Jum.
"Mbok,aku masuk dulu ya,nanti setelah itu aku akan menanyakan banyak hal pada mbok."terangku sembari melepas pelukanku dan berjalan ke kamarku.
Setelah aku membersihkan tubuh,aku kembali ke meja makan untuk makan malam dan membicarakan masalah anak yang dulu sempat aku lahiran.
"Mbok udah makan?"tanyaku pada mbok saat aku sudah berada di meja makan.
"Belum neng."jawabnya.
"Ya udah. Ayo,makan bareng mbok."ajakku.
Kemudian kami makan bersama. Selama makan aku masih tak mau berbicara tentang hal itu. Baru setelah aku selesai makan malam akan membahasnya.
"Mbok. Setelah selesai beres-beres kekamarku ya mbok."titahku.
"Baik neng."jawabnya
Aku kembali ke kamar dengan perasaan gelisah. Tak berapa lama mbokjum masuk ke kamarku
"Ada apa neng?"tanya mbok.
"Mbok,tadi aku sudah mengatakan yang sebenarnya tentang siapa Zhana,dan mbak lastri berpikiran kalau aku ingin mengambil zhana darinya. Padahal yang sebenarnya aku akan mengambil mereka. Sebagai tanda terima kasihku telah menjaga anakku,maka aku akan menjamin kehidupan mereka. Namun mereka salah sangka mbok."terangku panjang lebar.
"Sabar,neng. Semua itu memang berat bagi mereka. Neng harus sabar dan terus berdoa. Bagaimanapun kalau mereka memang orang baik tentu tak akan memisahkan anak dan ibu." Nasehat mbok.
Tapi mas Tyo dan Zhana belum mengetahuinya mbok. Rencananya mereka akan aku boyong ke sini mbok."kataku.
"Itu bagus neng. Tapi neng harus cerita dulu sama pak Tyo dan Zhana. Biar mereka tau kalau rumah ini juga rumah mereka."kata mbok.
"Iya mbok besuk aku akan ke rumah mas Tyo lagi untuk mengatakan semuanya. Semoga mereka tak marah dan masih mau menerima aku. Makasih mbok sudah mau mendengarkan ceritaku."kataku.
"Sama-sama neng. Sudah sekarang istirahat dulu neng."katanya.
Aku hanya menganggukan kepala. Mbokjum kemudian beranjak dari duduknya dan ia berpamitan untuk kembali ke kamarnya. malam ini aku tidur dengan tenang,aku berdoa semoga permasalah ini segera selesai dan hubunganku dengan keluarga mas Tyo baik-baik saja. Aku hanya ingin menghabiskan masa tuaku bersama anakku,zhana.
Pagi harinya aku kembali berkunjung ke rumah Zhana namun zhana sudah berangkat sekolah dan aku hanya mendapati mbak lastri dan mas Tyo. Mereka menyambutAku dengan biasa.
"Mbak,sepertinya aku harus mengatakan pada mas Tyo apa yang aku ceritakan kemarin pada mbak."kataku.
"Baik,katakan saja. Biar mas Tyo tau. Kalau perlu kamu juga harus berbicara pada zhana tentang semuanya. Agar dia tak salah sangka padamu."kata mbak lastri Dengan nada yang sudah biasa tanpa tekanan dan emosi.
"Ada apa ini" tanya mas Tyo.
Kemudian aku mulai menceritakan apa yang aku alami semasa muda.dan akupun menceritakan kalau Zhana sebenarnya adalah putriku yang dulu mbok Jum letakkan di depan bengkel mas Tyo.
Mas Tyo menganggukan kepala ketika aku selesai bercerita.
"Buk,semua yang Chaca katakan itu memang benar adanya. Olah yang dulu kita alami. Kita lama menikah tapi belum di karuniai seorang anak. Kemudian kamu menemukan bayi di depan bengkel waktu itu."terang mas Tyo.
"Iya pak. Kemarin Chaca cerita sama ibu. Dan semalam ibu memikirkan semua itu dengan masak-masak."kata mbak lastri.
"Karena anak adalah titipan,mungkin zhana memang titipan untuk kita pak. Dan kita akan mengembalikan kepada yang lebih berhak."sambungnya.
"Betul buk. Nanti kita bicara pelan-pelan dengan Zhana."kataas Tyo.
"Kalian salah. Justru aku akan mengambil kalian bertiga,kalau aku mengambil Zhana saja tentu ia akan sedih berpisah dengan kalian. Karena kalianlah yang sudah merawat,menjaga dan mendidiknya."tuturku.
Kami bertiga sama-sama menitihkan air mata. 'zhana,lihatlah,kami bertiga. Orang-orang yang sangat cinta dan menyayangi kamu nak.'batinku.
Aku sangat lega mengetahui mas Tyo dan mbak lastri mendukungku dan mereka sudah tak marah padaku.
"Mbak Lastri dan mas Tyo kapan bisa pindah ke rumahku?"tanyaku.
" Belum tau,mungkin nanti kita berkumpul bicara pada Zhana terlebih dahulu."kata mas Tyo.
"Baik kalau begitu. Mas,mbak, aku pamit dulu."kataku.
"Baik. Nanti setelah zhana pulang kami akan membicarakan hal ini dengannya ."terang mas Tyo.
" Baik mas."kataku.
Kemudian aku beranjak dari sofa dan aku berjalan menuju mobil yang aku parkiran di halaman rumah mas Tyo. Aku melajukan mobil menuju kantor. Pikiranku sedikit lebih lega setelah mengatakan semuanya kepada mastyo. Aku hanya perlu menunggu tanggapan dan respon zhana terhadap semua ini.
Sesampainya di kantor aku mendapat telpon dari mama yang berada di Australia ,ia masih ingin mencarikan jodoh untukku.
"Halo sayang."siapanya.
"Halo ma. Ada apakah?"tanyaku.
"Sayang. Ada temen mama dan anaknya yang ingin berkenalan denganmu,Mak."katanya.
"Ma,please. Chaca sudah capek. Chaca sudah menikah. Kalau mama tak percaya tanya mbok Jum."terangku.
"Kamu menikah?kapan?dengan siapa? Kok nggak kabari mama."omelnya.
"Karena aku tau. Mama nggak akan menyetujuinya."jawabku.
"Kenapa bisa begitu?"tanya mama.
"Aku menikah dengan. Suami orang,dan ia memiliki anak berusia 13 tahun. Dan anak itu anak kandungku."terangku.
."aduh. Mama pusing. Jelaskan yang bener."pinta mama.
"Aku nggak sempet ma. Di kantor banyak kerjaan yang numpuk. Kalau mama pengen tau cerita detailnya mama pulanglah."jawabku sembari mematikan sambungan telpon.
Mamaku memang selalu lebih mementingkan menjaga adiknya di banding menemani perkembangan ku. Sejak papa meninggal,mama pergi ke Australia dan aku hanya di tinggal begitu saja. Untung ada mbok Jum yang selalu ada untukku.

Komentar Buku (150)

  • avatar
    2024Flora

    bagus

    07/08

      0
  • avatar
    Angga Patwal

    binta 5

    08/06

      0
  • avatar
    Fa Rhma

    Sebenernya ceritanya bagus,tapi banyak minusnya,banyak banget typo dalam penulisan, seharusnya diteliti lagi sebelum diterbitkan.

    23/05

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru