logo text

30. Kemarahan Fory

Mana Fuji, Ma? Manaaaaa???” Fory berteriak di depan wajah Bu Enita dengan nafas memburu. Bu Enita yang sedang memegang gelas minuman, terkejut setengah mati, membuat gelas dalam genggamannya terlepas dan pecah berantakan di lantai. Bu Enita memegang dadanya.
“FORY? Kamu kenapa, nak? Kenapa berteriak begitu?” Bu Enita memandang wajah Fory yang merah beringas. Namun mata anaknya itu berkaca-kaca.
“Mama… Kenapa? Kenapa tidak cerita ke Fory mengenai Fuji? Kenapa, Ma?” Fory memegang bahu Bu Enita erat. Kata-kata Fory membuat kerut di kening Bu Enita.
“Maksud kamu apa, nak? Mama tidak mengerti!”
“Halah, semuanya pada pembohong. Semuanya serba pura-pura! Ya udah, kalau Mama tidak mau memberi tahu, Fory akan cari tahu sendiri! Fuji….Fuji..!!!” Fory meninggalkan Bu Enita dan langsung berbalik menuju kamarnya Fuji. Begitu dia masuk, dilihatnya saudaranya itu sedang berbaring di kasur, tanpa baju menutupi tubuhnya.
“Heh, Kingkong! Bangun lo!!!” Fory langsung menarik tangan Fuji dengan keras, membuat Fuji terkejut dan tersentak dari tidurnya.
“Apaan sih , Nyet! Ganggu orang tidur aja lo!!!” Fuji bangun dengan malas-malasan. Dia mengucek-ngucek kedua matanya.
“Bilang ke gue, kalau apa yang di omongin Randi itu tidak benar! Bilang semua yang dikatakannya itu fitnah! Bilang ke gue, kalo lo bukan HOMO!!!” kata-kata Fory yang tiba-tiba membuat gerakan tangan Fuji yang sedang mengucek matanya terhenti. Wajahnya langsung pucat. Dia menatap wajah Fory yang penuh dengan kemarahan.
“Lo…lo ngomong apa sih Nyet? Gue kaga’ ngerti maksud lo?” Fuji berusaha menekan debaran jantungnya yang tiba-tiba. Sementara Bu Enita yang hampir memasuki kamar Fuji terhenti begitu mendengar kata-kata Fory. Dadanya pun sesak. Dia mendengar dari balik pintu apa yang akan terjadi di antara kedua anaknya itu.
“Kalung ini!”Fory membetot putus kalung yang terpasang di lehernya. Dia memperlihatkan kalung tersebut ke Fuji. Fuji wajahnya semakin tidak berdarah. “Bilang ke gue, Ji kalo lo bukan homo, bilang ke gue kalo lo ga’ seperti yang diceritain Randi!”
“Rand…Randi?, Lo bertemu Randi?” seribu kenangan berkelebat di pikiran Fuji. Wajah Yugi, wajah Randi, bergantian di alam pikirannya, “Bagaimana…bagaimana lo bisa kenal dia?” kepanikan mulai menguasai jiwa Fuji.
“Jawab pertanyaan gue, Kong!!!” Fory makin histeris, dia mengguncang-guncang bahu Fuji. Fuji diam, membisu, matanya berkaca-kaca.
“Yah! Gue Homo! Puas lo?”Fuji menatap wajah Fory dengan tatapan pedih. Butiran air matanya menggelinding di pipinya yang halus. Fory sesaat merasakan bumi yang dipijaknya seakan-akan berhenti berputar. Dia memandang wajah Fuji dengan rasa tidak percaya.
“Bag…bagaimana bisa? Saudara gue? Abang gue? Homo?” Fory merasakan tulang kakinya lemas. Dia terduduk di lantai. Telapak tangannya dia gunakan menutupi wajahnya. Kenyataan ini terlalu pahit baginya. Bu Enita yang mendengar langsung pengakuan Fuji menangis. Dia pun terduduk di lantai, hatinya menangis pilu. Bagai manapun, ini semua salahnya. Dia telah memisahkan Fuji dan Fory begitu lama. Fuji kesepian, Fuji tidak ada teman bermain, fisiknya tidak sekuat anak-anak lainnya diwaktu dia tumbuh. Oh Tuhan, berikanlah kebahagiaan kepada anak-anak hamba, do’a Bu Enita melantun di nuraninya yang paling suci.
“Gue tahu, suatu saat, lambat laun lo bakalan tahu rahasia gue, Fo. Kini terserah lo mau nganggap gue apa. Menjijikkan, mengerikan bahkan lebih kotor dari kotoran itu sendiri. Inilah gue, Fo. Saudara kembar lo! Kembaran yang terlalu lama lo tinggalin sendiri. Ketika gue rapuh, ketika gue lemah, lo dimana? Tidak ada yang mau berteman dengan anak berpenyakitan seperti gue. Sampai-sampai mama dan papa harus membuang gue ke kampung hanya supaya lo tidak lemah seperti gue! Tapi gue sadar, Fo! Kalo gue tidak ingin dipisahkan selamanya dari lo! Gue harus sehat, gue harus kuat. Sampai akhirnya gue berjuang di atas kaki gue sendiri! Gue pasti bisa sembuh, gue pasti bisa kuat! Dan gue berhasil, gua tidak jauh kalah sehat dari lo Fo” Fuji menangis sesenggukan di depan Fory yang terduduk diam.
Dia pun bersimpuh di depan Fory. Fory menghapus air mata yang tadi sempat bergenang di matanya. Dia menatap wajah Fuji. Wajah yang menunjukkan ketegaran. Mata Fuji, selama ini tidak begitu dia perhatikan, terlihat penuh luka.
Belum sempat Fory meladeni kata-kata Fuji, Bu Enita sudah melangkah setengah berlari. Memburu tubuh Fuji, merangkulnya dan memeluknya dengan erat.
“Maafin mama, nak! Maafin mama!” Bu Enita menangis terisak-isak di leher Fuji, “Mama dan Papa tidak ada niat untuk membuangmu. Cuma hanya dengan begitu agar fisikmu kuat. Agar jiwamu sehat nak!”
“Sudah Ma, itu semua sudah berlalu! Sekarang Mama sudah tahu bagaimana Fuji. Inilah Fuji, apa Mama malu punya anak seperti Fuji?” Bu Enita main mengeratkan pelukannya.
“Mama tidak akan pernah malu. Mama bangga sama kalian berdua! Mama bangga!”
Fory tidak tahan melihat keharuan antara mamanya dan Fuuji. Dengan cepat dia berdiri dan keluar dari kamar. Baginya ini masih tidak masuk di akal. Dia belum bisa menerima kenyataan ini. bagaimana mungkin Fuji bisa jadi homo? Tidak, ini salah, ini gila! Aku tidak percaya dengan semua ini.
“FORY!” Bu Enita berteriak memanggil Fory yang berlari keluar kamar.
“Biarkan saja, Ma. Mungkin dia belum bisa menerima kenyataan ini!” Fuji berbisik dengan lirih.

Komentar Buku (36)

  • avatar
    AbibAbib

    ini enak bisa ditonton

    26/11

      0
  • avatar
    ffPutryy

    bagus novelnya

    11/11

      0
  • avatar
    Nurul Huda

    seruuu

    03/10

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru