Beranda/Inikah Takdirku???/
Bab 36 Dibantu sama Paraji ( Dukun Beranak)
Dibantu sama Paraji ( dukun beranak)
Kenanga merasakan perutnya sangat mulas sekali. Rasa mulas yang baru saja dia rasakan selama hidupnya. Dia berjuang untuk melahirkan bayinya dari dalam kandungannya.
Keringat sudah membanjiri seluruh wajahnya.
Anjar terus mengelus-elus punggungnya dengan lembut.
"Jangan begitu ngelusnya! " bentak Kenanga meluapkan rada kesalnya.
"Begini! " Bentak Kenanga sambil matanya melotot kepada Anjar.
"Aduuuh, sakit! Ini semua karena kamu! " Kenanga menjambak rambutnya Anjar, hingga sedikit rambutnya terlepas.
"Kang, sakit sekali! " Kini dia menggigit lengan suaminya.
Setelah itu dia menyakar wajahnya Anjar dengan jari tangannya.
"Aduh, neng, sakit, " Anjar berucap sambil mengelus lengannya.
"Aku lebih sakit dari kamu, tahu!"
Bentak Kenanga hingga membuat mak Odah dan bu Mirna tersenyum.
"Aduuuuh... Sakiiit sekali mak," Ujar Kenanga lirih.
"Sabar sayang, tinggal mengejan yang kuat bayimu pasti langsung terlahir. Itu... Kepalanya sudah nongol tinggal kau dorong, sini emak bantu dorong. Ingat!... Bokongnya jangan di angkat waktu kau mengejan ya, biar tidak robek, " Mak Odah menyarankan dengan penuh kasih sayang.
"Euuuuugh... Aduuuuh... " Kenanga mengejan dan mengaduh kesakitan.
"Eueuh, aduuuh! " Teriak Kenanga lagi. Kini kedua tangannya menjambak rambutnya Anjar lagi.
Anjar hanya pasrah tak bisa berbuat apa-apa.
"Sakit hatiku waktu kau telantarkan, lebih sakit dari rambutmu yang ku jambak kini, ini tidak seberapa, rasakan sontoloyo! " Batin Kenanga, dia sengaja menjambak rambutnya Anjar, lalu mencakar tangannya hingga terlihat bekas kuku- kukunya Kenanga di sana.
Dia pun lalu menggigit lengannya Anjar dengan kesal.
"Sabar ya, waktu isteri melahirkan, memang suka menjambak rambut suaminya, itu tengah mengekpresikan perasaan sakitnya, ikuti saja, tidak akan lama, tidak sesakit perempuan yang melahirkan, " Ma Odah sepertinya tahu kalau Kenanga menyimpan dendam kepada suaminya.
"Iya mak, " sahut Anjar sambil meringis menahan sakit.
"Elus-elus punggungnya! " Bentak Kenanga lagi, ketika tahu tangan suaminya berhenti mengelus.
"Iya, iya neng, " Anjar segera mengelus-elus punggungnya Kenanga sesuai perintah.
Kenanga tersenyum merasa senang karena telah bisa membayar sedikit kekesalannya yang selama ini dia pendam di dalam hati.
Kenanga beserta keluarganya terus melafalkan do'anya Nabi Yunus secara berulang-ulang. Mereka berharap agar Kenanga melahirkan dengan lancar dan selamat serta sehat, baik bayinya dan juga Kenanganya.
"Ibuuu... Ma'afkan Kenanga buu..." Ucapnya lirih.
"Iya sayang... Sudah jangan banyak pikiran, kamu harus fokus supaya bayimu lahir sehat dan selamat, begitu juga dengan dirimu nak, " Bu Mirna mengelus lembut rambut Kenanga.
"Anjar, coba kau lihat selokan di depan sana. Kalau ada yang mampet, segera singkirkan sampah atau apapun yang jadi penyumbatnya. Biar isterimu melahirkannya lancar, " Saran bu Mirna.
Anjarpun menganggukkan kepalanya, dan segera beranjak keluar untuk menjalankan saran dari mertuanya.
"Neng... Apakah ada yang mengganjal di dalam hatimu?... Coba sekarang bebaskan dulu biar lancar bayimu lahir, " Ucap mak Odah sambil menatap wajahnya Kenanga dengan lembut.
"Iya nak, kamu kan pernah bilang ingin punya anak laki-laki. Biasanya kalau yang di dalam kandunganmu itu bukan bayi laki-laki, biasanya bayi itu suka agak susah untuk keluarnya. Kata orang tua dulu bayinya jadi takut enggak di akui. Karena itu cobalah bebaskan mau bayi laki-laki atau bayi perempuan, yang penting lahir dengan selamat dan sehat serta soleh, begitu pula dengan ibunya, " Bu Mirna mengingatkan kepada Kenanga.
"Iya neng, coba neng turuti apa kata ibumu barusan, " Ujar Mak Odah pula.
"Eh iya... Aku pernah dengar kamu mengatakannya, " Anjar juga mengingatkan Isterinya.
"Iya... " Kenanga menjawabnya dengan lemah.
Diapun bergumam sendiri menirukan apa yang di ucapkan oleh ibunya tadi.
Setelah selesai bergumam, Kenanga mengejan kembali.
"Euuuuugh.... Euuuuugh...." Kenanga mengejan lagi sekuat tenaga.
Dan...
"Euuuuugh.... " Lanjut Kenanga lagi.
"Oaaa.... Oaaaa..." Suara tangis bayi terdengar nyaring Setelah Kenanga mengejan untuk yang ketiga kalinya.
"Alhamdulilahirabilalamin.... Terimakasih ya Allah..." Bu Mirna dan mak Odah serta Anjarpun terdengar mengucapkan syukur.
"Emmmh... Terimakasih ya Allah... Alhamdulilahirabilalamin," Kenanga menarik nafas dalam-dalam. Beban berat yang tadi membebani hatinya, kini hilang sudah tergantikan oleh segunung kebahagiaan yang datang menyapa jiwa.
Kenanga tersenyum bahagia.
"Kang, Coba lihat bayinya, aku takut dia cacat seperti yang di katakan oleh dokter kandungan itu.
"Alhamdulillah... Normal neng. Sama sekali tidak cacat. Dia sangat cantik dengan kulit yang putih mulus bercahaya neng, "' Ucap Anjar penuh bahagia.
"Alhamdulillah ya Allah... Kamu sekarang sudah jadi seorang ibu. Bayinya perempuan neng, cantik, putih dan mulus tidak ada cacatnya. Nanti di susuin ya neng dengan Asi, jangan di kasih susu sapi dulu kasihan, " Mak Odah memberikan arahan kepada Kenanga yang baru saja menjadi seorang ibu.
"Iya mak... Terimakasih mak Odah sudah menolong aku. Kalau saja emak tidak bersedia menolong persalinanku ini, apa jadinya?... Aku tidak bisa membayangkannya. Uhk... Uhk... Lima orang bidan sudah ku mintai pertolongannya. Namun, satupun tidak ada yang bersedia untuk menolongku. Emak... Aku berhutang nyawa kepada emak. Terimakasih beribu bahkan berjuta terimakasih aku ucapkan emak,"
Ujar Kenanga. Dia menangis karena merasa terharu.
"Sudah... Jangan berkata begitu. Itu sudah menjadi kewajiban emak sebagai paraji. Jangan banyak pikiran, melihat neng dan bayinya selamat dan sehat juga, emak sudah merasa bahagia emak merasa sangat senang sekali, " Sahut mak Odah.
*
Dua minggu setelah Kenanga melahirkan.
Anjar berniat ingin mengabarkan berita gembira ini kepada ibunya dan saudaranya, karena bapaknya Anjar sudah meninggal waktu Anjar masih kecil.
"Aku mau mengabarkan berita bahagia ini kepada ibuku dan juga saudaraku ya neng, " Sore itu kata Anjar kepada Kenanga yang tengah menyusui bayi perempuannya.
"Boleh... Kapan akan ke sana?" Kenanga sudah tidak sabar dia ingin bertemu dengan Mertuanya.
Dia ingin segera mempertemukan bayi mungilnya itu dengan neneknya.
"Besok pagi aku berangkat ya," Anjar juga terlihat sangat senang.
Keesokkan harinya Anjar berangkat mau menemui ibu dan saudaranya.
Setelah tiba di rumah ibunya, dengan wajah yang bahagia Anjar mengatakan bahwa Isterinya sudah melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik.
Angannya berharap ibunya akan segera berangkat untuk menengoknya.
Untuk bertemu dan menyambut kelahirannya sang cucu perempuannya.
"Kapan ibu mau ke sana, menemui cucu ibu?" Anjar begitu percaya diri kalau ibunya pasti akan menyambut kelahiran cucunya itu.
Dengan wajah yang berbinar penuh dengan berjuta pengharapan.
Namun ternyata jawaban ibunya tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan.
"Ibu tidak akan pergi ke sana. Ini saja bawa untuk isteri dan anakmu, " Jawaban ibunya terasa sangat menyakitkan hatinya.
Anjar tidak bisa membujuknya ataupun memaksa ibunya untuk pergi bersamanya menemui cucu dan menantunya yang baru saja habis melahirkan.
"Kalau begitu, aku mau pulang lagi ke sana, " Ucap Anjar dengan nada suara yang kecewa.
Nampak terlihat jelas di matanya rasa kecewa itu.
Dengan langkahnya yang lunglai Anjar
pulang kembali ke rumah mertuanya, dimana isteri dan anaknya berada.
Sebelum sore Anjar sudah berada lagi di rumah mertuanya.
" Kau sudah pulang?... Mana ibu sama yang lainnya?" Kenanga begitu antusiasnya menanyakan ibu mertuanya.
Anjar menggelengkan kepalanya sambil terduduk lesu.
Kemudian Anjar memberikan bungkusan plastik kecil dan uang senilai seratus ribu rupiah kepada Kenanga.
"Ini apa, mas?" Kenanga menerima bungkusan yang di berikan oleh suaminya itu.
"Ibuku enggak bisa datang, ibu memberikan ini untuk kamu dan bayi kita yang cantik ini, " Sahut Anjar mencoba untuk tersenyum, dia berharap bisa mengurangi kekesalannya Kenanga.
"Bilangin terimakasih sama ibu" Ucap Kenanga dengan hati sedikit kecewa.
"Dua tahun yang lalu sa'at acara pernikahan aku dengan suamiku ini, ibu mertuaku tidak bisa hadir dengan berbagai alasan. Kini cucunya lahir, masih tidak bisa datang juga. Sebenarnya aku ini di anggap menantu atau tidak ya oleh ibu mertuaku itu?" Kenanga bergumam sendiri.
"Aku tahu pasti kamu merasa sedih dengan kenyataan ini. Tapi, bagaimana lagi?... Aku tidak bisa memaksanya untuk datang ke sini menengok bayi kita ini " Rupanya Anjar mengerti apa yang tengah berkecamuk di dalam hatinya.
"Biarin enggak apa-apa, aku sadar karena aku bukan siapa-siapa makanya ibu tidak ke sini juga. Aku dan bayi kita itu tidaklah penting " Setetes air mata bergulir di pipinya.
Kesedihan begitu setia menyapanya.
Sakit hati terlalu lekat dalam kehidupannya.
Kenanga tak bisa menahan cucuran air mata yang terus bergulir di kedua pipinya.
Untuk ke sekian kalinya Kenanga mencucurkan bulir-bulir bening dari kedua matanya.
Kenanga tak berkata apa-apa lagi.
Angannya melayang jauh di awan terombang-ambing oleh perasaan yang tak karuan.
Setitik penyesalan mulai menghiasi hatinya.
Sebongkah rasa kecewa mulai bersemayam di dalam dadanya.
"Oaaa... Oaaa..." Bayi cantik yang tertidur lelap di samping Kenanga terbangun dan menangis.
Kenanga segera bangun dan kemudian dia duduk di samping tempat tidur.
Diperiksanya buah hatinya itu dengan lembut.
"Pipis..." Gumamnya sambil mengganti popoknya yang basah.
"Mau mimi cucu ya?... Ayo sayang mimi cucu yang kenyang ya, lalu tidur yang lelap biar cepat besar, " Ucap Kenanga berbincang dengan permata hatinya.
Bayi cantik itu berhenti menangis.
Mata hitamnya memandangi wajah Kenanga lalu bibir mungilnya tersenyum sebelum dia menyusu pada ibunya.
Sedangkan Anjar sama sekali tidak terbangun dengan suara tangisannya
bayi mungil dan cantik itu.
BersambungUnduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (109)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
baguus
26/04/2025
0Mantap
24/11/2024
0suka banget
13/09/2024
0Lihat Semua