7. Amanda

((Aldy POV))
Seorang gadis cantik berkulit putih, berambut panjang ikal, sedang menatapku dingin dengan kedua mata indahnya. Tatapan dingin itu justru membuat jantungku berdebar-debar.
Ada apa ini sebenarnya? Bahkan aku tidak tahu siapa gadis itu? Apa salah satu murid di kelas itu juga kah?
"Siapa lo?" tanya gadis itu dengan sinis dan jutek. Menatapku dengan tatapan tidak suka.
Aku tidak bisa mengatakan apa-apa.
"Ngapain lo duduk di bangku gue? MINGGIR LO!"
Gadis itu sambil menarik tanganku dan mendorongku dengan kasar. Kemudian dia dengan santainya menduduki bangku yang tadi aku duduki.
Aku masih kebingungan dengan sikap gadis itu. Mungkin dia marah karena bangkunya aku duduki, tapi apa perlu sampai semarah itu? Saat aku menatap Benny meminta penjelasan, Benny hanya mengatakan sesuatu yang tidak bisa aku dengar, dan aku hanya bisa membaca lewat gerak bibirnya saja.
Minggir aja. Minggir aja. Kira-kira seperti itulah yang berusaha Benny katakan.
"AMANDA! AMANDA!"
Datang lagi seorang cewek yang lain dan saat melihatku, dia juga tampak kaget dan tidak mengenaliku. "Lho? Siapa nih?"
Aku baru saja mau memperkenalkan diriku tapi bel tiba-tiba berbunyi dan membuatku harus menunda rencanaku itu.
Semua murid tiba-tiba berhamburan masuk ke dalam kelas dengan tergesa-gesa menuju bangku mereka masing-masing, begitu juga dengan gadis yang baru saja datang itu. Dia duduk di sisi yang lain dari... Amanda kah namanya? Kedua gadis itu duduk sebangku.
"Al, sini!" Benny menarik lenganku dan mengajakku ke bangku nomor dua dari depan.
"Eh, lo pindah sana ke depan! Gue mau duduk di sini nih, sama temen baru gue." Benny mengusir temannya yang duduk di bangku itu, dan mereka pun menurut dengan pindah ke belakang.
"Ayo kita duduk di sini aja," ajak Benny.
Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku saja.
"Kita duduk di sini aja. Kalo duduk di depan nggak enak, kalo ketiduran gampang dilihatin sama guru. Enakan di sini ya," celotehnya terus-menerus.
Sebelum aku menjawab kata-kata Benny, tiba-tiba terdengar sapaan ramah dan lemah gemulai dari seseorang yang masuk ke dalam kelas.
"Selamat pagi semuanyaaaaaaa!" sapa seorang guru wanita yang cantik dengan gaya centilnya dan jalannya yang lenggak-lenggok layaknya Miss Universe. "Bu Lela sudah datang loh," ujarnya dengan nada yang nggak biasa.
Aku baru lihat sekarang ada guru yang masuk dengan sapaan unik seperti itu.
"Pagi, Buuuuu!" sahut semua murid serentak.
Bu Lela meletakkan setumpuk buku di mejanya lalu mengedarkan pandangannya ke semua muridnya. Dan berhenti di tempatku. Sepertinya dia sedang mencari keberadaanku tadi.
"Oh, itu dia," kata Bu Lela dengan bahagia seperti baru menemukan segepok uang. "Kamu yang di sana." Dia menunjuk tepat ke arahku. "Ayo sini, maju ke depan."
Mau tidak mau aku harus maju ke depan. Aku tahu mempunyai kewajiban untuk memperkenalkan diriku di hari pertama masuk sekolah, dan sekarang lah saatnya.
"Ibu sudah mencari-cari kamu tadi, Aldy. Eh, nggak tahunya kamu sudah berada di kelas kamu?" kata Bu Lela dengan ramah dan senyuman memukau.
"Maaf, Bu. Sudah merepotkan," kataku tidak enak hati.
Bayangkan saja, di hari pertama masuk sekolah sudah membuat repot guru. Aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu.
Aku berjalan ke depan kelas dan berdiri di sebelah guru cantik itu.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Ibu senang kamu sudah bisa menyesuaikan diri dengan sekolah baru kamu."
Aku hanya tersenyum.
Baiklah anak-anak semuanya!" Bu Lela menghadap ke semua muridnya. "Seperti yang kalian tahu, hari ini kalian kedatangan teman baru. Pastinya tadi kalian sudah berkenalan kan, dengan Aldy? Tapi juga Ibu yakin ada beberapa yang belum sempat berkenalan, karena itu sekarang ini Aldy akan memperkenalkan dirinya kepada kalian di depan kelas. Apa kamu setuju, Aldy?" tanya Bu Lela padaku.
"Iya, Bu. Saya tidak keberatan."
"Silahkan."
Aku memutar tubuhku menghadap ke arah semua teman-temanku yang duduk rapi di bangkunya masing-masing, menatap ke arahku menungguku memperkenalkan diriku lagi.
Aku sempat mengedarkan pandanganku ke seluruh teman-temanku di kelas, Benny senyam-senyum melihatku, sedangkan... gadis yang bernama Amanda itu justru kelihatan cuek dan tidak mau menatapku sama sekali. Dia sibuk dengan kegiatannya sendiri mencoret-coret bukunya.
Apa dia tidak suka padaku? Lalu aku pun memulai untuk memperkenalkan diriku di depan kelas.
*
Saat bel istirahat berbunyi, Amanda buru-buru bangkit dari bangkunya dan berjalan keluar kelas tanpa mempedulikan sahabatnya yang memanggil-manggil dia.
"Amanda! Amanda, tunggu dong!" Dia berlari mengejar Amanda.
Aku yang melihatnya hanya bisa bertanya-tanya dalam hati. Sebenarnya ada apa dengan gadis itu? Sikapnya aneh sekali sejak tadi pagi? Atau memang dia selalu seperti itu? Entahlah.
"WOI!" 
Tepukan keras di pundak mengagetkanku, dan ternyata Benny yang melakukannya. Ya, dia memang hobi sekali mengagetkan orang dengan memukul tubuhku keras-keras, seperti tadi tentunya.
"Ngapain lo bengong aja ngelihatin si Amanda?"
"Hah?" Aku tidak menyangka kalau sikapku ini ternyata membuat kecurigaan terhadap Benny. "Enggak."
"Ya udah, yuk. Kita cabut ke kantin. Perut gue laper." Benny mengelus-elus perutnya yang keroncongan kemudian menarikku keluar kelas.
Di depan kelas, aku masih bisa melihat Amanda dan seorang sahabatnya yang tadi aku sudah sempat membaca name tag di seragamnya. Namanya Natasha.
Mereka sedang mengobrol serius sambil berjalan santai menuju suatu tempat. Aku dan Benny berjalan pelan di belakang mereka, kelihatannya Benny juga tidak mengajakku buru-buru lagi.
"Nggak jadi ke kantin?" tanyaku pada Benny.
"Sssssttt." Benny justru memberikan isyarat padaku untuk diam. "Jangan keras-keras."
Aku bingung dibuatnya. Benny menahan langkahku supaya berjalan lebih pelan tetap berada pada posisi di belakang Amanda dan Natasha. Dalam jarak wajar tapi bisa mendengarkan pembicaraan mereka. Apa Benny mau menguping pembicaraan mereka? Dan kenapa juga aku harus ikut menguping? 
"Man, lo kenapa sih hari ini? Muka lo kok jelek amat sejak pagi?" tanya Natasha yang cemas dengan keadaan sahabatnya yang kelihatannya tidak seperti biasanya itu. "Kalo ada masalah cerita sama gue, dong. Jangan kayak gini. Bikin gue khawatir aja, deh."
Amanda menghela napas. "Iya, nih. Gue emang ada sedikit masalah di rumah."
"Masalah apa?"
"Nyokap gue mau nikah lagi."
Aku membelalakkan mataku, sepertinya aku sudah menguping sesuatu terlalu jauh yang seharusnya tidak boleh aku dengar. Itu urusan pribadi keluarga Amanda dan aku tidak sepantasnya menguping seperti ini. Saat aku mau berbalik dan kabur, nasib naas yang tidak disangka-sangka justru menghampiriku. 
DUAGH!
Entah karena gugup atau terlalu takut terlibat terlalu jauh, aku menabrak dinding di belakangku dan menimbulkan bunyi berisik yang aku yakin Amanda dan Natasha pun mendengarnya.
"Aow!" rintihku pelan sambil mengusap-usap dahiku yang sakit.
"Al, lo kenapa sih?" tanya Benny dengan nada panik.
Saat aku memutar tubuhku, aku melihat Amanda dan Natasha sedang menatap ke arahku dengan tatapan heran. Aku yakin pasti sekarang ini Amanda sedang memikirkan hal yang tidak-tidak tentangku. Berpikir bahwa aku adalah orang yang aneh yang tidak melihat ada dinding sebesar itu sehingga aku sampai menabraknya seperti ini. 
Aku benar-benar malu.
"Lo nggak apa-apa kan, Al?" Benny memeriksa dahiku yang aku usap-usap dengan jari tanganku. Bagaimana kondisi dahiku? Aku tidak tahu apakah benjol atau tidak. 
"Gue nggak apa-apa, kok. Nggak apa-apa," jawabku sambil menahan leherku untuk tidak berputar untuk menatap bagaimana ekspresi Amanda saat melihatku. Aku akan semakin malu nantinya.
"Eh, tadi lo bilang lo laper, kan. Ayo kita ke kantin sekarang. Yuk." 
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, aku segera menarik Benny ke kantin. Tidak tahu arah kantin di mana, yang jelas segera pergi dari tempat itu.
*
Aku berhasil membawa Benny pergi menjauhi Amanda dan Natasha. Tadinya aku ingin mengajak Benny ke kantin seperti rencana semula, tetapi tempat yang aku tuju bukan kantin melainkan lapangan basket yang terletak di halaman samping sekolah. Lapangan basket itu sepi.
"Lo kenapa, sih?" Benny lagi-lagi bertanya. "Ngapain lo nabrak-nabrak tembok kayak gitu? Mau jadi Spiderman lo?"
"Spiderman itu manjat tembok, bukan nabrak tembok," ralatku.
"Ya... terserah lo, deh. Tapi tadi emangnya lo mau kemana, sih? Sampe nabrak tembok kayak gitu? Sampe kaget gue."
Aku masih sibuk mengusap-usap dahiku, sepertinya sekarang ini rasa sakitku sudah agak mendingan. Tidak parah.
"Nggak apa-apa." Lagi-lagi aku hanya bisa menjawab demikian. "Gue cuma nggak mau nguping pembicaraan orang kayak tadi. Makanya gue mutusin buat kabur aja, eh nggak tahunya malah nabrak tembok."
Benny menatapku sambil memainkan bibirnya dengan telunjuk jarinya. Mengamatiku seperti sedang mengamati seorang buronan. Dan itu sangat membuatku tidak nyaman.
"Kenapa?"
"Gue lihat sejak tadi lo pertama kali ketemu Amanda di kelas, kayaknya sikap lo aneh banget deh, Al."
"...."
Aku khawatir Benny akan mencurigai sikapku yang mungkin aneh ini. Tapi menurutku wajar saja, karena aku sedang gugup. "Aneh gimana?" Aku pura-pura tidak tahu.
"Lo suka sama Amanda, ya?" tanya Benny sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku. 
"Hah?" 
Aku tersentak kaget. Benny bisa punya pemikiran seperti itu? Apa memang benar seperti itu kenyataannya? Bahkan aku sendiri pun tidak tahu.
"Iya, kan. Lo suka sama Amanda, makanya tingkah lo aneh banget. Pasti lo gugup kan, di depan Amanda."
Sebagian besar tepat. Aku memang gugup bila berada di dekat Amanda. Tapi semua itu kan belum tentu kalau aku menyukai dia.
"Enggak, kok. Gimana mau suka, ketemu aja baru sekali doang?" Aku berusaha mengelak, semoga saja Benny percaya.
Benny menarik wajahnya dan kembali pada posisi semula. Menyerah kah dia?
"Gue kasih tahu ya Al, Amanda itu bukan cewek sembarangan. Dia itu cewek paling populer di sekolah ini. Almarhum bokapnya aja punya perusahaan gede di kota-kota besar, dia itu anak pengusaha kaya raya. Dan nyokapnya, sekarang yang mengambil alih semua perusahaan punya bokapnya si Amanda. Anak wanita karir, Bro. Banyak kok, cowok-cowok di sekolah ini yang naksir sama dia. Selain dia itu cantik, dia juga kaya soalnya. Tapi semua cowok ditolak. Nggak ada yang bisa dapetin hatinya."
"Kenapa?" tanyaku ingin tahu.
"Levelnya dia itu tinggi banget. Ya, minimal anak presiden lah."
Aku merasa sepertinya Benny terlalu melebih-lebihkan tentang Amanda. "Emangnya anak presiden ada yang pernah nembak dia?"
Benny menatapku sebentar kemudian menyeringai sendiri. "Hehehehe... ya nggak tahu juga, sih. Soalnya gue penasaran aja, kayak apa sih tipe-tipe cowok kesukaannya si Amanda itu sampe-sampe semua cowok di sekolah ini ditolak sama dia."
Aku hanya bisa mendengus pelan. Memang Benny hanya sekedar menerka-nerka saja. Tidak tahu yang sesungguhnya. "Lo juga pernah nembak dia?"
Dugaanku meleset, Benny menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?"
"Ya, gue nggak mau patah hati lah. Udah banyak kali, korbannya si Amanda. Mereka semua patah hati gara-gara ditolak sama Amanda."
Aku mengangkat kedua bahuku, pertanda bahwa aku tidak mau terlalu memikirkan masalah itu.
"Tapi yang jelas, nih. Cowok-cowok macam lo ini nggak bakalan deh, dapetin si Amanda."
"Emangnya kenapa sama gue?" Aku sedikit penasaran juga, dan entah kenapa aku ingin tahu jawaban dari Benny. Berharap Benny akan memberikan jawaban yang benar kali ini.
Benny menatapku.
🍁🍁🍁
Di luar gelap. Hanya itu yang bisa aku katakan untuk melukiskan suasana malam ini. Aku akan menjalani malam kedua ku di Jakarta. Bukan hanya malam kedua, tapi juga ketiga, keempat, dan seterusnya. 
Hari ini sudah banyak yang aku lalui dan cukup meninggalkan kesan di hati. Pergi ke sekolah baru, berkenalan dengan teman-teman, bertemu Amanda.
Mengingat Amanda aku juga tiba-tiba teringat percakapanku dengan Benny di lapangan basket siang tadi di sekolah.
Flashback
"Tapi yang jelas, nih. Cowok-cowok macam lo ini nggak bakalan deh, dapetin si Amanda."
"Emangnya kenapa sama gue?"
Benny menatapku dengan seksama, lagi-lagi meneliti wajahku. Aku heran, kenapa banyak sekali orang yang suka meneliti wajah orang seperti ini. Lalu beberapa detik kemudian, Benny terlihat seperti seseorang yang putus asa.
"Kenapa, sih?" Aku semakin bingung.
"Coba lo muter." Benny memutar tubuhku dan melihat bagian belakang tubuhku. Bukan bagian belakang saja, tapi juga samping dan... entahlah apa yang dilakukan Benny padaku?
"Eh, kenapa sih?" Aku lagi-lagi dibuat bingung dan semakin bingung.
"Kayaknya emang bener-bener nggak ada harapan, deh."
"Harapan apa?"
"Harapan buat lo bisa ngedeketin si Amanda. Lo ini kalo gue lihat-lihat juga sejenis sama cowok-cowok yang dulu pernah nembak Amanda dan ditolak."
"Sejenis? Lo kira gue apaan?" Aku sedikit kesal juga dengan sikap Benny.
"Tapi kalo lo bisa bikin diri lo populer di sekolah ini, gue rasa bakalan ada sedikit harapan lo buat bisa dapetin hatinya Amanda," kata Benny yang entah apa maksudnya tapi cukup membuatku punya sedikit peluang.
Kembali ke masa kini.
Aku hanya tersenyum mengingat apa yang diucapkan Benny waktu itu. 
Menjadikan diri sendiri populer? Populer seperti apa yang dimaksud Benny aku sendiri juga kurang yakin. Tapi yang jelas, aku tidak akan melakukan hal-hal konyol seperti itu hanya untuk mendapatkan perhatian seseorang. Gugup di depan Amanda saja sudah sangat konyol dan aku tidak akan menambah kekonyolan yang lebih menggelikan lagi di depan dia.
Aku berjalan meninggalkan jendela kamarku dan menghampiri meja belajarku, menarik kursi dan mendudukinya. Aku membuka sebuah buku tebal bersampul biru muda kemudian mulai belajar.

Komentar Buku (323)

  • avatar
    ElyDwi

    nggak nyangka endingnya begitu, sampek aku ngerasa nggak ikhlas kalo tokoh pendukung meninggal, dengan meninggalnya orang yg nggak tahu apa" mlh dia yg bikin semua dendam & drama berakhir dengan bahagia

    18/07/2025

      2
  • avatar
    Kirana Kusumah

    lucu banget

    26/06/2025

      0
  • avatar
    WidyahandiniAnne

    ceritanya keren baget kak...👍🥰

    17/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru