‘Mudah-mudahan, perempuan yang bernama Alya itu Kembali menghubungi handphone Mas Herman.’ gumam Rahma. Rahma sengaja memindahkan handphone Herman ke atas meja rias. Supaya jika nanti ada panggilan masuk, Rahma dapat melihatnya langsung dan segera menerimanya. Lima menit, sepuluh menit, tiga puluh menit, sampai dengan satu jam berlalu, handphone Herman belum juga ada bunyi panggilan. Mungkin saja, perempuan yang bernama Alya itu tahu, jika Herman tidak membawa handphone tersebut, saat training. “Tangan dan mata ini rasanya gatal sekali, sudah tidak sabar ingin melihat, apa yang selama ini mereka lakukan.” Ujar Rahma berbicara pada dirinya. Sebenarnya Rahma bisa saja membuka isi handpone Herman, tanpa sepengetahuannya. Sebab, handphone Herman tidak menggunakan kata sandi. Andai saja Rahma mau, dia tinggal membuka isi handphone suaminya tersebut. Hanya saja Rahma, bukan tipe istri yang ngelunjak sama suami, dia masih menjaga adab, termasuk jika dia butuh uang atau atm Herman, dia selalu pamit sampai Herman mengizinkanya. Tetapi nyatanya, sampai saat ini, Rahma masih belum berani melakukan hal tersebut tanpa seizin Herman. Begitu juga Herman, dia tidak pernah membuka atau mengecek isi handphone Rahma, walaupun handphonenya Rahma tidak di kunci. Terihat kedua anak Rahma masih anteng menonton tivi acara kesukaanya, film kartun. Namun, sesekali mereka menanyakan kepulangan Ayahnya. Mungkin anak-anaknya sudah tidak sabar untuk main keluar, apalagi yang bungsu, agak bawel. “Bun, Ayah pulangnya kapan?” tanya anak Rahma yang bungsu. Lalu Rahma pun mendekati dan duduk di sampingnya, sambil membelai rambut panjangnya yang sudah melewati bahu. Anak bungsunya itu, paling suka dibelai rambutnya, sebab rambutnya sudah Panjang terurai. Biasanya rambut anaknya itu tidak pernah mau dipanjangkan, menurut Rahma kalau rambut panjang, kulit kepalanya sering gatal-gatal, karena banyak ketombenya. Namun, sudah enam bulan ini, rambut anaknya tidak mau di potong, katanya nanti kalau sudah mau masuk ke Sekolah Taman Kanak-kanak, baru rambutnya boleh dipotong. “Belum sayang … nanti Ayahmu kasih kabar sama kita, sebelum pulang ke hotel. Kamu sudah lapar, ya? Kalau lapar, biar bunda suapin nasi, ya, sekalian sama Abang?” tanya Rahma pada si bungsu. “Aku belum lapar, Bun. Aku minta susu kotak saja, yang rasa coklat." Jawab anaknya yang sulung. “Aku juga mau susu saja, deh. Aku yang rasa strowberry, Bun.” “Ya sudah, Bunda ambil dulu susunya,ya.” ucap Rahma, sambil berdiri untuk mengambil susu kotak, yang sudah disiapkan dari bandara. “Terima kasih, Bunda .…” mereka kompakan berdua mengucapkan terima kasih. “Sama-sama. Oh ya, nanti bekas kotak susunya, tolong dibuang ke tempat sampah, ya. Hati-hati minumnya, jangan sampai tumpah ke sprei, nanti banyak semut ,loh.” ucap Rahma. Setelah Rahma memberikan susu pada kedua anaknya, kemudian Rahma berpindah posisi, dari tempat tidur ke kursi depan cermin, yang ada di dalam kamar hotel tersebut. Tiba-tiba Rahma terpikir untuk melihat akun facebook perempuan itu dan akun Herman, dia berharap dari situ bisa mendapatkan sedikit petunjuk tentang hubungan mereka berdua. Rahma langsung membuka facebook dan mulai kepo ke beranda akun Herman. Tetapi dipostingan Herman, dia tidak menemukan tulisan atau postingan yang mencurigakan, paling hanya update status ’ngopi dulu’, atau ‘on the way’ postingan seperti itu yang sering di update Herman. Di dalam galeri akun facebook Herman, hanya ada foto-foto selfie atau welfie dia dan teman-teman kantornya saja, tidak ada foto Rahma sebagai istrinya, atau pun foto anak-anaknya. Namun bagi Rahma, walaupun Herman tidak mau memposting foto-foto dia dan anak-anaknya, hal tersebut tidak masalah, dia tetap selalu berpikiran positif, jika Herman ingin menjaga privasi anggota keluarganya. Setelah di akun Facebook Herman, Rahma tidak menemukan aktivitas apa pun yang mencurigakan, lalu terbesit dalam pikiran Rahma untuk melihat isi beranda di akun milik perempuan yang bernama Alya. Alya pernah mengirim permintaan pertemanan, tapi oleh Rahma langsung di delete permintaannya. Tetapi, Alya dan Rahma sempat komunikasi melalui messenger. Lalu, Rahma masuk ke profilnya Alya lewat messenger, aku terus scroll ke bawah, untuk melihat postingan lama alya, dengan harapan ada percakapan atau aktivitas yang bisa membuat rahma menemukan sesuatu tentang Herman. "Semoga aku bisa mendapatkan petunjuk dari facebook perempuan itu."gumam Rahma. Tapi sayang beranda facebook Alya, dia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan tentang Alya dan Herman. Bahkan penampilan Alya pun terlihat agamis, semua postingan fotonya selalu berpakaian tertutup. Penampilannya yang cantik, anggun nampak serasi dengan pakain yang dia kenakan. Wajar jika Herman tergoda oleh Alya, selain masih muda, dia cantik, putih, hidungnya mancung, tinggi dan lesung pipi. Jangankan Herman yang sudah memiliki anak istri, yang masih bujang saja, mungkin kalau melihat postingan foto-fotonya pasti akan menyukainya ‘Tapi, perempuan secantik dia, tidak ada foto-foto berdua dengan laki-laki , ya? Masa Iya, cewek secantik dia, tidak ada laki-laki yang menyukainya?’ Rahma bergumam. Rahma masih terus melihat postingan- postingan Alya beberapa bulan ke belakang. Tiba-tiba wajah terlihat seperti panik, kedua matanya menatap tajam ke arah layar handphone ketika matanya melihat postingan foto, dua tangan perempuan dan laki-laki di atas meja makan sebuah restoran fast food. Di postingan foto itu ada tulisan ‘Makasih Aa, sudah traktir aku. Jangan lupa nanti kalau kamu jadi jalan ke Singapore, beli oleh-oleh buat aku, ya.’ “Tidak…! tidak mungkin itu tangannya Mas Herman!” Rahma mengerutu penuh kesal. Rahma tetap belum yakin,, jika tangan lembut Herman menggenggam tangan perempuan selain tangan dirinya. Sebab Rahma tahu, jika Herman bukan tipe laki-laki seperti itu. ‘Ya Rabbi, aku harap itu bukanlah tangan suamiku, aku mohon tenangkan hati ini’ Kemudian Rahma meletakan handphonenya di atas meja. Dia berjalan menuju ke arah kamar mandi lalu menguncinya dari dalam. Dia menatap wajahnya di dalam cermin kaca besar, yang ada di dalam kamar mandi tersebut. Dia terus memandangi wajahnya, dia cubit kedua pipipnya dengan jari-jarinya. Kemudian kedua tangannya memukul pelan bayangan wajahnya di dalam cermin kaca, seolah dia marah dan benci pada dirinya yang ada di dalam kaca. Denial? Iya, sepertinya Rahma dalam posisi itu. Rahma saat ini sedang berada di fase denial. Dia tidak ingin menerima kenyataan yang terjadi saat ini. Dia berharap apa yang di lihatnya tadi di facebook milik si Alya, itu bukanlah tangan dan jam tangan Herman. Akan tetapi, hati kecil Rahma tidak bisa berbohong, dia mengakui bahwa kedua tangan pria yang sedang menggengam tangan perempuan di atas meja itu, adalah tangan suaminya. Sangat jelas sekali, jam yang melingkar di pergelangan tangan laki-laki itu, adalah jam tangan suaminya, yang dia belikan saat suaminya ulang tahun. Rahma terdiam, sambil tertunduk ke bawah, wajahnya tidak menatap cermin lagi. Tidak terasa oleh Rahma, jika pipinya sudah dibasahi oleh butiran air mata yang keluar dari kedua sudut matanya. Dia mengambil tisu toilet, untuk mengeringkan air matanya. Isakan tangis pun, mulai terengar keluar dari mulut Rahma. Dan lama-lama suara isakan tangisnya Rahma semakin besar suaranya. Sepertinya, Rahma sedang meluapkan perasaanya dengan menangis. Dari luar kamar mandi, anak yang bungsu mendengar isakan tangis bundanya. Sambil berjalan mengendap, mendekati pintu kamar mandi, sambal mendekatkan kupingnya ke pintu kamar mandi. “Bunda, Bunda, kenapa menangis di kamar mandi?” teriak si bungsu dari luar kamar mandi⁸iį Rahma tidak menjawab pertanyaan anak bungsunya yang beberapa kali memanggil namanya. Padahal sebenarnya suara panggilan anaknya terdengar oleh Rahma. Isakan tangis Rahma semakin jelas terdengar di luar kamar mandi, sehingga membuat si bungsu semakin penasaran, sambal menggedor pintunya. “Bunda, Bun…!”teriaknya. Namun, Dia tidak pergi dari depan kamar mandi, melainkan tetap berdiri dan menyandaran badannya ke pintu kamar mandi, tapi dia tidak bersuara. Rahma berusaha menahan tangisnya. Ia buka kran air di wastafel, agar sisa tangisannya tidak terdengar oleh anaknya. Air matanya yang mengalir di pipi, dia bilas dengan air kran, agar nanti tidak terlihat oleh anak-anaknya, kalau dia habis menangis. Dia lihat wajahnya di dalam cermin, kedua matanya tampak merah dan kantung matanya sedikit sembab. Lalu dia pun menjawab teriakan anaknya yang kecil tadi. “Iya, sayang … Bunda enggak kenapa-kenapa, sayang. Ini hidung Bunda ingusan.” jawab Rahma berbohong pada anaknya. Rahma tak ingin kedua anaknya melihat dia sedang bersedih. Apalagi anak yang perempuan, rasa empati dia terhadap Rahma sangatlah tinggi. Mungkin karena dia anak perempuan, beda dengan Kakanya, dia masa bodoh dan cuek, kalau melihat aku kesakitan atau sedih, paling-paling responnya hanya kata ‘oh’ saja. Pernah waktu Rahma menahan sakit , saat di rawat post operasi usus buntu, Rahma meringis kesakitan, karena ingin batuk namun ditahan. Tiba-tiba dia langsung merespon dan langsung mengelus perutku “Bunda, sakit ya perutnya.” “Bunda, kenapa enggak cepat- cepat keluar dari kamar mandi?”tanya si bungsu. “Iya, sayang, ini Bunda sebentar lagi keluar,kok. Adik tunggu di tempat tidur saja, ya. ini Bunda mau keluar.”ucap Rahma menenangkan anaknya, agar dia tidak panik. Saat Rahma membuka pintu kamar mandi, ternyata si bungsu masih ada di depan pintu dan langsung memeluk erat. Rahma membalas pelukannya, kemudian lalu menggendongnya dari depan. “Bun, tadi kenapa di dalam kamar mandi? Pasti Bunda liat hantu ya? Atau Bunda takut kecoa, ya,” ucapnya dengan polos. Rahma mengiakan saja pertanyannya, bahwa memang ada kecoa kecil dalam lubang pembuangan air di dalam kamar mandi. “Iya, itu ada kecoa, tapi kecil ... banget. Bunda injak saja menggunakan kaki, terus bunda siram deh pakai air. Adik, di sini tidak ada hantu, yang ada hanya Bunda, Abang dan Adik, deh, ” jawab Rahma sambil tertawa. Namun, Rahma masih belum menatap wajah anak-anaknya secara langsung, sebab wajah dia masih terlihat sembab bekas air mata, saat nangis tadi. ‘Biarkan hanya aku yang tahu dan merasakan tentang ini. Aku tidak ingin kedua anakku ikut terbebani dalam masalahku. Aku hanya ingin, semuanya akan baik-baik saja’ batinku.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
ceritanya kayak nyata
21/06
0bgus
27/07/2025
0BAGUS KAK
18/06/2025
0Lihat Semua