Perasaanku saat ini rasanya tak karuan, aku merasa bersalah terhadap Rahma dan kedua anakku. Aku yang sudah berjanji untuk dapat pulang cepat kembali dari pemacingan, jam segini aku masih di perjalanan. Bayangkan saja, aku berangkatnya pagi-pagi dan sekarang hampir jam delapan malam, dalam keadaan kondisi jalanan macet.Entah jam berapa akan sampai di rumah mertuaku. Seharusnya aku hari ini mengajak anak-anak bermain di luar sebagaimana biasanya yang sering aku lakukan pada mereka. Tapi, anehnya hati ini malah lebih memilih untuk bersenang-senang dengan orang lain. Aku memang egois, lebih mementingkan keinginan diri dibanding keluarga. Padahal tadi pagi sebelum berangkat ke pemancingan, Rahma sudah berpesan padaku, jangan sampai pulang terlalu sore, supaya bisa pulang ke rumahnya lebih cepat. Tetapi kenyataannya, aku terlena dengan kesenangan bersama orang lain, hingga pulang larut malam. Apa lagi dari siang sampai menjelang Isya, aku mematikan handponeku dengan sengaja supaya tidak ada yang menghubungiku. Jadi wajar saja jika Rahma nantinya akan kecewa dan marah terhadapku. Buktinya sekarang gantian, nomor handphone Rahma dan mertuaku tidak bisa dihubungi alias tidak aktif. Sekarang mau tidak mau, aku harus segera sampai di rumah mertuaku. Soalnya aku sendiri tidak tahu, apakah Rahma dan anak-anakku masih di sana, atau sudah pulang di antarkan oleh Bapak mertuaku. Jam digital di dashboard mobilku sudah menunjukan pukul 20.15 wib, sementara jarak untuk sampai ke rumah mertuaku, kurang lebih sekitar lima kilometer lagi, jika dilihat dengan menggunakan gps. Baru saja aku meletakan handphone di jok samping, tiba-tiba ada nada dering panggilan masuk. Karena aku tidak ingin kejadian tadi pagi, saat mau berangkat memancing terulang kembali, gara-gara tidak fokus karena memainkan ponsel sambil mengemudi, aku akhirnya mencoba untuk menepi terlebih dahulu di tempat yang aman. Alhamdulillah untung Rahma menghubungiku, jadi aku tidak kesulitan mencari tahu dia ada di mana. Tapi, aku sendiri masih bingung, harus menjelaskannya bagaimana pada Rahma, sementara otakku masih blank, belum memiliki alasan yang tepat atas kesalahanku hari ini padanya. 'Hmm, aku bilang saja pada Rahma, kalau habis mancing langsung diajak nongkrong ngopi di kota Bogor. kalau alasan ini, aku rasa Rahma tidak akan marah atau pun curiga yang tidak-tidak padaku.' gumamku. Aku mematikan mesin mobil dan membuka sedikit kedua jendela kaca depan, agar ada sedikit udara. Benar kata pepatah, “jika Orang sudah berbohong di depan, maka Dia akan berbohong lagi untuk menutupi kebohongan lainnya.” “Assalamualaikum, Mas lagi di mana? kenapa handphonenya dari siang tidak aktif?” tanya Rahma. “Waalaikumussalam. Ini masih di jalan, Ra. Mungkin sekitar sepuluh menitan lagi, aku akan sampai di rumah Ibu, ya.” jawab memastikan pada Rahma. “Eh, Mas enggak usah ke rumah Ibu, nanti langsung pulang ke rumah saja. Tadi aku dan anak-anak sudah di rumah dari sehabis magrib, sudah diantar oleh Bapak dan Ibu. Soalnya anak-anak rewel, pada minta pulang, nunggu kamu lama.” keluhnya. “Tadi baterainya habis, tadi aku lupa enggak bawa charger, baru di charge pas mau pulang. Terus saat aku hubungi nomor kamu dan nomor Ibu ternyata tidak aktif.” Aku berkilah pada Istriku. Padahal sudah jelas-jelas aku sengaja mematikan handphoneku. Karena alasan ini yang bisa menyelamatkanku. “Memangnya kamu dari mana saja sih, Mas? Anak-anak dari siang nanyain kamu terus, katanya kamu sudah janji, mau ngajak mereka makan di luar? tahu enggak Mas, saking si Abang menginginkan agar bisa main dan makan di luar bareng Ayahnya, aku di suruh menghubungi kamu." Istriku mengeluh kecewa. "Sudah tak terhitung lagi, berapa kali aku menghubungi nomormu, tapi tidak aktif. Sampai akhirnya si Abang penasaran dan tidak percaya jika nomor handphone kamu tidak dapat di hubungi, lalu dia meminjam handphone Ibu untuk menelepon kamu. Tapi saat dia menghubungi nomor kamu ternyata tidak aktif, baru dia percaya.” sambung Istriku. ‘Ya Allah, seharusnya tadi Aku langsung pulang saja, setelah selesai mancing. Seandainya tadi aku langsung pulang tidak jalan untuk makan bareng si Alya, mungkin kedua anakku senang bisa jalan keluar dan makan di tempat yang dia inginkan. Benar juga tadi saran si Alya, seandainya saja, tadi siang tidak pergi makan di luar, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Maafkan Ayah ya Abang dan Dedek, nanti Ayah tepatin janjinya ya, lain waktu.’ batinku. “Oh iya, tadi Aku mancing pas adzan Magrib, habis itu teman-teman Mas, ngajak ngopi dulu ke Kota Bogor. Sehingga mau di tolak juga tidak enak, karena semuanya pada ikut. Akhirnya Mas pun ikut jalan bareng mereka. Iya sih, salahnya aku tadi, enggak kasih kabar dulu, kalau mau pulang malam. Maafkan aku ya, Ra.” ucapku, dengan suara sesikit kubuat parau, agar tidak ketahuan aku berbohong. 'Aku tidak ingin Istriku kecewa, jika aku berterus terang, bahwa aku sebenarnya selesai dari pemancingan habis Dzuhur. Tapi masa iya, aku harus terus terang kalau habis makan siang sama si Alya.Itu sama saja menyerah atau bunuh diri.' gumamku. “Ya sudah jika itu alasanmu, terus sekarang sudah sampai mana? kamu bawa kunci rumah, kan?” tanya Rahma. “Ini enggak jauh dari rumah Ibu kok. Kunci rumah di mobil kan, masih ada satu lagi.Kamu Istirahat duluan tidak apa-apa, enggak usah nungguin aku, nanti kamu kelelahan.” saranku pada Rahma. “Iya sudah, kamu hati-hati di jalannya, jangan ngebut ya, selalu gunakan safety belt nya," pesan Istriku, agar aku tetap memperhatikan keselamatan. “Iya sayang, makasih ya. Kamu juga hati-hati di rumah, istirahat ya. Assalamualaikum.” ucapku. “Wa alaikum’salam.”jawabnya Aku kembali menyalakan mesin monil, dan melanjutkan kembali perjalanan pulang, tetapi tidak ke arah rumah mertuaku, melainkan berbelok arah langsung menuju gerbang tol Pondok Indah. Karena satu-satunya jalan agar lebih cepat melalui jalan tol. Sungguh beruntung sekali sebenarnya bagiku, ketika aku memiliki seorang Istri seperti Rahma. Selain cantik, Rahma juga termasuk istri yang pengertian, setia, penyabar dan tidak pemarah.
Bayangkan saja, Istriku selama ini selalu percaya dengan apa yang di ucapkan olehku, walaupun terkadang sesekali, Rahma pernah cemburu padaku. Tapi semua itu memang sudah naluri seorang Istri, ketika dia sudah sayang dengan pasangannya, maka dia tidak ingin pasangannya berbuat macam-macam dan tidak ingin ada perempuan lain yang mencoba mendekati pasanganya. “Rahma, kamu memang Istriku yang sempurna, yang belum tentu pria lain bisa memiliki Istri seperti kamu.”pujiku dalam hati.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
ceritanya kayak nyata
21/06
0bgus
27/07/2025
0BAGUS KAK
18/06/2025
0Lihat Semua