logo text

Bab 11 Aku Penasaran (Pov Herman)

[Assalamualaikum Alya, kamu ada di rumah?] tanyaku melalui pesan singkat.
[Waalaikumussalam, Iya Aa. Aku lagi di rumah sama ponakan, Aa sudah berangkat dari rumah?] tanya Alya.
[Baru mau keluar gerbang komplek rumah mertua, kebetulan tadi sekalian aku habis anterin Istri dan Anak-anak ke rumah mertua] jawabku.
[Kenapa anaknya yang paling gede enggak di ajak sekalian? Nanti kan, aku ada teman ngobrol di tempat mancingnya] tanya Alya.
Waduh bisa gawat kalau seandainya si Anaakku aku ajak mancing, tentu dia bisa mengganggu aku sama si Alya, kemungkinan terburuknya adalah anakku bisa cerita macam-macam deh sama Bundanya.
[Sudah aku ajak, tapi Dia lebih memilih main bareng Nenek dan Kakeknya, karena Dia sudah lama enggak ketemu]
Aku sedikit berbohong pada Alya, supaya Dia tidak panjang lebar bahas yang lain-lain .
[Ok, kalau begitu. Ngomong-ngomong Aa lagi menepi atau sms sambil nyetir?, kalau lagi nyetir bahaya Aa, simpan dulu Handponenya, atau Aa menepi dulu sebentar]saran Alya.
[Iya, iya. Sampai ketemu nanti yah, kalau sudah sampai depan kompleksmu, aku hubungi kembali. Dah sayang] Aku sedikit genit pada Alya.
Kemudian aku meletakan kembali handpone di atas dashboard mobil. Sebab jika mengemudi sambil main handphone bisa-bisa kena pelanggaran.
Perjalanan dari rumah mertuaku menuju ke Bogor sebenarnya tidak terlalu jauh, jika jalanan lancar hanya membutuhkan waktu empat puluh menit, tapi jika macet, bisa lebih dari satu jam.
Perasaanku saat ini mungkin bisa dibilang sedang merasakan kasmaran. Pikiranku terus melayang seolah sudah ada di Bogor. Itu sebabnya aku ingin segera bertemu dengan Alya, karena tidak sabar ingin melihat wajah aslinya seperti apa.
Secara penampilan yang aku lihat dari koleksi foto-fotonya di facebook, fotonya cantik-cantik. Sudah begitu, koleksinya lebih banyak foto yang berjilbab, bersama keluarga dan teman kerjanya.
Foto-fotonya Alya enggak ada yang jelek, cantik semua, dan yang aku suka dari dia, tidak ada foto sexy di koleksinya.
Jika sudah seperti ini, aku pun sudah lupa dengan umur dan status yang sudah tidak muda lagi dan berkeluarga. Aku lupa kalau sudah memiliki Istri dan dua anak.
‘Hmm, seandainya aku jadikan dia istri Simpanan, kira-kira Dia mau enggak, ya? Tapi, kalau namanya simpanan, sudah pasti aku harus banyak duitnya. Sebab mau tidak mau, aku harus mengeluarkan biaya untuknya. Tapi si Alya sendiri kan, punya penghasilan juga. Aku rasa Dia pun tidak akan menuntut terlalu banyak terkait materi. Ah, sudahlah biarkan semuanya mengalir seperti air di sunga, Aku ikuti hingga berhenti di muara.” gumamku.
Tiba-tiba aku dikagetkan olehb kendaraan roda dua, yang melaju dari arah samping kiri, menyalip ke depan mobilku. Akupun spontan langsung membantingkan stir ke arah kiri, dan langsung melakukan pengereman mendadak, hingga mesin mobilku mati.
Andai saja aku tidak bisa mengendalikan kemudi, sudah pasti akan terjadi kecelakaan tunggal, sebab posisi bumper mobilnya hanya terpaut sepuluh centimeter saja ke tiang listrik yang ada di depan mobilku.
“Dasar mony-et…! nyalip mendadak saei sebelah kiri!"
Dibarengi emosi, aku melontarkan hujatan kepengendara motor tersebut.
Tapi sayang teriakanku sia-sia, sebab suaraku dari dalam mobil, tidak mungkin terdengar oleh pengendara motor tersebut yang langsung kembali melaju kencang ke arah depan.
Lalu aku pun merapikan kembali posisi mobil , yang miring menjorok ke arah trotoar dekat tiang listrik. Untung saja saat itu suasana jalanan masih sepi, sehingga tidak banyak kendaraan yang melintas.
“Astaghfirullah, untung saja mobilku tidak menabrak tiang listrik itu, kalau seandainya menabrak, bisa berabe urusannya, karena aku harus mengeluarkan biaya untuk memperbaikinya.” gerutuku.
Karena mobilku ini tidak di asuransikan, sehingga jika terjadi kerusakan atau kehilangan pada mobilku, harus mengeluarkan isi dompet sendiri.
Setelah semuanya rapi, kembali aku melanjutkan perjalanan menuju tempat tinggal Alya yang tidak jauh dari Kebun Raya Bogor.

****

Sesampaiku di depan gerbang komplek perumahan sesuai alamat yang dikirimkan oleh Alya, aku langsung menghubunginya. Hanya beberapa detik teleponku langsung di angkat.
“Assalamualaikum Al, Aa sudah sampai di depan gerbang komplek kamu, nih. Aa parkir seberang gerbang masuk, ya.” ucapku pada Alya di seberang telepon.
“Waalaikumussallam. Wah cepat sekali sampainya, aku kira masih di perjalanan. Hehehe.” jawab Alya, sambil meledekku.
“Aa tunggu dulu di situ, ya. Aku rapi-rapi dulu sebentar, biar nanti saat ketemu Aa tambah cantik dan Aa makin naksir sama aku, hahaha."
"Iya, iya percaya deh...."
"Hahaha...Oh ya, setelah rapi-rapu aku mau jalan ke warung nasi uduk dulu ya, hanya tinggal ngambil doang, soalnya sudah bayar sebelumnya.” ucap Alya sambil tertawa .
“Enggak usah dandan juga kamu sudah cantik Al, dan Aa tetap suka sama kamu,” pujiku pada Alya.
“Dasar, cowok gombal ... ketemu aku saja belum, sudah bilang cantik aja.” Alya tertawa, karena menurutnya kata-kataku hanyalah rayual gombal.
“Ya sudah, terserah kamu. Ayo buruan, nanti nasi uduknya keburu bengkak loh, gak pake lama yah sayang.” pintaku pada Alya. Tetap selalu kububuhi rayuan gombal.
“Iya, iya dadah” pamitnya.
“Seberang gerbang komplek ya, Honda warna merah, jangan salah.” pesanku pada Alya, agar dia tidak salah orang.
“Siap bos!” ledeknya.
*****
Sepuluh menit kemudian.
Dari dalam mobil, aku melihat perempuan berjilbab, berjalan sendirian sambil melihat kearahku. Untungnya mobil yang terparkir di seberang kompleks hanya ada satu mobil saja, tidak ada mobil lain.
Aku yakin kalau perempuan itu Alya, sebab dia langsung menyeberang jalan menuju mobilku yang terparkir di bawah pohon mangga sebrang gerbang. Sengaja aku buka jendela kaca sedikit kuturunkan.
Dari dalam mobil, aku pura-pura tak melihatnya. Aku menyenderkan tubuh dengan mata sedikit tertutup.
“Assalamualaikum, Aa Herman.” sapa Alya lembut, sambil mengetok kaca mobil.
Aku berpura-pura kaget dan terperanjat sambil mengucek kedua mataku. Lebih kaget lagi, saat ku turunkan lagi jendela kaca, terlihat dengan jelas wajah cantik Alya berbalut jilbab hijau muda.
Bukannya menjawab salam, aku malah bengong menatap wajah Alya. Sambil terus mengucek kedua mata dengan telapak tangan kananku.
Alya terlihat bingung, sebab aku masih diam memandangnya. Sesekali Alya membetulkan ujung jilbabnya sambil menengok kiri dan kanan jalanan.
“As Herman…!” Alya pun membangunkan lamunanku. sambil menepuk bahuku.
“Astaghfiurullah…!” Saking terpesonanya, aku baru menyadari, bahwa kalau dari tadi aku seperti terhipnotis melihat Alya.
“Aa, Jadi enggak nih ngajak jalannya?kalau enggak jadi , aku balik lagi ke rumah ya. Oh iya, Ini pesanan nasi uduknya,Aa.” Alya menyodorkan sebungkus plastik merah besar yang berisi bungkusan nasi uduk.
“Jadi dong. Ayo masuk ke dalam, masa berdiri terus di bawah, sudah tukang parkir aja. Hehehe” candaku pada Alya, yang dari tadi masih berdiri di samping pintu kemudi.
Alya pun langsung menuju ke arah pintu sebelah kiri, dan duduk di sampingku.
“Al, makasih loh sudah mau beliin nasi uduk, maaf merepotkan kamu, ya. Ini totalnya jadi berapa?” tanyaku.
“Semuanya jadi sejuta. Hahaha.” jawab Alya sambil mengulurkan telapak tangan.
“Oh ... sejuta ya? Siap deh, buat kamu apa sih yang enggak. Hihi.” balasku mulai sedikit genit.
“Enggak kok, cuma seratus ribu rupiah, kalau mau di lebihkan buat ongkos jalan kakinya, gak apa-apa, aku enggak nolak kok” jawab Alya sambil mengedipkan alis kiri.
Aku langsung mengambil dompet dari tas kecil, dan aku klaurkan dua lembar uang kertas nominal seratus ribua ke tangan Alya. Namun, oleh Alya uang tersebut hanya di ambil satu lembar saja, satu lembar lainnya di simpan di atas dashboard.
“Kebanyakan ini, sisanya aku simpan di sini ya uangnya, buat beli kopi saja, hehehe, “ canda Alya.
“Cie yang banyak uangnya, enggak mau di kasih lebih,” aku Meledek Alya.
“Enggak kok Aa, ini kan, udah Aku terima uangnya. Nah, aku simpan lagi lebihnya di sini. Ayo ah, kapan mau jalannya ini. Nanti keburu siang loh mancingnya, bisa-bisa Aa enggak kebagian ikan di sana. iya kan?” ucap Alya mengajakku untuk segera berangkat.
Aku pun langsung menyalakan mesin mobil, dan putar balik kembali menuju kearah lokasi pemancingan.
Selama dalam perjalanan, mataku selalu mencuri-curi kesempatan untuk memandang kecantikan wajah Alya.
"Sekarang aku percaya, Alya yang aku kenal di facebook aslinya memang benar cantik, anggun, murah senyum. Aaah, ternyata aku tidak salah, mendekatinya,"

Komentar Buku (37)

  • avatar
    Riza Aningtyas Putri

    ceritanya kayak nyata

    21/06

      0
  • avatar
    Roma Dhoni

    bgus

    27/07/2025

      0
  • avatar
    Nabila ayu lubis

    BAGUS KAK

    18/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru