logo text

51. Dendamkah?

Sudah dua hari Oliv di rumah, Fitri tetap setia menemani. Meski pun tidak menginap lagi, kata Bram Oliv hanya perlu istirahat. Arka, pemuda itu makin perhatian padanya, begitu pun Denis yang selalu berkunjung meski pun sebentar.
Seperti pagi ini Denis sudah datang, Gita yang melihatnya tertawa.
“Pepet terus,” kata Gita menggoda.
Kalau Gita jangan di tanya anak itu selalu menginap, karena orangtuanya tidak pernah melarang. Selama itu bersama Oliv pasti di suruh.
“Berisik, Lu,” kata Denis.
“Dih! Sama Oliv aku kamu giliran ke Gue?“
“Emang Lu siapa?“ tanya Denis sengit.
“Stop!“ Perkataan Oliv itu membuat mereka berhenti berdebat.
“Den, kamu engga takut telat?“ tanya Oliv.
Bagaimana tidak ini hari Senin, pemuda itu harus memutar arah untuk sampai ke tempat magang. “Engga bakal santai aja, lagian aku cuma bentar,” katanya meletakkan bawaan ke atas meja.
“Kakak bawa apa lagi?“ tanya Khamza senang.
“Bukanya nanti, ya. Kakak pergi dulu,” kata Denis berpamitan.
Khamza pun langsung menyaliminya, Denis menatap Oliv sembari mengerlingkan mata. Tentu saja itu di lihat oleh Gita, apa lagi wajah Oliv memanas. Setelah itu Denis pergi dari sana membuat gadis itu tidak karuan.
“Wah,” kata Khamza melihat bubur kacang hijau, donat dan susu beruang.
“Sini Kakak siapi dulu, ya.“
Oliv pun ke dapur dan meletakkan bubur ke dalam mangkok. “Lu, ngikuti Gue kenapa?“ tanya Oliv risih.
“Sensi amat, Bu. Lu, suka sama Denis?“ tanya Gita membuat Oliv menghentikan kegiatannya.
Oliv menghembuskan napasnya kasar. “Engga tahu,” jawabnya singkat membuat Gita kesal.
“He … serius, Nyet.“
“Mending, Lu siap-siap bentar lagi kak Bian datang,” kata Oliv mengalihkan pembicaraan.
“Is, engga asyik, Lu,” rengeknya membuat Oliv terkekeh.
“Nih, makan,” kata Oliv menyuapkan donat.
Khamza jangan tanya anak itu sibuk makan.
“Mimpi apa kamu, Dek punya kakak kaya Oliv,” gerutu Gita sambil mengunyah donat.
“Engga mimpi apa-apa, Kak Oliv baik kok,” jawabnya dengan mulut penuh makanan, membuat Oliv tersenyum penuh kemenangan.
Tidak lama terdengar suara salam, ternyata Arka dan Bian. “Wah lagi makan nih,” sapa Arka melihat mereka yang asyik menikmati makanan.
“Ayo, berangkat,” kata Gita pada Bian.
“Kalian duluan,” perintah Arka.
Kedua orang itu acuh dan meninggalkan Oliv.
“Sudah enakkan?“ tanya Arka lembut.
“Besok mungkin dah bisa masuk, Kak.“
“Istirhat saja dulu, hari Rabu kalau engga Kamis baru masuk, ya.“
Oliv mengangguk patuh karena tidak ingin berdebat. “Makasih, Kak,” ungkapnya tulus membuat Arka senang.
Dia pun pamit dan sekali lagi Khamza menyalimi.
“Nanti mama akan ke sini mungkin agak siang,” kata Arka sebelum pergi.
“Iya, Kak. Hati-hati.“
Arka me mengangguk dan pergi dari sana, tinggallah Oliv dan Khamza sekarang.
“Adek,” panggil Oliv.
“Apa, Kak?“
“Nanti mau makan apa?“ tanyanya.
“Kakak udah beneran sembuh?“ tanya Khamza memastikan.
Oliv mengangguk pasti membuat Khamza sangat senang. “Apa saja, Kak,” jawab Khamza kembali fokus makan.
“Habis ini ambil buku, ya. Kita belajar,” kata Oliv di jawab anggukan oleh anak itu.
Bubur Khamza dan dirinya sudah habis, Oliv segera ke belakang mencuci piring. Tadi Gita membuatkan mereka ayam goreng, tentunya Oliv ikut membantu. Terlihat Khamza berjalan ke kamar membawa buku keluar, tingkah itu membuat Oliv menjadi semangat.
Dia membuka kulkas, yang berisi banyak buah bawaan teman-teman. Semalam Bi Asih ingin pulang tahu Oliv sakit, tapi gadis itu melarang karena dirinya sudah membaik.
“Semoga ada titik terang dari semua, tentang ucapan papa yang aku salah sangka. Juga Denis yang begitu dendam dengan papa, semoga semuanya baik-baik saja,” ujarnya sembari mengupas buah.
“Kakak, kalo udah sembuh nanti kita jalan-jalan, ya. Khamza mau beli buku gambar,” teriak anak itu.
“Iya,” jawab Oliv sambil tersenyum membuat Khamza berlonjak senang.
Oliv membawa buah yang sudah dikupasnya tadi ke depan. “Adek suka ngegambar?“ tanya Oliv mendekat.
“Iya, Kak. Lihat ini,” katanya menunjuk gambar di sampul buku. “Khamza mau gambar ini, tapi jadinya begini,” lanjutnya menunjuk hasilnya yang masih jauh sekali.
“Engga apa-apa, Sayang. Kan masih belajar, kalau Khamza mau melukis nanti Kakak beliin.“
Ucapan Oliv yang sungguh-sungguh membuat Khamza sangat senang. “Kakak serius?“
“Iya, dong. Tapi Khamza harus benar-benar belajar, ya.“
“Siap, Kak,” jawabnya senang.
Oliv menyuruh anak itu makan buah dulu, dia berjalan ke kamar dan mulai melakukan aktivitas seperti biasa. Mencuci baju, memasak dan membereskan rumah.
Sekarang rumah sudah rapi, sebelum Zuhur pekerjaan sudah beres. Memang agak lama karena Oliv belum sehat benar, Khamza mendekati sang kakak dan memberinya minum.
“Kakak belum sehat benar, nanti sakit Khamza takut Kakak ke rumah sakit,” ungkapnya.
Mendengar perkataan sang adik Oliv memangkunya. “Kakak udah sehat, Dek. Cuma kalau di bawa duduk sama tidur nanti malah pusing.“
“Emang kalau gerak engga pusing, Kak?“ tanya Khamza ingin tahu.
Oliv mengangguk cepat.
“Nenek waktu itu bilang pusing, Kak. Berarti nenek kurang gerak, ya, Kak?“ tanya Khamza sukses mengundang tawa.
“Eh, siapa ngajari gitu?“ tanya suara mengejutkan mereka.
Fitri pun masuk sembari mengucap salam, Khamza langsung menyaliminya. “Siapa yang ngajari gitu hem?“ tanya Fitri lagi sambil menarik hidung Khamza gemas.
“Kakak,” tunjuknya pada Oliv.
Mau tidak mau Fitri tertawa, dia pun menghempaskan tubuh di sopa.
“Kamu jangan terlalu banyak gerak, Nak. Kamu baru sembuh loh,” kata Fitri menatap Oliv lembut.
“Engga berat kok, Tante. Tante, kok siang ke sini?“ tanya Oliv manja.
Ini yang Fitri senang dari Oliv, karena dia tidak punya anak perempuan makanya sangat senang dekat dengan gadis itu.
“Tadi Arka ke sini?“ tanya Fitri.
“Iya, Tante.“
Fitri menatap raut muka Oliv yang berubah. “Kenapa, Nak?“
“Oliv, rindu mama,” ungkapnya jujur. “Tante pasti tahu kalau mama meninggal,” lanjutnya.
“Iya, Tante tahu kok. Tante boleh tanya?“ tanya Fitri serius.
Oliv mengangguk singkat.
“Empat tahun lalu media memberitakan keluarga Wijaya meninggal semua, yang selamat hanya dia. Apa kamu tahu hal itu?“
Oliv terdiam mendengar pernyataan itu, dia kembali ingat perkataan Denis kemarin malam.
“Aku engga bakal biari satu pun keluarga Wijaya hidup damai,” kata Denis malam kemarin.
“Maksud kamu?“ tanya Oliv bingung.
“Ternyata keluarga Wijaya masih ada, aku kira Wijaya saja yang hidup,” kata Denis berapi-api.
“Aku penasaran maksud kamu, Den. Aku pengen tahu deh.“
Denis menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju.
“Kamu tidak perlu tahu, Liv. Aku engga mau kamu kenapa-kenapa, Wijaya itu orang kejam dan aku engga mau kamu dicelakainya.“
Entah kenapa ucapan itu membuat Oliv cemberut, dia tidak bisa mendeskripsikan perasaannya pada pemuda itu. Sekarang Oliv bingung sendiri, sepertinya mereka punya dendam sendiri.
Mengingat itu Oliv langsung menatap Fitri ingin tahu.
“Maksud, Tante bagaimana?“ tanya Oliv ingin tahu.
“Kamu beneran engga tahu?“ tanya Fitri balik bertanya.
Oliv diam dan menggelengkan kepalanya bingung. “Dendamkah ini?“ tebaknya.

Komentar Buku (27)

  • avatar
    KurniawanZafrina

    best

    14/07/2025

      0
  • avatar
    huseinari

    oke

    06/08/2022

      0
  • avatar
    g******0@gmail.com

    bintang 4 dlu, keknya update lama.... kalo dah diupdate, sy ubah bintang 5

    23/06/2022

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru