Chapter 80

"Maafin aku kak," ucap Priscilla terisak.
Saat Jay datang ke kamar rawatnya, tidak ada kata yang Priscilla pikirkan selain kata maaf. Jay mengelus pucuk kepala Priscilla, lalu mengangkat dagunya agar bisa melihat mata cantik itu dari dekat.
"Gak perlu minta maaf sayang, kamu gak salah apa-apa. Kakak paham alasan kamu ngejauhin kakak, tapi mulai sekarang tolong jangan pernah jauhin kakak lagi. Kamu itu segalanya buat kakak, kakak rela tinggalin semuanya demi kamu." Jay mengecup keningnya.
"Dan satu hal lagi, jangan pernah bilang kalau kamu itu hina. Lupain semua yang udah berlalu, kita mulai hidup yang baru sama Baby S ya?" sambungnya.
Priscilla mengangguk pelan, lalu membenamkan wajahnya ke dalam pelukan Jay. Beberapa waktu berlalu, Priscilla sadar kalau ia sangat mencintai Jay dan tidak bisa hidup jauh darinya. Sekalipun Priscilla mencoba lari dan tidak perduli padanya, tapi hati kecilnya tidak dapat ia bohongi kalau seluruh ruang di hatinya adalah milik Jay.
Mulai detik ini, mereka akan menghadapi semua masalah yang ada bersama-sama. Tidak ada demi kebaikan salah satunya, jika hanya menimbulkan luka pada keduanya. Jay akan pasang badan jika ada yang berani mencemooh Priscilla, dan jika kehadiran Priscilla di sisinya membuat keluarga Dinata menjadi bahan gunjingan orang-orang maka Jay akan dengan senang hati meninggalkan semua yang berhubungan dengan nama Dinata. Meski gunjingan itu tidak akan hilang total, tapi setidaknya ia sudah tidak ada sangkut pautnya lagi dengan keluarga Dinata.
"Sil, kamu udah kasih nama anak kita?" tanya Jay.
"Udah kak, aku pakai nama yang kakak saranin waktu itu."
"Seraphina Tiarani Dinata?"
Priscilla mengangguk, "Atau kakak mau ganti?"
"Enggak, nama itu udah cantik kok." Jay mencubit ujung hidung Priscilla hingga memerah.
Priscilla cemberut seraya mengusap hidungnya yang memerah, "Kakak mah, sakit tau!"
"Dulu kamu juga suka nyubit hidung kakak sampe merah," Jay menjulurkan lidah dan menyilangkan kedua tangannya.
Wajah Priscilla tiba-tiba muram, "Kalau Sera gak di inkubator, pasti sekarang dia udah ada di sini sama kita kak. Aku takut Sera bakal lama di sana, semua alat itu pasti bikin dia gak nyaman,"
Jay mengehela nafas dan menggenggam tangan Priscilla erat, "Sera gak akan lama kok sayang di inkubator, percaya sama kakak."
Priscilla hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, tidak pernah terbayang dalam pikirannya kalau bayi yang dulu hidup di rahimnya kini harus tinggal di inkubator dengan alat medis menempel di tubuh mungilnya.
"Oh iya Priscilla, kamu mau kan tinggal di rumah kakak setelah pulang dari rumah sakit?"
Priscilla agak ragu menjawab permintaan Jay, "Sila mau aja kak, tapi masalahnya kita kan belum nikah. Gimana omongan orang nan-"
Jay menutup mulut Priscilla dengan satu jari tangannya, "Ssst, bisa gak sih jangan pikirin omongan orang terus?"
"Maaf kak, tapi aku beneran gak yakin tinggal disana sekarang."
Jay mengehela nafas pelan, "Oke, kakak hargain keputusan kamu. Tapi setelah Sera keluar dari rumah sakit kakak bakal secepatnya nikahin kamu, dan bawa kamu tinggal di rumah kakak. Setuju?" Priscilla mengangguk seraya mengiyakan permintaan Jay.
"Kalau gitu kakak pergi dulu ya? kakak harus nemuin papi di kantor,"
"Iya kak hati-hati ya," Sebelum pergi Jay mengecup kening Priscilla dan mengelus pelan pucuk kepalanya, kalau bukan karena pekerjaan yang menumpuk Jay tidak akan meninggalkan Priscilla disini sendirian.
Lima menit setelah Jay keluar dari kamar rawat Priscilla, tiba-tiba Diandra masuk ke dalam kamar dan berdiri di samping brankarnya.
"Selamat ya Priscilla atas kelahiran anak haram kamu," ucap Diandra sinis seraya menjulurkan tangannya.
"Jaga omongan kamu Diandra!" Priscilla langsung naik pitam saat mendengar Diandra menyebut bayinya anak haram.
Diandra tertawa sinis, "Loh emang bener kan dia anak haram? anak yang di kandung tanpa pernikahan dan tanpa suami itu apa namanya?"
Priscilla mengepalkan kedua telapak tangannya, sorot matanya menatap nyalang Diandra yang masih tertawa merendahkannya. Tawa Diandra seketika terhenti, dan kini berganti dengan tatapan tajam.
"Jangan pernah bermimpi untuk menjadi istrinya Jay, Priscilla. Kamu itu gak pantas buat dia, seharusnya kamu sadar diri!"
Priscilla tertawa mendengar ucapan Diandra, "Kayaknya kata-kata itu lebih cocok buat kamu deh, Diandra. Kamu harusnya sadar diri dan jangan pernah bermimpi untuk menjadi istri kak Jay, karena yang dia cintai itu aku bukan kamu!"
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Priscilla, nafas Diandra berderu cepat karena emosinya yang sudah berada di pucuk kepala. Diandra menangkup dagu Priscilla erat, hingga kukunya yang panjang menancap di kulit Priscilla.
"Dasar lonte gak tau diri!" sebuah tamparan mendarat lagi di pipi Priscilla yang satunya dan meninggalkan bekas memerah.
Priscilla meringis menahan sakit di pipinya, belum juga puas menganiaya Priscilla Diandra sekarang mencabut infus Priscilla secara paksa.
"Diandra, kamu gila!" pekik Priscilla saat melihat darahnya muncrat ke seprai cukup banyak.
"Aku gila? ini belum seberapa Priscilla!" tawanya penuh kebencian.
Diandra melirik ke arah perut Priscilla, dengan cepat ia meremas perut Priscilla yang masih terasa nyeri meskipun tidak di sentuh.
"Diandra, sakit!" Priscilla menangis merasakan sakit saat perutnya di remas kencang oleh Diandra.
Perlahan darah merembes keluar dan membasahi baju Priscilla, jahitan yang belum sembuh itu kembali terbuka. Priscilla masih terus berusaha melepaskan tangan Diandra dari perutnya, tapi sayang tenaga Diandra begitu kuat. Wajah Priscilla sudah seputih kapas, giginya bergemertak karena menahan sakit yang luar biasa.
"Hei! siapa kamu?!" Abimana menarik tangan Diandra dari perut Priscilla.
Darah segar sudah membasahi bagian depan baju Priscilla, Abimana panik bukan main dan segera memanggil dokter yang lain untuk menyelamatkan Priscilla. Saat Abimana sibuk menangani Priscilla, Diandra diam-diam memanfaatkan kesempatan ini untuk kabur dari sana.
'Mampus! kenapa tadi aku bisa lepas kendali gitu sih!' batin Diandra.
"Ini kenapa bisa sampai begini dokter Abimana?!" tanya Stella saat memeriksa jahitan luar di perut Priscilla yang hampir terbuka lebar.
Abimana baru akan menyeret Diandra ke hadapan semua orang, tapi ternyata Diandra sudah tidak ada di kamar ini.
"Cepat bawa pasien Priscilla ke kamar operasi sekarang!" titah Stella.

Komentar Buku (640)

  • avatar
    RizkyaBintang

    bagus banget woi aku suka banget nanti mau baca lagi

    29/07

      0
  • avatar
    Tataaaaa

    baguss

    11/05

      0
  • avatar
    Multi Yara

    keren

    19/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru