logo text

Bab 55 Bukan Ayah Kandung

Lorent dan Yohan terus mendalami kasus dengan menganalisis rekaman yang diberikan Ricko.
Mereka berdua sengaja pergi menemui Mahes.
Mahes mempersilahkan kedua detektif itu masuk dan duduk diruang tamu.
"Jadi apa yang kalian inginkan?" Tanya Mahes.
"Langsung saja Pak Mahes, kami hanya ingin membantu. Katakan dengan jelas kalau memang Kinara ada bersama anda?" Yohan mengawali.
"Hemmm apa keuntungan kalian terjun dalam kasus tidak jelas seperti ini. Lebih baik kalian menangani kasus yang lebih bermanfaat." Mahes mendongakkan kepalanya keatas.
"Jika memang putri anda ada bersama anda, kami tidak lagai bersusah payah untuk mencarinya. Lagi pula Bu Saras sudah kembali lagi." Tutur Yohan.
"Dan Pak Mahes, kalian adalah sebuah keluarga ada baiknya istri anda pulang kemari bersama anda bukan tinggal dirumah besannya." Lorent menambahkan.
"Benarkah? Kenapa kau tidak kemari dengan membawanya." Tantangnya.
Lorent dan Yohan saling menatap.
"Baiklah mari ikut kami dan jemput istrimu." Ajak Yohan.
"Tidak perlu, Jika dia menganggap suami dan rumahnya seharusnya dia pulang kemari bukan kerumah orang lain." Ujar Mahes.
"Tapi itu juga rumah besannya, rumah menantu juga anaknya." Bela Yohan.
"Betul Pak, lagi pula Bu Saras diserang rasa trauma dan panik wajar jika ia meminta pertolongan menantunya." Sambung Lorent.
"Ya baiklah akan kujemput dia pulang." Ucapnya.
Lorent dan Yohan saling menatap, mereka sepakat kekediaman River bersama dengan Mahes.
Sesampainya disana River sedikit terkejut saat bertatap muka dengan Mahes. Mengingat terakhir mereka berjumpa dipenjara.
Saras menolak menemui suaminya bahkan ia bersumpah tidak akan menemui suaminya lagi. River dan yang lainnya bingung, pikiran tertuju pada Mahes yang sebelumnya memang dikenal sebagai suami yang arogan terhadap istrinya.
Ricko mencoba membujuk Saras untuk kembali kekediaman Maheswara namun Saras membrontak dan memilih akan mengakhiri hidupnya daripada harus bersama dengan Mahes.
Alasan yang tidak diungkapkan Saras membuat Ricko dan juga River tidak mengerti namun mereka memilih untuk tidak memaksanya.
Lorent beranggapan mungkin rasa trauma Saras begitu besar bahkan terjadap suaminya sendiri.
Mahes hanya tersenyum dan berpamitan dengan River.
Namun sebelum Mahes berjalan sampai kepintu keluar. Saras berlari berseru padanya,
"Dimana putriku ?" Serunya.
Mahes menghentikan langkahnya berbalik menatap tajam Saras.
"Putrimu? Tanyakan pada hati mu dimana putri mu?" Ia membalikkan badannya meninggalkan kediaman River.
Saras bersimpuh dilantai menyebut nama putrinya dengan tangis.
Ia menggerutu mengutuk suaminya dengan begitu buruk.
Ricko membantunya berdiri untuk duduk dikursi dan menenangkan nya.
Meminta Bi Siti mengambilkan segelas air untuknya.
Lorent dan Yohan duduk mendekati Saras.
"Saya boleh tau alasan kenapa Ibu menanyakan keberadaan Nara pada Pak Mahes?" Tanya Lorent.
Saras menyeka airmatanya menatap Lorent.
"Siapa lagi yang melakukan ini kecuali dia." Isaknya.
"Ibu, jika Nara memang bersama ayah maka Nara aman." Lirih Ricko.
Saras memegang erat tangan Ricko menggelengkan kepalanya kuat.
"Tidak nak, Nara tidak boleh bersamanya. Lakukan sesuatu jangan sampai ia melakukan hal buruk pada putriku." Mohonnya.
"Apa yang membuat Ibu yakin?" Tanya Yohan.
"Mahes terbukti tidak terlibat dalam kasus ini, jadi tidak mungkin dia melakukan hal buruk pada putrinya." Ujar River.
"Tidak, Maheslah yang bertanggung jawab atas semua ini." Lirihnya.
"Apa Ibu memiliki bukti yang kuat?" Tanya Lorent.
"Ya.. aku sendiri buktinya." Lirihnya.
Mereka saling menatap bergantian. Lorent memberi kode pada Yohan. Yohan mengangguk mengerti maksud Lorent.
"Bagaimana jika Ibu membuat laporan dikepolisian tentang ini, akan mudah menangkap Mahes dan menemukan putri anda dengan cepat." Ucap Yohan.
"Tidak, jangan libatkan polisi itu membahayakan putri ku." Tolaknya.
"Apakah Mahes akan melakukan hal buruk terhadap putrinya?" River bergumam.
"Tentu saja, dia bisa melakukan apapun untuk kepuasan hatinya." Tatapan Saras kosong.
"Bu Saras jadi selama ini Pak Mahes dalang penyekapan Ibu." Lorent langsung tanpa basa- basi.
Saras hanya menatap Lorent dengan deraian airmatanya yang tak henti.
"Aku hanya ingin putriku baik-baik saja."Lirihnya.
"Baik kalau begitu kita gunakan ini sebagai bukti dan menjebloskan Mahes kembali kepenjara." Tegas Yohan.
"Jangan lakukan itu akan membahayakan putriku." Saras memohon.
"Bu Saras jika memang ini ulah suamimu maka bukan hanya putrimu yang terancam namun masih banyak orang yang terancam termasuk Ricko." Lorent menegaskan.
Lorent dan Yohan berpamitan dengan River bergegas meninggalkan kediaman River berencana melaporkan Mahes dengan membawa bukti rekaman suara istrinya.
Sementara Saras masih menangisi putrinya.
* * * *
Yohan dan Lorent semakin mendalami kasus yang sangat berbelit menurut mereka.
Kasus pelenyapan yang jelas namun dengan alur yang begitu rumit.
Bahkan sebagai detektif mereka merasa sangat dibodohi akan kasus yang juga tidak kunjung usai ditangani.
Yohan dan Lorent kembali mendatangi kediaman Mahes.
Seperti sebelumnya Mahes mempersilahkan mereka masuk dengan ramah.
"Apa yang membuat kalian harus repot-repot kemari lagi?" Tanyanya.
"Kami menawarkan kerja sama."
Mahes tersenyum mendengar nya.
"Kembalikan Nara pada suaminya dan tuntutan Kepolisian kami tutup kembali." Lorent menawarkan.
"Putriku bukan barang yang bisa ditukar, lagi pula kenapa kalian meminta nya padaku." Mahes tersenyum memainkan hiasan miniatur piano.
"Bukankah ia bersamamu." Tatapan Yohan sangat tajam.
"Carilah.." Ucapnya mempersilahkan.
"Pak Mahes jangan mempersulit putri anda jika memang ia bersama anda, berikan tanggung jawabnya pada suaminya." Yohan berbicara dengan tegas.
"Pak Detektif tanggung jawab suami seharusnya menjaganya, kenapa hal ini bisa terjadi. Seharusnya aku yang menuntut Ricko atas kelalaiannya atas menghilangnya putriku." Ketusnya.
"Bukankah putri anda ada bersama anda." Yohan memancing.
"Jika dia bersamaku itu akan lebih baik." Lirihnya.
"Jadi dimana Nara?" Tanya Lorent.
Mahes menggeleng membuang wajahnya dari pandangan detektif.
"Pak Mahes berhenti bersandiwara dan kembalikan Kinara pada Ricko." Tegas Lorent.
"Dengar Detektif kalian benar-benar tidak berguna." Mahes bangkit meninggalkan mereka diruang tamunya.
Lorent san Yohan saling menatap mengangguk.
Yohan mengambil miniatur yang semula dipegang oleh Mahes membawa nya bersama mereka.
Ia juga meminta River mengevakuasi mayat yang ditemukannya di ruang bawah tanah untuk diautopsi.
Lorent mendatangi Saras kembali menanyakan perihal apakah dia memiliki saudara kembar atau saudara sepersusuan.
Namun Saras tidak mengaku memiliki saudara karena memang sedari kecil ia tinggal didalam panti asuhan. Ia menceritakan bahwa pihak panti mengatakan bahwa ia tidak memiliki keluarga karena kedua orangtuanya telah wafat dalam kecelakaan. Itu kenapa ia dikirim ke panti asuhan setelah menjadi yatim piatu.
Bahkan dengan gamblang Lorent bertanya perihal identitas Nara yang sesungguhnya.
Bahwa Nara adalah anak diluar nikah, Lorent menanyakan perihal ayah kandung Nara.
Saras mengatakan bahwa Mahes bukanlah ayah kandung dari Nara.
Saras terlihat shock ketika mengetahui bahwa para sahabatnya menjadi korban.
Ia mengutuk suaminya dengan sangat buruk karena ulahnya.
"Pernikahan itu tidak pernah kuinginkan. Namun apa daya aku tidak bisa melawan perintah Bu Sri pemilik panti." Ungkapnya.
"Lantas kenapa kau menikahi nya jika memang ia bukan ayah kandung dari Nara, lalu siapa ayah kandungnya?" Tanyanya semakin mendetail.
"Ia sudah tiada tepat ketika aku mengetahui kehamilanku, Mahes berusaha membantuku dengan menikahi ku." Isaknya.
"Lalu?"
"Kupikir kasih sayang Mahes terhadap Nara tulus, tapi kenyataan ia bukanlah putrinya tidak meluluhkan hati nya." Tangisnya semakin menjadi.
"Jadi itu alasan kenapa Ibu mengkhawatirkan Nara bersama Mahes?" Tebaknya.
"Nara bukanlah putrinya tentu ia bisa melakukan apapun bukan?"
Ricko memberikan tisu pada nya menenangkannya.
"Apa Nara mengetahui mengenai ini?" Tanya lagi.
"Tidak, aku tidak ingin mengecewakannya." Ucapnya.
"Baiklah aku mengerti." Lorent bangkit menepuk pundak Ricko.
Ricko mengantar Lorent hingga pintu luar.
Lorent membisikkan sesuatu pada Ricko setelah dianggukan Ricko ia menaiki mobilnya meninggalkan kediamannya.
Lorent bergegas kembali kerumah sakit menemui Yohan yang mengikuti jalan autopsi.
Yohan mengatakan bahwa sidik jari Mahes tidak cocok dengan sidik jari yang ada pada jenazah itu.
Apakah Mahes bersama dengan orang lain melakukan ini?
Maslahah berputar-putar dikepala para detektif itu.
"Lalu bagaimana ini?" Tanya Lorent.
"Aku punya rencana." Yohan membisikkan sesuatu pada Lorent.
"Baiklah aku setuju."
Lorent mengirimkan pesan pribadi pada River dan Ricko untuk secepatnya menjalankan rencananya.
River mengirim Saras ke vila pribadinya dengan dua pengawal dan satu orang pembantu untuk nya. Semua Saras menolak namun River mengatakan bahwa ini demi keamanannya.
Ia meminta Bi Siti yang pergi bersamanya, namun River menolaknya karena Bi Siti adalah tanggungannya juga dirumahnya.
Dengan berat hati Saras tinggal divila yang disiapkan River. Ricko berjanji akan terus menemuinya dan berusaha menemukan Nara.

Komentar Buku (63)

  • avatar
    AniseptiSeptiani

    nice

    13/07/2025

      0
  • avatar
    Debora Rompas

    So sweet😍

    04/05/2025

      0
  • avatar
    dania tugas web

    seruu bgtt kakkkkkkkkk

    26/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru