logo text

MUNDUR SECARA PERLAHAN

“Dapat apa buat makan anak-anak?”
“Ini apa namanya? Bubur campur-campur. Ini manis pokoknya dan anak-anak malam-malam asal isi saja. Tadi sih nyari seperti bubur ayam tapi belum ketemu,” ucap Ujang. Dia dapat bubur champion kalau di Padang atau di Indonesia. Entah kalau di Singapore. Mungkin karena masih tetangga satu rumpun Melayu sehingga jenis makanannya banyak yang sama walau ini berada di kampung India.
“Sama ada zuppa soup. Nanti tinggal dipanaskan di microwave dalam kamar. Jadi anak-anak ada pilihan bubur manis atau soup.”
Ujang membelikan lasagna untuk Nisha, juga mie goreng singapore tentu dengan campuran sea food. Entah apa namanya di bahasa Indianya yang penting seperti itulah yang Ujang tahu.
Ujang dan Nayaka sendiri makan nasi khas India dengan rasa pedas dan penuh rempah juga ayam bakar super pedas.
 
“Apa sekarang mantan suami Shasi sering datang?” tanya Yaka.
“Dia nggak pernah datang kok. Sejak kami keluar dari rumah, kami nggak pernah ketemu. Teteh bertemu dengannya saat di pengadilan saja. Atau beberapa kali bertemu saat konsultasi dokter untuk Naffa. Selebihnya enggak pernah bertemu,” jelas Ujang sambil minum air kemasan karena kepedasan.
“Tapi kemarin sebelum kami berangkat ke sini, saat anak-anak bikin paspor mereka ketemu pertama kali sejak perpisahan. Saat itu mantan suaminya sedang bersama dengan istri keduanya. Itu yang membuat Naffa semakin sakit. Jadi sekarang dokter menyarankan agar Naffa diberi lingkungan baru dulu.”
“Apa Naffa dekat dengan ayahnya?” pancing Nayaka.
“Buat Naffa, ayahnya itu seorang hero. Dia sangat kagum pada ayahnya. Dia tidak dekat dalam artian sering curhat dan segala macamnya atau saling peluk. Peluk dan cium hanya sesekali, tak sesering Zahran, tapi dia sangat menghormati ayahnya. Mereka sering ngobrol berdua karena tiap hari berangkat bareng. Tapi hanya sekedar itu sih, bukan curhat atau menyuarakan rasa saling cinta mereka,” Ujang mengatakan apa yang dia ketahui.
 
“Daddy!” Panggil Zahra saat pagi Nayaka berupaya menjemput mereka untuk sarapan bersama.
 ”Kalau ada makanan di mulut jangan bicara,” tegur Ujang. Nayaka kaget melihat anak-anak sedang sarapan di ruangan ini.
“Lho kalian nggak sarapan di bawah?” tanya Nayaka.
“Enggak. Pagi-pagi tadi Ujang sudah beli makanan di luar,” balas Nisha
 ”Mau sarapan bareng?” tawar Nisha.
“Ini ada kok makanan berat,” lanjut Nisha.
“Tidak terima kasih,” jawab Nayaka. Dia jadi makin yakin Nisha tak ingin dia dekat dengan anak-anaknya.
“Aku kopi saja enggak apa-apa deh,” ucap Nayaka getir. Dia harus benar-benar bertindak cepat tetapi cermat agar tak gagal.
 
Nisha membuatkan kopi untuk Nayaka. Dia sudah tahu komposisi perbandingan kopinya. Pasti sama dengan dirinya. Beda dengan Fajar. Nisha juga membuatkan sandwich untuk Nayaka.
‘Untung masih pada sarapan. Kalau saat ini mereka sudah selesai tentu dia tidak akan menawarkan kopi untukku,’ batin Nayaka sambi melihat silhuet Sashi di kitchen ruang ini. Juni-or suite memang ada kitchen lengkap.
“Abang nggak makan Bang? Ayo makan sama aku saja. Kalau teteh sudah selesai dari tadi,” ajak Ujang.
“Tidak. Aku kopi saja cukup,” Nayaka berupaya tersenyum.
 
Tadi malam Yaka juga sudah ngobrol bersama adik iparnya yaitu Ilham. Mereka memang akrab, dan Ilham menganjurkan kalau misal Shasi mundur maka Nayaka harus mengejarnya. Walau mengejar pelan-pelan karena Shasi baru saja bercerai. Pasti masih trauma, terlebih dia pasti insecure dengan statusnya sebagai janda beranak dua.
 
“Silakan kopinya,” tawar Nisha.
“Maaf, aku mau menyiapkan baju anak-anak,” Nisha langsung pergi ke kamar untuk menyiapkan baju ganti anak-anak. Sejak kemarin juga anak-anak dibawakan dua baju ganti agar bila kotor atau basah ada cadangannya di dalam ransel. Juga ada sepatu untuk ganti, juga mereka dipakaikan diapers, takut di lokasi wisata susah cari toilet. Kalau sehari-hari tentu sudah tak ada yang pakai diapers. Perlengkapan mandi kedua putra dan putrinya itu hanya satu ransel yang nanti akan Ujang bawa.
Tentu saja ada obat dasar untuk pencegahan misalnya obat merah dan plester luka. Juga tissue basah.
“Ingat habiskan susunya,” pesan Nisha pada kedua anaknya.
“Jang, ini sudah siap,” Nisha menunjukkan ransel baju anak-anak.
“Iya Teh,” jawab Ujang sambil melanjutkan makannya.
“Abang, ayo habiskan maemnya. Katanya mau pergi ke lihat ikan,” ucap Nisha pada Zahran.
“Yeeaaay, lihat ikan,” kata Zahran dengan semangat.
 
Hari ini mereka memang akan ke S.E.A. Aquarium Sentosa dan Adventure Cove Waterpark.
“Jang, kamu lihat dulu itu siapa yang ketok-ketok,” kata Nisha. Dia sedang membantu Zahran untuk menghabiskan makanannya saat ada bel pintu terdengar.
 
“Assalamu'alaykum,” sapa  Ilham.
“Wa’alaykum salam Bang. Ayo masuk,” jawab Ujang. Ternyata yang datang adalah Ilham bersama kedua putrinya.
“Ke mana teh Naura?” kata Ujang pada Ilham.
“Dia sedang pesan makanan di dapur. Saat kami ke sini tadi Naura terima pesan bahwa Shasi sudah beli makanan jadi Naura pesan makanan di dapur untuk dibawa ke sini. Kami akan makan di sini,” jelas Ilham.
“Ooh ayo atuh masuk,” kata Ujang lagi.
Rupanya tadi Nisha sudah memberi tahu Naura bahwa dia tidak makan di ruang makan hotel melainkan dia sudah membeli makanan di luar hotel.
Naffa dan Zahran tentu saja senang melihat kedua kakaknya datang ke kamar mereka.
“Kenapa ke sini?” tanya Nayaka pada Ilham.
“Tadi sebelum sampai hotel Naura tahu bahwa Nisha sudah beli makan di luar, jadi karena sudah terlanjur sampai kami  pesan makanan di hotel saja suruh antar ke sini,” jelas Ilham pada kakak iparnya yang sesungguhnya lebih muda tiga tahun dari dirinya.
“Naura sekarang masih di dapur.”
Nayaka langsung mengambil ponselnya dia mengirim pesan entah pada Naura atau pada siapa.
 
“Sashi, kamu makan yuk. Ini kan sudah hitungannya brunch. Ayo kita makan karena yang aku dengar kamu sudah minum kopi sejak habis salat subuh tadi kan?” ajak Naura.
“Tapi aku belum lapar sih,” tolak Nisha secara halus.
 ”Ayolah,” bujuk Naura.
Tidak enak terhadap Naura yang sudah memesan banyak makanan, Nisha pun ikut makan. Rupanya hanya ada satu nasi tim seafood untuk Ilham. Menu lainnya makanan berat tapi bukan nasi.
‘Pasti Naura tahu aku sudah makan sejak tadi dari Bang Yaka, karena tadi dia menulis pesan. Pasti dia menyuruh Naura pesan menu tambahan untukku,’ pikir Nisha.
“Kamu mau apa?” tanya Naura.
 ”Apa saja, gampang,” jawab Nisha. Dia mengambil mie goreng yang tersedia, tapi mienya hanya sedikit, lebih banyak irisan bebek pekingnya. Sedang Nayaka makan steak yang memang tadi dia pesan pada Naura. Naura makan spaghetti. 
“Jang, ini banyak makanannya. Ayo kita nambah lagi,” kata Ilham. Tadi untuk tambahan lauk nasi tim ada ayam goreng mentega dan omelet keju.
“Yang tadi saja juga masih sisa banyak kok Bang, tenang saja,”  jawab Ujang.
Nayaka memperhatikan, Shasi tak pernah bicara lebih dulu pada dirinya bahkan pada Ilham dan Naura. Wanita itu mundur secara perlahan. Dia masih menjawab semua pertanyaan, tapi tak mau membuka percakapan.

Komentar Buku (62)

  • avatar
    RosdianaDian

    bagus

    05/08/2024

      0
  • avatar
    BaitAhlul

    bagus

    03/07/2024

      0
  • avatar
    putragavin

    lumayan

    29/06/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru